Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Everything Is Gonna Be Okay


__ADS_3

Adelia merasa sangat bersalah pada suaminya karena tidak bisa menjalankan kewajibannya sebagai istri. Dia mengira Adi tahu kalau dia sedang datang bulan karena tidak menjalankan salat saat di masjid tadi, tapi ternyata suaminya tidak tahu. Berulang kali dia minta maaf pada Adi karena hal itu meski suaminya bilang tidak apa-apa karena itu bukan salahnya.


Dia sempat menawarkan untuk menuntaskan hasrat suaminya dengan cara lain, tapi Adi menolak. Adi bilang akan sabar menunggu sampai waktunya tiba. Akhirnya mereka memutuskan untuk tidur dengan saling memeluk.


Adelia terbangun dari tidur karena mendengar alarm waktu sahur berbunyi dari gawainya. Saat mengumpulkan kesadarannya, samar-samar dia mendengar gemericik air di kamar mandi. Mungkin suaminya sedang mencuci muka sebelum ke luar kamar untuk sahur, pikirnya. Dia tersenyum sendiri saat memikirkan kata 'suami'. Ya, dia sekarang sudah punya suami yang saleh seperti harapannya.


Perlahan dia bangkit dari tidurnya. Dia mengikat rambutnya yang tergerai. Dia mencari baju panjang untuk dipakai ke luar kamar sambil menunggu Adi ke luar dari kamar mandi. Untungnya dia membawa piama panjang, tinggal mencari hijab instan dengan warna netral.


Dia menoleh ke arah kamar mandi saat mendengar pintu terbuka. Adi keluar dengan rambut basah dan handuk di pinggangnya. Suaminya pasti baru saja mandi besar. Dia jadi semakin merasa bersalah pada Adi.


"Sudah bangun?" tanya Adi yang tampak terkejut melihat istrinya sedang duduk di kursi rias.


"Iya. Mas Adi mandi?" Adelia balik bertanya.


"Iya," jawab Adi sambil meringis.


"Maaf ya, Mas." Adelia menundukkan kepala, merasa sangat bersalah.


"Hei, kenapa minta maaf? Tidak ada yang salah dan harus dimaafkan." Adi menghampiri istrinya. Dia memegang kedua bahu Adelia.


"Aku tidak apa-apa. Kamu jangan merasa bersalah lagi. Hatiku sakit melihat kamu sedih begini, hummm." Adi mengangkat dagu istrinya agar wajah mereka saling berhadapan.


"Perjalanan kita baru dimulai. Hari yang kita lalui masih panjang ke depan. Masih ada banyak waktu untuk kita. Jadi, aku tidak mau kamu minta maaf lagi karena masalah semalam atau aku akan marah kalau kamu melakukannya lagi. Oke." Adi menatap mata Adelia dengan intens.


"Iya, Mas." Adelia tersenyum pada Adi.


Adi membalas senyumnya lalu mencium keningnya. "Kamu cuci muka sama ganti baju ya. Aku nanti ke luar dulu, mau salat Tarawih dan Tahajud sebelum sahur."


"Iya, Mas." Adelia lalu beranjak masuk ke kamar mandi.


Dini hari itu keluarga Pak Wijaya akhirnya bisa sahur bersama-sama. Berkumpul dengan seluruh anggota keluarga adalah hal yang sangat membahagiakan. Pak Wijaya dan Ibu Hasna merasa sangat bahagia karena kedua buah hati mereka sekarang sudah berkeluarga semua. Mereka tentu saja selalu mendoakan kebahagiaan dan kebaikan untuk kedua anak dan menantunya.


Meskipun Adelia tidak berpuasa, dia ikut sahur sekalian menyiapkan makan untuk suaminya. Tidak mungkin dia nanti makan sendiri sementara yang lain berpuasa, rasanya tidak etis saja. Kalau pun dia mau makan atau minum setidaknya tidak di depan mereka yang sedang berpuasa.


Ibu Hasna dan Pak Wijaya banyak memberikan nasihat tentang bagaimana menjalani pernikahan pada Adelia dan Adi sambil menikmati sahur. Dita dan Rendra pun ikut menyimak meski mereka bukan pengantin baru lagi. Pasti ada hal yang baik yang bisa diambil dari nasihat mereka.


Adelia membantu membereskan meja makan saat azan Subuh berkumandang. Dia tidak enak hati karena tadi terlambat ke luar kamar. Ibu Hasna dan Dita sudah selesai menyiapkan sahur jadi dia sama sekali tidak membantu.


"Mbak, cuci piringnya nanti saja kalau sudah tidak terlalu dingin airnya." Dita menegurnya saat Adelia mencuci alat makan yang tadi mereka pakai.


"Enggak dingin kok, Dek. Lagian mbak juga enggak salat Subuh. Daripada mbak cuma duduk bengong mending mengerjakan sesuatu," sahut Adelia.


"Ya sudah, senyamannya Mbak Adel saja. Aku sama bunda salat Subuh dulu ya, Mbak."

__ADS_1


"Iya, Dek." Adelia kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda tadi.


Usai salat Subuh, mereka berlima tadarus Al-Qur'an di ruang keluarga. Adelia yang sedang berhalangan juga ikut mendengarkan. Sungguh, dia merasa bahagia dan tenang mendengar lantunan ayat suci yang dibaca secara bergantian. Di dalam hati dia bersyukur bisa masuk ke dalam keluarga yang selalu menerapkan nilai agama dalam setiap perilakunya.


Setelah selesai tadarus, mereka mengobrol santai di sana. Ibu Hasna dan Pak Wijaya menceritakan tentang masa kecil Adi yang selama hampir delapan tahun menjadi anak tunggal. Bagaimana dia yang sangat menginginkan punya adik? Apa saja yang dia lakukan setelah Dita lahir? Dan berbagai macam kelakuan Adi yang unik.


Adelia mendengarkan dengan antusias cerita kedua mertuanya. Sesekali dia tesenyum dan melirik suaminya. Adi yang menjadi obyek pembicaraan hanya tersenyum simpul. Dia ikut mendengarkan cerita kedua orang tuanya sembari mengenang masa kecilnya.


"Kalian nanti jadi pergi jam berapa?" tanya Ibu Hasna setelah menyelesaikan ceritanya.


"Setengah sepuluh, Bun. Mungkin nanti kami langsung ke rumah Pak Lukman. Malam ini kami menginap di sana. Insya Allah, besok pagi pulang sebelum Ayah dan Bunda kembali ke rumah," jawab Adi.


"Adek sama Rendra nanti tidur di sini lagi ya temani ayah dan bunda," pinta Adi.


"Iya, Mas. Aku juga masih kangen ayah sama bunda," sahut Dita sambil merangkul bundanya.


"Rend, nanti titip ayah dan bunda. Kita nanti ketemu di sana," kata Adi pada Rendra.


"Insya Allah, Mas."


"Memangnya ayah dan bunda barang, sampe dititip segala," sela Ibu Hasna sambil bercanda.


"Ayah sama Bunda, orang yang paling berharga di hidup mas. Jadi harus selalu dijaga," sahut Adi.


"Sudah hampir jam 9 loh, Mas." Dita mengingatkan kakaknya.


Adelia langsung mandi setelah masuk ke kamar. Sementara Adi menyiapkan bajunya yang akan dibawa ke rumah mertuanya karena nanti malam akan menginap di sana. Dia menata bajunya di dalam koper Adelia.


Adelia ke luar dari kamar mandi dengan memakai bathrobe. Dia bingung memilih baju yang akan dipakai.


"Mas Adi, baiknya aku pakai baju yang mana?" Adelia mengeluarkan dua gamis, baju lengan panjang dan celana jin lalu meletakkannya di atas ranjang.


"Pakai gamis aja biar enggak kelihatan lekuk tubuhnya. Yang warna biru itu aja, nanti aku pakai kemeja warna yang sama. Kalau bisa mulai kurangi ya pakai celana jin. Lebih baik pakai rok atau celana kain yang lebar jadi enggak ketat. Aku enggak ikhlas orang lain menikmati keindahan tubuhmu."


"Iya, Mas." Adelia lalu memasukkan lagi baju dan celana jinnya ke dalam lemari. Dia masuk lagi ke kamar mandi untuk memakai gamis pilihan Adi.


Adi memakai kemeja slimfit yang berwarna senada dengan gamis istrinya. Hari ini dia akan menunjukkan pada Restu, siapa yang berhak dan memiliki Adelia. Karena itu penampilannya harus total.


Setelah memakai gamis, Adelia mulai mengaplikasikan pelembab wajah, BB cream, bedak tabur lalu bedak padat. Dia memakai lipstik warna baby pink. Hari ini dia ingin bernampilan natural dan sederhana, tanpa maskara, blush on dan kawan-kawannya. Setelah itu dia memakai ciput, baru kemudian pasmina instan.


"Bagaimana penampilanku, Mas?" tanya Adelia pada Adi yang sedang mengecek gawai.


Adi mendongak begitu mendengar suara istrinya. Dia langsung tersenyum lebar begitu melihat penampilan Adelia.

__ADS_1


"Masya Allah, cantiknya istriku," puji Adi yang sukses membuat pipi Adelia merona.


"Aku suka penampilanmu yang seperti ini, simpel tapi tetap cantik. Wajahmu sudah cantik tidak perlu banyak memakai riasan yang berlebihan," puji Adi lagi setelah berdiri di depan istrinya.


"Terima kasih, Mas." Adelia tersipu malu.


"Sudah siap kan. Ayo berangkat. Restu sudah menunggu kita di sana." Adi menunjukkan pesan Restu pada Adelia.


"Ayo, Mas." Adelia memakai tas selempangnya.


Satu tangan Adi menarik koper Adelia, satu lagi menggenggam tangan istrinya. Dari kemarin, tangan mereka terus saja saling bertaut seolah ada perekat di tangan mereka.


Setelah berpamitan dengan anggota keluarga mereka, Adi dan Adelia pergi untuk menemui Restu.


"Kamu siap kan ketemu Restu?" Adi menoleh sekilas pada istrinya sambil terus memegang kemudi.


"Siap, enggak siap harus mau kan, Mas," jawab Adelia.


"Kamu nanti tidak perlu ngomong apa-apa kalau tidak mau. Cukup di sana menemani aku. Biar aku yang bicara. Tidak perlu juga salaman sama dia. Kamu cukup menangkupkan tangan saja di depan dada kalau dia mengajakmu salaman."


"Iya, Mas."


"Sebisa mungkin kita menunjukkan kemesraan, tapi juga tidak berlebihan. Cukup dia tahu kalau kita sudah menjadi suami istri dan saling memiliki. Semoga setelah ini, dia akan menyerah dan sadar diri."


"Aamiin."


Tidak berapa lama, mereka sudah tiba di hotel tempat mereka bertemu. Adi memarkir mobil di pinggir jalan dekat hotel. Dia sengaja tidak parkir di hotel karena tidak akan lama bertemu dengan Restu. Setelah ini dia akan mengantar Adelia membeli beberapa gamis dan baju untuk di rumah.


Mereka kembali bergandengan tangan setelah ke luar dari mobil. Adi menggenggam erat tangan istrinya yang terasa dingin.


"It's okay. I'm here for you. Everything is gonna be okay."


"Iya, Mas. Aku percaya sama Mas Adi."


Mereka kemudian masuk ke hotel. Adi mencari sosok Restu berbekal foto yang tadi dikirim ke gawainya. Setelah menemukan di mana Restu berada, mereka menghampiri Restu.


Dari jauh, Adi bisa melihat Restu yang tampak antusias menanti kedatangan Adelia. Ada buket bunga yang diletakkan di atas meja. Sepertinya dia tidak menyadari kalau mereka sedang menuju ke arahnya.


"Assalamu'alaikum, apa benar Anda yang bernama Restu?" tanya Adi begitu sampai di depan Restu.


"Wa'alaikumussalam, iya benar. Maaf Anda siapa ya?" Restu mengerutkan keningnya. Dia benar-benar tidak sadar kalau ada Adelia di sana.


"Perkenalkan, saya Adi, suaminya Adelia."

__ADS_1


...---oOo---...


Jogja, 190621 23.30


__ADS_2