Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Pasar Malam


__ADS_3

"Aku kenapa? Aku lebih cantik? Aku lebih baik? Aku lebih pantas diperju-"


Plakkkkk.


"Ai," pekik Adi begitu Sekar Ayu menampar pipi Adelia. Dia mengelus pipi istrinya yang memerah, lalu memeluk Adelia. "Kamu tidak apa-apa, Ai? Maafkan aku yang lalai menjagamu."


"Aku tidak apa-apa, Mas," jawab Adelia dalam pelukan sang suami.


"Sekar, lebih baik kamu pergi dari sini, sebelum aku panggil orang-orang untuk mengusirmu," tegas Pak Wijaya. "Dan, jangan pernah menginjakkan kakimu lagi di sini."


"Tapi, saya belum selesai bicara dengan Mas Adi." Sekar Ayu menolak untuk pergi.


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, Sekar. Cepat pergi sana sebelum kamu membuatku memukul perempuan untuk pertama kalinya," usir Adi.


"Kenapa Mas Adi membela perempuan yang tidak tahu diri ini?" Telunjuk Sekar Ayu mengarah pada Adelia.


"Yang tidak tahu diri itu kamu, Sekar. Adel istriku, tentu saja aku membela dia. Berani-beraninya kamu menyentuh Adel. Cepat pergi sebelum kesabaranku habis." Adi kembali mengusir Sekar Ayu.


Sekar Ayu tetap bergeming, dia masih berdiri di tempatnya. "Jangan sok manja kamu, Adelia," sinisnya.


Adelia mengurai pelukan Adi. "Mas Adi harus bersyukur lamarannya ditolak Mbak Sekar. Mas, bisa lihat sendiri bagaimana sifat aslinya. Bagaimana dia bisa menjadi istri salihah kalau bicaranya saja kasar dan suka main tangan."


"Cukup!!! Jaga bicaramu. Jangan sok tahu." Sekar Ayu mengangkat tangan kanannya, ingin menampar Adelia lagi.


Dengan sigap, Adi menangkap tangan Sekar Ayu. "Sekali lagi kamu berani menyentuhkan tangan kotormu pada istriku, aku tidak akan tinggal diam, Sekar. Jangan salahkan aku kalau bersikap kasar."


Adi mencengkeram dengan keras tangan Sekar Ayu.


"Sakit, Mas. Lepaskan," pinta Sekar Ayu dengan mimik memelas dan menahan rasa sakit di tangannya.


"Adi, lepaskan tanganmu," titah Pak Wijaya.


"Jangan kamu kotori tanganmu untuk perempuan tidak tahu diri ini," lanjut Pak Wijaya.


Adi langsung melepas tangan Sekar Ayu dengan kasar.


"Ada apa ini dari tadi ribut sampai terdengar di belakang?" Ibu Hasna datang dengan tergopoh dari dapur.


"Sekar, untuk apa kamu ke sini lagi?" Ibu Hasna mengernyit menatap Sekar Ayu.


"Saya ingin bicara dengan Mas Adi, Bu," jawab Sekar Ayu sambil memegang tangannya yang masih terasa sakit karena dicengkeram Adi.


"Mas Adi sudah punya istri. Jangan mengganggu rumah tangga Mas Adi dan Mbak Adelia. Kamu itu perempuan, Sekar. Apa kamu mau kalau suamimu direbut sama perempuan lain?" Ibu Hasna menatap tajam Sekar Ayu.


"Tapi, saya masih mencintai Mas Adi, Bu."Ā  Sekar Ayu terus bersikeras.


"Jangan bicara omong kosong lagi soal cinta, Mbak." Adelia ikut menyahut.


"Bisa diam enggak kamu." Sekar Ayu menunjuk Adelia dengan geram.


"Sekar," seru Ibu Hasna. "Kamu yang seharusnya diam dan pergi dari sini. Jangan pernah menampakkan diri lagi di hadapan kami apalagi menginjakkan kaki di rumah ini."


"Saya hanya ingin memperjuangkan cinta. Apa saya salah?"


"Salah. Sangat salah. Dulu Mas Adi melamarmu tapi ditolak. Sekarang dia sudah punya istri malah kamu kejar. Nalarmu di mana, Sekar?"


"Sekarang, kamu pergi dari sini atau aku harus menyeretmu keluar?" Ibu Hasna memberi pilihan pada Sekar Ayu.


"Kenapa kalian semua mengeroyok untuk menyudutkan dan mengusir aku?" ucap Sekar Ayu dengan mimik memelas.


"Hentikan sandiwaramu," tukas Adi.


"Ini terakhir kali kami bicara baik-baik. Segera tinggalkan rumah ini atau kamu ingin semua orang di kampung ini tahu kelakuanmu yang ingin merebut suami orang?" Pak Wijaya memberi peringatan terakhir pada Sekar Ayu yang dilihat oleh beberapa tetangga di seputaran rumahnya, yang berdatangan karena mendengar suara ribut di sana.


"Dasar wong edan." (Dasar orang gila.)


"Pelakor saiki wes do ra duwe isin meneh." (Pelakor sekarang tidak punya malu lagi)


"Iso-isone arep nyeraki Adi, ra kelingan jaman biyen wes nolak. Nek aku ya isin, idu kok didilat meneh." (Bisa-bisanya mau mendekati Adi, tidak ingat dahulu sudah menolak. Kalau aku ya malu, ludah kok dijilat lagi.)


"Ealah, Sekar dadi pelakor saiki. Do ati-ati nek ketemu Sekar, bojone do dijogo." (Sekar jadi pelakor sekarang. Hati-hati kalau ketemu Sekar, suaminya dijaga.)


"Ayu-ayu kok dadi pelakor, koyo ra ono lanangan liyane." (Cantik-cantik kok jadi pelakor, seperti tidak ada pria lain saja.)


Berbagai macam celoteh dan celetuk dari para tetangga Pak Wijaya ditujukan pada Sekar Ayu, yang membuat wajahnya semakin merah karena menahan marah.


"Usir pelakor dari kampung kita. Jangan biarkan pelakor masuk kampung kita."

__ADS_1


"Kamu bisa lihat tidak hanya kami yang tidak ingin kamu ada di sini, semua orang ingin kamu pergi, Sekar. Segera tinggalkan rumah kami dan jangan pernah mengusik keluarga kami lagi. Jangan mempermalukan kehormatan dirimu dan keluargamu yang terpandang itu," sindir Ibu Hasna.


"Baik, aku akan pergi dari sini. Tapi ingat, aku tidak akan menyerah, Mas." Sekar Ayu sekali lagi menatap Adi sebelum dia benar-benar pergi.


"Sekali lagi kamu menganggu keluargaku, aku tidak akan segan bertindak lebih keras dari tadi. Penjara sudah menunggumu kalau kamu tetap nekat." Adi memperingatkan Sekar Ayu untuk yang terakhir kali.


Sekar Ayu hanya tersenyum menanggapi Adi. Dia lalu turun dari teras dan menaiki motornya, meninggalkan pekarangan rumah Pak Wijaya dengan diiringi berbagai umpatan dari para tetangga.


Mereka semua menghela napas lega begitu Sekar Ayu meninggalkan rumah Pak Wijaya.


"Ai, masih sakit?" Adi kembali mengelus pipi Adelia yang masih agak merah.


Adelia tersenyum. "Enggak, Mas."


"Mbak Adel kenapa, Mas?" tanya Ibu Hasna yang tidak tahu kejadian penamparan tadi.


"Sekar menampar Adel, Bun. Aku lengah tadi tidak melihat pergerakan tangannya." Adi menunjukkan raut wajah bersalah dan menyesal.


"Astaghfirullah, Mbak Adel. Maafkan kami yang tidak bisa menjaga Mbak Adel dengan baik. Yah, kita harus minta maaf pada Pak Lukman dan Bu Sarah." Ibu Hasna memegang lengan sang suami.


"Tidak perlu, Bun. Aku benar-benar tidak apa-apa. Mungkin kata-kataku tadi memprovakasi Mbak Sekar." Adelia memegang kedua tangan Ibu Hasna, meyakinkan sang ibu mertua kalau dia baik-baik saja.


Ibu Hasna mengelus lengan Adelia. "Mbak Adel, kalau memang sakit bilang ya. Jangan ditahan sendiri, biar kalau ada apa-apa bisa ditangani dengan cepat."


"Iya, Bun. Terima kasih." Adelia tersenyum pada ibu mertuanya. Dia merasa nyaman dan tenang berada di samping Ibu Hasna, seperti dengan ibu kandungnya sendiri.


"Ayo, kita masuk sebentar lagi Magrib." Ibu Hasna menggandeng Adelia masuk ke dalam rumah.


Para tetangga yang tadi berada di halaman rumah mereka juga pulang satu per satu setelah Sekar Ayu pergi.


"Mas, mulai sekarang harus hati-hati lagi. Kalau melihat atau bertemu dengan Sekar lebih baik menghindar," nasihat Pak Wijaya setelah mereka hanya berdua di teras.


"Iya, Yah. Mas besok mau konsultasi sama Kaisar, biar tidak kejadian seperti Restu kemarin."


Pak Wijaya mengangguk lalu menepuk punggung putra sulungnya itu sebelum masuk ke dalam rumah. Adi mengikuti di belakang ayahnya.


Bakda Magrib mereka makan malam bersama dengan hidangan dari ikan gurami yang tadi sore Adi tangkap. Ibu Hasna memasak menu sup gurami dan gurami acar kuning yang menyegarkan. Seperti biasa masakan Ibu Hasna selalu terasa lezat, Adelia sampai meminta resepnya agar bisa memasak nanti di rumah.


Seperti rencana sebelumnya, Adi mengajak Adelia berkeliling naik motor menikmati malam minggu setelah salat Isya. Kebetulan di lapangan dekat rumah Pak Wijaya ada pasar malam rakyat. Adi mengajak Adelia ke sana.


Usai memarkirkan motor di tempat penitipan motor, Adi menggandeng Adelia menuju ke tempat pasar malam.


"Mas Adi, nih meledek apa gimana? Kok pertanyaannya kaya gitu," gerutu Adelia.


"Aku serius, Ai." Wajah Adi tidak menunjukkan kalau dia sedang bercanda.


"Ini pasar malamnya hampir sama kaya di sekaten kan, Mas. Ya pasti pernah lah. Mana ada orang Jogja yang tidak pernah ke sekaten."


"Kirain ini pertama kali, Ai." Adi tersenyum lebar pada istrinya.


"Mas Adi, mulai deh. Aku ini juga orang biasa seperti yang lain. Tapi, memang sudah lama sih enggak pergi ke pasar malam."


"Ai, hati-hati tasnya ditaruh depan saja. Ini malam Minggu makanya ramai banget. Biasanya banyak copet berkeliaran," ujar Adi.


"Iya, Mas. Ini aku taruh depan tasku. Mas Adi, juga hati-hati dompetnya."


Adi mengangguk. "Siap, Ai."


Mereka berkeliling pasar malam melihat-lihat aneka stan. Kadang mereka mampir ke arena permainan dan ikut bermain. Mereka benar-benar menikmati malam itu.


Adelia berkali-kali terlihat tertawa lepas kalau sang suami kalah dalam permainan. Meski ditertawakan, Adi merasa senang bisa melihat belahan jiwanya tertawa riang. Seolah tidak ada masalah yang terjadi pada mereka. Selain bermain dan berjalan-jalan, mereka juga membeli beberapa makanan ringan dan juga minuman yang dijual di sana.


"Senang enggak, Ai?" tanya Adi saat mereka beristirahat sambil menikmati jajanan yang mereka beli.


"Senang banget, Mas. Makasih ya sudah diajak ke sini." Adelia memegang lengan Adi lalu menyandarkan kepalanya.


"Alhamdulillah, aku senang kalau Ai senang."


"Benar ternyata meme yang sering beredar di internet, bahagia itu sederhana. Diajak keluar naik motor saja sudah bahagia. Receh banget ya bahagiaku, Mas."


Adi tertawa kecil. "Istriku memang pengertian, tahu kalau suaminya tidak bisa ngajak liburan ke luar negeri, jadi bisanya cuma ngajak ke pasar malam saja. Maaf ya Ai, cuma hiburan receh yang bisa aku kasih."


"Cubit nih kalau Mas Adi ngomong kaya gitu lagi." Mereka berdua lalu tertawa bersama.


"Kayanya kita butuh liburan kaya Dita dan Rendra, Ai. Sebulan atau dua bulan sekali menginap di hotel atau resort gitu biar pikiran lebih fresh. Tapi yang dekat-dekat saja. Weekend gateway, gitu. Setuju enggak, Ai?"


Adelia menganggut dengan antusias. Refleks dia memeluk suaminya. "Makasih, Mas."

__ADS_1


"Iya, tapi Ai, kita baru di tempat umum loh, jadi tontonan orang-orang nih," bisik Adi.


"Eh iya, lupa." Adelia mengurai pelukannya dengan senyum malu-malu menghiasi wajah cantiknya.


"Kayanya istriku memang butuh liburan ini, senang banget kelihatannya," goda Adi.


"Memangnya Mas Adi enggak senang?" Adelia mengerucutkan bibir.


"Kalau Ai senang, aku juga pasti senang. Sumber kebahagiaanku itu sekarang, Ai. Fokus hidupku itu, Ai. Segalanya tentang Ai pokoknya."


"Mulai deh menggombal lagi," protes Adelia tapi dengan wajah tersipu.


"Mas Adi tuh ngomongnya mirip kaya di film Titanic."


"Bagian mana yang mirip, Ai?" Adi mengerutkan kening.


"Ada kalimat yang legendaris, Mas. You jump (kamu lompat), I jump (aku lompat)." Adelia mengikik sendiri.


"Terus maksudnya?" Adi terlihat bingung.


"Mas Adi, nonton filmya enggak sih?"


Adi menggeleng. "Pernah dengar judulnya, tapi enggak pernah nonton. Film lama kan?"


"Iya, film lama. Tapi bagus Mas, aku suka. Kapan-kapan kita nonton bareng di rumah ya."


"Iya. Terus miripnya di sebelah mana, Ai?"


Adelia menghela napas panjang. "Itu adegan saat Jack meyakinkan Rose kalau mereka akan sama-sama terus. Bingung aku jelasinnya. Besok pulang dari sini kita nonton deh biar Mas Adi tahu."


Adi tersenyum. "Siap, Ai. Kita sekarang pulang dulu ya, sudah jam 09.00 malam ini." Adi menunjukkan jam tangannya pada Adelia.


"Astaghfirullah, waktu cepat banget berlalu. Kayanya baru sebentar kita ke sini."


"Lain kali kita ke pasar malam lagi kalau pas pulang ke sini, Ai."


Adelia mengangguk. "Iya, Mas. Kita beli oleh-oleh ya buat ayah sama bunda?"


"Iya, tapi jangan banyak-banyak."


Mereka lalu beranjak menuju ke tempat penitipan motor. Sepanjang jalan dari pasar malam sampai ke tempat penitipan banyak yang menjual dagangan khas pasar malam.


"Mas, aku mau beli arum manis, boleh ya," pinta Adelia yang melihat berbagai warna arum manis yang dibungkus dalam plastik besar digantung.


"Iya, tapi satu saja."


"Makasih, Mas." Adelia lalu memilih salah satu arum manis yang berwarna putih.


Setelah itu mereka ke membeli donat, terang bulan (martabak manis) dan juga martabak telur.


"Ai, kok banyak banget belinya. Mubazir kalau tidak ada yang makan," tegur Adi.


"Besok bisa dikasihkan ke Mbok Darmi, Mas. Kata Bunda cucunya Mbok Darmi ada empat orang. Anak-anak biasanya suka donat kan." Adelia memberikan alasannya.


"Ya sudah kalau begitu. Apa nanti kita mampir ke rumah Mbok Darmi sekalian mengantar donatnya?"


"Sudah malam, Mas. Tidak sopan kan kalau bertamu malam-malam. Bunda bilang, tiap pagi Mbok Darmi ke rumah kok. Kalau besok pasti pagi-pagi mengantar bahan untuk membuat bothok lamtoro."


"Ya sudah, kalau begitu. Sudah kan belanjanya?"


"Sebenarnya ingin beli yang lain lagi, Mas. Tapi, takut malah mubazir, besok kalau ke pasar malam lagi saja belinya."


"Iya, Ai. Sudah banyak banget ini belanjanya." Adi menunjukkan beberapa tas plastik di tangannya.


"Oh iya. Kita pulang sekarang, Mas." Adelia menggandeng lengan suaminya sampai ke tempat penitipan motor.


Setelah menempuh perjalanan dengan motor sekitar 15 menit, mereka akhirnya tiba di kediaman Pak Wijaya. Beberapa lampu di dalam rumah sudah banyak yang padam, menandakan kalau kedua orang tuanya sudah beristirahat di dalam kamar. Untung saja tadi Adi membawa kunci garasi sendiri jadi tidak perlu membangunkan sang bunda.


Sesudah masuk ke dalam rumah, Adelia menyimpan oleh-olehnya di atas meja makan dengan ditutupi tudung saji, kecuali arum manis miliknya.


"Mas, aku makan arum manisnya sekarang ya?" pinta Adelia dengan wajah dibuat memelas.


"Iya, tapi sedikit saja. Ini sudah larut, Ai. Aku takut Ai sakit gigi." Mana bisa dia menolak keinginan wanita yang telah mencuri hatinya itu.


"Iya, aku cuma makan sedikit kok. Aku pengen nyicip aja. Habis makan ini, aku ganti baju sekalian bersih-bersih, Mas."


"Ya sudah, aku ganti baju sama bersih-bersih dahulu," pamit Adi pada istrinya yang sedang asyik menikmati arum manis.

__ADS_1


...---oOo---...


Jogja, 221021 00.50


__ADS_2