Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Kejujuran


__ADS_3

"Iya, benar. Aku Sekar Ayu yang dulu--,"


"Menolak lamaran Mas Adi kan," tukas Dita tanpa basa-basi.


Sekar Ayu terkesiap mendengar ucapan Dita. Meski itu memang kenyataannya, tapi dia tidak menduga, Dita akan bicara dengan lugas.


"I--ya, Dek. Tapi itu sudah lama sekali," ujar Sekar Ayu.


"Benar, tapi aku enggak akan pernah lupa, Mbak," sinis Dita.


Sekar Ayu tersenyum masam. Dia berharap bisa mendapat angin segar dari Dita, tapi ternyata harapan tak seindah kenyataan.


"Bagaimana kabarnya, Dek?" Sekar Ayu masih mencoba mengambil hati Dita.


"Alhamdulillah, baik."


"Ini anakmu ya, Dek. Cakep banget," puji Sekar Ayu sambil mendekati stroller Ale.


"Jangan sentuh anak kami," tegas Rendra begitu melihat Sekar Ayu mengulurkan tangan mau menyentuh Ale.


Sontak Sekar Ayu menarik tangannya. Dia melirik sekilas pada Rendra yang menatap tajam padanya. "Maaf, saya gemas ingin menyentuh pipi tembamnya."


"Anak kami tidak boleh disentuh sembarang orang," tegas Rendra lagi.


"Maaf. Mas, ini suaminya Dek Dita ya?" tanya Sekar Ayu dengan sedikit menunduk karena takut.


"Iya," jawab Rendra pendek dan dingin.


"Kenalkan saya, Sekar Ayu. Saya dan Dek Dita tetangga desa. Dulu kami sering bertemu saat mengaji di masjid." Sekar Ayu mengulurkan tangan pada Rendra.


"Maaf kami sedang makan. Anda mengganggu kenyamanan kami. Bisa tolong tinggalkan kami, atau saya akan meminta pihak restoran untuk mengusir Anda keluar," ketus Rendra.


Sekar Ayu lagi-lagi terkejut dengan sikap lugas pasangan suami istri di depannya. Dia menarik tangannya yang tidak mendapat sambutan dari Rendra. Darahnya rasanya mendidih mendapat perlakuan seperti itu.


"Aku datang baik-baik untuk bersilaturahim, tetapi sikap kalian sungguh sangat tidak menyenangkan," geram Sekar Ayu.


"Mas," Rendra memanggil salah satu pramusaji yang sedang berdiri di dekat kasir.


"Oke, aku akan pergi." Sekar Ayu bergegas meninggalkan mereka. Dia tidak keluar dari restoran, tetapi duduk di salah satu kursi yang kosong sambil terus memandang Rendra dan Dita dengan wajah memerah menahan marah.


"Sayang, enggak apa-apa kan?" tanya Rendra pada istrinya setelah Sekar Ayu meninggalkan mereka.


Dita tersenyum. "Aku enggak apa-apa, Mas. Kan enggak ada apa-apa juga."


"Siapa tahu Sayang terus enggak selera makan karena dia." Rendra mengungkapkan alasannya.


Dita terkekeh. "Perutku lebih butuh diisi demi Ale, Mas. Mbak Sekar sih aku anggap nyamuk yang lewat aja. Menghadapi penggemar Mas yang frontal saja aku santai kok, apalagi cuma Mbak Sekar."


"Syukurlah kalau begitu." Rendra menghela napas lega.


"Mbak Sekar masih belum pergi, Mas."


"Iya, mungkin menunggu kita selesai." Rendra mengedikkan bahu. "Sudah, kita lanjutkan makannya, Sayang. Keburu nanti Ale bangun, sebentar lagi waktunya minum susu."


"Iya, Mas." Dita kembali menikmati makannya dengan tenang, tanpa merasa terganggu dengan tatapan Sekar Ayu pada mereka.


Usai makan, mereka ke kasir untuk membayar makanan yang tadi mereka pesan. Setelah itu mereka kembali masuk ke mobil. Diam-diam Sekar mengikuti mereka.


"Mas, ini Mbak Adel ternyata kirim pesan. Dia minta dibelikan makanan di kedai hotplate." Dita baru saja membuka gawainya yang bergetar karena ada pesan masuk dari kakak iparnya. "Ternyata dari tadi kirim pesan, tapi aku enggak tahu."


"Kalau begitu kita belikan dulu pesanan Adel." Rendra mulai menjalankan mobilnya meninggalkan restoran ayam tulang lunak itu. Beberapa kali dia melihat kaca spion dan rear view mirror,Β memastikan kalau tidak ada yang mengikuti mereka. Karena dia merasa Sekar Ayu tadi mengikuti mereka.


"Kenapa dari tadi Mas melihat spion?" Dita merasa penasaran dengan sikap tak biasa suaminya.


"Kayanya aku lihat perempuan tadi mengikuti kita, Sayang."


"Mbak Sekar maksudnya, Mas?" tanya Dita memastikan.


Rendra mengangguk menanggapi pertanyaan sang istri.


"Aku bilang sama Mas Adi kalau Mbak Adel minta hotplate. Kata Mas Adi, padahal belum lama ini mereka ke sana." Dita mengikik membaca pesan Adi.


"Adel baru suka makan yang manis-manis kan, Sayang."


"Iya, Mas. Tapi katanya sudah dikurangi makan manisnya. Kemarin tanya sama aku pola makan dan camilanku saat hamil Ale."


"Sayang, nanti kita kirim saja ya makanannya via ojol," kata Rendra.


"Kenapa, Mas? Bukannya kita mau langsung pulang?" Dita mengerutkan kening.


"Kayanya kita masih diikuti, Sayang. Jangan sampai dia mengikuti kita sampai rumah."


"Terus kita mau ke mana, Mas?" Dita menatap suaminya.


"Nanti aku hubungi temanku dulu. Bisa tukar mobil sehari enggak. Kalau bisa kita ke sana. Kita pakai mobilnya dia buat pulang," jelas Rendra.


"Ya udah. Tapi, kalau temannya Mas enggak bisa gimana?"


"Kita ke apartemen saja. Istirahat di sana."


"Apartemennya siapa, Mas?"


"Maaf, Sayang. Sebenarnya aku sudah beli apartemen, tapi enggak eh belum bilang."

__ADS_1


"Kapan belinya?"


"Sudah lama, Sayang."


"Iya lama itu kan ada waktunya, Mas." Dita mulai kesal dengan suaminya yang tidak terbuka.


"Sebelum kita menikah. Aku persiapkan itu kalau seandainya Sayang tidak mau tinggal sama mama."


"Astaghfirullah, Mas. Jadi selama dua tahun ini Mas menutupi soal apartemen itu?"


"Iya. Maaf, Sayang. Bukan maksudku tidak mau jujur. Tapi, aku merasa belum waktunya untuk bicara."


"Terus kapan rencananya Mas mau bicara?"


"Pas ulang tahun Sayang besok. Aku rencananya mau memberi kejutan."


"Terus selama dua tahun ini apartemen itu buat apa?"


"Karena kita tinggal sama mama jadi apartemen itu disewakan, Sayang. Aku titip sama temanku yang biasa menangani sewa apartemen. Jadi, aku tinggal terima uang saja. Uangnya juga ditransfer ke rekening pendapatanku kok, Sayang. Nanti bisa dicek di daftar transaksinya."


"Memangnya sekarang kosong apartemennya?"


"Sengaja aku minta tidak disewakan sejak bulan kemarin. Aku renovasi biar kelihatan baru. Biar Sayang dan Ale nyaman kalau di sana. Kita bisa ke sana nanti, sekalian lihat hasil renovasinya."


"Apa kita mau tinggal di sana, Mas?"


Rendra menggeleng. "Tentu saja tidak, Sayang. Apartemennya cuma tipe studio, kaya kamar kos cuma lebih lega. Kita bisa sesekali tidur di sana kalau mau. Pemandangan dari kamarnya juga bagus kok, Sayang."


"Apalagi yang Mas sembunyikan lagi dari aku selain apartemen?" Dita melirik Rendra dengan sengit.


"Demi Allah, sudah tidak ada lagi, Sayang. Cuma apartemen itu yang aku belum cerita, yang lainnya tidak ada."


"Benar tidak ada yang lain?"


"Iya, Sayang. Aku minta maaf karena baru cerita."


"Kayanya aku harus berterima kasih sama Mbak Sekar karena Mas jadi jujur soal apartemen," sindir Dita.


"Sayang, aku kan sudah minta maaf. Aku juga sudah mengatakan semuanya. Jangan marah lagi, ya," rayu Rendra.


"Aku tidak masalah Mas mau beli apartemen selama memang ada uangnya, tapi yang aku enggak suka kenapa Mas enggak jujur dari awal."


"Iya, aku salah soal enggak jujur, Sayang. Tapi aku kan sudah menjelaskan semuanya. Masa Sayang tidak mau maafin aku."


"Apa mama tahu soal ini?"


Rendra menggeleng. "Mama juga tidak tahu. Cuma aku dan temanku yang tahu soal ini."


"Bagaimana kalau mama tahu Mas beli apartemen?"


Dita menghela napas panjang. "Besok disewakan lagi saja apartemennya, Mas," ujarnya.


"Memangnya Sayang enggak mau sesekali kita tidur di sana." Rendra menoleh pada istrinya.


Dita menaikkan kedua bahunya. "Entahlah, Mas."


"Nanti kita lihat ya, sekalian menghindar dari perempuan tadi. Kalau Sayang enggak suka di sana, aku akan sewakan lagi."


"Terserah, Mas, saja."


Mereka akhirnya tiba di kedai hotplate. Rendra yang turun dari mobil dan memesan makanan, sementara Dita tetap di dalam mobil bersama Ale.


"Oekkk, oekkk." Ale menangis begitu bangun dari tidurnya. Kebetulan memang sudah waktunya dia meminum susu.


"Ssshhhh, kenapa Ale nangis? Ale haus ya, Nak." Dita mengambil apron untuk menyusui, lalu memakainya. Dia segera membuka bagian depan gamisnya. Sejak hamil, dia selalu memakai gamis dengan ritsleting atau kancing di bagian depan agar memudahkannya saat harus menyusui Ale.


"Bismillahirrahmanirrahim," ucap Dita sebelum mengarahkan puncak dadanya ke mulut mungil Ale.


Dengan tenang Ale menyusu meski ditutupi apron. Dita menatap putranya dengan penuh cinta dari celah apron bagian atas. Di dalam hati dia mensyukuri semua nikmat yang sudah Allah berikan padanya.


Di usia yang masih muda, dia menikah dengan Rendra yang dari awal menikah sampai sekarang terus menunjukkan rasa cintanya. Dia juga sudah dikaruniai dua orang putra, meski Akhtar sudah dipanggil pemilik-Nya sebelum lahir ke dunia. Dari sekian banyak perempuan yang menginginkan hamil dan punya anak, dia sama sekali tidak sulit untuk hamil. Hal itu patut dia syukuri kan.


Sambil menyenandungkan selawat, dia menepuk pelan bokong Ale. Dia tersenyum lebar setiap kali Ale membuka mata dan menatapnya.


"Ale bangun, Sayang?" tanya Rendra yang sudah masuk kembali ke dalam mobil.


"Iya, tadi nangis sebentar. Sudah hafal dia waktunya minum susu. Begitu bangun sudah enggak sabar minum susu makanya terus nangis." Dita terkekeh.


"Sudah jadi dikirim makanannya, Mas?" tanya Dita yang tidak melihat suaminya membawa bungkusan apa pun saat masuk ke dalam mobil.


"Sudah. Aku bilang sama Adel kalau kita masih ada acara jadi kirim lewat ojol."


"Yang penting dipantau saja, Mas. Terus Mbak Sekar masih kelihatan enggak?"


"Aku enggak lihat sih, Sayang. Tapi untuk berjaga saja kita tidak langsung pulang. Jadi kan kita ke apartemen?"


"Aku ikut saja, Mas. Tapi, perlengkapan Ale gimana?"


"Insya Allah, aman. Perlengkapan dari bangun sampai tidur sudah ada semua."


"Wah, Baba memang keren ya, Nak. Sudah menyiapkan semua kebutuhan Ale. Terima kasih, Baba."


Rendra tersenyum lebar. "Sama-sama, Bubu, Ale."

__ADS_1


Tiba-tiba gawai Rendra berdering. Di layar tampak ada tulisan 'Mas Adi'.


"Tolong diangkat, Sayang." Rendra menyerahkan gawainya.


Dita menerima gawai Rendra. Dia lalu menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan. Dia juga mengaktifkan loud speaker agar mereka berdua bisa mendengar suara Adi.


"Assalamu'alaikum, Mas," salam Dita.


"Wa'alaikumussalam, Dek. Lagi di mana?"


"Di jalan, Mas. Ini Mas Rendra baru menyetir mobil jadi aku yang angkat."


"Enggak apa-apa, Dek. Tadi Adel kasih kabar kalau makanannya dikirim pakai ojol, kenapa memangnya?" tanya Adi penasaran.


"Tadi aku sama Mas Rendra enggak sengaja ketemu Mbak Sekar saat makan siang, Mas."


"Terus?"


"Mbak Sekar nyapa aku. Basa-basi gitulah. Tapi karena kami cuekin, dia jadi marah. Kata Mas Rendra, kayanya Mbak Sekar membuntuti kami. Makanya kami enggak bisa langsung pulang ke rumah," jelas Dita.


"Astaghfirullah, mau apa lagi sih dia." Adi terdengar kesal.


"Tadi sih katanya mau silaturahim, tapi enggak tahu ya niat sebenarnya apa."


"Baguslah kalau kalian menghindar. Jangan sampai Adel tahu soal ini ya. Dia pasti bakal marah kalau tahu dan curiga sama aku."


"Memangnya Mbak Adel sekarang jadi gampang curiga, Mas?"


"Iya curiga, cemburu, sensitif," keluh Adi.


"Selamat menjadi suami siaga, Mas," celetuk Rendra sambil tertawa kecil.


"Meledek kamu, Rend."


Rendra tertawa mendengar ucapan kakak iparnya. "I feel you (aku mengerti perasaanmu), Mas," balasnya.


"Cubitin suamimu, Dek."


"Dih, enggak mau. Enak saja suamiku mau dicubit."


"Iya, yang suaminya dijagain. Ya udah, Dek. Aku tutup dulu, mau ke proyek terus pulang."


"Oke, Mas."


"Makasih sudah membelikan Adel makanan dan menghindari Sekar."


"Ih, kaya sama siapa saja, Mas."


"Kita harus mengucapkan terima kasih pada siapa pun yang sudah baik sama kita, Dek. Tidak peduli siapa pun orangnya."


"Iya, Mas."


Setelah mengucap salam, Adi menutup teleponnya. Dita menaruh gawai Rendra di dashbord.


Tanpa terasa, mereka sudah masuk ke halaman kompleks apartemen yang dituju. Setelah memarkirkan mobil, Rendra mengeluarkan semua perlengkapan Ale. Sementara Dita menggendong Ale yang masih menyusu.


Rendra melapor pada bagian keamanan soal tujuan kedatangannya. Karena dia baru beberapa kali ke sana jadi pihak keamanan masih belum begitu hafal. Dia juga mengenalkan Dita pada mereka.


Sesudah melapor, mereka menuju ke lift yang akan membawa mereka ke lantai di mana apartemennya berada.


Rendra menekan passcode di pintu setelah sampai di depan unit apartemennya. Begitu kuncinya terbuka, dia membuka pintu.


"Welcome to our apartment, Sayang."


"Assalamualaikum," salam Dita begitu melangkahkan kaki masuk ke dalam apartemen. Sudah menjadi kebiasaan, setiap masuk ke rumah siapa pun selalu mengucapkan salam.


"Wa'alaikumussalam," balas Rendra.


"Gimana? Sayang suka?" Rendra menunggu reaksi sang istri yang masih melihat-lihat isi apartemen itu.


Dita mengangguk-angguk. "Lumayan juga, Mas. Ini mah kos-kosan eksklusif."


Rendra tersenyum lega. Setidaknya Dita suka dengan suasananya.


"Bisa dibuka tirainya, Mas?" pinta Dita.


Rendra pun membuka tirai yang menutup jendela kaca apartemen. Kini mereka bisa melihat pemandangan dengan latar belakang gunung Merapi.


"Masya Allah, indah pemandangannya," puji Dita.


Rendra semakin tersenyum lebar mendengar pujian sang istri.


"Gimana kalau kita sesekali menginap di sini, Sayang?"


"Kita lihat nanti Ale nyaman enggak di sini. Kalau dia nyaman boleh sesekali kita ke sini. Kalau enggak, disewakan saja, Mas."


"Kalau tidak kita pakai bukannya lebih baik disewakan, Sayang? Biar kamar ini tidak kosong. Kamar kalau terlalu lama kosong bisa ditempati makhluk lain."


"Terserah, Mas, saja. Mas, tolong ini dilepas apronnya, aku mau menyusui Ale sambil berbaring. Betah banget ini nyusunya."


Rendra membantu Dita melepas apron menyusui. Sesudah itu Dita menanggalkan hijabnya. Dengan pelan, dia melepas puncak dadanya dari bibir Ale yang langsung membuat Ale menangis keras.


"Sebentar, Nak. Kita berbaring ya biar lebih enak. Ale juga puas minum susunya."

__ADS_1


...---oOo---...


Jogja, 101121 01.35


__ADS_2