Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Adaptasi Kebiasaan Baru


__ADS_3

"Siapa yang datang ke rumah Mas Adi, Mas? Bukan orang jahat kan? Mbak Adel enggak apa-apa kan?" Rendra diberondong pertanyaan oleh sang istri begitu masuk ke ruang tengah. Mereka hanya bertiga di rumah. Ibu Dewi di butik, Shasha kerja dan Nisa ke kampus.


"Tanyanya satu-satu, Sayang." Rendra tersenyum sambil mengelus kepala istrinya.


"Tinggal dijawab satu-satu saja bisa kan, Mas." Dita berubah cemberut.


"Sayang, minta dicium ini, bibirnya dimajukan begitu," goda Rendra agar istrinya tidak terlalu khawatir.


"Ish, Mas Rendra jangan bercanda ah." Dita menatap kesal suaminya.


Rendra kembali tersenyum. Dia duduk di belakang belahan jiwanya itu. Dia memeluk sang istri dari belakang. Kepalanya disandarkan di bahu Dita.


"Mas, kenapa sih?" Dita memegang tangan Rendra yang melingkar di perutnya.


"Enggak apa-apa. Aku lagi pingin meluk Sayang saja." Rendra mengeratkan pelukannya.


"Jangan terlalu kencang, Mas. Malu dilihatin sama Ale tuh." Dita menunjuk Ale yang sedang menatap mereka sembari memegang mainannya.


"Biar Ale tahu baba sama bubunya saling mencintai dan selalu mesra."Β Rendra mencium rambut Dita.


"Mas, jawab dong pertanyaanku tadi," desak Dita yang tidak mau terlena dengan perlakuan Rendra.


"Yang mana, Sayang?"


"Ya semualah."


"Orang tadi itu kurir yang mengantar kue buat Mas Adi. Kurirnya sih enggak jahat, Sayang. Aku enggak tahu yang ngirim kue punya niat jahat atau enggak. Terus Adel juga baik-baik saja." Rendra menjawab sekaligus pertanyaan sang istri.


"Siapa yang kirim kue, Mas?" Dita mengerutkan kening.


"Sepertinya perempuan itu."


"Siapa?" tanya Dita penasaran.


"Yang kita ketemu pas makan di Jakal (Jalan Kaliurang) tempo hari, Sayang."


"Oh, Mbak Sekar."


Rendra mengangguk.


"Bilang saja kalau itu Mbak Sekar kan bisa, Mas."


"Malas aku menyebut nama perempuan itu," dengus Rendra.


Dita tertawa. Dia jadi teringat saat mereka dahulu sering bertengkar setiap bertemu.


"Sayang, kenapa tertawa?" Rendra heran melihat istrinya yang tiba-tiba tertawa.


"Aku ingat waktu kita selalu bertengkar. Kita tidak pernah saling menyebut nama."


"Dan ternyata, nama kita sudah terukir di hati masing-masing. Sayang, sudah mencuri hatiku dari awal kita bertemu."


"Masa sih, Mas. Nyatanya tiap ketemu bawaannya Mas ngajak ribut terus."


"Kata Bara begitu, Sayang. Aku enggak pernah sewot kalau ketemu sama perempuan. Biasanya aku cuek saja, tapi sejak pertama ketemu Sayang, aku sewot terus."


Dita tertawa. "Memangnya aku perempuan pertama yang mengajak Mas Rendra ribut?"


"Iya, Sayang. Kebanyakan perempuan mau ngajak aku kenalan atau mau kasih aku hadiah."


Dita tersenyum. "Cara Allah mempertemukan kita memang unik, Mas."


"Bisa jadi cerita ke anak cucu kita nanti, Sayang." Rendra menempelkan pipinya ke pipi Dita.


"Iya, Mas."


"Mmmhh, ehhmm, uhhh." Ale mengoceh sendiri sambil memegang mainannya, membuat Rendra dan Dita mengalihkan perhatian mereka pada sang putra tercinta.


"Ale sekarang sudah sering ngoceh, Mas."


"Iya, Sayang. Besok dia bisa manggil baba atau bubu dulu ya."


"Kita tunggu saja, Mas."


"Oh iya, aku baru ingat. Sayang sama Ale temani Adel ya. Kasihan dia sendiri di rumah."


"Oke, Mas. Kalau begitu aku siapkan perlengkapan Ale dulu."


"Aku saja yang siapkan, Sayang. Sekarang aku antar ke sebelah dulu, nanti aku pulang lagi ambil perlengkapan Ale."


"Malah dua kali kerja, Mas. Kan sebentar saja siapkan perlengkapannya."


"Nanti Sayang sama Ale kan bakal sering ke sana. Aku bawakan baju sama perlengkapan Ale sekalian buat disimpan di sana biar enggak tiap hari bawa terus. Lagian Adel sudah lama menunggu kalian."


"Mas, sih pakai peluk-peluk segala."


"Enggak apa-apa kan peluk istri sendiri."


"Iya--iya. Ya sudah aku ke sebelah dulu, kasihan Mbak Adel sendirian."


"Aku antar, Sayang."

__ADS_1


"Aku berdua sama Ale saja, Mas."


"Enggak boleh berdua. Aku antar," tegas Rendra.


Dita menuruti sang suami. Dia tidak akan dibiarkan pergi kalau tetap nekat. Dia mengenakan hijab sebelum memakaikan Ale topi sebelum menggendongnya. "Kita main ke rumah bude ya, Nak."


Setelah mengantar istri dan anaknya, Rendra kembali ke rumah. Dia menghubungi Adi sembari menyiapkan perlengkapan Ale.


"Gimana, Rend?" tanya Adi tanpa basa-basi.


"Tadi yang datang kurir ekspedisi, mau mengantar kue untuk Mas Adi. Kurirnya tidak tahu nama yang mengirim kue, tapi dia bisa menyebutkan ciri-cirinya. Katanya orangnya putih--."


"Pasti Sekar yang kirim itu."


"Sepertinya, Mas. Padahal aku sudah yakin dia tidak mengikuti kami pulang. Tapi tadi sepintas aku dengar kalau dia membayar orang untuk cari info, Mas."


"Astaghfirullah, maunya apa sih dia."


"Bukannya dia mau kembali sama Mas Adi ya?"


"Itu hal yang tidak mungkin dan tidak akan terjadi, Rend. Kalaupun aku tidak ketemu Adelia, aku tidak akan kembali dan menikah dengan Sekar."


"Iya. Aku tahu, Mas."


"Kamu enggak cerita soal ini sama Adel kan, Rend?"


"Enggak, Mas. Aku tadi cerita sekilas saja sama Dita."


"Syukurlah. Jangan sampai Adel tahu dulu soal ini. Dia masih hamil muda, aku tidak mau menambah beban pikirannya."


"Siap, Mas. Aku tadi bilang sama Adel kalau kurirnya salah alamat."


"Makasih ya, Rend. Maaf, kamu malah jadi harus berbohong."


"Berbohong demi kebaikan kan, Mas."


"Hhmm, iya."


"Sekarang Dita sama Ale sedang menemani Adel, Mas. Aku di rumah sendiri. Tadi sengaja cari alasan biar bisa bebas telepon Mas Adi."


"Iya, nanti Adel bakal curiga kalau dia tahu kamu telepon aku diam-diam. Ya udah Rend, aku tutup dulu. Nanti kita bicara lagi di rumah."


"Iya, Mas."


Rendra kembali meneruskan kegiatannya setelah menutup telepon Adi.


Sementara itu di rumah Adi, mereka bertiga berada di ruang tengah. Ale berbaring di atas kasur mungilnya. Sedangkan Adelia dan Dita duduk lesehan di atas karpet sambil bersandar di sofa.


"Kapan mulai kuliah, Dek?" tanya Adelia.


"Ale jadi kan dititip ke sini?"


"Mbak Adel, kan sedang hamil muda. Aku tidak mau Mbak kecapaian mengurus Ale. Kalau ada sesuatu yang terjadi dengan kehamilan Mbak, nanti aku yang disalahkan sama Mas Adi. Biar Mas Rendra saja Mbak. Kalau ada bunda di sini, aku tidak masalah. Insya Allah kalau aku enggak kuliah, pasti aku main ke sini sama Ale, Mbak."


Adelia merasa sedikit kecewa dengan keputusan Dita dan Rendra. Namun, dia juga tahu itu demi kebaikannya.


"Benar ya Ale diajak ke sini kalau Dek Dita enggak kuliah?"


"Insya Allah, Mbak." Dita tersenyum pada kakak iparnya itu. "Gimana kehamilannya? Lancar kan, Mbak?"


"Alhamdulillah, sejauh ini lancar. Semoga lancar sampai aku melahirkan ya, Dek."


"Aamiin. Insya Allah, Mbak. Pokoknya kalau ada sesuatu yang beda dari biasanya langsung hubungi dokter Lita saja, Mbak."


"Iya, Dek. Kemarin dokter Lita juga bilang begitu."


"Kapan jadwal kontrol lagi, Mbak?"


"Dua minggu lagi, Dek. Rasanya aku sudah enggak sabar lihat hasil USG-nya." Adelia mengelus perutnya yang masih rata seraya tersenyum lebar.


Dita ikut tersenyum melihat kebahagiaan sang kakak ipar.


"Dek, kemarin pas hamil merasa sering curiga atau cemburu enggak sama Rendra?"


Dita menggeleng. "Seingatku enggak, Mbak. Cuma aku lebih sensitif dan enggak bisa tidur kalau enggak dipeluk Mas Rendra. Memangnya Mbak Adel jadi curiga dan cemburu sama Mas Adi?"


Adelia menyengguk. "Iya, Dek. Entah itu pikiran datangnya dari mana. Tapi bawaannya begitu terus. Kadang aku kasihan sama Mas Adi karena itu. Tapi aku juga enggak bisa mengendalikan perasaanku."


"Insya Allah Mas Adi tidak akan berpaling dari Mbak Adel. Mas Adi itu cinta banget sama Mbak." Dita menggenggam tangan Adelia. Meyakinkan sang kakak ipar.


"Iya. Aku tahu, Dek. Aku selalu bersyukur punya suami seperti Mas Adi. Sosok suami luar biasa yang mau menerimaku apa adanya. Menjagaku dengan sepenuh hatinya. Apa mungkin karena itu aku jadi takut kehilangan Mas Adi soalnya ada banyak perempuan di sekitarnya?"


Dita mengernyit. "Setahuku Mas Adi tidak punya banyak teman perempuan, Mbak. Kalau kenalan memang banyak."


"Itu loh anak magang di kantornya Mas Adi. Kan ada beberapa yang perempuan. Salah satunya ada yang ganjen, coba mendekati Mas Adi. Kapan itu aku diajak ke kantor Mas Adi, dikenalkan sama semua anak magang termasuk yang ganjen itu."


Dita tertawa kecil. "Terus bagaimana, Mbak?"


"Ya aku lihatin saja orangnya. Eh, dia akhirnya menjauh sendiri, Dek." Adelia mengikik setelah bercerita.


"Untung langsung sadar diri ya, Mbak."

__ADS_1


"Iya, Dek. Tapi aku masih merasa kesal kalau ingat perempuan ganjen itu."


"Ya jangan diingat, Mbak. Pikirkan saja hal-hal yang membuat Mbak Adel bahagia. Hati dan pikiran bumil itu harus selalu bahagia," nasihat Dita.


"Inginku ya begitu, Dek. Tapi ya itu tadi pikiran aneh-aneh selalu saja muncul padahal aku sudah coba melupakan hal yang membuatku tidak bahagia." Adelia menghela napas panjang.


"Aku lebih kesal lagi kalau teringat yang namanya Sekar. Dek Dita, tahu kan yang namanya Sekar?" Adelia memandang adik iparnya itu.


Dita menganggut menanggapi Adelia. "Kesal kenapa, Mbak?"


"Sekar itu kan perempuan yang tidak tahu diri dan tidak tahu malu. Dulu sudah menolak Mas Adi. Begitu dia cerai sama suaminya kok mendekati Mas Adi lagi. Kaya dia pantas saja untuk ditunggu Mas Adi? Kan enggak."


"Mas Adi sudah lama move on kok dari Mbak Sekar," sahut Dita.


"Makanya itu, Dek. Jadi perempuan kok ke-ge er-an, dikira Mas Adi masih menunggu dia. Mana aku sama sekali enggak dianggap sama dia. Kalau enggak ingat dosa, mungkin sudah aku bunuh dia, Dek."


"Astaghfirullah, kok sampai kepikiran seperti itu, Mbak?"


"Habis aku kesal banget, Dek." Adelia terlihat emosional.


"Sudah, Mbak, jangan dipikirkan lagi. Sekarang Mbak Adel fokus saja sama kehamilan, tidak perlu memikirkan hal yang tidak penting seperti itu. Percaya sama Mas Adi, dia tidak akan melakukan hal yang mengecewakan Mbak Adel." Dita mengelus lengan Adelia.


"Jangan gunakan energi kita untuk hal yang tidak bermanfaat, Mbak. Kita fokus saja pada hal yang membuat kita bahagia. Serap energi positif dari sekitar dan buang energi negatif yang ada," lanjut Dita.


"Iya--ya, Dek. Buat apa aku memikirkan mereka. Aku punya Mas Adi dan calon anak kami. Aku juga punya keluarga yang sangat menyayangi dan menjagaku. Aku punya kalian semua." Adelia memeluk sang adik ipar.


"Iya, Mbak." Dita mengelus punggung Adelia. Mereka berpelukan selama beberapa saat, dan baru saling melepas saat mendengar Ale akan menangis.


"Hekk, hekk."


"Ale kenapa? Ngambek ya dicuekin?" Dita kembali fokus pada putra semata wayangnya itu.


"Maafin bude ya malah ajak bubu ngobrol jadi Ale dicuekin." Adelia mengelus pipi tembam Ale.


"Ini sudah jam Ale minum susu kan, Dek?" Adelia beralih pada Dita.


"Iya, sebentar lagi, Mbak. Mas Rendra kok lama banget sih bawa perlengkapan Ale." Dita lalu menggendong Ale yang mewek. Dia menimang Ale untuk menenangkannya.


"Memangnya butuh apa, Dek?"


"Botol asinya Ale, Mbak. Mau membiasakan dia minum dari botol. Kemarin pas aku tinggal ke kampus, dia sempat mengambek enggak mau minum asi dari botol."


"Maaf lama, Sayang. Tadi aku cari-cari perlengkapan mandi Ale yang baru." Rendra yang dinanti, akhirnya datang. Dia membawa tas besar yang berisi perlengkapan putranya.


"Bawa botol asinya Ale kan, Mas?" Dita menatap sang suami.


Rendra segera mengeluarkan botol asi yang tadi sudah disiapkan. "Ini, botolnya."


Dita menerima botol dari suaminya. Dia lalu memposisikan Ale untuk menyusu. Dia mengarahkan botol susu ke dalam mulut mungil Ale. "Bismillahirrahmanirrahim."


Tanpa diduga Ale menolak untuk minum susu dari botol. Dia memalingkan wajah dan malah mencari-cari dada Dita. Setiap kali Dita mengarahkan ujung botol, dia selalu berpaling. Ale malah menangis semakin keras.


"Belum mau minum susu pakai botol lagi," gumam Dita. Akhirnya dia memutuskan untuk menyusui Ale. Dan, begitu puncak dada ibunya masuk ke dalam mulut, Ale langsung menghisap dengan kuat.


"Kita coba lagi nanti, Sayang. Biar nanti aku saja yang memberi dia botol susu. Mungkin dia tahu ada bubu-nya jadi maunya minum susu langsung." Rendra menenangkan istrinya.


Dita mengangguk. "Iya, Mas."


"Kemarin juga akhirnya mau minum susu pakai botol setelah benar-benar lapar, Sayang."


"Tapi kan kasihan kalau harus nunggu Ale sampai kelaparan, Mas." Dita mengelus pipi tembam Ale sambil menatap putranya itu.


"Ya mau bagaimana lagi, Sayang. Karena kan tidak mungkin Ale ikut ke kampus. Mungkin karena masih awal, dia juga masih adaptasi dan belum terbiasa. Nanti lama-lama juga Ale akan terbiasa."


"Aku setuju sama apa yang dibilang Rendra, Dek. Kita saja yang dewasa juga butuh adaptasi sama hal baru, apalagi Ale yang masih bayi. Pasti juga bukan hal yang mudah buat dia. Biasa menyusu sama ibunya terus ganti pakai botol." Adelia ikut menimpali.


Dita menyengguk. "Iya, Mbak."


"Ini menurutku loh, Dek, terserah nanti mau diterima atau enggak. Kalau Dek Dita di rumah, apa tidak sebaiknya menyusui langsung? Waktu Dek Dita sama Ale kan semakin sedikit, kalau menyusui langsung bisa jadi quality time kalian berdua. Pasti Ale juga menginginkan terus bersama bubu-nya."


"Iya juga sih, Mbak. Tadi kan maksudnya buat Ale latihan minum susu pakai botol, Mbak. Tapi lihat dia nangis, aku jadi enggak tega."


"Yakin saja, Ale pasti mau minum asi pakai botol, Dek. Hanya butuh proses dan waktu. Pelan-pelan dia nanti juga akan terbiasa dan bisa menerima."


"Iya, Mbak. Semoga kami berdua bisa sama-sama beradaptasi dengan cepat."


"Aamiin."


"Aku juga masih adaptasi sama mood-ku yang tidak stabil. Ternyata hamil tidak semudah yang terlihat. Perjuangan untuk bisa hamil, selama hamil, sampai melahirkan bukan hal yang mudah," ujar Adelia.


"Betul, Mbak. Belum nanti kalau hamil sudah besar, engap rasanya. Dijalani, dinikmati dan disyukuri, Mbak. Masih banyak perempuan di luar sana yang berjuang agar bisa hamil."


Adelia mengangguk. "Iya, Dek. Apalagi kalau terus-terusan ditanya kapan hamil. Orang sering tidak berpikir bagaimana perasaan orang yang ditanya. Mereka hanya sibuk mencari kekurangan dan mengomentari hidup orang lain."


Dita tersenyum. "Pertanyaan seperti itu tidak akan berhenti meski Mbak sudah hamil. Nanti akan ditanya kapan nambah anak? Kalau anaknya sudah besar, ditanya kapan anaknya lulus kuliah? Kapan anaknya menikah? Gitu terus enggak akan habis-habis."


"Ck, segitu ribetnya ya ngurusin orang lain." Adelia berdecak.


"Makanya kita lebih baik fokus sama hidup kita, Mbak. Tidak perlu memedulikan omongan orang. Terus melakukan hal baik dan selalu berpikir positif. Kita tidak usah juga mencampuri urusan yang bukan urusan kita."


"Iya, Dek."

__ADS_1


...---oOo---...


Jogja, 141121 23.00


__ADS_2