Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Pingsan


__ADS_3

Kesibukan keluarga Ibu Dewi bertambah karena hari penikahan Shasha dan Kaisar semakin dekat. Rendra, Dita dan Nisa ikut membantu menyiapkan segala hal. Mengecek daftar orang yang akan diundang, melakukan test food dan menentukan menu yang akan disajikan, dan lain sebagainya. Meski sudah menggunakan jasa WO (Wedding Organizer), tetap saja semua harus tetap dikontrol agar berjalan sesuai yang diinginkan.


Dita sebenarnya tidak terlalu banyak membantu, karena dia masih harus menyelesaikan laporan magang, mengikuti kuliah dan juga mengasuh Ale. Rendra yang lebih banyak turun tangan mendampingi sang mama atau kakaknya. Mengantar dan menemani ke mana saja untuk mengurus keperluan pernikahan. Hingga membuatnya menunda lagi rencana untuk membuka perusahaan dengan Adi. Prioritas utama saat ini adalah pernikahan sang kakak. Nisa juga baru bisa membantu saat tidak ada jadwal kuliah.


Adi pun tak kalah sibuk. Dia sekarang sedang memegang dua proyek bersamaan. Setiap hari pulang menjelang Magrib dan libur hanya di hari Minggu. Untung saja Adelia mengerti kesibukan suaminya itu. Meski capai, dia merasa bahagia setiap pulang kerja karena sang istri selalu menyambut kedatangannya dengan senyum yang senantiasa menghiasi wajah cantiknya.


Adelia masih tetap menjalani perannya sebagai ibu rumah tangga. Memasak dan mengerjakan beberapa pekerjaan rumah tangga yang tidak terlalu berat. Mencoba segala macam resep dan membantu memasarkan clothing line Rendra. Karena ketekunannya, pendapatannya sudah bertambah meski belum bisa untuk membeli paket komplet skin care-nya. Ya, perlahan tapi pasti dia bisa punya penghasilan sendiri. Terkadang Adelia juga diajak menyiapkan pernak-pernik pernikahan putri sulung Ibu Dewi.


Waktu berlalu, acara akad nikah akhirnya tiba. Shasha melakukan akad nikah di rumah, sesuai keinginannya. Rendra bertindak sebagai wali yang menikahkan kakak sulungnya itu dengan Kaisar.


Prosesi akad nikah berjalan dengan lancar. Kaisar berhasil mengucapkan kabul dalam satu tarikan napas yang membuat Shasha bisa bernapas lega. Akhirnya mereka resmi sebagai suami istri setelah penantian panjang.


Resepsi dilaksanakan malam hari di sebuah kompleks museum yang memiliki bangunan dengan bentuk limasan. Sebelum acara resepsi dimulai, dilakukan prosesi pedang pora yang merupakan tradisi pernikahan bagi perwira sebagai tanda melepas masa lajangnya.


Kaisar tampak gagah mengenakan seragam polisinya. Sementara Shasha tampak semakin cantik dengan kebaya dan riasan ala paes ageng. Semua yang hadir mengagumi dan memuji mereka berdua yang terlihat serasi berjalan beriringan. Senyum tak pernah lepas dari bibir kedua mempelai, menyiratkan kebahagiaan yang mereka rasakan.


Adi dan Adelia yang mengikuti seluruh prosesi dari acara pengajian juga ikut merasakan bahagia. Terutama Adi, yang merasa lega karena sang sahabat sudah menemukan pelabuhan terakhirnya setelah sekian lama memendam cinta pada adiknya dan harus menelan patah hati. Dia bisa melihat binar bahagia di mata Kaisar yang terlihat sangat mencintai istrinya. He finally found the one.


"Mas, kita cari tempat duduk yang agak sepi ya," ajak Adelia pada suaminya. Wajahnya agak pucat meski sudah ditutupi riasan.


"Kenapa? Ai, pusing?" Raut khawatir tampak di wajah Adi.


Adelia menyengguk. "Iya, aku agak pusing, Mas. Kayanya karena lihat banyak tamu jadi gini."


"Ya, udah. Mau aku gendong?" goda Adi.


"Ish, apa-apaan sih, Mas. Masa pake kebaya digendong segala. Aku masih kuat jalan kok."


"Mana tangannya. Aku gandeng aja kalau tidak mau digendong." Adi menggandeng tangan istrinya.


"Apa mau ke kamar transit, Ai? Biar bisa istirahat. Kayanya tadi Dita sama Ale juga ke sana," ujar Adi.


Keluarga Bu Dewi memang menyewa kamar untuk ruang ganti dan transit anggota keluarga mereka. Kamar itu juga dipersiapkan untuk Ale kalau seandainya dia rewel karena kecapaian atau saat menyusu. Rendra ada di samping pelaminan, mendampingi sang mama untuk menerima ucapan selamat dari para tamu undangan, jadi tidak bisa bergantian dengan Dita menjaga Ale.


Adelia mengangguk tanpa menjawab. Badannya terasa semakin lemas dan menjadi dingin. Dia memegang erat lengan suaminya. Tiba-tiba banyak bintang bermunculan di matanya, pandangannya mengabur, tak lama kemudian terasa gelap.


Adelia jatuh pingsan tepat di depan kamar transit. Untung dengan sigap Adi menangkap istrinya, begitu merasa pegangan tangan Adelia mengendur.


"Ai, bangun." Adi menepuk pelan pipi sang istri, tapi wanita di pelukannya itu tetap diam.


"Dek," panggil Adi dengan kencang di depan pintu kamar ganti.


Ibu Hasna membuka pintu dari dalam. Terkejut melihat putra sulungnya membopong Adelia. Dia langsung beringsut, memberi jalan pada Adi untuk masuk dan membaringkan istrinya di atas ranjang kamar.


"Mbak Adel kenapa, Mas?" tanya Ibu Hasna.


"Pingsan. Tadi dia mengeluh agak pusing, terus ngajak mas nyari tempat duduk. Mas ajak ke sini saja biar bisa istirahat. Nyampe depan pintu kok terus pingsan," jelas Adi.


"Bun, ada minyak kayu putih di tas perlengkapan Ale kalau mau dioles ke bawah hidung Mbak Adel," ujar Dita yang sedang duduk sambil menyusui Ale pada sang bunda.

__ADS_1


Ibu Hasna bergegas mencari minyak kayu putih lalu mendekati menantunya yang terbaring di atas ranjang. "Bantu bunda longgarkan jaritnya, Mas," titahnya pada Adi sembari mengolesi bawah hidung, kedua tangan, dan telapak kaki Adelia.


Adi mengangguk. "Apa hijabnya dilepas sekalian, Bun?"


"Iya, enggak apa-apa, biar lega. Lagian tidak ada orang lain di sini," sahut Ibu Hasna seraya mengolesi perut dan punggung sang menantu.


"Dingin banget ini badannya Mbak Adel. Mas, minta teh panas sama katering ya. Bilang juga sama Bu Sarah kalau Mbak Adel di sini," titah Ibu Hasna lagi.


"Iya, Bun."


"Baju ganti Mbak Adel di mana? Biar nanti kalau sudah sadar pakai baju biasa saja."


"Ada di mobil, Bun. Nanti mas ambilkan sekalian."


"Ya sudah sana ambil teh panas sama baju ganti. Biar bunda yang jaga Mbak Adel."


"Iya, Bun. Titip Adel sebentar." Adi keluar dari kamar tersebut. Dia menuju ke mobil dahulu untuk mengambil baju ganti Adel, setelah itu mengabari mama mertuanya baru meminta teh panas. Bersama sang mertua, dia kembali ke kamar di mana Adelia berada.


"Adel sudah sadar belum, Bun?" tanya Adi begitu masuk ke kamar.


"Alhamdulillah, sudah." Ibu Hasna beranjak dari samping menantunya yang tadi kembali memejamkan mata setelah sadar. Memberi kesempatan pada Ibu Sarah dan Adi mendekati Adelia.


Ibu Sarah lantas duduk di samping putrinya. "Mbak, bisa dengar mama?" tanyanya.


Adelia membuka matanya. "Ya, Ma," jawabnya lemah.


"Mbak, kuat duduk enggak? Minum teh anget dulu biar badannya lebih enak," ujar Ibu Sarah dengan lembut.


"Mas Adi, tolong bantu mama bangunkan Mbak Adel."


Adi, Ibu Sarah, dan Ibu Hasna, bekerja sama membangunkan Adelia yang seolah tak berdaya. Setelah bisa mendudukkan Adelia, Adi duduk di belakang istrinya, menyangga tubuh belahan jiwanya itu. Ibu Sarah kemudian meminumkan teh panas dengan sendok pada Adelia.


"Bun, aku kembali ke depan saja ya. Ale sudah selesai menyusu," kata Dita sambil menggendong Ale yang sudah terlihat ceria setelah tadi menangis.


"Iya, Dek. Berani sendiri apa bunda temani?" tawar Ibu Hasna.


"Bunda di sini saja. Aku sendiri saja ke depan."


"Ya, udah. Ale mau ketemu baba ya," kata Ibu Hasan pada Ale.


"Ba—ba," celoteh Ale.


"Iya, kita ke baba sekarang," sahut Dita.


Usai minum teh panas, kondisi Adelia sudah lebih membaik meski wajahnya terlihat agak pucat.


"Mbak, sudah makan belum tadi?" tanya Ibu Sarah pada putrinya.


"Makan tapi cuma sedikit, Ma. Katanya lihat banyak makanan malah enggak pengen makan." Adi yang menjawab.

__ADS_1


"Perutnya diisi biar badannya sehat lagi," tutur Ibu Sarah.


"Males, Ma," sahut Adelia.


"Besok tidak usah ikut pergi ke rumah Mas Kaisar kalau begitu. Mbak Adel, di rumah saja," tegas Ibu Sarah.


"Aku mau ikut, Ma."


"Lha Mbak aja lemes sampai pingsan kaya gini. Untung Ibu Dewi nyewa kamar, coba kalau enggak. Mbak pasti jadi tontonan orang karena pingsan di acara resepsi," ujar Ibu Sarah.


"Mbak, itu kecapaian. Terus pakai kebaya, hijab sama jaritnya kekencengan. Ditambah enggak makan. Makanya sekarang makan biar pun sedikit. Biar keiisi perutnya," sambung wanita yang sudah melahirkan Adelia itu.


"Iya, Ma." Adelia akhirnya menurut daripada dia tidak diizinkan pergi esok hari oleh sang mama.


"Mbak, mau makan sama apa biar mama ambilkan?"


"Aku aja yang ambil, Ma," tukas Adi.


"Bakso mau kan, Ai? Biar anget perutnya. Apa siomai?" tawar Adi pada istrinya.


Adelia mengangguk tanpa menjawab.


"Ya udah aku ambilkan dulu. Sudah bisa kan duduk sendiri?"


"Iya, bisa. Badanku udah enakan kok, Mas."


Adi lalu bangkit dari duduknya. Keluar dari kamar menuju ke lokasi resepsi, mengambilkan makanan untuk istrinya.


"Mbak Adel, apa telat haidnya?" tanya Ibu Hasna setelah putranya pergi.


Adeliae mengernyit. Mencoba mengingat jadwal datang bulannya. "Kayanya iya, Bun. Kenapa?"


"Jangan-jangan Mbak Adel hamil," tebak sang ibu mertua.


"Seingatku baru telat tiga harian, Bun. Sudah biasa kan haid maju mundur tanggalnya." Adelia tidak mau terlalu banyak berharap, takut kecewa kalau ternyata tidak hamil. Karena sudah beberapa kali dia telat tapi akhirnya tetap haid.


"Ya siapa tahu kalau sekarang ini benar hamil, Mbak." Ibu Sarah ikut menimpali.


"Aku aamiin-kan saja, Ma, Bun. Tapi aku tidak mau senang dulu daripada nanti malah kecewa. Aku minta tolong Bunda sama Mama tidak usah bilang soal ini dulu sama Mas Adi. Nanti dia jadi over protektif, aku jadi enggak boleh ngapa-ngapain di rumah," ujar Adelia.


"Mas Adi begitu kan karena cinta sama Mbak, ya wajarlah. Dapat suami perhatian harusnya bersyukur, Mbak," cetus Ibu Sarah.


"Aku selalu bersyukur punya suami Mas Adi, Ma. Di mana lagi aku bakal nemu suami sebaik dia. Tapi aku capai juga kalau terus dilarang ngapa-ngapain. Cuma disuruh tidur, makan, nonton tv. Bisa-bisa jadi bola aku nanti," ungkap Adelia.


Ibu Sarah dan Ibu Hasna tertawa mendengar ucapan Adelia.


...---oOo---...


Jogja 120222 23.59

__ADS_1


Smaradhana sudah up di dua platform, sila dicek di IG atau facebook saya 🙏🙏🙏


__ADS_2