
Setelah luka-luka Adelia ditangani oleh dokter dan perawat, dia akan dipindahkan ke ruang rawat inap yang sebelumnya sudah dipesan Adi. Kedua orang tua Adelia, dan Arsenio tiba saat istri Adi itu akan dibawa ke kamar. Karena ingin melihat keadaan Adelia terlebih dahulu, mereka meminta waktu sebentar pada perawat.
Ibu Sarah menangis begitu melihat luka-luka di tubuh sang putri yang telah ditutupi perban. "Ya Allah, Mbak. Kenapa bisa seperti ini."
"Sabar, Ma. Kita doakan Mbak biar cepat pulih." Pak Lukman memeluk istrinya yang menangis tersedu-sedu. Menenangkan dan menguatkan sang istri. Sebesar apa pun Adelia sekarang, dia tetap gadis kecilnya yang selalu bersikap manja setiap bersamanya. Sedih dan emosi juga dirasakannya, tapi dia harus bersikap bijaksana. Ada suami yang sekarang sudah memegang tanggung jawab atas putri sulungnya itu.
Sementara itu Arsenio tampak emosi melihat keadaan kakaknya. "Siapa yang udah tega melakukan itu, Mas?" tanya Arsenio pada Adi dengan tangan terkepal.
"Sekar yang melakukannya. Aku minta maaf tidak bisa melindungi kakakmu," jawab Adi.
"Perempuan iblis itu ternyata tidak jera juga. Ini malah lebih parah dari teror sebelumnya. Harusnya dulu aku langsung menyeretnya ke penjara." Arsenio mengatakannya dengan mata berapi-api.
"Ini bukan salah, Mas Adi. Sekar yang memang sudah melebihi batas." Nada suara Arsenio sedikit melembut sambil menepuk lengan sang kakak ipar.
"Ini sudah dilaporkan polisi kan, Mas?" tanya Ibu Sarah yang dirangkul Pak Lukman lalu ikut bergabung dengan anak dan menantunya setelah tangisnya mereda dan lebih tenang.
"Sudah, Ma. Tadi aku langsung telepon Kaisar setelah menemukan Adel," terang Adi.
Tak lama Kaisar masuk sesudah tadi melakukan beberapa panggilan dan menemui anak buahnya. Dia menyalami kedua orang tua Adelia dan juga Arsenio begitu bergabung dengan mereka.
"Nanti akan ada dua anggotaku yang berjaga 24 jam di luar kamar Adelia. Sebentar lagi mereka akan menyusul ke sini. Aku juga sudah kirim anggotaku yang bawa surat perintah penangkapan dan minta tolong pihak Polres sana untuk mendatangi rumah orang tua Sekar. Kalau dia ada di sana akan langsung dibawa. Kalau tidak ada, kami minta keterangan mereka dan menanyakan alamatnya di sini." Kaisar langsung memberi penjelasan tanpa diminta.
"Makasih, Kai," ucap Adi.
"Maaf, Pak, Bu, kami akan membawa Ibu Adelia ke kamar terlebih dahulu," ucap perawat menyela mereka.
"Baik, Sus." Mereka kemudian mengikuti perawat ke kamar rawat inap Adelia.
Saat dalam perjalanan ke kamar istrinya, Adi menerima telepon dari Rendra yang baru sampai di rumah sakit. Adik iparnya itu bertanya di mana posisinya saat ini. Dia lalu memberi tahu nomor kamar Adelia dan minta Rendra menemuinya di sana.
"Rendra sudah datang?" tanya Kaisar.
"Iya, baru masuk," jawab Adi.
Sesampai di kamar rawat inap, Adelia masih tertidur karena tadi diberi obat penenang agar dia bisa bisa beristirahat dengan tenang sesudah mengalami peristiwa yang mengerikan. Tentu saja obat yang aman untuk dikonsumsi wanita hamil dan sudah dikonsultasikan dengan dokter kandungannya. Adelia dipindahkan dari ranjang dorong IGD ke atas ranjang kamar dengan kerjasama perawat, Adi, Arsenio dan Pak Lukman. Sesudah memastikan semuanya sesuai, perawat kemudian pamit meninggalkan mereka.
"Mas Adi, enggak ganti baju dulu?" tanya Ibu Sarah yang melihat ada beberapa bercak darah di kemeja menantunya.
"Tunggu Rendra bawa baju ganti, Ma," jawab Adi.
Ibu Sarah mengangguk. Dia kemudian mendekati ranjang putrinya. Duduk di kursi samping ranjang sambil menggenggam erat tangan sang putri tercinta.
__ADS_1
Tak lama terdengar ketukan di pintu. Arsenio sebagai yang paling muda langsung berdiri membukakan pintu.
"Assalamu'alaikum," salam Rendra sambil menggendong Ale di tangan kanan, sementara tangan kirinya menarik koper kecil milik Adi.
"Wa'alaikumussalam. Wah, ada jagoan nih. Ikut sama om, yuk." Arsenio hendak mengajak Ale, tapi lelaki kecil itu tidak mau. Dia memalingkan wajah lalu merangkul leher babanya.
"Sombong nih Ale sekarang." Arsenio menggoda Ale yang biasanya selalu mau diajak bermain.
"Baru ngambek, dia." Rendra memberi tahu kenapa Ale bersikap seperti itu. Dia dan Dita lalu memberi salam pada semua orang.
"Maaf lama, Mas. Ale lagi rewel enggak mau aku tinggal. Jadi, terpaksa ajak dia ke sini," ucap Rendra pada Adi.
"Iya, enggak apa-apa, Rend. Terus ke sini pakai apa tadi?"
"Taksi online, Mas." Dita yang menjawab lalu menyalami dan memeluk kakaknya. "Sabar ya, Mas."
Adi mengangguk. "Makasih, Dek. Sudah bawa baju gantiku?"
"Sudah. Itu di koper." Dita menunjuk koper yang diletakkan di dekat pintu.
Adi mengambil koper lalu meletakkan di depan lemari pakaian yang ada di sana. Dia mengambil baju ganti lalu pergi ke kamar mandi.
"Dita." Ibu Sarah memeluknya erat. Dita mengelus punggung mertua kakaknya itu untuk memberi kekuatan. Beberapa saat kemudian, mereka mengurai pelukan.
"Sama siapa ke sini?" tanya Ibu Sarah yang tidak menyadari kedatangannya tadi karena fokus berdoa di samping Adelia.
"Sama Mas Rendra dan Ale, Tante. InsyaAllah, besok bunda baru ke sini," jawab Dita.
"Ale mana?"
"Itu sama Mas Rendra." Dita menunjuk ke belakang Ibu Sarah. "Seharian tadi ditinggal kerja sama Mas Rendra, jadi begitu pulang langsung lengket, enggak mau pisah sama babanya. Akhirnya diajak ke sini soalnya tadi nangis pas mau ditinggal pergi," lanjutnya.
"Rendra sudah kerja sekarang?"
"Freelance, Tante. Ngisi pelatihan gitu. Kebetulan saya enggak ada jadwal kuliah, jadi Mas Rendra terima kerjaan di luar. Biasanya juga ngajak saya sama Ale, cuma karena kebetulan lokasinya kurang kondusif untuk anak-anak, jadi batal diajak."
"Oh, Tante kira dia sekarang kerja kantoran."
Dita tersenyum simpul. "Mas Rendra sepertinya bukan tipe yang betah ngantor, Tante. Dia tidak suka terikat waktu dan duduk diam di belakang meja."
"Pengusaha ya begitu, waktunya bebas kalau bisnis sudah jalan. Kafe dan bajunya lancar, 'kan?"
__ADS_1
"Alhamdulillah, berkat doa restu Tante dan semuanya." Dita dan Ibu Sarah terus mengobrol berdua.
"Rend, ini kunci mobil sama karcis parkirnya. Tanya Kaisar di mana parkirnya." Adi menyerahkan kedua barang itu pada Rendra setelah berganti pakaian.
"Iya, Mas. Besok pagi biar motornya, aku bawa ke sini."
"Kayanya enggak perlu, Rend. Aku sudah izin tidak masuk kantor sampai keadaan Adel membaik. Biar asistenku yang ke sini kalau ada yang penting. Besok tolong bawakan laptop sama tas kerjaku."
"Oke, Mas."
"Thanks, Rend."
"Nanti kita keluar bareng, Ren. Aku numpang sampai depan," celetuk Kaisar.
"Loh, Mas Kai, enggak langsung pulang?" Rendra mengernyit.
Kaisar menggeleng. "Mungkin satu atau dua hari ini aku enggak pulang, Ren. Aku mau secepatnya bisa menangkap Sekar dan menginterogasi dia. Makanya aku sekalian mau minta tolong. Nanti kamu jemput Shasha ya. Biar kakakmu sementara ini tidur di rumah mama sampai aku bisa pulang ke rumah."
"Iya, Mas."
"Aku kasihan kalau kakakmu di rumah sendiri malam-malam. Oh ya, sama jangan lupa tanya dia mau makan apa nanti? Soalnya sekarang hampir tiap malam kelaparan pingin makan sesuatu," sambung Kaisar.
"Kalau bisa tidurnya di kamar tamu saja biar tidak usah naik turun tangga. Kalau kakakmu tidak mau, tolong dipantau naik turun tangganya jangan sampai terpeleset."
"Siap, Mas. Kak Shasha sudah dikasih tahu kan kalau mau aku jemput?"
"Ini baru mau aku kasih tahu. Tadi aku udah kabari kalau ada kasus baru. Tapi, aku enggak bilang kalau korbannya Adel. Aku takut dia kepikiran. Nanti saja kalau sudah di rumah baru dikasih tahu biar dia merasa aman."
"Iya, Mas."
"Aku tinggal dulu. Anggotaku yang aku tugaskan berjaga di sini baru datang." Kaisar pamit meninggalkan kamar untuk menemui anak buahnya setelah membaca pesan di gawainya.
...---oOo---...
Jogja, 090322 23.58
Alhamdulillah bisa up meski cuma pendek. Bisa untuk pengobat rindu bagi yang menantikan.
Alhamdulillah badan sudah enakan, meski masih batuk, tapi sudah tidak separah kemarin. Sudah bisa agak lama pegang ponsel. Jadi, bisa nulis sedikit-sedikit. Kepala masih agak berat untuk diajak berpikir. Jadi bab ini juga nulisnya lama, dicicil setiap hari, mungkin selama satu minggu š.
Teman-teman tetap jaga kesehatan ya, cuaca sedang tidak menentu jadi gampang terkena batuk pilek. Katanya sih memang sedang musim ya.
__ADS_1