
Setelah pertemuannya dengan Kaisar beberapa hari yang lalu, Adi meminta pendapat dan pertimbangan kedua orang tua dan juga mertuanya mengenai langkah apa yang sebaiknya dia ambil? Apakah langsung lapor pada yang berwajib? Atau memberi Restu peringatan dahulu?
Para orang tua sepakat menyarankan untuk memberi peringatan terlebih dahulu. Mengingat mereka juga masih disibukkan dengan persiapan pernikahan yang semakin dekat. Mereka juga melapor pada RT, RW setempat dan juga satpam kompleks, untuk mengantisipasi segala hal yang mungkin terjadi.
Adelia sekarang sudah berani ke luar rumah tapi harus selalu ditemani, entah itu oleh Adi, Dita dan Rendra atau Arsenio, yang pasti salah satu dari mereka. Adi memberitahu semua pembicaraannya dengan Kaisar pada Adelia. Dia ingin istrinya tahu tindakan apa saja yang bisa dilakukan untuk menghadapi Restu. Dia juga memberi Adelia pengertian kalau mereka tidak boleh terpengaruh dengan semua provokasi Restu. Kalau mereka takut, pasti Restu akan merasa di atas angin, tujuannya tercapai.
Dddrrttt ... dddrrrttt ...
Gawai Adi bergetar, tanda ada pesan masuk dari pop up yang muncul.
'Yank, aku kangen. Kamu kangen aku enggak?'
'Meski sekarang aku belum menemukanmu, tapi cepat atau lambat aku pasti akan datang menemuimu.'
'Saat itu, aku pastikan kamu akan kembali padaku dan menjadi milikku selamanya.'
'Menyingkirkan suamimu itu hal yang kecil buatku. Kalau kamu kembali padaku, aku pastikan suamimu akan baik-baik saja.'
Adi merasa geram setelah membaca semua pesan yang baru saja masuk dari Restu. Rupanya pria berengsek itu semakin berani saja mengancam istrinya. Dia lalu mengetik balasan pesan di gawainya.
'Sudah cukup kamu mengganggu hidup kami. Aku sudah bahagia dengan suamiku. Jangan pernah hubungi aku lagi. Kalau kamu masih nekat menggangguku, siap-siap saja polisi akan menjemputmu dan kamu akan berakhir di penjara.'
Adi lalu mengirim pesan itu sembari berdoa semoga saja Restu akan berhenti setelah dia memperingatkannya. Dia tidak ingin istrinya selalu merasa cemas dan takut setiap saat. Bagaimanapun dia akan berusaha menjaga istrinya agar tetap merasa aman dan nyaman.
Setelah menunggu beberapa saat, tidak ada satu pun pesan yang masuk dari Restu. Semoga memang pria berengsek itu sudah menyerah dan tidak akan mengganggu mereka lagi. Adi kemudian menyimpan gawai di tas kerjanya. Dia tidak mau teledor lagi meletakkan gawai itu di sembarang tempat. Bukan karena dia menyembunyikan sesuatu, tetapi lebih baik jika Adelia tidak membacanya.
Minggu depan istrinya harus mengikuti ujian akhir semester. Karena itu dia tidak ingin membebani pikiran Adelia. Setelah ujian nanti sambil menunggu nilainya keluar, Adelia juga harus menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan untuk mengajukan ujian pendadaran. Kalau semuanya lancar, istrinya bisa wisuda di bulan Agustus, tapi kalau pun tidak, ikut yang di bulan November. Toh, kapan pun wisudanya tidak masalah untuknya.
...---oOo---...
Minggu pagi ini dia berencana memesan cincin pernikahan. Kemarin Rendra sudah memberitahu di mana tempat untuk memesan cincin yang tidak haram bila dia pakai seperti yang adik iparnya itu pakai.
"Ai, sudah siap apa belum?" tanya Adi sambil melongok ke dalam kamar usai memanaskan mobil.
"Sebentar, Mas. Ini tinggal merapikan hijab." Adelia sedang memasang jarum pentol di pucuk kepala agar hijabnya tidak bergeser.
"Sebentar itu berapa menit, Ai?" tanya Adi lagi. Dia sudah hafal kalau sebentar itu tidak hanya satu atau dua menit, pasti lebih dari 5 menit.
"Sabar, Mas." Adelia terlihat mengecek lagi penampilannya, dari dandanan, pakaian sampai hijab, memastikan semuanya sempurna.
"Sudah cantik begitu, Ai. Mau ngapain lagi lama-lama di depan kaca." Adi mulai tak sabar menunggu istrinya.
"Iya, Mas." Adelia langsung mengambil tasnya lalu segera ke luar kamar sebelum suaminya mengomel karena menunggunya. Sepertinya dia harus mulai mengubah kebiasaannya yang suka mematut diri lama di depan kaca.
__ADS_1
Adelia menggandeng lengan Adi selama berjalan dari dalam rumah sampai di carport tempat Adi memarkirkan mobil. Adi membukakan pintu untuk istrinya sebelum dia naik ke kursi pengemudi.
"Ai, kalau ke luar rumah dandannya biasa saja jangan terlalu cantik. Aku enggak ikhlas kalau wajah cantik Ai dinikmati banyak orang, apalagi oleh para pria yang matanya suka jelalatan." Adi mulai melayangkan protesnya begitu mulai melajukan mobil ke luar dari cluster perumahannya.
"Berdandan cantik itu kan harusnya di depan suami saja jangan untuk banyak orang," lanjutnya.
"Aku dandannya biasa saja loh, Mas. Aku cuma pakai bedak sama lipstik saja, biar enggak pucat. Aku enggak pakai macam-macam." Adelia menjelaskan pada suaminya.
Adi menghela napasnya. "Gini memang risiko punya istri cantik, dandan biasa saja sudah kaya bidadari cantiknya," gumam Adi.
Adelia terkekeh mendengar ucapan suaminya. "Jangan lebai deh, Mas."
"Aku enggak lebai, Ai. Memang kenyataannya seperti itu. Tapi aku heran Ai, kenapa Bara sama Rendra tidak tertarik ya sama kamu? Padahal secara penampilan Ai itu kaya model." Adi menoleh sebentar pada istrinya.
"Isi hati orang kan kita tidak pernah tahu, Mas. Mungkin juga aku bukan tipe cewek idaman mereka. Kenyataannya Bara dan Rendra justru sama-sama jatuh cinta sama Dek Dita. Mungkin tipe mereka yang seperti Dek Dita, Mas. Aku sama Dek Dita kan beda tampilannya. Dek Dita cuek, tomboi." Adelia tertawa kecil.
"Hmmm, bisa jadi," gumam Adi. Dia lalu menyalakan radio agar perjalanan mereka lebih berwarna.
"Ai, coba hubungi papa atau mama. Mereka ada acara tidak hari ini. Kalau tidak ada kita ke sana setelah pesan cincin," titah Adi pada istrinya.
"Iya, Mas." Adelia segera mengambil gawai lalu mengubungi mamanya. Setelah beberapa saat bicara dengan mamanya, Adelia menutup telepon.
"Mama sama papa kondangan, Mas. Pulangnya mungkin sekitar jam 2 siang. Ada tiga undangan hari ini kata mama." Adelia menjelaskan apa yang tadi mamanya katakan.
Adi menganggut. "Selain cincin, apalagi yang kurang, Ai? Biar sekalian kita perginya sambil nunggu papa sama mama pulang."
"Oke, nanti kita cek undangan setelah pesan cincin. Oh iya, aku belum minta surat pengantar dari KUA. Nanti habis dari rumah papa kita pulang ke ayah ya. Besok pagi kita ke KUA minta surat pengantar."
"Memangnya Mas Adi sudah izin tidak masuk kerja?" tanya Adelia seraya menoleh pada suaminya.
"Belum sih," jawab Adi sambil meringis.
"Besok Senin loh, Mas. Apa tidak apa-apa izin mendadak?" Adelia mengingatkan suaminya.
Adi terdiam, berpikir sejenak. "Enggak apa-apa, kan cuma setengah hari. Siang aku ke kantor setelah dari KUA. Nanti aku hubungi asistenku biar handle dulu yang pagi."
"Mas Adi mau antar aku pulang dulu terus langsung ke kantor? Apa enggak bolak-balik, Mas?" Adelia mengernyit.
"Apa Ai mau ikut ke kantor? Sekali waktu temani aku kerja." Adi melirik pada istrinya sambil tersenyum.
"Memangnya boleh ajak istri ke kantor, Mas? Kalau boleh sih enggak apa-apa, Mas. Biar aku tahu lingkungan kerja Mas Adi seperti apa."
"Boleh saja. Ada beberapa teman yang kadang ajak istri dan anaknya kalau sekalian mau pergi ke mana gitu. Bawa pacar juga ada. Cuma aku yang bawa kerjaan saja kalau ke kantor, Ai." Adi tergelak.
__ADS_1
Adelia mencibir, tidak percaya dengan ucapan suaminya.
"Kenapa? Tidak percaya? Tanya saja sama teman-temanku nanti kalau ketemu. Kalau cewek yang cari aku ke kantor banyak, tapi aku enggak pernah mengajak atau mengundang mereka datang, Ai."
"Terus cewek-cewek itu ngapain ke kantor?" tanya Adelia dengan ketus.
"Ya, macam-macam. Ada yang omongin soal proyek, kerjaan. Ada yang sekadar iseng cuma mau ketemu aku. Ada yang kirim makanβ," jawab Adi yang langsung disela istrinya.
"Senang ya, Mas, banyak yang cari. Dikirim makanan juga. Pantas kalau siang enggak khawatir soal makan, ternyata ada yang kirim makan siang," sindir Adelia.
"Itu dulu, Ai, sebelum aku nikah sama kamu. Makanannya juga dibagi sama teman-teman, aku enggak pernah makan sendiri. Ai, cemburu ya?" goda Adi seraya mencolek lengan Adelia yang sedang bersedekap dan menatap lurus ke depan.
"Apa sih towel-towel?" Adelia menepis tangan suaminya dengan wajah kesal.
"Alhamdulillah, Ya Allah, istriku ternyata juga bisa cemburu." Adi tersenyum lebar sambil kembali menggoda istrinya.
"Siapa juga yang cemburu?" ketus Adelia.
"Ai, dong. Kalau enggak cemburu terus kenapa jadi sewot begitu, hummm."
"Siapa yang sewot? Aku biasa saja tuh." Adelia mencoba bersikap wajar.
Adi tertawa sambil mengusap kepala wanita yang duduk di sampingnya itu.
"Iya deh enggak cemburu. Ai cuma jealous." Adi kembali tergelak.
Adelia melirik kesal pada suaminya. Dia diam saja tidak mau menanggapi godaan dari Adi.
"Aku serius Ai. Sejak nikah sama Ai, aku enggak pernah lagi terima makanan dari mereka. Sekarang kalau ada yang cari aku ke kantor ya cuma buat urusan pekerjaan saja, tidak lebih," terang Adi setelah menghentikan tawanya.
"Ai, kan kadang juga bawain aku bekal makanan. Kalau aku dapat kiriman makanan enggak mungkin aku mau dibawain bekal. Ya sudah, mulai besok aku bawa bekal makan siang terus, biar Ai tenang dan enggak curiga," lanjutnya.
"Aku itu kadang diajak makan siang sama klien. Kalau pas di proyek, ya makan di warung yang dekat proyek sama pekerja proyek. Aku sama sekali tidak pernah menanggapi cewek-cewek yang datang ke kantor kecuali buat urusan pekerjaan." Adi meraih tangan kanan Adelia dengan tangan kirinya.
"Aku hanya pernah dua kali jatuh cinta sama wanita. Dan, Ai, Insya Allah jadi cinta terakhirku. Jangan marah lagi ya." Adi mencium punggung tangan istrinya saat mereka berhenti di lampu merah.
Meski masih merasa dongkol, Adelia menganggukkan kepalanya.
"Tapi, aku suka Ai cemburu. Itu kan tandanya Ai cinta sama aku." Adi kembali mengerling, menggoda istrinya.
...---oOo---...
Jogja, 210721 13.45
__ADS_1
Selamat Hari Raya Idul Adha bagi yang merayakan πππ
Dagingnya sudah dimasak apa saja hayo? πππ