
Pak Wijaya, Ibu Hasna, Adi dan Adelia melakukan sujud syukur begitu tiba di Masjid Nabawi, Madinah. Tanpa terasa air mata mereka menetes karena terharu. Bagi Pak Wijaya dan Ibu Hasna, ini kedua kalinya mereka pergi ke tanah suci. Pertama kali mereka menginjakkan kaki di tanah suci saat menunaikan ibadah haji beberapa tahun yang lalu. Sedangkan bagi Adi dan Adelia, ini kali pertama mereka ke sini.
Adelia yang paling merasakan terharu. Dahulu, tidak pernah sekali pun dia bermimpi bisa pergi ke tanah suci. Jangankan berpikir untuk umrah atau haji, salat saja nyaris tidak pernah dia jalankan. Namun setelah berhijrah, keinginannya pergi ke tanah suci begitu menggebu. Akhirnya, Allah memberinya kesempatan untuk bisa datang ke tempat suci ini.
Suasana Ramadhan di sana sangat terasa kental. Para jemaah mulai berbondong-bondong masuk ke Masjid Nabawi menjelang Asar. Mereka akan berada di sana sambil menunggu waktu buka puasa. Bakda Asar ada sejumlah orang yang menggelar plastik panjang sembari membagi-bagikan kurma, roti, serta minuman. Sambil menunggu azan Magrib, para jemaah menyibukkan diri dengan beribadah, ada yang membaca Al-Qur'an dan ada pula yang berdoa.
Bakda Magrib, jemaah tidak langsung pulang atau kembali ke hotel. Mereka tetap di dalam Masjid menunggu waktu salat Isya dan Tarawih. Usai Tarawih, yang baru berakhir sekitar pukul 11.00 malam, mereka baru pulang ke rumah atau kembali ke hotel.
Sesampai di hotel, Adi dan Adelia masuk ke kamar yang mereka pesan secara khusus. Rombongan umrah mereka yang lain tidur beramai-ramai di dalam kamar yang sama, tentu saja pria sekamar dengan para pria, dan wanita sekamar dengan para wanita. Karena kedua sejoli itu menjalankan umrah sekalian berbulan madu, mereka memesan kamar sendiri.
"Capai enggak, Ai?" tanya Adi setelah mereka membersihkan diri.
"Alhamdulillah, enggak, Mas." Adelia tersenyum menghampiri suaminya yang sudah duduk di atas ranjang.
"Alhamdulillah kalau tidak capai. Kita bisa mulai dong bulan madunya." Adi memberi tatapan menggoda.
Adelia tersipu malu mendengar ucapan suaminya. Kebetulan sebelum umrah dia baru selesai haid di bulan yang kedua, jadi mereka sudah bisa mulai program untuk hamil.
"Memangnya Mas Adi tidak capai?" Adelia memberanikan diri menatap suaminya.
"Tidak ada kata capai untuk itu, Ai." Adi mengedipkan sebelah matanya.
"Mas Adi, genit ah." Adelia tersenyum malu.
"Genit kan sama istri sendiri, bukan sama wanita lain. Genitnya halal, Ai." Adi mulai mendekatkan dirinya.
Entah kenapa malam ini jantung Adelia berdetak dengan kencang. Seperti saat pertama kali dia akan menyerahkan mahkotanya yang paling berharga untuk sang suami. Apakah ini karena euforia bulan madu atau karena hal lain? Dia tidak tahu.
Adelia menyambut sang suami yang dengan penuh kasih sayang menyentuhnya. Memberikan perasaan yang sungguh sangat menyenangkan dan juga melenakan. Membuatnya terbang tinggi hingga rasanya tak ingin turun lagi. Meraih manisnya surga dunia yang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata.
Usai melakukan aktivitas yang menyenangkan itu, mereka kemudian beristirahat. Kalau tidak ingat besok mereka akan bangun sahur dan menjalankan puasa, Adi tidak akan membiarkan istrinya tidur sampai pagi.
Esoknya mereka menjalankan ibadah puasa seperti biasanya, yang membedakan, mereka menjalankannya di tanah suci. Di tempat yang paling mustajab untuk berdoa. Adelia selalu khusyuk berdoa setiap kali mereka ada di dalam Masjid Nabawi. Dia bahkan sampai menangis tersedu-sedu saat salat dan berdoa di Raudah.
Selama tiga hari mereka berada di Madinah, setelah itu mereka pergi ke Makkah untuk menjalankan ibadah umrahnya. Selain itu mereka juga akan merayakan idul Fitri di Masjidil Haram, Makkah.
Saat tiba di Masjidil Haram dan melihat Kabah secara langsung, mereka semua meneteskan air mata. Suasana di sana lebih ramai daripada di Madinah. Banyak umat muslim yang ingin menjalankan ibadah puasa di tanah suci ini. Hingga terlihat lebih padat dibandingkan saat haji, yang jumlah jemaahnya dibatasi oleh pemerintah Arab Saudi.
Mereka melakukan iktikaf di Masjidil Haram karena sudah memasuki 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Ada juga yang ikut salat Tahajud bersama yang dimulai pukul 01.00 sampai 03.30 dini hari.
Hari berlalu hingga tiba saat Imam Masjidil Haram mengumumkan kapan jatuhnya hari raya Idul Fitri. Sesudah diumumkan, Menara Jam Makkah langsung menembakkan sinar berwarna biru kehijauan yang menembus langit.
Di hari terakhir Ramadhan, setelah salat Isya, para jemaah mulai meninggalkan Masjidil Haram. Mereka memanfaatkan waktu dengan berbelanja di toko sekitar hotel yang menawarkan diskon besar-besaran di hari itu, bahkan diskonnya sampai 50%. Pada umumnya, mereka membeli oleh-oleh untuk keluarganya di rumah.
Begitu pula Adelia dan Ibu Hasna, mereka pun ikut berburu oleh-oleh. Selain membeli untuk keluarga, kerabat, dan teman, mereka juga membeli untuk diri sendiri. Pak Wijaya dan Adi hanya menuruti saja keinginan Ibu Hasna dan Adelia. Mereka berdua dengan sabar mengikuti dari belakang sambil membawa barang belanjaan. Setelah puas berbelanja, mereka kembali ke hotel untuk beristirahat.
Dini hari, mereka kembali ke Masjidil Haram dengan mengenakan pakaian terbaik. Mereka akan melaksanakan Tahajud, sekaligus menunggu waktu Subuh dan salat Idul Fitri di sana.
Bakda Subuh, takbir baru mulai berkumandang di Masjidil Haram. Tidak seperti di Indonesia, yang melakukan takbir setelah berbuka puasa di hari terakhir Ramadhan. Di sana takbir baru berkumandang pada tanggal 1 Syawal, sebelum salat Idul Fitri dilakukan.
Pak Wijaya, Ibu Hasna, Adi dan Adelia merasa terharu bercampur bahagia saat mendengar takbir berkumandang di tanah suci. Seketika bulu kuduk merinding dan ingin menangis saat mendengar lantunan takbir. Mereka bisa merayakan Idul Fitri, hari kemenangan, di mana Ka'bah, kiblat umat Islam, berada di depan mata. Ini menjadi pengalaman yang sangat berharga untuk mereka karena tidak semua orang bisa mengalaminya.
Saat tiba waktunya, para jemaah melaksanakan salat Idul Fitri dan juga mendengarkan ceramah. Sesudah itu, mereka saling bersalaman, memberi ucapan selamat hari raya tanpa memandang dari mana mereka berasal. Semua menyatu, membaur menjadi satu.
Rombongan umrah Pak Wijaya, kembali ke hotel. Di sana, mereka sudah disuguhi hidangan ketupat yang merupakan pemberian dari warga Indonesia yang sudah lama bermukim di Arab. Hidangan ketupat itu dilengkapi bumbu kacang dengan daging atau ayam sebagai lauknya, membuat suasana lebaran terasa seperti di tanah air.
Usai saling bersalaman, bermaaf-maafan, dan sarapan bersama, rombongan umrah menghubungi keluarga masing-masing di tanah air.
__ADS_1
Pak Wijaya, Ibu Hasna, Adi dan Adelia, berkumpul di kamar yang sudah disewa secara khusus. Adi lalu melakukan panggilan video pada mertuanya terlebih dahulu.
Pak Wijaya, berbicara terlebih dahulu dengan besannya, Pak Lukman. Mereka saling bermaaf-maafan setelah saling mengucap salam dan menanyakan kabar. Setelah itu Ibu Hasna, baru kemudian Adi dan Adelia.
Terlihat di video, keluarga besar Pak Lukman sedang berkumpul. Mereka juga menyapa keluarga yang lain selain Ibu Sarah dan Arsenio, serta Mbok Sum, yang sudah dianggap keluarga sendiri. Adelia sempat merasa sedih karena harus berjauhan dengan keluarganya di hari lebaran. Namun, dia juga bahagia karena bisa merayakan Idul Fitri di tanah suci bersama suami tercinta dan kedua mertua yang sudah menganggapnya sebagai anak kandung sendiri.
Sesudah cukup bercengkerama dengan keluarga Pak Lukman, Adi melakukan panggilan video dengan Rendra. Begitu diangkat, mereka langsung melihat wajah Ale yang berusaha meraih gawai baba-nya yang diletakkan di atas meja. Ale mengenakan setelah koko dan peci kecil, yang membuatnya tampak lebih menggemaskan.
"Assalamu'alaikum, Le," sapa Pak Wijaya pada sang cucu.
Ale tertawa sambil menggerakkan tangannya, seolah minta digendong yangkung-nya. Mungkin dia berpikir, mereka berempat ada di depannya, hingga minta digendong.
"Wa'alaikumussalam, Yangkung, Yangti, Pakde, Bude," balas Rendra mewakili Ale yang masih belum bisa bicara.
Seperti sebelumnya, Pak Wijaya berbicara dahulu dengan besannya, Ibu Dewi. Saling menanyakan kabar, kemudian bermaaf-maafan. Begitu juga Ibu Hasna, Adi dan Adelia bergantian berbicara.
Keluarga Ibu Dewi sengaja berkumpul di ruang tengah, menunggu panggilan video dari Adi. Shasha dan Nisa juga ada di sana. Dita yang baru kali ini lebaran berjauhan dengan kedua orang tua dan kakaknya, jadi menangis tersedu-sedu saat saling bermaaf-maafan. Membuat Rendra harus memenangkan istrinya dan meminta tolong Shasha untuk menggendong Ale.
Sesudah momen mengharukan usai, mereka berempat, sedikit berbagi cerita pengalaman Ramadhan di tanah suci. Sesekali mereka juga tertawa melihat polah tingkah Ale yang semakin aktif dan menggemaskan.
Setelah cukup mengobrol, sekedar melepas rasa rindu, Adi mengakhiri panggilannya. Pak Wijaya dan Ibu Hasna, kembali ke kamar rombongan mereka. Tinggallah Adi dan Adelia yang ada di dalam kamar. Adi mengunci pintu sesudah kedua orang tuanya pergi.
"Kita istirahat dulu, Ai. Pasti mengantuk dan capai kan," kata Adi sembari melepas pakaiannya.
Adelia menyengguk. "Iya, Mas. Semalam kan cuma sebentar tidurnya gara-gara, Mas."
Adi tertawa kecil mendengar istrinya. "Tapi, Ai, suka kan. Apa mau lagi sekarang? Ini momen yang langka loh melakukannya saat Idul Fitri di tanah suci." Adi menaikturunkan kedua alisnya untuk menggoda sang istri.
"Ish, Mas Adi, kaya enggak capai saja."
"Kalau untuk menyenangkan istriku tercinta, tidak ada rasa capai, Ai." Adi memeluk istrinya, yang sedang melepas hijab dan aksesorisnya, dari belakang.
"Menyenangkan kita berdua," ujar Adi sembari membuka ritsleting belakang gamis istrinya. Setelah itu dia menyingkirkan gamis dari bahu sang istri hingga membuat gamis itu terjatuh di lantai. Dia mulai mengecupi bahu dan leher belakang istrinya.
"Ugh, Mas," desah Adelia. "A-ku mau bersih-bersih dulu."
"Kalau begitu kita bersih-bersih bersama biar lebih hemat waktu." Tanpa menunggu jawaban Adelia, Adi membopong istrinya ke kamar mandi. Dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi di sana.
Hari ketiga lebaran, atau tanggal 3 Syawal, mereka melakukan umrah terakhir karena sudah waktunya untuk kembali ke tanah air. Adi dan Adelia berdoa semoga mereka bisa kembali ke tanah suci untuk menjalankan ibadah haji. Mereka juga berdoa agar segera diberikan keturunan yang saleh dan salehah. Selain itu, berdoa minta diberikan kesehatan dan rezeki yang halal dan berkah. Tak lupa mereka mendoakan anggota keluarganya yang lain.
Pak Wijaya dan Ibu Hasna juga berdoa untuk mereka sendiri, anak dan menantu serta cucu mereka. Berdoa agar diberikan sisa usia yang berkah dan bermanfaat bagi sesama, kesehatan lahir dan batin, serta rezeki yang halal dan berkah. Mereka juga meminta anak keturunan mereka bisa terus berada di jalan yang lurus, membina rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah, membimbing keturunan mereka sesuai dengan ajaran Islam, serta doa-doa kebaikan lainnya.
Rombongan umrah Pak Wijaya, pulang ke Indonesia dengan penerbangan yang sudah ditentukan oleh biro umrah. Mereka transit di Jakarta dahulu sebelum kembali ke Jogja. Rendra, Dita dan Ale sudah menunggu keluarga mereka di bandara Jogja.
Setelah pesawat mendarat, mereka menunggu koper yang masuk ke bagasi. Adi mengambil troli untuk membawa koper mereka berempat. Barang belanjaan Ibu Hasna dan Adelia dijadikan satu koper sendiri karena saking banyaknya.
Adelia bergandengan dengan ibu mertuanya keluar dari pintu kedatangan. Dari jauh, mereka sudah bisa melihat sosok Rendra yang punya perawakan tinggi, hingga tak perlu susah mencari lagi. Mereka langsung menghampiri Rendra yang sedang menggendong Ale di depan dadanya.
Dita langsung memeluk sang bunda begitu melihat wanita yang sudah melahirkannya itu. Dia memeluk erat bundanya, melepas rasa rindu yang membuncah di dada. Mencium kedua pipi dan punggung tangan sang bunda sebelum mengurai pelukan mereka.
Ale ingin meminta gendong setelah melihat yangti-nya. Dia menjulurkan tangan ke depan.
"Nanti ya di rumah gendongnya. Yangti belum mandi," ucap Ibu Hasna sambil mencium tangan cucunya.
"Ba, ba," celoteh Ale.
"Iya, Ale sama baba dulu, ya." Ibu Hasna mengelus kepala Ale.
__ADS_1
Mereka menuju ke parkiran mobil setelah saling sapa dan sejenak melepas kangen. Rendra memberikan Ale pada istrinya karena dia akan membantu membawa koper. Rendra dan Adi memasukkan koper ke bagasi belakang. Mereka kemudian langsung pergi ke masjid dekat rumah begitu dari bandara dengan mobil yang dikendarai Rendra.
Pak Wijaya, Ibu Hasna, Adi dan Adelia, menjalankan salat sunah dua rakaat di masjid. Salat sunah itu sebagai bentuk rasa syukur karena telah kembali ke rumah dengan selamat dan bisa menjalankan ibadah umrah dengan lancar. Usai salat, mereka baru pulang ke rumah.
Sesampai di rumah, mereka berempat membersihkan diri secara bergantian agar badan lebih terasa segar setelah perjalanan panjang. Sementara yang lain membersihkan diri, Dita menyiapkan makanan untuk mereka berempat. Dia sudah pulang ke rumah orangtuanya di hari kedua lebaran. Jadi, kemarin dia bisa memasak untuk menyambut kedatangan mereka berempat.
Rendra membantu Dita menyiapkan ruang tamu, berjaga kalau ada saudara atau tetangga yang datang untuk bersilaturahim. Selain masih suasana lebaran, sudah jadi tradisi bila ada yang pulang haji atau umrah pasti didatangi banyak orang. Ada yang datang untuk mendengarkan pengalaman selama menjalankan haji atau umrah. Ada yang ingin meminum air zamzam yang dibawa dari tanah suci ataupun meminta oleh-oleh.
Pak Wijaya langsung menciumi dan menggendong cucunya setelah selesai membersihkan diri. Dia sangat kangen dengan cucu pertamanya itu.
"Sehat-sehat ya, Le. Jadi anak yang saleh. Bisa bermanfaat untuk sesama," doa Pak Wijaya yang diucapkan di atas ubun-ubun Ale.
"Aamiin," sahut Dita yang ada di dekat mereka.
"Ayah, makan dulu, pasti lapar habis perjalanan jauh. Jangan malah main sama Ale dulu," kata Dita pada sang ayah.
"Makannya nanti saja, bareng sama yang lain. Ayah mau main dulu sama Ale mumpung di sini."
"Ya sudah, kalau begitu. Aku bongkar koper yang buat oleh-oleh ya, Yah."
"Tanya sama bunda dulu, yang mana oleh-oleh untuk tetangga," titah Pak Wijaya.
"Iya, Yah, nanti. Sekarang bunda masih di kamar mandi."
"Baju ganti Ale mana, Dek? Ini Ale keringatan." Pak Wijaya mengusap keringat di kening Ale.
"Sebentar aku ambilkan yang pendek, Yah. Tadi lupa ganti bajunya." Dita bergegas ke kamar mengambil baju ganti Ale.
"Aku ganti baju Ale dulu, Yah," kata Dita setelah membawa beberapa stel baju pendek Ale.
"Biar ayah saja. Begini-begini, ayah dulu yang suka mengganti popokmu sama Mas."
"Keringatmu, Le. Panas ya di sini," gumam Pak Wijaya.
"Iya. Makanya Yangkung pasang AC biar Ale enggak kepanasan kalau di sini," sahut Dita dengan tertawa kecil.
"Yangkung bisa masuk angin kalau pakai AC terus. Nanti Yangkung belikan kipas angin saja ya buat Ale," kata Pak Wijaya.
"Kamar Ale saja nanti yang dipasang AC, biar enggak gerah kalau di kamar," lanjut Pak Wijaya.
"Makasih, Yangkung." Dita merangkul lalu mencium pipi ayahnya.
"Ini yang minta AC, bubu apa Ale?" goda Pak Wijaya.
"Bubu kan mewakili Ale, ya kan, Nak."
"Ba, ba," sahut Ale sambil tertawa.
Mereka berdua kemudian tertawa mendengar celoteh Ale.
...---oOo---...
Jogja, 191221 23.50
Ada yang kangen sama mereka? Atau malah sudah lupa dengan mereka?
InsyaAllah cerita KaiSha sedang dalam proses, semoga diberi kelancaran dalam proses pembuatannya. Namun, kemungkinan besar tidak akan rilis di sini. ššš
__ADS_1
Untuk yang mengikuti kisah Arjuna dan Putri di IG, insyaAllah juga akan dibuat novelnya, tetapi mungkin nanti setelah KaiSha. Nanti akan diinfokan lebih lanjut.
Terima kasih untuk semua yang sudah mendukung karya saya dari awal sampai saat ini, yang tetap setia menanti up terbaru. Yang tetap memegang janji untuk terus mendukung saya. Kalian ruarrrr biasa. Tanpa kalian, apalah saya ini. Support dari teman-teman yang masih membuat saya bisa bertahan. Love you all ššš