Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Test Pack


__ADS_3

"Mbak, ada makanan enggak?" tanya Dita.


"Enggak ada, Dek. Aku sama Mas Adi puasa. Tadi sahur juga pakai pepes yang dibawain bunda kemarin," jawab Adelia.


"Sayang, lapar?" Rendra menoleh pada istrinya.


"Iya, Mas. Sebentar lagi jam Ale menyusu, pasti aku makin lapar," keluh Dita.


"Punya apa di dapur, Del?" tanya Rendra pada Adelia.


"Di freezer ada frozen food, tapi nasinya habis harus masak dahulu," jawab Adelia.


"Aku ambilkan makanan di rumah saja ya, Sayang."


"Enggak usah, Mas. Bikin mie instan saja yang cepat." Dita menolak tawaran suaminya.


"Mie instan kan tidak sehat, Sayang." Rendra mengingatkan sang istri.


"Enggak apa-apa, Mas, asal tidak setiap hari." Dita kekeh dengan keinginannya.


"Aku ada kok mie instan yang sehat, Dek," sela Adelia.


"Nah, tuh ada mie instan sehat, Mas. Aku bikin dulu ya. Punya telur kan, Mbak?" Dita menoleh pada sang kakak ipar.


"Ada, Dek."


"Sip. Mas, tolong jaga Ale ya."


"Aku bikinkan saja, Sayang." Rendra menahan istrinya pergi.


"Enggak. Aku mau bikin sendiri yang sesuai seleraku," tolak Dita.


"Aku temani kalau begitu. Jangan sampai pakai sambal atau cabai yang banyak. Kasihan Ale," tegas Rendra.


Mau tidak mau Dita menuruti suaminya. Mereka berdua pergi ke dapur dan meninggalkan Ale berdua dengan Adelia.


"Ale sama bude saja ya di sini. Tuh baba sama bubu baru berdebat. Bubu sih suka makan yang pedas, tapi sama baba enggak boleh." Adelia mengajak Ale bicara sambil tertawa geli sendiri.


Sesudah drama memasak mie instan selesai, Dita makan dengan khusyuk di meja makan. Sementara itu Rendra dan Adelia di ruang tengah karena mereka sedang menjalankan puasa sunah di hari Senin.


"Ren, tahu kabar Bara enggak?" tanya Adelia.


"Tahu, kenapa?" Rendra menatap Adelia.


"Di mana dia sekarang? Sudah lama aku enggak kontak sama dia. Kalau enggak aku hubungi duluan, Bara tidak pernah kirim pesan lagi," keluh Adelia.


"Masih ngamen di sini kok. Dia kan baru ikut seleksi penerimaan karyawan di perusahaannya Mas Adi. Kalau dia diterima di Jogja, ya dia tetap di sini. Kalau enggak, mau tidak mau dia balik ke Jakarta," terang Rendra.


"Penyebab Bara tidak menghubungi kamu karena kamu sudah bersuami, Del. Dia tidak boleh sembarangan menghubungi istri orang tanpa keperluan yang penting. Kita tidak mungkin bisa bebas seperti dulu," lanjut Rendra.


"Benar juga apa yang kamu bilang, Ren. Tapi, kadang aku kangen curhat sama Bara."


"Jangan pernah curhat sama lawan jenis lagi, meski itu sahabat, Del. Setan ada di mana-mana, bisa menggoda kalian. Lebih baik curhat sama suami atau Allah langsung," nasihat Rendra.


"Iya, Ren. Aku juga tahu." Adelia menunduk, jarinya bergerak membentuk lingkaran di atas karpet.


"Kita sudah menikah, akan beda dengan kita sebelum menikah, Del. Ada hati dan perasaan yang harus kita jaga. Meski kita hanya bilang teman, kita tidak tahu apa yang dipikirkan dan rasakan pasangan kita saat kita dekat dengan lawan jenis."


"Iya, Ren. Tapi, jangan bikin aku jadi makin merasa bersalah sama Mas Adi dong," protes Adelia.


"Kenapa memangnya? Apa salahmu sama Mas Adi?" tanya Rendra heran.


"Itu tadi soal curhat sama Bara," jawab Adelia dengan cemberut.


"Kan kamu belum curhat, Del." Rendra mentertawakan Adelia.


"Ngobrolin apa ini kok kayanya seru banget?" Dita yang sudah selesai makan, bergabung dengan mereka.


"Adel tanya soal Bara, Sayang," jelas Rendra.


"Oh, Kak Bara. Kirain ada hal yang serius."


"Enggak, Sayang."


"Oeee, Oeee." Ale menangis, mengalihkan perhatian semua orang padanya.


"Bubu datang kok nangis sih, Nak." Dita berniat menggendong Ale karena sudah waktunya dia menyusu. Tapi, saat menyentuh celananya ternyata basah.


"Ale ngompol nih. Ganti celana dulu ya baru minum susu." Dengan sigap, Dita mengganti celana Ale yang basah dengan yang baru. Rendra menyingkirkan celana yang basah ke dalam wadah pakaian kotor Ale.


Sesudah itu, Ale mulai menyusu dengan tenang. Selama menyusu dia menatap mata Dita dengan sebelah tangan berada di dada bubu-nya.


"Nanti mau masak apa buat buka puasa, Mbak?" tanya Dita tanpa mengalihkan pandangan dari putranya.


"Aku lagi males masak, Dek. Mas Adi katanya mau belikan buat buka puasa. Nanti aku mau belanja sekalian makan di luar," jawab Adelia.


"Kamu buka puasa di sini saja Ren, biar Mas Adi belikan buat kalian juga," lanjutnya.

__ADS_1


"Enggak usah, Mbak. Mama sudah siapin makanan kok. Mbak Adel sama Mas Adi saja yang ke sebelah."


Adelia menggeleng. "Aku lagi males ngapa-ngapain, Dek. Kalau enggak karena ingin beli arum manis aku enggak pergi nanti malam."


"Sejak kapan kamu makan yang manis-manis, Del?" Rendra mengernyit heran.


"Beberapa hari ini, Ren. Malam Minggu kemarin aku ke pasar malam sama Mas Adi. Aku beli arum manis di sana. Eh kok sekarang mau lagi," terang Adelia seraya tersenyum malu.


"Memangnya Mbak Adel tidak suka makanan manis?" tanya Dita.


"Adel ini kan sering diet, Sayang. Enggak bisa beratnya naik sedikit pasti ribut. Makanya jarang makan yang manis-manis," terang Rendra.


"Oh, pantes badannya bagus, Mbak," puji Dita.


"Ck, itu kan dulu. Berat badanku sekarang sudah naik, Ren. Aku juga enggak tahu kenapa suka makan yang manis-manis belakangan ini, Dek."


"Jangan-jangan Mbak Adel hamil?" tebak Dita.


"Masa sih, Dek? Jangan bikin aku ge-er," ujar Adelia.


"Bisa jadi sih, Del. Orang hamil kan biasanya seleranya berbeda dari biasanya." Rendra mendukung tebakan Dita.


"Bulan ini sudah haid belum, Mbak?" tanya Dita dengan rasa antusias.


Adelia mengingat-ingat periode haidnya. "Belum, Dek. Sudah telat beberapa hari sih dari jadwal rutin. Tapi, kan dah biasa kaya gitu telat beberapa hari apalagi kalau kecapaian."


"Coba deh pakaiΒ test pack, Mbak," saran Dita.


"Aku takut kecewa, Dek," ujar Adelia.


"Insya Allah, enggak, Mbak. Dari tanda-tanda kayanya positif nih." Dita mencoba meyakinkan Adelia.


"Kalau ternyata negatif gimana, Dek?" Adelia menatap sang adik ipar.


"Dicoba lagi, Mbak. Tapi aku yakin kok Mbak Adel hamil."


"Yakin, Dek?" tanya Adelia memastikan.


"Insya Allah. Aku kayanya masih ada test pack yang belum dipakai, Mbak. Mas Rendra tuh kalau beli test pack enggak kira-kira, pasti semua dibeli. Pakai punyaku saja nanti aku ambilkan."


"Makasih, Dek. Tapi, enggak usah. Nanti aku beli saja sama Mas Adi sekalian keluar."


"Ya sudah kalau begitu, Mbak. Tesnya besok pagi, pakai pipis setelah bangun tidur." Dita menjelaskan cara memakai test pack pada Adelia.


"Sayang, itu Ale dipindah menyusunya." Rendra mengingatkan istrinya.


"Maafkan bubu ya, Nak, keasyikan mengobrol sama bude." Dita mengelus pipi Ale yang semakin tembam saja. Dia kembali melakukan kontak mata dengan Ale.


"Aku ke kamar dulu ya, Ren, Dek. Ngantuk aku," pamit Adelia.


"Iya, Del," sahut Rendra yang sekaligus mewakili istrinya.


Malam harinya, Adelia dan Adi pergi seperti rencana mereka sebelumnya. Mereka makan malam dahulu sebelum pergi berbelanja.


"Mas, kata Dek Dita sama Rendra kemungkinan aku hamil," kata Adelia saat mereka menunggu pesanan datang.


Adi terkejut mendengar perkataan istrinya. "Ha--mil? Serius, Ai?"


"Mungkin, Mas. Masih belum pasti."


"Kok bisa mereka berdua bilang begitu?" Adi mengerutkan kening.


"Katanya karena sekarang aku suka makan yang manis-manis padahal biasanya aku tidak suka. Terus aku juga telat haid beberapa hari," jelas Adelia.


"Oh, memang kaya gitu bisa menandakan hamil, Ai?"


"Bisa iya, bisa tidak, Mas. Tapi, aku tidak mau terlalu berharap. Aku takut kecewa." Adelia menundukkan kepala.


"Ai, mau hamil atau belum, aku tidak masalah. Aku tetap mencintai, Ai." Adi mengelus kepala sang istri yang terbalut pasmina.


Adelia mengangkat kepala. Dia tersenyum pada suaminya. "Terima kasih, Mas."


Adi menyengguk. Dia kini merangkul bahu Adelia. "Terus mereka bilang apalagi?"


"Aku disuruh pakai test pack, Mas. Tapi tesnya besok pagi, karena yang paling bagus itu, urine setelah bangun tidur."


"Memangnya Ai sudah beli test pack-nya?"


"Ya belum. Ini nanti sekalian belanja belinya. Tadi sebenarnya Dek Dita nawari aku test pack-nya karena Rendra dulu belinya banyak, tapi aku tidak mau. Aku maunya beli sama Mas Adi."


"Ya sudah. Nanti kita beli test pack. Kayanya memang Ai berubah jadi lebih manja sekarang. Mudah-mudahan benar ya Ai, Allah mengabulkan doa-doa kita."


"Aamiin."


"Kita makan dulu sekarang, biar ada tenaga buat belanja," ajak Adi setelah pesanan mereka sudah terhidang di atas meja.


"Iya, Mas."

__ADS_1


Usai makan malam, mereka pergi ke supermarket pilihan Adelia. Selain berbelanja kebutuhan sehari-hari, Adelia membeli semua makanan manis yang dia inginkan. Ada bermacam cokelat dari berbagai merek dan varian rasa yang dia ambil. Selain itu juga berbagai kemasan arum manis. Dua boks es krim yang setiap boksnya terdiri dari 3 varian rasa. Dan berbagai snack bar yang berbalut coklat.


"Ai, kok jajannya banyak banget. Apa habis segitu?" Adi mengingatkan sang istri.


"Kenapa? Aku enggak boleh belanja sebanyak ini. Ya sudah, aku kembalikan lagi." Adelia meradang, mood-nya langsung berubah.


"Bukan enggak boleh, Ai. Tapi sayang kalau mubazir, tidak dimakan."


"Aku pasti makan, Mas. Dek Dita tadi ke rumah kita enggak ada makanan. Ini juga bisa dimakan sama Dek Dita."


"Ya sudah kalau begitu. Maksud aku tadi, besok beli lagi kalau habis. Sekarang tidak perlu banyak-banyak."


"Biar sekalian perginya. Aku kan lagi malas ke mana-mana, Mas. Gimana sih." Adelia masih saja sewot.


"Iya, apa yang baik menurut Ai saja." Adi akhirnya hanya pasrah dan menuruti istrinya. Dia tadi sedikit terkejut saat Adelia marah karena diingatkan, biasanya istrinya selalu menurut dan bertutur halus. Dia baru sadar memang istrinya berbeda belakangan ini. Kenapa dia tidak menyadarinya selama ini?


Adi mendorong troli belanja, mengikuti ke mana pun sang istri melangkah. Lebih baik dia diam saja daripada nanti salah omong lagi dan membuat salah paham.


"Mas, beli test pack di apotek saja ya. Kayanya di sini tidak ada," kata Adelia.


"Oke, kita nanti mampir ke apotek yang buka 24 jam, Ai. Sekarang Ai puaskan dulu belanjanya mumpung kita di sini."


"Kayanya sudah semua sih, Mas." Adelia mengecek kertas kecil yang berisi daftar belanja yang tadi dia buat. Dia memang selalu membuat daftar belanja agar tidak banyak membeli barang atau bahan yang tidak penting. Apalagi kalau melihat kata diskon pasti bawaannya ingin beli semua yang didiskon. Nah, daftar belanja itu untuk mengeremnya.


"Yakin sudah semua, Ai?" tanya Adi memastikan.


"Insya Allah sudah, Mas." Adelia menjawab dengan yakin.


"Kalau begitu kita ke kasir sekarang." Adi mendorong troli menuju ke kasir yang kosong. Karena bukan akhir pekan jadi tidak terlalu banyak pengunjung di sana hingga tidak perlu antri di kasir.


"Mau pakai plastik atau kardus, Bu?" tanya sang kasir dengan ramah.


"Dikardus saja, Mbak," jawab Adelia.


Sang kasir lalu menyiapkan kardus sebagai tempat barang belanjaan Adelia.


Setelah proses transaksi di kasir selesai. Mereka keluar dari supermarket. Adi kembali mendorong troli sampai di dekat mobilnya terparkir. Adi memasukkan kardus belanjaan mereka ke dalam bagasi.


Tujuan mereka selanjutnya ke apotek yang buka 24 jam karena waktu sudah lebih dari pukul 09.00 malam. Apotek biasanya buka hanya sampai jam 08.00 atau 09.00 malam saja.


Adi mengikuti Adelia masuk ke dalam apotek. Adi meminta alat test pack yang paling bagus. Tapi, Adelia ingin beli yang harga murah saja, karena menurutnya sayang kalau membeli mahal ternyata hasilnya negatif. Alhasil mereka membeli beberapa test pack dengan berbagai merek dan tingkatan harga.


Mereka langsung pulang ke rumah setelah dari apotek. Sebelum masuk ke kamar dan membersihkan diri, mereka menata belanjaan mereka ke tempat penyimpanannya masing-masing.


Cokelat, arum manis dan snack bar, ditaruh Adelia di meja makan dan ruang tengah. Jadi sewaktu-waktu dia ingin makan camilan, bisa langsung mengambil tanpa harus repot mencari di lemari penyimpanan. Adi mengikuti saja kemauan sang istri.


Selesai menata belanjaan, mereka masuk ke kamar dan membersihkan diri. Bersiap untuk beristirahat setelah beraktivitas seharian.


"Mas, kalau besok hasilnya negatif bagaimana?" tanya Adelia setelah mereka berbaring di atas ranjang.


"Tidak apa-apa. Berarti Allah belum memberi kita kepercayaan untuk punya anak. Kita berusaha lagi dan berdoa," jawab Adi seraya menenangkan sang istri.


"Mas Adi, tidak marah kan?"


"Marah kenapa?" Adi mengernyit heran.


"Marah karena aku belum hamil."


"Ya Allah, Ai. Harus berapa kali aku bilang kalau itu semua sudah diatur Allah? Apa yang kita jalani sekarang ini adalah yang terbaik menurut Allah. Ai, pasti tahu kan kalimat ini, 'apa yang terbaik menurut kita, belum tentu terbaik menurut Allah. Apa yang menurut kita buruk, belum tentu buruk di hadapan Allah'."


"Iya, Mas."


"Jangan khawatir berlebihan, Ai. Ada aku yang selalu ada untukmu."


"Terima kasih, Mas." Adelia memeluk erat tubuh suaminya.


"Kita tidur, yuk. Besok pagi Ai akan test pack kan."


Adelia menyengguk dalam pelukan suaminya.


"Jangan lupa berdoa, Ai. Selamat tidur, Ai. Semoga mimpi indah." Adi kemudian mengecup kening, pipi dan bibir istrinya.


Pagi harinya setelah bangun dari tidur, Adelia langsung ke kamar mandi. Dia melakukan seperi apa yang dikatakan adik iparnya yang lebih berpengalaman.


Adelia menunggu dengan penuh rasa cemas di kamar mandi. Sementara Adi sedang membaca Al-Qur'an sambil menunggu azan Subuh berkumandang.


"Mas--Mas Adi," panggil Adelia setengah berteriak dari dalam kamar mandi.


Begitu sang istri memanggil. Dia segera menghentikan membaca Al-Qur'an. Dia lari tergopoh ke kamar mandi.


"Ada apa, Ai?" Adi membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci. Dia melihat sosok istrinya menangis sambil melihat alat test pack di meja wastafel.


"Mas," ucap Adelia dengan air mata berlinang, seraya menyodorkan satu alat test pack yang sudah menunjukkan hasil.


...---oOo---...


Jogja, 281021 00.40

__ADS_1


__ADS_2