Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Kontrol Kehamilan


__ADS_3

Sejak kondisi kesehatannya pulih setelah peristiwa penusukan, Adelia mulai mengikuti prenatal yoga yaitu jenis yoga yang khusus dilakukan ibu hamil selama masa kehamilan.Β Jenis yoga ini bisa membantu ibu hamil agar siap secara fisik dan mental saat melahirkan, baik melahirkan secara normal maupun dengan operasi caesar.


Adelia mengikuti kelas prenatal yoga yang dibuka di rumah sakit tempat di mana dia berencana melahirkan. Setiap dua kali dalam seminggu, calon ibu itu mengikuti kelas. Kadang dia pun melakukannya sendiri di rumah sesuai arahan sang instruktur.


Istri Adi itu benar-benar mendapatkan banyak manfaat setelah mengikuti kelas prenatal yoga. Pola tidurnya jadi lebih baik. Dia bisa lebih rileks, mengurangi stres dan cemas menjelang persalinan, teknik pernapasannya jadi lebih baik. Serta mengurangi rasa sakit dan pegal di punggung bagian bawah. Selain melakukan prenatas yoga, setiap pagi sesudah salat Subuh, Adelia berjalan-jalan di sekitar kompleks perumahan agar proses melahirkan nanti bisa lebih mudah.


Adelia memeriksakan kehamilan setiap dua minggu sekali setelah masuk trimester ketiga. Hari ini adalah jadwalnya berkunjung ke dokter Lita. Dia pergi ditemani oleh Adi dan juga Bu Sarah.


"Assalamu'alaikum, Dok," salam Adi pada dokter Lita yang selalu tersenyum ramah pada siapa saja.


"Wa'alaikumussalam, Pak Adi, Bu Adelia, dan maaf dengan Bu siapa?" tanya dokter Lita pada Bu Sarah.


"Saya Sarah, Dok. Mamanya Mbak Adel," jawab Bu Sarah.


"Selamat kenal, Bu Sarah. Saya Lita, yang memeriksa kehamilan Bu Adelia." Dokter Lita memperkenalkan dirinya.


"Iya, Dok."


"Bagaimana Bu Adelia, apa ada keluhan sejauh ini?" Dokter Lita beralih pada sang calon ibu.


"Saya tidak tahu ini masuk keluhan atau tidak, tapi anak saya ini kaya sering nendang perut bagian bawah, Dok," ujar Adelia sambil mengelus kandungannya yang sudah membuncit.


"Selain itu, bagaimana pergerakannya? Normal 'kan?"


"Alhamdulillah normal, Dok."


"Kalau begitu kita cek melalui USG nanti. Oya, jadi mau USG 4 dimensi sekarang atau nanti saja saat kandungan sudah 36 minggu, sekarang 'kan masih masuk 32 minggu?"


"Sekarang juga tidak apa-apa, Dok," sahut Adi.


"Sus, tolong disiapkan USG 4 dimensinya," pinta dokter Lita pada perawat yang mendampinginya.


"Ditunggu sebentar ya, Bu, biar disiapkan dulu. Saya lihat dulu ya untuk tensi bagus, berat badan juga masih di ambang normal pertambahannya. Tapi, tetap diusahakan mengurangi makanan yang manis ya, Bu. Nyemilnya buah-buahan saja biar lebih sehat."

__ADS_1


"Iya, Dok. Saya sering makan buah sekarang kalau merasa lapar," timpal Adelia.


"USG-nya sudah siap, Dok." Seorang perawat memberi tahu dokter Lita.


"Mari Bu Adelia, kita ke ruangan USG dulu. Pak Adi dan Bu Sarah silakan kalau mau ikut." Dokter Lita mengajak ketiga orang itu ke ruangan khusus USG 4 dimensi.


Adelia dengan dibantu Adi berbaring di atas ranjang periksa. Ibu hamil itu menyingkap gamis sampai di dada. Perawat lalu memberi gel di atas perut Adelia sebelum dokter Lita mulai menggerakkan transduser.


"Kita lihat ya wajahnya. Cantik sekali, hidungnya mancung nih, Pak, Bu," ujar dokter Lita saat di layar menampilkan penampakan wajah sang janin.


"Masya Allah, itu anak kita, Mas," ucap Adelia dengan suara bergetar. Ada rasa haru menyeruak di dadanya saat melihat gambaran wajah calon anaknya di layar.


"Iya, Ai. Cantik kaya uminya," sahut Adi dengan mata berbinar-binar.


"Cucuku cantik sekali." Bu Sarah pun ikut berkomentar.


"Nanti kita cetak ya, wajah si cantik ini. Kita lihat lagi sekarang bentuk kepala normal, mata, hidung, bibir, telinga, alhamdulillah semua normal. Sekarang kita lihat tangan, kaki, normal. Beratnya sesuai. Air ketuban masih mencukupi, posisi plasenta juga normal. Nah, kita dengarkan dulu detak jantungnya."


Terlihat garis-garis yang menggambarkan irama detak jantung janin. "Detaknya normal, alhamdulillah tidak ada kelainan di jantungnya. Hanya saja posisinya saat ini masih sungsang. Tapi, Bu Adelia tidak perlu khawatir, posisinya masih masih bisa diusahakan untuk berubah." Dokter Lita meletakkan kembali transduser ke tempatnya.


Setelah gel dibersihkan oleh perawat, Adelia bangun dengan dibantu Adi. Setelah itu mereka mengikuti dokter Lita dan perawat kembali ke ruangan sebelumnya.


"Ini hasil pencitraan USG tadi." Dokter Lita menyerahkan beberapa lembar kertas pada Adi.


"Ai, Ma, lihat ini wajahnya Mbak." Adi memperlihatkan kertas yang menunjukkan gambar wajah calon anaknya.


"Cantik," gumam Adelia seraya mengelus gambar itu.


"Kondisi janin alhamdulilah semuanya baik dan normal ya, hanya posisinya yang sungsang. Bu Adelia ikut prenatal yoga ya kalau tidak salah?"


"Iya, Dok," sahut Adelia.


"Ibu bisa minta pada instruktur memberi tahu gerakan yang bisa membantu janin sungsang agar posisinya bisa normal. Ada juga yang melakukannya dengan posisi sujud selama 5 sampai 10 menit, dilakukan dua atau tiga kali sehari. Kita hanya bisa mengupayakan ya Bu, Pak, kalau ternyata sampai saat mau lahir posisinya belum berubah ya mau tidak mau kita harus melakukan operasi caesar. Karena kalau dipaksakan melahirkan normal akan besar risikonya untuk ibu hamil maupun sang janin."

__ADS_1


"Risikonya apa, Dok?" tanya Adi.


"Bisa terjadi pendarahan, kepala janin tersangkut di jalan lahir, sampai rahim sobek," jawab dokter Lita. "Seperti yang saya katakan tadi, kita mengupayakan agar posisi janin normal agar bisa melahirkan secara norma. Tapi, Bu Adelia juga harus bersiap kalau seandainya harus caesar."


"Bu Adelia tidak perlu takut caesar, nanti bisa sharing dengan Bu Dita yang sudah dua kali caesar," imbuh dokter Lita.


"Iya, Dok."


"Kita sama-sama berdoa dan berusaha ya, Pak, Bu, agar bisa normal. Semoga dikabulkan oleh Allah."


"Aamiin," ucap Adi, Adelia dan Bu Sarah.


"Vitaminnya tetap diminum seperti biasa ya. Kalau tidak ada keluhan, dua minggu kontrol lagi ke sini. Oh ya, saya lupa menyampaikan, bisa jadi nanti Bu Adelia akan mengalami kontraksi palsu."


"Kontraksi palsu itu bagaimana, Dok?" tanya Adelia.


"Rahim atau perut terasa tegang, Bu. Kalau kontraksi palsu hanya sebentar, tidak sampai satu menit. Kontraksi ini hanya beberapa kali muncul dalam sehari, tidak teratur, dan jarak waktu kontraksi tidak berdekatan. Kalau kontraksi persalinan lebih dari satu menit dan kontraksinya semakin sering, teratur, dan jarak waktu antara kontraksi makin pendek."


"Kontraksi palsu hanya terasa di bagian depan perut, kalau kontraksi persalinan dari bagian punggung bawah dan menyebar ke arah depan atau sebaliknya serta disertai rasa nyeri," jelas dokter Lita.


Adelia mengangguk-angguk mendengar penjelasan dokter Lita.


"Tambahan lagi sama perlengkapan untuk melahirkan di rumah sakit juga mulai disiapkan ya, Pak, Bu. Agar nanti kalau misalnya persalinan ternyata maju tidak ribet, tinggal dibawa saja," saran dokter Lita.


"Baik, Dok," timpal Adi.


"Apa ada yang mau ditanyakan?" Dokter Lita memandang ketiga orang di depannya bergantian.


Adi melihat Adelia dan Bu Sarah, tapi mereka berdua sepertinya tidak akan bertanya lagi. "Tidak ada, Dok."


"Baiklah kalau begitu. Sehat-sehat selalu ya Pak Adi, Bu Adelia, dan juga Bu Sarah."


"Terima kasih, Dok."

__ADS_1


---oOo---


Jogja, 280722 20.00


__ADS_2