Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Restu POV 3


__ADS_3

Aku berulang kali mengecek gawai memastikan Adelia membaca pesan yang aku kirim. Setelah tanda centang dua berwarna biru, aku menghela napas lega. Rasanya aku sudah tidak sabar bertemu pujaan hatiku itu.


Tak terasa sudah lebih dari empat bulan aku tidak bertemu Adelia. Terakhir kali bertemu dia saat aku memutuskan pertunangan kami. Selebihnya aku hanya bisa memandangi fotonya yang tersimpan di galeri foto setiap kali aku merindukan dia.


Aku berulang kali melihat ke arah pintu masuk hotel. Meski banyak orang yang lalu-lalang tapi aku belum melihat sosok Adelia. Bagaimana ya penampilannya sekarang? Apa masih setia dengan celana jin ketat dan blus pas badan atau dengan gamis yang akan membalut tubuh indahnya?


Saat aku sedang mengamati pintu masuk, sepintas aku melihat ada sepasang pria dan dan wanita yang mendekati tempat dudukku. Semula aku tak menghiraukan mereka sampai pria itu menyapaku terlebih dulu.


"Assalamu'alaikum, apa benar Anda yang bernama Restu?" sapa pria itu.


Aku mengerutkan kening. Aku sama sekali tidak mengenal pria itu. "Wa'alaikumussalam, iya benar. Maaf Anda siapa ya?"


"Perkenalkan, saya Adi, suaminya Adelia." Pria itu memperkenalkan dirinya.


Aku terkejut mendengar kata-katanya. Tapi aku tetap menyambut uluran tangannya. Kami pun bersalaman. Aku langsung tersadar, berarti wanita yang di sampingnya pasti Adelia. Aku langsung melayangkan pandanganku ke wanita berhijab itu.


Aku terkejut saat menatap wajahnya. Adelia terlihat sangat cantik dan anggun meski dengan riasan yang sederhana. Tubuh indahnya tertutup dengan balutan gamis berwarna biru, yang senada dengan pria yang mengaku sebagai suaminya. Tunggu!!! Apa mereka memakai sengaja memakai warna yang sama? Ah, aku tak peduli.


Aku tersenyum lebar pada Adelia. Aku panggil namanya lalu kuulurkan tangan agar bisa berjabat tangan dengannya. Kalau bisa sebenarnya aku ingin memeluknya, tapi situasinya tidak memungkinkan. Tanpa kuduga, dia tidak mau bersalaman denganku. Dia hanya menangkupkan tangan di depan dadanya. Sial!!! Ternyata dia sudah berubah.


Aku tertawa kecil, menertawakan diriku sendiri tepatnya. Aku berusaha bersikap santai dan biasa meski merasa kecewa. Aku lalu mempersilakan mereka untuk duduk.


Shit!!! Mereka duduk berdampingan sambil bergenggaman tangan. Sepertinya mereka sengaja memperlihatkan kemesraan di depan mataku.


"Sandiwara yang kalian mainkan ini sama sekali tidak lucu. Tidak perlu lah membuat lelucon seperti ini," ucapku dengan nada mengejek.


"Untuk apa kami bersandiwara? Untuk memanas-manasi Anda? Terlalu percaya diri sekali, Anda," sahut pria itu.


Sungguh aku ingin menonjok wajah pria itu. Berani sekali dia mengataiku. Oke, kamu jual, aku beli.


Aku tertawa menanggapi ucapan pria itu. "Jangan pernah berpikir saya akan percaya dengan kebohongan kalian. Jangan mengaku jadi suami kalau baru melamar."


"Anda yakin sekali kalau saya baru melamar Adelia. Apa informan Anda belum memberi tahu kalau kami sudah menikah?" Pria itu menaikkan sebelah alisnya.


Aku terperanjat. Bagaimana dia bisa tahu aku punya informan? Apa Toni sudah ketahuan? Aku harus memastikan pada Toni nanti.


"Saya yakin pasti dia juga belum tahu." Pria itu tersenyum, mengejekku.


"Anda jangan mengada-ada ya. Informan apa maksud Anda?" Aku berpura-pura saja tidak mengerti apa yang pria itu bicarakan.


Pria itu bilang ingin langsung ke tujuan pertemuan hari ini saja. Hah, dia pikir siapa dia? Aku tidak punya urusan dengannya. Aku bilang kalau tujuanku ke sini untuk bertemu dan bicara dengan Adelia, bukan dengan pria yang mengaku sebagai suaminya itu.


Katanya urusan Adelia sekarang juga menjadi urusan dia. Peduli setan, aku tidak punya urusan dengan dia. Aku minta dia meninggalkan aku dan Adelia.


Aku terkesiap waktu Adelia memegang erat tangan pria itu. Sepertinya dia tidak mau ditinggal bicara berdua saja denganku. Shit!!! Adelia kenapa kamu sudah banyak berubah sekarang?


Aku menatap nanar mereka berdua. Aku bisa mendengar jelas ucapan pria itu meski dia mengucapkannya dengan lembut.


"Aku di sini. Aku enggak akan ninggalin kamu."


Dan yang lebih mengejutkan aku, pria itu mencium kening Adelia. Shit!!!! Aku kembali mengumpat. Hatiku memanas melihat pemandangan di depan mataku.


Kenapa Adelia diam saja dicium pria itu? Padahal dulu dia selalu protes kalau aku menciumnya di depan umum. Adelia kenapa kamu tega sekali padaku? Tidak mau bersalaman denganku tapi mau dicium pria lain?


Aku tertawa dan bertepuk tangan untuk menutupi perasaanku yang sebenarnya. "Wow, akting kalian sangat total sekali."


Aku beralih menatap Adelia, dan menyindirnya. "Percuma juga kamu berhijab kalau mau dicium sembarang pria."


Kenapa aku menyindir Adelia? Apa aku membencinya? Tentu saja tidak. Itu karena aku tidak bisa menerima dia bersikap mesra dengan pria lain di depanku. Sampai kapan pun aku tak akan pernah rela.

__ADS_1


"Jaga bicara Anda dengan istri saya, ya." Pria itu menatap tajam mataku. Tapi aku sama sekali tidak merasa gentar.


"Apa salah kalau suamiku mencium aku? Kami melakukan apa pun juga sudah halal karena kami sudah menikah."


Aku terkejut Adelia mengatakan hal itu. Apa benar mereka sudah menikah? Karena Adelia tidak suka mengumbar kemesraan di depan umum. Tapi kenapa Toni sama sekali belum memberi tahu aku soal ini? Sungguh payah sekali dia kalau sampai melewatkan hal ini. Percuma aku bayar tiap bulan kalau dia tidak bisa memberikan informasi yang akurat.


"Ck ... memangnya sudah sejauh apa hubungan kalian?" pancingku dengan senyum mengejek.


"Tentu saja seperti suami istri pada umumnya. Apa perlu saya menceritakan secara detail apa yang sudah kami lakukan sebagai suami istri? Saya rasa Anda juga sudah tahu dan merasakannya dengan istri Anda kan?"


Jawaban pria itu semakin membuat hatiku mendidih. Kalau memang benar dia suaminya, berarti dia yang mengambil mahkota Adelia. Sial!!!


Aku lalu bertanya kenapa pernikahan mereka dipercepat dari rencana awal? Apa Adelia juga sudah hamil anaknya?


Aku bertanya pada Adelia sambil menahan amarahku. Aku memberondongnya dengan banyak pertanyaan yang menyudutkan. Kenapa dia melakukannya dengan orang lain? Kenapa dulu menolak aku? Apa kurangnya aku? Kenapa dia menyerahkannya pada pria yang baru dia kenal bukan aku yang sudah lama jadi pacarnya.


Jawaban pria itu cukup tenang. Intinya dia bilang kalau menikah itu perkara yang baik dan harus disegerakan. Karena itu pernikahan mereka dipercepat.


Pria itu bilang kalau Adelia tidak salah karena sudah menyerahkan dirinya sepenuhnya pada suaminya. Dia juga bicara tentang takdir, tapi aku tak memedulikannya.


Dia juga mengatakan agar aku tidak mengganggu istrinya lagi. Katanya tidak perlu lagi mengirim pesan dan foto yang menurutnya tidak bermakna. Ya itu kan buat kamu, buatku semua kenangan dengan Adelia sangat berarti. Dia minta aku fokus dengan istriku dan juga calon anakku. Katanya lagi Adelia sudah hidup bahagia dengan dia. Persetan dengan semua pesan yang disampaikan pria itu.


Berengsek!!! Pria itu sekarang malah mencium punggung tangan Adelia. Mereka seperti sengaja memanas-manasi aku.


Aku menggelengkan kepala berulang kali. Aku tidak percaya Adelia bisa menerima dan mencintai pria itu secepat ini. Dulu saja hampir setengah tahun aku baru bisa meluluhkan hati Adelia. Saat aku meragukan cinta Adelia, tapi pria itu justru bicara dengan membawa nama Allah. Hei, apa dia seorang ustaz? Tapi dari penampilannya sepertinya bukan. Mengesalkan, pria itu sok suci sekali.


"Itulah bedanya suamiku sama kamu. Mas Adi selalu melibatkan Allah dalam setiap langkahnya. Dia juga benar-benar menghormati aku sebagai wanita. Tidak pernah menyentuhku sebelum kami menikah. Alhamdulillah, aku beruntung karena Allah sudah mempertemukan aku dengan Mas Adi. Dia sosok imam yang baik yang bisa membimbing aku jadi lebih baik."


Aku terkejut mendengar Adelia memuji pria itu. Apa yang sudah pria itu lakukan? Apa pria itu yang sudah membuat Adelia memakai hijab dan berubah? Tunggu, dia tidak pernah menyentuh Adelia sebelum menikah? Tidak mungkin. Mana ada pria dan wanita yang mempunyai hubungan tapi tidak bersentuhan. Bullshit!!!


Berengsek!!! Pria itu kembali mencium punggung tangan Adelia sambil mengucapkan terima kasih pada istrinya.


"Cukup. Hentikan kemesraan kalian di depanku. Semua itu tidak akan mempan." Aku sudah tidak tahan lagi melihat kemesraan mereka. Aku yakin mereka hanya bersandiwara.


Pria itu kembali memintaku menjauhi Adelia. Katanya dia akan bertindak tegas kalau aku sampai berani mengusik Adelia lagi. Ckck ... tindakan tegas apa yang bisa dia lakukan? Pria itu coba-coba mengancamku.


Tiba-tiba pria itu mengajak Adelia pergi. Mereka bilang masih ada acara lainnya.


"Tunggu," aku berseru untuk menahan mereka.


"Adelia, jadi aku sudah tidak punya harapan lagi?" tanyaku dengan memasang wajah sendu. Berharap Adelia mau kembali membuka hatinya untukku. Tapi justru jawaban menyakitkan yang aku dapat.


"Apa perlu aku jawab? Aku mencintai Mas Adi. Aku juga bahagia hidup dengan suamiku." Mereka saling tersenyum dan menatap. Berengsek!!!


Tapi aku masih terus berusaha. Aku menyerahkan buket mawar putih yang tadi aku beli khusus untuk Adelia. Aku berharap dia akan luluh dengan bunga. Bukankah wanita suka kalau diberi bunga?


"Tolong terima ini sebagai permintaan maafku yang tulus karena dulu pernah mengkhianati kamu. Aku sungguh menyesal sekarang. Sampai saat ini aku masih mencintai kamu, Adelia."


Shit!!! Adelia menolak bunga itu. Katanya istriku lebih berhak menerimanya. Dia juga sudah memaafkan aku. Dia bilang kami harus melangkah dengan jalan masing-masing tidak perlu mengusik satu sama lain. Kami tidak ditakdirkan bersama, karena itu tidak boleh melawan takdir. Hah, Adelia juga membawa takdir. Bukankah takdir masih bisa dirubah selama kita mau berusaha? Iya kan? Aku bertekad akan merubah takdir itu.


"Aku akan bercerai dengan istriku setelah anak kami lahir. Kami menikah karena keadaan yang memaksa. Kami tidak saling mencintai. Kami hanya saling membutuhkan untuk saling memuaskan."


Aku masih berusaha meyakinkan Adelia dengan menceritakan keadaan pernikahanku yang tidak sempurna. Aku ingin mendapat simpati dan perhatiannya.


Tapi kembali jawaban tidak terduga yang aku terima. Katanya dia turut prihatin. Dia merasa kasihan dengan anak kami yang merasa tidak diinginkan kehadirannya. Dia juga mendoakan dengan tulus kebaikan untuk kami bertiga. No. No. Bukan seperti ini yang aku inginkan.


Kemudian Adelia mengajak pria itu pulang, katanya papa dan mama sudah menunggu mereka. Sebelum mereka pergi pria itu masih memperingatkan aku. Persetan dengan segala peringatan itu. Aku tidak akan ambil pusing.


Aku terpaku memandang kepergian mereka masih dengan buket mawar putih di tanganku.

__ADS_1


Ini hanya mimpi kan. Ya ini hanya mimpi. Aku harus bangun agar mimpi ini tidak menjadi nyata. Aku segera mengambil gawaiku lalu menelepon Toni. Tak butuh waktu lama dia mengangkat panggilanku.


"Halo. Ada apa Mas Restu, tumben menelepon?"


"Apa kamu tahu kalau Adelia sudah menikah?"


"Menikah? Tidak, mereka belum menikah. Kalau mau menikah pastinya mereka mengadakan acara selamatan dulu."


"Kamu yakin?"


"Iya, saya yakin, Mas."


"Aku baru ketemu Adelia dan pria yang katanya suaminya. Katanya mereka sudah menikah."


"Mungkin mereka pura-pura saja, Mas. Apa pria itu mobilnya fortuner hitam?"


"Aku tidak tahu mobilnya apa. Tapi dia tinggi, badannya tegap. Tunggu, memang kenapa dengan fortuner hitam?"


"Calon suaminya Mbak Adel kan mobilnya fortuner hitam. Soalnya beberapa kali datang ke rumah Pak Lukman pakai mobil itu. Kalau dari ciri yang Mas Restu sebutkan memang sepertinya dia calon suami Mbak Adel. Namanya Adi bukan Mas?"


"Iya, dia bilang namanya Adi. Apa yang kamu tahu tentang dia?"


"Saya hanya tahu dia pelatih karatenya Arsen. Belum banyak informasi Mas karena saya sendiri belum pernah ketemu langsung. Tapi kalau ke sini pasti dia salat di masjid. Sepertinya dia pria yang alim, rajin ke masjid."


"Mmmhhh ... jadi pelatih karate dia. Tapi dia bukan ustaz kan?"


"Sepertinya bukan, Mas."


"Oh ya, apa ada yang tahu kalau kamu selalu memberiku informasi soal Adelia?"


"Sepertinya tidak ada yang tahu. Kenapa memangnya, Mas?"


"Pria itu tahu kalau aku punya informan. Kamu harus lebih hati-hati sekarang. Terus, aku minta kamu cari informasi lagi soal pria itu. Aku akan kirim bonus kalau kamu bisa memberi info yang lengkap dan akurat."


"Siap, Mas Restu. Saya pasti bakal lebih hati-hati sekarang."


"Ya sudah, segera kabari aku kalau ada info terbaru."


"Nggeh. Siap, Mas."


Aku mengakhiri panggilanku. Sainganku kali ini sepertinya bukan pria yang biasa saja. Tapi tentu saja aku tetap pantang mundur. Toni saja tidak tahu kalau mereka menikah, pasti mereka hanya bersandiwara saja.


Aku beranjak dari sofa. Aku bawa buket bunga itu kembali. Nanti aku akan mengirimkan via ojol saja, pasti tidak akan ditolak. Aku berjalan menuju ke parkiran mobil sambil bersiul riang. Kalian tidak akan mudah mengelabui aku.


Saat aku masuk ke mobil, gawaiku bergetar. Ada pesan dari Toni.


'Mas, saya dapat undangan syukuran pernikahan Mbak Adel nanti sore di rumah Pak Lukman. Ternyata mereka diam-diam sudah menikah.'


Toni juga mengirimkan foto undangannya.


Shit!!! Rupanya mereka benar-benar sudah menikah. Aku lalu mengetik balasan pesan untuk Toni.


'Kamu datang saja. Sekalian cari info sebanyak-banyaknya soal pria itu.'


Tak lama Toni membalas.


'Siap, Mas Restu.'


Aku berulang kali memukul kemudi mobil. Menumpahkan kemarahanku. Meski mereka sudah menikah, aku tak akan menyerah begitu saja. Tunggu saja nanti. Tidak boleh ada orang lain yang memiliki Adelia. Hanya aku yang boleh memilikinya. Kalau aku tidak bisa memilikinya berarti tidak ada seorang pun yang bisa.

__ADS_1


...---oOo---...


Jogja, 220621 11.50


__ADS_2