Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Dimabuk Cinta


__ADS_3

Tak terasa besok sudah Hari Raya Idul Fitri. Sore hari menjelang takbiran, Adi dan Adelia pergi ke rumah Pak Lukman. Malam ini mereka menginap di sana karena besok akan pulang ke rumah Pak Wijaya. Sebelumnya mereka mampir dulu ke Masjid Al Kautsar untuk membayar zakat fitrah mereka karena Adi merupakan jemaah masjid di sana.


Adi memarkirkan mobilnya di pinggir jalan depan rumah Pak Lukman agar tidak menghalangi lalu-lalang para penghuni rumah. Adi membawa masuk koper yang berisi pakaiannya dan Adelia ke dalam rumah. Tadi, istrinya sudah berjalan masuk terlebih dulu.


Setelah menyapa dan menyalami kedua mertuanya, Adi baru naik ke kamar istrinya yang berada di lantai 2. Saat dia di depan kamar dan mau membuka pintu, kebetulan Arsenio baru ke luar dari kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Adelia.


"Kapan datang, Mas?" tanya Arsenio setelah menyalami kakak iparnya.


"Baru datang. Kamu mau ke mana?" Adi mengamati penampilan Arsenio yang tampak rapi.


"Ke masjid, Mas. Persiapan buat lomba takbir keliling nanti malam," terang Arsenio.


"Oh ada ya lomba takbir keliling?" Adi penasaran karena belum pernah mendengarnya.


"Ada, Mas. Yang menyelenggarakan kalurahan. Agenda tahunan sih. Nanti nonton ya Mas sama Mbak Adel. Tapi naik motor saja biar enggak kena macet soalnya banyak peserta dan penontonnya."


"Dari masjid sini pesertanya anak-anak apa dewasa?"


"Anak-anak dan pemuda, Mas. Kalau yang dewasa penyandang dana saja. Mas Adi kalau mau menyumbang dana juga masih bisa kok." Arsenio meringis pada kakak iparnya.


Adi mengambil dompet lalu mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah. Adi menyerahkannya pada Arsenio. "Ini, dimanfaatkan dengan baik ya."


"Alhamdulillah. Ini bisa buat tambahan konsumsi untuk anak-anak. Kalau sisa nanti dimasukkan ke kas. Terima kasih, Mas. Semoga mendapat pahala yang berlipat."


"Aamiin," sahut Adi.


"Aku ke masjid dulu, Mas. Jangan lupa nanti lihat lombanya ya," pamit Arsenio.


"Insya Allah," sahut Adi.


Setelah Arsenio turun ke bawah, Adi membuka pintu kamar.


"Kok lama sih masuknya, Mas," protes Adelia yang sudah berganti baju rumah.


"Tadi ngobrol sama Arsen sebentar. Kenapa? Ai, sudah kangen ya?" Adi memandang Adelia dengan tatapan menggoda.

__ADS_1


"Ngobrol apa sama Arsen?" tanya Adelia tanpa menanggapi godaan suaminya.


"Dia mau ikut lomba takbir keliling, nanti kita disuruh lihat," jawab Adi sambil merebahkan dirinya di atas ranjang.


"Mas Adi, ganti baju dulu. Kusut nanti kemejanya kalau buat rebahan." Adelia menarik tangan Adi untuk membangunkannya tapi malah dia yang ditarik hingga terjatuh di atas tubuh suaminya.


Adelia mau bangkit tetapi pinggangnya ditahan oleh Adi.


"Nanti malam kita coba posisi ini ya." Adi mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum lebar.


"Apaan sih, Mas." Wajah Adelia memerah karena ucapan Adi.


"Oke, Ai?" Adi menatap mata istrinya, menunggu jawaban. Adelia tak kuasa membalas tatapan suaminya. Dia mengalihkan pandangannya.


"Jawab, Ai. Atau kita di posisi ini sampai waktu buka puasa."


"Terserah, Mas," sahut Adelia malu-malu.


Adi tersenyum semakin lebar. "Makasih, Ai." Dia kemudian melepaskan tangannya dari pinggang Adelia.


Adi menyusul bangkit dari tidurnya. Dia lalu melepas kemeja yang dipakai. Dia menyerahkan kemejanya pada Adelia.


"Tuh kan kusut kemejanya," omel Adelia.


"Enggak apa-apa, Ai. Lagian juga enggak ada acara resmi yang harus aku datangi," kata Adi dengan santai.


"Tapi kan jadi enggak rapi kalau mau dipakai lagi." Adelia masih saja mengomel. Dia memang orang yang sangat peduli dengan kerapian dan kebersihan.


"Sudah, Ai. Jangan mengomel lagi, aku cium nanti."


Adelia langsung mengatupkan bibir meski masih merasa sedikit kesal dengan suaminya. Dia lalu menggantung kemeja Adi agar tidak tambah kusut lagi.


"Mas, itu baju untuk di rumah sudah aku siapkan." Adelia menunjuk di atas ranjang. "Aku mau ke bawah dulu bantu-bantu mama dan Mbok Sum."


"Makasih, Ai. Nanti aku susul turunnya."

__ADS_1


Setelah salat Isya, rombongan yang akan mengikuti lomba takbir keliling bersiap berangkat ke tempat perlombaan. Mereka menggunakan mobil bak terbuka untuk membawa replika masjid yang terbuat dari sterofoam yang dibentuk dan dicat dengan cantik. Sementara rombongan pengiringnya membawa obor bambu yang dihias dengan kertas krep warna warni.


Adi ikut melepas keberangkatan mereka karena ternyata dia dimasukkan Arsenio dalam daftar penyandang dana. Dia sekarang sudah mulai akrab dengan warga di sana, karena sering berbaur di masjid bila sedang di rumah mertuanya.


Sepulang dari masjid, dia minta istrinya bersiap karena mereka akan pergi melihat lomba takbir keliling. Dia sangat antusias sekali karena belum pernah melihat sebelumnya. Dulu saat masih aktif sebagai remaja masjid, dia sering menjadi panitia takbir keliling tetapi hanya di lingkup kampung.


Begitu istrinya siap, dia pamit pada kedua mertuanya. Mereka pergi menggunakan sepeda motor sesuai saran Arsenio agar tidak terjebak macet. Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di tempat lomba. Dia takjub karena melihat banyak replika masjid atau sesuatu yang berkaitan dengan Idul Fitri. Dia merasa terharu mendengar suara takbir yang dilantunkan malam ini.


Adi dan Adelia pulang setelah rombongan Arsenio tampil. Mereka tidak menunggu sampai pengumuman pemenang selesai karena pasti akan sampai tengah malam. Karena sudah larut, setelah sampai di rumah dia memasukkan motor ke garasi. Dia juga memasukkan mobilnya di carport depan garasi.


Usai berbasa-basi sebentar dengan kedua mertua yang ternyata masih terjaga, Adi pamit masuk ke kamar. Setelah mengunci pintu kamar, dia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus berwudu. Dia sengaja tidak memakai baju tidur, karena toh nanti juga akan dilepas lagi.


Begitu ke luar dari kamar mandi, ternyata lampu kamar sudah redup. Adelia sudah mengganti lampu utama dengan lampu tidur. Adi yang bertelanjang dada tersenyum lebar begitu melihat Adelia sedang duduk menunggunya di sisi ranjang. Malam ini istrinya memakai gaun tidur tipis yang terbuat dari satin, membuatnya bisa melihat bayangan yang ada di balik gaun itu.


Adi menghampiri istrinya. Perlahan dia mendekatkan wajah mereka. Langkah pertama sebelum dia mulai melakukan hobi barunya. Hal yang terjadi selanjutnya tentu saja membuat mereka terus mendesah hingga mencapai kenikmatan dunia berulang kali.


Pagi ini keluarga Pak Lukman menjalankan salat Idul Fitri di lapangan dekat kompleks rumah mereka. Adi dan Adelia memakai baju koko dan gamis couple yang tempo hari mereka beli di toko busana muslim yang terletak di Jalan C. Simanjuntak.


Usai menjalankan salat Idul Fitri mereka kembali ke rumah. Mereka langsung bermaaf-maafan di ruang keluarga. Pukul 10.00 nanti mereka akan pergi ke masjid untuk mengikuti acara halalbihalal dengan warga sekitar.


Bakda Zuhur, Adi dan Adelia berangkat ke rumah Pak Wijaya. Selama di perjalanan, Adelia tertidur di kursi samping Adi. Dia tahu kalau istrinya pasti kelelahan karena kegiatan membakar kalori yang mereka lakukan semalam. Apalagi dia meminta Adelia yang mengendalikan permainan, yang tentu saja tidak hanya sekali mereka lakukan.


Setelah menempuh sekitar 1 jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di rumah Pak Wijaya. Adi melihat mobil Rendra sudah terparkir di samping rumah. Rupanya adiknya sudah sampai lebih dulu. Sesudah memarkirkan mobil, dengan lembut dia membangunkan istrinya.


"Ai, bangun. Kita sudah sampai di rumah ayah."


Adelia membuka matanya. "Lama ya aku tidurnya, Mas?"


"Enggak. Masih lebih lama waktu aku menunggu jawabanmu dulu," seloroh Adi yang sukses membuat Adelia mencubit pinggangnya.


"Aduh. Sakit, Ai." Adi meringis sambil memegang area yang tadi dicubit istrinya.


Adelia pura-pura tak peduli dengan suaminya yang merengek. Dia sibuk merapikan penampilannya agar terlihat rapi dan tidak terlihat seperti sedang bangun tidur. Setelah memastikan semuanya rapi dan lengkap, mereka turun dari mobil. Adi mengambil koper dari bagasinya sebelum beranjak ke teras. Mereka jalan bergandengan tangan, layaknya sepasang remaja yang jatuh cinta. Meski bukan remaja lagi, tapi memang mereka pasangan dewasa yang sedang dimabuk cinta.


...---oOo---...

__ADS_1


Jogja, 060721 00.45


__ADS_2