Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Penangkapan


__ADS_3

Anak buah Kaisar yang ditugaskan untuk menangkap Sekar Ayu di rumah orang tuanya tidak berhasil menemukan sosok perempuan itu di sana. Menurut orang tuanya, Sekar Ayu sudah lama tidak pulang ke rumah mereka. Dia tinggal sendiri di rumahnya yang berada di kota.


Tentu saja polisi tidak percaya begitu saja dengan keterangan dari orang tua Sekar Ayu. Mereka menggeledah seluruh rumah dan juga bertanya pada tetangga sekitar, kalau-kalau ternyata Sekar Ayu disembunyikan mereka. Ternyata keterangan para tetangga sama dengan kedua orang tuanya.


Ibunya Sekar Ayu menangis begitu mendengar kalau putrinya sudah melakukan kejahatan. Dia tidak pernah mengira buah hatinya itu tega melukai istri Adi yang bahkan sedang hamil. Wanita paruh baya itu sudah berulang kali menasihati anaknya agar tidak mengejar Adi lagi, tapi ternyata semua itu tidak diindahkan. Putrinya ternyata masih berniat mendapatkan cinta pertamanya.


Mungkin itulah penyebab Sekar Ayu jadi jarang pulang. Dia merasa kesal dan marah karena tidak mendapat dukungan dari mereka. Kalau saja dahulu tidak menuruti keinginan orang tuanya, dia pasti sudah bahagia sekarang dengan Adi. Itu yang selalu dia katakan setiap orang tuanya melarangnya mendekati Adi kembali.


Untung saja bapak dan ibu Sekar Ayu bersedia bekerja sama. Mereka mau memberikan alamat rumah putrinya yang ada di kota meskipun artinya dia akan ditangkap di sana. Mereka ingin Sekar Ayu sadar dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tentu saja mereka juga ikut menanggung malu karena rumah mereka tiba-tiba digerebek polisi. Mereka tinggal di kampung, di mana hal kecil bisa jadi pembicaraan warga apalagi ini hal yang besar. Mengingat keluarga mereka yang cukup terpandang pastilah juga akan jadi topik hangat pembicaraan bagi masyarakat sekitar.


Sesudah mendapatkan alamat rumah Sekar Ayu di kota, anggotanya langsung melaporkan pada Kaisar. Mereka kemudian pamit dengan tetap menempatkan intel di sekitar rumah tersebut. Tentu saja pihak kepolisian tidak mau sampai lengah kalau tiba-tiba Sekar Ayu datang ke sana bisa langsung diciduk petugas.


Kaisar berkoordinasi dengan unit intel setelah mendapat laporan dari anggotanya dan melihat seluruh rekaman CCTV. Dia mengumpulkan anggota unitnya untuk menangkap Sekar di rumahnya. Perwira itu juga meminta anggotanya yang polwan agar ikut serta dalam proses penangkapan. Mereka nanti akan melakukan penangkapan sesudah mendapat kode dari unit intel.


Sementara itu di rumah sakit, Adi menunggui sang istri ditemani seluruh keluarga inti Adelia. Dia sudah meminta mertuanya pulang, tapi Ibu Sarah menolak karena ingin menemani putrinya. Sejak datang, mama mertua Adi itu nyaris tak beranjak dari samping tempat tidur Adelia kecuali saat pergi ke kamar kecil. Wanita paruh baya itu terus berdoa sambil menggenggam tangan putrinya.


Karena sang istri bersikeras menginap, Pak Lukman pun akhirnya juga memutuskan bermalam di rumah sakit. Sedangkan Arsenio sejak awal memang berniat menemani Adi. Adik bungsu Adelia itu memang akan selalu ada untuk kakaknya.


"Pa, sebaiknya Mama istirahat di bed biar besok tidak sakit badannya karena duduk terus," usul Adi pada papa mertuanya. "Papa juga sebaiknya istirahat di sofabed, sudah lewat tengah malam. Biar saya dan Arsenio yang menjaga Adel," sambungnya.


"Mas Adi, juga belum istirahat dari tadi. Biar aku yang jaga Mbak. Nanti kalau Mbak bangun, terus cari Mas Adi pasti aku bangunin Mas," tukas Arsenio. "Aku besok libur kuliah, jadi bisa seharian tidur," lanjutnya.


"Iya, begitu lebih baik." Pak Lukman menyetujui usul putra bungsunya. Pria paruh baya itu lalu membangunkan istrinya yang tertidur di kursi samping ranjang Adelia. Setelah bicara sejenak dan memberi pengertian, akhirnya Ibu Sarah mau beristirahat di bed yang memang disediakan untuk penunggu pasien. Pak Lukman kemudian ikut merebahkan diri di samping istrinya di bed penunggu yang sebenarnya hanya untuk satu orang.


"Arsen, aku tidur sebentar ya," ujar Adi sebelum merebahkan diri di sofabed.


"Ya, Mas. Nanti aku bangunin kalau ada apa-apa," sahut Arsenio yang sudah duduk di samping ranjang kakaknya. Dia berjaga sambil bermain game di gawainya.

__ADS_1


Begitu unit intel sudah memberi tanda, Kaisar langsung bergerak menuju ke rumah Sekar Ayu. Beberapa anggotanya berjaga di sekeliling rumah. Sebelum melakukan penangkapan, Kaisar sudah menghubungi beberapa orang perangkat di sana dengan menunjukkan surat tugas dan surat penangkapan agar tidak menimbulkan keresahan masyarakat sekitar.


Setelah semua siap, Kaisar dan dua orang polwan berdiri di depan pintu rumah. Salah satu polwan itu kemudian mengetuk pintu beberapa kali.


Rumah dengan desain minimalis yang awalnya gelap itu, sekarang menjadi terang karena penghuninya menyalakan lampu setelah mendengar ketukan di pintu. Sekar Ayu keluar dari kamar dengan penampilan apa adanya. Mengenakan piama pendek dengan rambut yang sedikit berantakan. Pastinya dia sudah terlelap karena waktu telah menunjukkan pukul 02.00 dini hari.


Sekar Ayu membuka pintu dengan ekspresi bingung. "Ada apa ya kok pada ngumpul di sini?" tanyanya pada polwan yang mengetuk pintu. Dia tidak tahu kalau rumahnya sudah digerebek polisi karena tidak ada satu pun yang memakai seragam polisi.


"Saudari Sekar Ayu, Anda ditangkap atas penganiayaan dan percobaan pembunuhan pada Saudari Adelia Putri Permana," ucap sang polwan sambil menunjukkan surat penangkapan.


Sekar Ayu terkesiap mendengarnya. Refleks dia langsung menutup pintu yang tidak terbuka lebar, tapi Kaisar dengan sigap menahan pintu dengan kakinya agar tetap terbuka.


"Sekar!" bentak Kaisar. "Percuma kamu mau sembunyi, rumah ini sudah dikepung."


"Cepat borgol dia!" perintah Kaisar pada anggota polwannya.


Salah satu polwan langsung mencekal tangan Sekar Ayu, kemudian memasang gelang kembar di kedua pergelangan tangan cinta pertama Adi itu.


"Diam!" hardik Kaisar. "Bukti sudah menunjukkan kalau kamu yang menusuk Adelia. Jangan coba mengelak dan pura-pura tidak bersalah," cecarnya.


Sekar Ayu tersenyum sinis. "Bukti apa yang kalian punya? Jangan mengarang!"


"Ada rekaman CCTV di dalam toilet."


"Aku mau pengacara," ucap Sekar Ayu kemudian.


"Silakan kalau mau hubungi pengacaramu? Tapi kamu tetap kami tangkap dan bawa ke Polda," tukas Kaisar.

__ADS_1


"Cepat geledah rumah ini. Cari tas, gunting dan pakaian yang tadi dia pakai," perintah perwira polisi itu pada anggotanya.


"Siap, Ndan."


Sambil menunggu anggotanya menggeledah rumah Sekar Ayu, Kaisar mengirim pesan ke grup WA yang anggotanya terdiri dari dia, Adi, Rendra dan Arsenio. Dia mengabari kalau sudah menangkap Sekar Ayu. Arsenio langsung membalas karena hanya dia yang masih terjaga.


"Alhamdulillah, langsung diproses saja Mas. Jangan kasih kendor," tulis Arsenio.


"Siap," balas Kaisar. Sesudah itu dia bertanya pada anak buahnya. "Sudah ketemu barang buktinya?"


"Siap. Sudah, Ndan. Guntingnya ada di dalam tas ini." Polisi itu menunjukkan tas yang tadi dibawa Sekar Ayu saat pergi ke mal.


"Bagaimana pakaiannya?" tanya Kaisar lagi.


"Siap. Sudah, Ndan." Polisi lainnya membawa pakaian Sekar Ayu yang sudah dibungkus plastik barang bukti.


"Apa sudah semua?"


"Siap. Sudah semua, Ndan."


"Oke. Ayo kita kembali ke kantor," titah Kaisar pada anggotanya.


Dua orang polwan berada di samping kiri dan kanan Sekar Ayu saat berjalan menuju mobil dinas yang akan membawa mereka ke Polda. Tak tampak raut penyesalan atau malu di wajah Sekar Ayu meski banyak orang melihat proses penangkapannya.


Sebelum pergi, Kaisar mengucapkan terima kasih pada perangkat yang hadir. Dia juga meminta maaf karena sudah membuat kegaduhan saat seharusnya orang-orang sudah terlelap tidur.


Kaisar berjalan dengan langkah yang lebih ringan karena sudah berhasil menangkap Sekar Ayu. Dia sudah memenuhi janjinya pada sang sahabat. Tinggal nanti proses interogasi dan pembuatan BAP. Harapannya, Sekar Ayu mendapatkan hukuman maksimal agar dia sadar kalau perbuatannya salah dan juga jera.

__ADS_1


...---oOo---...


Jogja, 150322 23.48


__ADS_2