Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Ale dan Baba


__ADS_3

Sore ini, Dita memeriksakan kehamilannya bersama Rendra di tempat praktek dokter Lita. Selain mengecek perkembangan janin, juga untuk memastikan kalau kondisi Dita aman untuk melakukan perjalanan jauh.


"Pak Rendra dan Bu Dita, ingin tahu jenis kelamin dedek bayinya tidak?" tanya dokter Lita saat akan melakukan USG.


"Iya, Dok," jawab Rendra.


"Alhamdulillah, pertumbuhan dedek bayinya bagus. Air ketuban juga bagus. Kita coba lihat jenis kelaminnya ya." Dokter Lita menggeser transducer di atas perut Dita.


"Wah, kayanya jagoan lagi ini. Selamat ya, Pak, Bu," kata dokter Lita sambil menunjukkan gambar yang menandakan jenis kelamin di layar monitor.


"Alhamdulillah, baby boy lagi, Sayang." Rendra menoleh pada istrinya.


"Iya, Mas. Insya Allah bisa jadi pelindung untuk adik-adiknya nanti." Dita tersenyum bahagia sambil menatap Rendra.


"Aamiin," sahut Rendra dan dokter Lita.


"Insya Allah kondisi Bu Dita dan dedek bayi sehat semua dan siap untuk umrah," kata dokter Lita sambil mencetak hasil USG. "Silakan duduk kembali, Bu."


Rendra kemudian membantu Dita bangun setelah sisa gel di perut dibersihkan oleh perawat. Mereka kemudian duduk berhadapan dengan dokter Lita.


"Gimana, Bu, sudah siap untuk berangkat umrah?" tanya dokter Lita sambil menulis hasil pemeriksaan Dita.


"Insya Allah sudah, Dok," jawab Dita.


"Sudah rutin jalan kaki kan?"


"Alhamdulillah, sudah Dok. Kalau tidak sempat pagi ya sore, jalan di sekeliling kompleks."


"Bagus. Ini saya buatkan surat izin melakukan perjalanan jauh ya, Bu. Ini nanti ditunjukkan pada petugas di bandara agar mereka tahu kondisi ibu yang sedang hamil. Nanti saat di sana Ibu tidak boleh memaksakan diri untuk beribadah, yang penting penuhi semua rukunnya. Kalau Ibu merasa capai harus istirahat, jangan dipaksa. Misalnya saat sai atau tawaf tidak sanggup berjalan, bisa menyewa kursi roda di sana. Jangan memaksakan diri untuk menjalankan semua sunahnya," pesan dokter Lita.


"Perbanyak juga minum air putih atau kalau di sana nanti bisa minum air zam-zam. Jangan sampai Ibu dehidrasi. Jadi ke mana pun harus selalu membawa bekal minum. Lalu saat di pesawat, karena perjalanannya lama, kalau bisa setiap jam sekali ibu berdiri, bergerak atau berjalan di lorong pesawat agar peredaran darahnya tetap lancar dan tidak merasa lelah. Oh ya, buku pemeriksaan kehamilan juga dibawa, jangan sampai lupa. Ini hanya untuk berjaga-jaga bila di sana terjadi sesuatu, ada riwayat kehamilannya. Saya tentu saja berdoa dan berharap semuanya tetap aman," lanjut dokter Lita.


"Aamiin."


"Ini saya resepkan vitamin, penguat kandungan, dan untuk mengurangi mual. Vitamin wajib diminum, yang lain bila perlu. Ibu tetap harus makan makanan yang bergizi. Perhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsi selama di sana. Sudah cobaย browsing perlengkapan yang harus dibawa ibu hamil saat umrah?"


"Sudah, Dok. Kalau maternity belt itu apa harus dipakai terus-terusan?" tanya Dita.


"Jangan, Bu. Cukup 3 sampai 5 jam saja maksimal, nanti malah peredaran darahnya tidak lancar. Itu dipakai saat diperlukan saja. Misalnya saat sai atau tawaf karena harus berjalan jauh. Atau saat di pesawat juga bisa. Senyamannya Ibu saja dipakainya. Coba dipakai dulu di rumah, cari kenyamanannya. Jangan sampai dipakai untuk tidur atau seharian ya, Bu," terang dokter Lita.


"Iya, Dok."


"Semoga nanti perjalanan umrah dan liburannya lancar ya, Pak, Bu. Kembali ke tanah air dalam keadaan sehat dan selamat," doa tulus dokter Lita.


"Aamiin."


"Dok, nanti pulang umrah apa harus langsung periksa lagi?" tanya Rendra.


"Selama Ibu tidak ada keluhan tidak perlu, Pak. Kontrolnya sesuai jadwal saja. Tapi kalau ke sini mau memberi oleh-oleh boleh. Eh, saya hanya bercanda ya jangan dianggap serius," kata dokter Lita sambil tertawa.


Rendra dan Dita juga ikut tertawa mendengar canda dokter Lita. Setelah selesai konsultasi, mereka pamit pulang. Tak lupa mereka menebus vitamin dan obat yang diresepkan dokter Lita.


Mereka mampir dulu ke kafe sebelum pulang ke rumah. Rendra memberikan beberapa instruksi dan kewenangan khusus pada Candra selama dia tidak berada di Indonesia. Sekalian mereka juga saling bermaaf-maafan dengan para karyawan.


Mereka sampai di rumah saat azan Magrib berkumandang. Setelah memasukkan mobil ke dalam garasi, Rendra langsung berangkat ke masjid menggunakan motor. Sementara Dita menjalankan salat Magrib di rumah.


Usai makan malam dan salat Isya, keluarga Ibu Dewi berkumpul di ruang tengah.


"Hasil pemeriksaan hari ini bagaimana?" tanya Ibu Dewi pada Dita.


"Alhamdulillah baik, Ma. Tadi juga dikasih surat izin perjalanan jauh sama dokter Lita. Katanya besok dikasih ke petugas saat check in," jawab Dita.


"Dikasih vitamin juga kan?" tanya Ibu Dewi lagi.


"Iya, Ma. Ada vitamin, penguat kandungan sama untuk mengurangi mual," terang Dita.


"Insya Allah ini baby boy lagi, Ma." Rendra menyela sambil mengelus perut Dita.


"Alhamdulillah. Mau boy apa girl yang penting Dita dan bayinya sehat," tutur Ibu Dewi.


"Aamiin."


"Dita besok umrah semampunya aja, kalau capai istirahat. Yang penting seluruh rukunnya terpenuhi," saran Ibu Dewi.


"Iya, Ma. Tadi juga dokter Lita pesan kaya gitu. Malah aku disuruh pakai kursi roda kalau tidak sanggup jalan selama tawaf atau sai."

__ADS_1


"Apa sekalian saja beli kursi roda, Ren?" Ibu Dewi menoleh pada putranya.


"Buat apa, Ma? Di sana kan bisa sewa."


"Nanti kan jalan di Dubai juga. Biar Dita enggak capai jalannya." Ibu Dewi mengungkapkan alasannya.


"Aku nanti jadi kaya orang sakit, Ma," tolak Dita.


"Banyak lagi yang traveling pakai kaya gitu. Apalagi yang baru hamil." Shasha ikut menimpali.


"Iya, betul. Artis-artis yang hamil kalau bepergian juga pakai kursi roda, Mbak." Kali ini Nisa yang menyahut.


"Tapi aku kan bukan artis," ucap Dita.


"Tapi Sayang baru hamil," kata Rendra. "Benar usul mama. Buat jaga-jaga aja, Sayang."


"Nanti nambah bagasi, Mas." Dita masih terus menolak.


"Enggak apa-apa, Sayang."


"Berat kan itu, nanti yang bawa siapa kalau aku enggak pakai?"


"Ya, aku-lah, Sayang. Kita cari yang portable, bisa dilipat, jadi ringkas."


"Tapi kalau beli kan sayang uangnya. Nanti di sini enggak dipakai lagi," kata Dita.


"Kalau memang mau bawa kursi roda mending sewa saja," usul Dita setelah beberapa saat berpikir.


"Iya, benar itu. Nanti enggak kepakai lagi jadi mubazir." Shasha ikut mendukung usul adik iparnya.


"Gimana, Ma?" Rendra meminta pendapat mamanya.


"Ya, gimana baiknya saja. Tapi mama minta tetap bawa untuk Dita. Kalau memang ada yang menyewakan, ya sewa saja. Kalau tidak ada, ya beli. Nanti kalau beli dan tidak terpakai lagi kan juga bisa dikasihkan atau dipinjamkan untuk yang membutuhkan," tutur Ibu Dewi.


Rendra menganggut. "Kalau begitu aku cari info ke teman-temanku dulu."


Rendra kemudian mengambil gawainya di kamar. Setiap sedang berkumpul dengan keluarga, memang gawai selalu disimpan di kamar agar mereka tetap fokus bicara tanpa sibuk bermain gawai sendiri. Setelah itu, Rendra mengirim pesan di grup WA, meminta info tempat penyewaan kursi roda untuk traveling.


Mereka berlima lanjut mengobrol membicarakan persiapan umrah dan liburan mereka. Saling mengingatkan barang apa yang harus dibawa. Doa-doa dan ibadah apa saja yang harus dilakukan.


"Mas, gimana sudah ketemu belum nama panggilan untukku?" tanya Dita setelah mereka berbaring di atas ranjang.


"Aku baru ketemu amor yang paling gampang diucapkan, Sayang," jawab Rendra.


Dita mengerucutkan bibirnya. "Enggak mau dipanggil amor, geli rasanya. Ya udah, aku maunya bubu aja daripada Mas pusing carinya."


"Ya sudah kalau Sayang maunya dipanggil bubu." Rendra akhirnya menuruti keinginan istrinya daripada dia dibuat pusing tujuh keliling.


"Mulai sekarang panggil aku bubu ya, Mas." Dita memandang Rendra dengan tatapan memohon.


"Aku kira nunggu sampai si Boy lahir." Rendra menyingkirkan rambut yang menutupi kening Dita.


"Aku maunya mulai sekarang. Biar nanti kalau Baby lahir, Mas sudah terbiasa."


"Eh, Baby jangan dipanggil Boy. Itu panggilan buat Akhtar. Cari yang lain, Mas," protes Dita yang tak terima.


Rendra menghela napas panjang. "Aku kan belum mencari nama untuk Baby, Sayang."


"Bubu, bukan Sayang." Dita mendelik pada ayah bayi dalam perutnya itu.


"Iya, Bubu Sayang. Maaf, aku belum terbiasa." Rendra mengecup kening wanita yang menjadi belahan jiwanya itu.


"Nah, gitu. Gimana kalau dipanggil Ale, Mas?"


"Ale?" Rendra mengerutkan keningnya.


"Iya, Ale. Singkatan dari anak lelaki," jelas Dita.


"Terserah, Saโ€”eh Bubu saja."


"Bagus kan?"


"Iya, bagus."


"Hai Ale, adiknya Mas Akhtar," ucap Dita sambil mengelus perutnya.

__ADS_1


Rendra tersenyum melihat tingkah istrinya.


"Terus panggilan untuk Mas, apa?"


"Kaya biasa saja, mas dan ayah."


"Ih enggak mau. Enggak seru." Dita kembali mengerucutkan bibirnya.


"Bubu Sayang, maunya aku dipanggil apa?" Rendra mengelus pipi halus istrinya.


"Kan kemarin aku udah bilang yayah." Dita melirik kesal pada suaminya.


"Enggak mau yayah, kaya nama cewek." Rendra menggelengkan kepalanya. "Sudah panggil biasa saja, Bubu Sayang."


"Enggak!!! Pokoknya kita berdua harus punya."


"Ya, besok dipikirin lagi. Sekarang sudah malam. Kita tidur ya," bujuk Rendra.


"Aku mau tidur kalau sudah nemu nama buat Mas." Dita terus bersikeras.


Rendra kembali menghela napasnya. Tidak tahu lagi harus bagaimana menuruti keinginan wanita yang sedang mengandung buah cinta mereka itu. Dia melihat istrinya berpikir dengan serius, terbukti dengan keningnya yang mengerut.


"Ah, aku tahu. Mas, dipanggil Baba saja," ucap Dita sambil menjentikkan jarinya.


"Baba? Singkatan apa lagi itu?" Rendra mengernyit.


"Kan aku bubu, tinggal ganti aja huruf vokalnya bisa baba, bebe, bibi, bobo. Yang paling bagus ya baba. Baba juga bisa dari kata bapak diambil depannya. Cocok kan Mas, bubu dan baba."


"Aku ikut saja, Bubu Sayang." Rendra kembali menuruti keinginan istrinya.


Dita tersenyum lebar. "Aku, Bubu. Mas Rendra, Baba. Dan Baby, Ale."


...---oOo---...


Jogja, 190821 01.15


Dirgahayu Kemerdekaan RI ke-76


Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh


Merdeka ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ


Assalamu'alaikum,


Hai, hai semua. Apa kabar? Semoga teman-teman dan keluarga dalam keadaan sehat, tidak kurang suatu apa pun. Bagi yang sedang mendapat rezeki sakit, semoga segara diberikan kesembuhan dan pulih seperti sedia kala.


Saya membuat karya baru lagi nih, tapi hanya cerpen. Isinya POV Bara, tentang apa yang dia rasakan pada Dita. Judul cerpennya "Keikhlasan Cinta"


Gimana cara mencarinya?


Buka profil saya di aplikasi Noveltoon atau Mangatoon. Nanti akan muncul beberapa judul, pilih yang pojok kanan bawah sepeti di gambar.



Alhamdulillahnya cerpen ini mengikuti kontes cerpen yang diselenggarakan oleh Noveltoon dan Mangatoon dengan tema Aku mencintaimu, dan hasilnya menjadi salah satu cerpen pilihan editor. Hadiahnya tidak seberapa, tapi ini pengalaman berharga saya sebagai seorang yang sedang belajar menulis, yang masih fakir ilmu kepenulisan. Masih sangat jauh dari para penulis senior yang sudah terkenal.



Silakan mampir bila berkenan untuk membaca dan meluangkan waktu.


Untuk saat ini memang saya sedang mengikuti beberapa event menulis untuk meningkatkan kemampuan menulis saya, agar saya bisa menyajikan cerita yang bagus dan menarik untuk teman-teman. Walaupun tidak setiap event menang, tetapi itu jadi pelajaran yang berharga untuk saya.


Selayaknya kita memang tidak boleh berhenti belajar. Terus belajar hal baru yang bermanfaat. Bukan untuk menjadi sempurna, tapi untuk menjadi lebih baik.


Terima kasih atas semua dukungan teman-teman dari awal sampai saat ini. Apa pun itu bentuk dukungannya. Hanya Allah yang bisa membalasnya.


Jangan lupa tetap jaga kesehatan, minum vitamin, dan jaga prokes meski sudah vaksin.


Salam sayang untuk para Teman Hati ๐Ÿค—


Wassalamu'alaikum


Kokoro No Tomo


ใ€€

__ADS_1


ใ€€


__ADS_2