Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Titik Terang


__ADS_3

Setelah dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh, Adi tidak mengalami retak tulang atau pun pendarahan organ dalam. Dia hanya mengalami gegar otak ringan akibat benturan di kepala saat terjatuh. Karena itu sesudah dua hari dirawat di rumah sakit, dia diperbolehkan pulang. Tetapi, dia belum boleh bekerja karena masih sering merasa pusing. Dokter memberinya obat untuk menghilangkan rasa pusing sekaligus sebagai terapi penyembuhan. Lebam di dahi, punggung serta lengan kanan Adi juga berangsur menghilang.


Proses penyidikan terus berlangsung. Setelah keluar Surat Perintah Penangkapan, polisi pergi ke rumah orang tua Restu tetapi dia tidak ada di sana. Menurut informasi kedua orang tuanya, Restu tidak pulang sejak pergi dari rumah Minggu pagi. Tentu saja polisi tidak percaya begitu saja, mereka juga meminta informasi dari tetangga di sekitar rumah Restu.


Berdasarkan informasi dari para tetangga, Restu terakhir terlihat di rumahnya Minggu malam. Saat itu Restu pulang ke rumah dalam keadaan terburu-buru. Tak lama dia pergi lagi dengan membawa mobil yang dia pakai sebelumnya. Sejak saat itu, dia dan mobilnya tidak pernah terlihat lagi.


Karena keterangan dari kedua orang tua dan tetangga berbeda, polisi kemudian menanyakan lagi pada kedua orang tua Restu. Polisi menegaskan kalau mereka tidak memberikan keterangan yang sebenarnya, berarti mereka menghambat proses penyidikan. Mereka bisa terkena hukuman karena dianggap menyembunyikan pelaku kejahatan.


Setelah didesak, orang tua Restu akhirnya mengaku kalau putra mereka memang pulang ke rumah untuk mengambil baju. Setelah itu mereka tidak tahu ke mana putra mereka pergi. Restu tidak pernah menghubungi mereka sejak pergi. Setahu mereka, Restu kembali ke kota tempatnya bekerja. Selama sebulan terakhir memang setiap akhir pekan Restu selalu pulang. Setiap pulang, pasti Restu pergi seharian membawa mobil. Mereka tidak tahu Restu pergi ke mana saja dengan mobil itu. Yang jelas dia berangkat pagi dan pulang saat larut malam. Dan baru kali ini Restu membawa mobil tanpa pulang ke rumah.


Polisi juga menanyakan alamat kantor dan kos Restu di luar kota, tetapi mereka bilang kalau tidak tahu. Katanya mereka tidak pernah menanyakan di mana alamat Restu karena memang tidak pernah mendatangi Restu di luar kota. Selama di rumah Restu, polisi juga menggeledah kamarnya, mencari petunjuk yang sekiranya bisa membantu penyidikan.


Polisi juga meminta keterangan Adi dan juga Adelia. Karena kondisi Adi yang masih belum pulih, polisi mendatangi mereka di rumah. Kaisar juga ikut menemani selama mereka memberi keterangan.


Mau tak mau Adelia menceritakan segala hal tentang Restu yang dia tahu dan kenal selama ini. Dia menceritakan perihal Restu yang sudah menikah tetapi tetap menganggunya. Tak lupa, dia juga menceritakan tentang pertemuannya, Adi dan juga Restu dua bulan yang lalu.


Adi menyerahkan gawai yang dia pakai untuk menerima pesan dari Restu pada polisi. Mereka membuka pesan via WhatsApp Web di laptop lalu menyimpan semua pesan Restu, terutama yang mengandung provokasi dan ancaman.


Setelah kejadian yang menimpa Adi, keluarga sepakat untuk menuntut Restu atas kasus pengancaman dan juga percobaan pembunuhan. Meski pada akhirnya mereka lebih repot karena harus berurusan dengan pihak berwajib, tetapi demi keselamatan Adi dan Adelia, mereka tetap melakukannya.


Polisi yang menangani kasus Restu bekerja sama dengan polisi di kota tempat Restu kerja. Mereka mendatangi kantor dan juga tempat tinggal Restu. Tetapi nihil, Restu tidak bisa ditemukan. Polisi meminta keterangan dari teman kerja dan juga Claudia, istri Restu. Mereka bilang tidak tahu di mana Restu berada dan tidak pernah menghubungi mereka.


Polisi tidak begitu saja mempercayai omongan mereka. Karena itu pihak berwajib selalu mengawasi teman dekat Restu dan juga Claudia. Berharap semoga saja ada petunjuk yang bisa mengarahkan mereka ke tempat persembunyian Restu.


Selama proses penyidikan dan meminta keterangan, Kaisar jadi kerap bertandang ke rumah Adi. Dia ikut mengawasi semua meski bukan tanggung jawabnya. Setidaknya dia melakukan itu untuk sahabatnya.


Meski beberapa kali datang ke rumah Adi, tapi Kaisar belum pernah bertemu dengan Dita. Saat dia datang, biasanya Dita sedang kuliah atau di rumah Rendra. Meski dia ingin bertemu tapi dia tidak menanyakan keberadaan Dita pada Adi. Mana mungkin dia menganggu istri orang, meski dia masih menyimpan rasa.


Sabtu pagi ini, dia datang lagi ke rumah Adi. Dia ingin memberi tahu Adi perkembangan penyidikan dan pencarian Restu. Tanpa dia duga setelah mengetuk pintu, ada sosok wanita cantik—yang selalu mengisi hatinya sejak pertama kali melihat—yang membuka pintu.


Dia terpaku menatap wanita di depannya yang kini berubah menjadi lebih feminin. Seingatnya, Dita dahulu sangat tomboi. Bisa dibilang tidak pernah memakai rok kecuali seragam sekolahnya. Kini sosok Dita memakai hijab dan juga gamis yang semakin memancarkan aura kecantikannya.


"Mas Kaisar," panggil Dita agak keras, setelah beberapa kali dia panggil tetapi tidak menyahut.


"Eh, ya." Kaisar gelagapan. Dia tersadar dari lamunannya.


"Dita, kan," sapanya sambi tersenyum manis.


"Iya, aku Dita. Mas Kaisar, pangling ya lihat aku?" Dita membalas senyum Kaisar.

__ADS_1


"I—iya. Kamu sekarang beda, jadi—lebih cantik," puji Kaisar tanpa memalingkan pandangannya dari wajah Dita.


"Mas Kaisar, bisa saja. Ayo silakan masuk, Mas. Mau ketemu Mas Adi sama Mbak Adel kan?" tanya Dita.


"Iya. Tapi, ketemu kamu sekalian dan ngobrol juga boleh." Kaisar tersenyum sambil mengusap tengkuknya.


Dita hanya tersenyum menanggapinya. "Duduk dulu, Mas. Aku panggilkan mereka sebentar."


Kaisar masuk ke ruang tamu lalu duduk di sofa.


"Sayang, siapa ta—," pertanyaan Rendra terhenti saat melihat sosok Kaisar sedang duduk dan menatap kagum pada istrinya. Segera saja dia menghampiri Kaisar dan mengajak bersalaman untuk mengalihkan perhatian pria yang sudah membuatnya cemburu itu.


Setelah bersalaman, Rendra mendekati istrinya, kemudian dia memeluk erat pinggang Dita. "Sayang, sudah bilang Mas Adi kalau dicari Mas Kai?"


"Belum, Mas. Ini aku baru mau panggil mereka."


"Mas Kai, ditunggu sebentar ya." Rendra mengajak Dita masuk ke dalam tanpa menunggu jawaban Kaisar. Dia tidak rela istrinya bicara dan dekat dengan pria lain, apalagi pria itu jelas terlihat menyukai istrinya.


Setelah memberi tahu Adi dan Adelia kalau Kaisar sudah datang, Rendra membantu istrinya menyiapkan minum dan juga kudapan. Hari ini Adi bilang ada temannya yang akan datang, tapi dia tidak menduga kalau itu Kaisar. Kalau tahu begitu, dia tidak akan mengizinkan Dita membantu di sini.


Rendra membantu membawa nampan yang berisi gelas dan kudapan. Sementara Dita hanya berjalan di depannya tanpa membawa apa-apa. Yah, tahu sendiri kan bagaimana protektifnya Rendra pada istrinya.


Setelah semua berkumpul, Kaisar mulai menceritakan tentang perkembangan kasusnya. Selain mengawasi teman kerja dan istri Restu, mereka juga mengawasi kedua orang tua Restu dan juga anggota keluarga yang lain.


Saat polisi mendapat informasi di mana Restu berada, selalu saja dia lolos saat penggerebekan. Restu selalu berpindah tempat persembunyian hampir setiap hari. Rata-rata dia menyewa hotel melati yang tarifnya sangat murah. Sepertinya asal dia bisa tidur tanpa memedulikan fasilitas kamar.


Sesudah menabrak Adi, Restu sempat masuk kerja sehari, setelah itu dia tidak pernah masuk lagi. Mungkin orang tuanya yang memberi tahu kalau dia dicari oleh pihak berwajib karena sudah menabrak Adi. Karena itu dia tidak menampakkan diri di kantor lagi dan juga meninggalkan istrinya yang sedang hamil besar.


Semua bukti yang memberatkan dan membuktikan Restu bersalah sudah dipegang pihak berwajib dan juga kejaksaan yang mendapat wewenang menangani kasus Restu. Bukti dan info sekecil apa pun sangat berguna untuk menjerat Restu agar dia sadar dan jera dengan perbuatannya.


"Kalau nanti Restu ditangkap apa langsung dimasukkan ke penjara?" tanya Pak Lukman pada Kaisar.


"Iya, Pak. Nanti akan dilakukan penahanan di kantor sampai proses persidangan selesai. Kami mengupayakan agar sidang bisa segera digelar setelah Restu ditemukan dan ditangkap," jawab Kaisar.


"Kalau keluarga atau pengacaranya minta penangguhan penahanan bagaimana?" tanya Pak Lukman lagi.


"Kemungkinan besar tidak dikabulkan karena dia ada indikasi untuk melarikan diri, Pak. Kalau dari awal dia kooperatif, itu lain soal lagi, Pak. Tetapi pihak keluarga saja sempat memberikan keterangan palsu, jadi kami juga tidak akan percaya lagi pada mereka," terang Kaisar.


"Pokoknya Om minta kasus ini harus selesai sampai Restu mendapat hukuman yang setimpal. Berapa pun biaya yang diperlukan untuk pengacara, saya tidak masalah," kata Pak Lukman.

__ADS_1


"Siap, Pak." Kaisar memberi hormat pada Pak Lukman.


...🎶Sepenuhnya aku ingin memelukmu...


...Mendekap penuh harapan 'tuk mencintaimu...


...Setulusnya aku akan terus menunggu...


...Menanti sebuah jawaban 'tuk memilikimu🎶...


...(Padi - Menanti Sebuah Jawaban)...


Gawai Kaisar berdering. Dia melihat nama penelepon sebelum menjawab.


"Maaf, saya terima telepon dulu," izinnya sebelum menggeser tombol hijau si layar gawainya.


"Siang. Gimana, Ndan?"


"Alhamdulillah, sekarang posisi di mana?"


"Oke. Terima kasih infonya, Ndan. Kami akan segera ke sana."


"Siap, Ndan."


Kaisar menyimpan gawainya di jaket setelah mengakhiri percakapannya di telepon. Dia tersenyum pada semua orang.


"Alhamdulillah, sudah ada titik terang keberadaan Restu. Maaf saya mohon pamit untuk menuju ke sana," kata Kaisar.


"Alhamdulillah," ucap semua orang yang di sana.


"Aku boleh ikut enggak, Mas Kai?" tanya Arsenio.


"Maaf tidak bisa. Nanti akan saya infokan lagi kalau ada berita terbaru. Mohon maaf saya harus segera pergi." Kaisar berdiri lalu menyalami semua orang yang ada di sana sebelum benar-benar beranjak meninggalkan rumah Adi.


Rendra langsung mengajak Dita masuk ke kamar setelah Kaisar pergi.


...---oOo---...


Jogja, 280721 01.30

__ADS_1


__ADS_2