
"Kita harus menggugurkan janin demi keselamatan Ibu Adelia," ujar dokter Lita seraya memandang Adi, Adelia dan Ibu Hasna bergantian.
"Apa, Dok? Digugurkan?" seru Adelia yang terkejut mendengar ucapan dokter Lita.
"Apa tidak ada alternatif lain, Dok? Diberi obat penguat kandungan atau obat lainnya untuk mempertahankan anak kami?" tanya Adi yang juga tak kalah terkejut.
"Mohon maaf, tidak bisa, Pak. Karena tidak berada di tempat yang semestinya yaitu di rahim, janin tidak bisa berkembang karena tidak mendapat asupan yang cukup. Apalagi di saluran telur, itu tempatnya sangat kecil. Maaf, apa Pak Adi pernah melihat saat Ibu Adelia merasakan sakit?"
"Iya, Dok. Tadi dalam perjalanan ke sini, istri saya merasakan sakit. Saya sampai tidak tega melihat dia kesakitan seperti itu."
"Pak Adi, tidak tega kan? Kalau dipaksakan akan semakin parah sakitnya, Pak. Nanti ada pendarahan di dalam. Bisa jadi saluran telurnya pecah dan menimbulkan infeksi. Kalau terlalu lama pendarahan dibiarkan, hemoglobin Ibu juga menjadi rendah dan membutuhkan transfusi darah. Akan sangat membahayakan nyawa Bu Adelia," jelas dokter Lita.
"Saya tahu ini sangat berat untuk Pak Adi dan Bu Adelia. Apalagi kehamilan ini sangat ditunggu-tunggu. Namun, kita tidak bisa melawan takdir, Pak, Bu. Saat ini yang terbaik adalah menggugurkan janin. Karena selain janin tidak bisa bertahan hidup di luar rahim, juga membahayakan bagi Bu Adelia," lanjut dokter Lita.
Adelia menangis dalam diam setelah mendengar penjelasan dokter Lita. Adi yang duduk di sampingnya, menggenggam erat tangannya. Mereka saling menguatkan. Adi pun tak kuasa menahan air matanya. Namun, dia berusaha tetap kuat demi istrinya.
"Dok, apa ini sama seperti yang orang bilang hamil anggur itu?" tanya Ibu Hasna.
"Sangat jauh berbeda, Bu. Hamil anggur atau mola hidatidosa, terjadi saat sel telur yang dibuahi yang seharusnya tumbuh menjadi janin, tumbuh menjadi sel abnormal. Sel tersebut kemudian berkembang menjadi gelembung putih berisi cairan yang menyerupai anggur di dalam rahim. Kalau di USG bisa terlihat bentuknya seperti anggur," jawab dokter Lita.
"Kalau kehamilan ektopik atau KET (dibaca ka e te), sel telur yang dibuahi atau janin tidak berada di dalam rahim, tetapi di tempat lainnya. Bisa jadi di indung telur, saluran telur, serviks atau rongga perut. Jadi, janin tidak menempel di tempat yang seharusnya. Saat kita USG, rahimnya kosong tidak tampak kantong janinnya," tambah dokter Lita.
Ibu Hasna menganggut mendengar penjelasan dokter Lita. Dia juga merasa kaget dan sedih saat tahu soal kondisi menantunya sekaligus iba, karena Adelia sangat mendambakan anak yang lahir dari rahimnya sendiri. Dia rela melakukan apa pun yang disarankan orang demi bisa hamil.
"Dok, apa kalau begitu Mbak Adel akan dikuret?" tanya Ibu Hasna lagi.
Dokter Lita tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Ibu Hasna. "Tidak dikuret, Bu, tetapi melalui proses operasi."
"Operasi, Dok?" tanya Adi memastikan.
"Iya, Pak. Untuk kasus Ibu Adelia ini, saya akan melakukan tindakan laparoskopi (*). Karena saya lihat belum begitu parah. Pendarahan baru dua hari," jawab dokter Lita.
"Lapa-- apa tadi, Dok?" Kening Adi mengerut.
"Laparoskopi, Pak." Dokter Lita tersenyum pada Adi.
"Laparoskopi itu bagaimana operasinya, Dok?"
"Nanti akan dibuat beberapa sayatan kecil di dinding perut untuk memasukkan alat yang dilengkapi dengan kamera dan cahaya di ujungnya. Jadi, saya bisa melihat organ dalam Bu Adelia. Saya tidak membedah perut seperti pada operasi caesar. Operasi ini lebih cepat pemulihannya. Kalau tidak ada masalah, sehari setelah operasi boleh pulang," jelas dokter Lita.
"Lalu, nanti anak kami juga dikeluarkan lewat sana?"
"Iya, Pak. Sekalian nanti saya akan cek kondisi rahim, indung telur, dan tuba falopi yang sebelah kanan. Kalau ada kista, miom bisa sekalian dibersihkan. Jadi, kondisi organ reproduksi sudah bersih untuk bisa program hamil lagi."
"Apa berarti saya hanya akan punya satu tuba falopi, Dok?" tanya Adelia.
"Saya belum bisa memastikan, Bu. Karena saya tidak tahu kondisi tuba falopi yang sebelah kiri itu masih bisa diperbaiki atau tidak. Saya masih belum tahu letak janin ada di ujung, tengah atau pangkal tuba falopi. Kalau bisa diperbaiki, Ibu tetap bisa punya dua tuba falopi. Namun, kalau sudah pecah dan rusak terpaksa kami potong dan ambil," jawab dokter Lita.
"Berarti saya masih bisa hamil, Dok?" tanya Adelia lagi.
Dokter Lita terdiam sejenak. "Insya Allah bisa atas izin Allah. Kalaupun nanti ternyata tuba falopi yang kanan juga bermasalah, Pak Adi dan Bu Adelia masih bisa mengikuti program bayi tabung. Namun, jangan terlalu pesimis Bu Adelia. Banyak kok yang hanya punya satu tuba falopi bisa punya banyak anak," jelas dokter Lita.
"Terus kapan rencana operasinya, Dok?" tanya Adi.
"Saya usahakan secepatnya. Kemungkinan besar besok pagi. Setelah dari sini nanti, Ibu Adelia akan melewati proses pemeriksaan untuk persiapan operasi. Karena besok operasinya dibius total, nanti malam Ibu Adelia harus puasa."
"Mulai jam berapa puasanya, Dok?"
"Nanti akan diberitahukan oleh perawat kapan harus mulai puasa ya, Pak."
"Baik, Dok. Lalu kapan saya harus mengurus administrasi, Dok?"
"Saya buatkan dulu pengantarnya, setelah ini Pak Adi bisa langsung mengurus administrasi."
__ADS_1
"Apa bisa pakai asuransi dari kantor, Dok?"
"Nanti coba ditanyakan ke bagian administrasi ya, Pak. Maaf kalau soal itu saya tidak begitu paham," ujar dokter Lita.
"Baik, Dok."
"Apa ada lagi yang mau ditanyakan?" tanya dokter Lita.
"Berapa hari istri saya harus menginap di sini, Dok?"
"Kalau semuanya lancar hanya dua hari, malam ini dan besok. Lusa sudah boleh pulang," jelas dokter Lita sambil tersenyum.
"Ada lagi?"
"Sepertinya sudah, Dok."
"Baik. Ini surat pengantar untuk mengurus administrasinya, Pak." Dokter Lita menyerahkan berkas pada Adi.
"Sambil menunggu proses administrasi dan masuk ke kamar, Bu Adelia bisa beristirahat di ruangan sebelah. Boleh ditemani ibu mertua kok. Nanti sambil diperiksa oleh perawat ya, Bu," kata dokter Lita pada Adelia.
Adelia menyengguk. "Baik, Dok."
Adi kemudian keluar dari ruangan dokter Lita setelah berpamitan pada Adelia dan bundanya. Dia pergi ke bagian administrasi untuk mengurus pemesanan kamar dan pelaksanaan pemeriksaan serta prosedur operasi yang haris dijalankan Adelia. Sambil menunggu proses pengurusan administrasi, dia menghubungi mama mertuanya, mengabarkan bagaimana keadaan Adelia. Tentu saja Ibu Sarah terkejut mendengar berita tersebut. Dia berjanji akan langsung ke rumah sakit setelah pulang dari kantor.
Adi juga menghubungi adik semata wayangnya. Dia minta dibawakan baju ganti untuknya dan Adelia setelah menjelaskan keadaan istrinya. Sekalian nanti menjemput bunda pulang saat mengantar bajunya. Dita tak kalah terkejut mendengar kondisi Adelia. Baru kali ini dia mendengar tentang kehamilan di luar kandungan, yang dia tahu selama ini hanyalah hamil anggur.
Adelia melalui berbagai macam pemeriksaan, seperti pemeriksaan riwayat kesehatan, penyakit, alergi, serta keluhan dan gejala yang dirasakan. Selain itu ada tes urin dan tes darah. Adelia juga melakukan rontgen dada dan rekam jantung. Semua hasil pemeriksaan itu akan menjadi acuan dalam menentukan tindakan lanjut yang perlu diambil. Selain itu juga menentukan apakah kondisi tubuh aman untuk dilakukan tindakan operasi.
Ibu Sarah menelepon Adi setelah dia dan suaminya tiba di rumah sakit. Dia menanyakan di mana Adelia berada. Untung saja, Adelia sudah mendapat kamar, jadi Ibu Sarah dan Pak Lukman langsung menuju ke ruang rawat inap putri mereka.
Ibu Sarah langsung memeluk putri sulungnya begitu masuk ke kamar inap. Adelia menangis tersedu-sedu dalam pelukan mamanya.
"Ma, aku kehilangan calon anakku. Aku belum bisa memberi Mama dan Papa cucu," ucap Adelia sambil menangis.
"Tapi, aku tidak tahu apa bisa hamil lagi atau tidak, Ma."
"Ssshhh, Mbak, jangan bilang seperti itu. Jangan pesimis, harus optimis. Kita tidak boleh mendahului takdir Allah. Sekarang yang paling penting Mbak kembali sehat. Itu saja keinginan mama sama papa."
"Mbak, sekarang fokus pada kesehatan. Jangan memikirkan hal lain apalagi yang aneh-aneh. Kami akan selalu ada untuk mendampingi dan mendoakan, Mbak."
Ibu Sarah mengurai pelukannya. Dia menghapus air mata Adelia dengan jemarinya. Dia tersenyum pada putri sulungnya itu.
"Mama sangat bangga sama, Mbak, karena Mbak itu wanita yang sabar dan kuat. Mama, papa, Mas Adi, Arsen, Ibu Hasna, dan semuanya sayang sama Mbak."
"Makasih, Ma." Adelia membalas senyum wanita yang sudah melahirkan dia itu.
"Mana ini anak papa yang cantik?" Pak Lukman menghampiri ranjang Adelia dengan senyum ceria.
Adelia menoleh pada sang papa. "Papaaa." Dia merentangkan tangan, ingin memeluk papanya tercinta.
Pak Lukman kemudian memeluk Adelia. Mereka berpelukan erat selama beberapa saat.
"Anak papa yang cantik dan kuat ini manja ya sekarang, padahal sudah punya suami," seloroh Pak Lukman agar suasana tidak kembali sedih.
"Memangnya aku tidak boleh manja lagi sama Papa?" Adelia mengerucutkan bibir setelah mengurai pelukan mereka.
"Selamanya Mbak akan jadi putri kecil papa yang cantik dan kuat. Jadi boleh manja sampai kapan pun." Pak Lukman menoel ujung hidung Adelia.
"Papa nih kebiasaan deh," sewot Adelia.
"Kalau Mbak sudah sehat, kita jalan-jalan ya sekeluarga. Sudah lama kita tidak liburan bersama," ujar Pak Lukman.
"Benar, Pa?" tanya Adelia yang mulai tampak ceria.
__ADS_1
Pak Lukman menganggut. "Kebetulan papa kemarin habis dapat voucher liburan keluarga. Bisa kita manfaatkan kan."
"Mas Adi, mau liburan?" Adelia tiba-tiba beralih pada suaminya.
"Asal bisa membuat Ai bahagia, aku mau," sahut Adi.
"Yeay, asyik. Liburan ramai-ramai." Adelia bertepuk tangan seperti anak kecil.
"Makanya Mbak cepat sehat, biar kita bisa cepat liburan," kata Pak Lukman.
"Siap, Pa." Adelia memberi hormat pada papanya.
Suasana yang semula sendu itu berubah menjadi ceria kembali. Kedua keluarga besar berkumpul, kecuali Pak Wijaya yang tidak bisa datang karena keadaan. Arsenio datang tak lama setelah kedua orang tuanya tiba. Sementara Dita, Rendra dan Ale sampai setelah Magrib.
Saat mereka sedang bersenda gurau, tiba-tiba Adelia kembali merasakan sakit di perutnya.
"Mas, sakit," keluh Adelia pada suaminya. Perutnya tadi sudah dioles dengan minyak kayu putih oleh sang mertua yang merawatnya seperti anak sendiri.
"Aku elus-elus ya perutnya biar sakitnya." Adi mulai mengelus perut Adelia.
Namun bukannya makin berkurang malah jadi bertambah sakit.
"Udah, Mas. Jangan dielus, malah sakit."
Adi menarik tangannya. "Ai, mau aku ngapain biar reda sakitnya?" Dia menatap cemas sang istri.
"Biar aku atur napas sama zikir. Mas Adi di sini saja, jangan pergi." Adelia memegang erat tangan suaminya.
"Iya, Ai. Aku di sini. Aku enggak akan ke mana-mana." Adi hanya memandang istrinya tanpa bisa berbuat apa-apa, selain berdoa semoga sakit yang dirasakan Adelia segera hilang.
Semua yang ada di sana merasa khawatir dan iba dengan Adelia. Namun, sama seperti Adi, mereka hanya bisa mendoakan Adelia.
Sekitar sepuluh menit kemudian, sakit di perut Adelia hilang. Dia tersenyum pada semuanya dengan wajah yang pucat dan lemah. Dia kemudian memejamkan matanya. Mungkin karena kelelahan dengan serangkaian pemeriksaan yang dijalani, Adelia tertidur.
Malam ini, Ibu Sarah akan berjaga dengan Adi di rumah sakit. Sebenarnya Adi sudah melarang mertuanya tersebut, tetapi Ibu Sarah bersikeras ingin terus menemani putrinya. Selama Adelia bedrest, dia tidak bisa merawat dan menjaganya, makanya kali ini dia ingin melakukannya. Dia sudah mengajukan izin kerja sampai Adelia keluar dari rumah sakit.
Perawat memberi tahu Adelia harus mulai puasa setelah pukul 10.00 malam karena operasi direncanakan pukul 08.00 pagi. Malam ini, Adelia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena beberapa kali perutnya terasa sakit.
Pagi-pagi sekali, bakda Subuh, Adelia dimandikan oleh Ibu Sarah setelah perawat menyuruh untuk membersihkan diri. Setelah itu infus mulai dipasang di tangannya. Adelia juga berganti pakaian yang disediakan oleh pihak rumah sakit. Pakaian berwarna biru muda, yang cara pakainya seperti bathrobe dengan ditalikan. Namun, Adelia memakainya dengan bagian yang terbuka diletakkan di belakang.
Adelia tidak diperbolehkan mengenakan apa pun selama menggunakan pakaian pasien untuk operasi itu, termasuk bra dan cawat. Semua perhiasan Adelia juga dilepas. Dia juga tidak diperbolehkan memakai wewangian dan berdandan. Benar-benar polos apa adanya.
Hari ini, Ibu Sarah, Adi dan Ibu Hasna yang akan menunggu proses operasi Adelia. Pak Lukman tidak bisa izin kerja karena ada rapat penting pimpinan yang sudah diagendakan sebelumnya. Arsenio dan Dita kuliah. Sementara Rendra di butik bersama Ale. Tidak mungkin dia ikut menunggu di rumah sakit sambil membawa Ale. Anak kecil tidak seharusnya kan terlalu lama berada di rumah sakit, karena banyak sumber penyakit di sana.
Sebelum masuk ke ruang operasi, Adelia meminta maaf pada semuanya. Dia minta doa semoga operasinya berjalan dengan lancar, tanpa hambatan apa pun. Dia mencium tangan dan memeluk ketiga orang yang sangat dia cintai itu. Setelah berpamitan, Adelia dibawa perawat ke ruang operasi.
Masuk ke ruang operasi, dada Adelia dipasangi alat untuk mengukur detak jantungnya. Di jari tangan juga dipasang oximeter. Dokter anestesi kemudian menjelaskan kembali prosedur pembiusan yang akan dia lakukan. Setelah dokter anestesi mengatakan akan mulai membiusnya, Adelia membaca doa dalam hati. Hal terakhir yang dia ingat hanya sang dokter memasukkan sesuatu ke dalam kantong infusnya. Sesudah itu dia kehilangan kesadarannya.
...---oOo---...
Jogja, 031221 01.05
Catatan :
Laparoskopi atau operasi lubang kunci adalah prosedur bedah minimal invasif yang dilakukan dengan membuat sayatan kecil di dinding perut. Laparoskopi dilakukan dengan bantuan alat berbentuk tabung tipis bernama laparoskop. Alat ini dilengkapi dengan kamera dan cahaya di ujungnya.
Prosedur laparoskopi dilakukan untuk keperluan diagnosis atau pengobatan. Melalui metode ini, dokter akan mampu melihat sejumlah kelainan, seperti infeksi, kista, fibroid, dan perlengketan, di dalam organ perut atau panggul. Selain itu, prosedur ini juga bisa diterapkan untuk keperluan pengambilan sampel jaringan dalam pemeriksaan biopsi.
...---oOo---...
Di bulan Desember ini, saya mengikuti tantangan menulis selama 30 hari. Bagi yang berkenan silakan mampir di IG @kokoro.no.tomo.82 untuk membaca tulisan saya. Boleh banget kalau mau disukai atau diberi komentar.
Postingan event menulis 30 hari, saya menggunakan cover di bawah ini 👇🏻👇🏻👇🏻
__ADS_1