Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Bulan Madu


__ADS_3

Pagi-pagi setelah Subuh, Adi dan Adelia sudah bersiap-siap untuk pergi berbulan madu. Penerbangan mereka pukul 07.00 pagi, jadi setidaknya pukul 06.00 pagi mereka sudah siap. Ibu Hasna sudah sibuk di dapur sejak sebelum Subuh untuk menyiapkan sarapan. Kebetulan juga masih ada saudara yang menginap di rumah. Adelia berniat membantu, tetapi dilarang oleh ibu mertuanya karena dia harus bersiap untuk pergi. Sementara Dita yang kelelahan karena dua hari berturut-turut mengikuti acara pernikahan kakaknya, memilih beristirahat di sofa setelah salat Subuh, menemani sang ayah menonton acara ceramah agama di televisi.


Sebelum berangkat, Adi dan Adelia hanya minum teh manis hangat dan dua lembar roti tawar dengan selai kacang untuk mengganjal perut, karena nanti di pesawat juga mereka akan mendapat makanan. Setelah mereka siap dan pamit dengan seluruh keluarga, Rendra mengantarkan Adi dan Adelia ke bandara. Tentu saja Dita ikut bersama suaminya, meski masih memakai baju tidur yang dilapisi dengan jaket.


Adi dan Adelia pergi berbulan madu ke Pulau Bintan, yang merupakan salah satu pulau terbesar di Provinsi Kepulauan Riau. Di pulau ini terdapat Kota Tanjung Pinang yang merupakan ibu kota Provinsi Kepulauan Riau. Pulau yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia ini, terkenal memiliki keindahan alam dan ekosistem perairan yang beragam.


Adi dan Adelia naik pesawat dengan tujuan Jakarta terlebih dahulu. Nanti dari Jakarta baru terbang dengan pesawat lain dengan tujuan Bandara Internasional Raja Haji Fisabilillah, karena tidak ada jadwal penerbangan langsung dari Jogja ke Pulau Bintan. Mereka transit di Jakarta selama 3 jam. Sambil menunggu, mereka memanfaatkan waktu untuk melakukan pijat refleksi agar tubuh mereka lebih terasa segar setelah selama dua hari menjalani prosesi pernikahan dan resepsi.


Pesawat yang ditumpangi Adi dan Adelia mendarat di Bandara Internasional Raja Haji Fisabilillah sekitar pukul 13.05 WIB. Setelah turun dari pesawat dan menunggu bagasi, Adi dan Adelia ke luar dari pintu kedatangan. Adi mencari-cari guide dari agen tur & travel yang akan menjemput mereka.


"Ai, kamu lihat ke sebelah kanan, aku sebelah kiri ya. Cari orang dengan tulisan namaku," kata Adi sambil berjalan melewati orang-orang yang ke luar atau pun yang menjemput.


"Iya, Mas."


Setelah beberapa saat mencari.


"Mas, itu di sebelah sana." Adelia menunjuk seorang pria berkacamata yang membawa tulisan Mr. & Mrs. Adindra Kusuma. Adi dan Adelia kemudian berjalan menghampiri pria itu. Tangan kiri Adi menggandeng Adelia, sementara tangan kanannya menyeret koper mereka.


"Siang, Pak. Apa Bapak dari Bintan Travel?" tanya Adi setelah tiba di samping pria itu.


Pria itu kemudian menoleh pada Adi. "Iya, benar. Apa ini Bapak dan Ibu Adindra Kusuma?"


"Iya. Saya Adindra Kusuma, tapi panggil saja Adi. Dan ini istri saya, Adelia." Adi memperkenalkan diri.


"Selamat datang di Pulau Bintan, Pak Adi dan Ibu Adelia. Perkenalkan saya, Dedi. Saya yang akan mengantar dan menjadi guide Bapak dan Ibu selama di sini. Mari Pak, saya bawakan kopernya," ujar pria yang bernama Dedi itu.


"Terima kasih, Pak Dedi." Adi menyerahkan kopernya pada Dedi.


"Mari ikut saya ke tempat parkir mobil, Pak, Bu." Dedi berjalan di depan mereka sambil membawa koper. Adi dan Adelia mengikuti di belakangnya.


"Ini mobilnya, Pak, Bu. Silakan masuk dulu." Dedi membuka pintu minibus agar Adi dan Adelia bisa masuk. Setelah itu dia memasukkan koper ke dalam bagasi.


"Pak, Bu, ini air mineralnya." Dedi menyerahkan dua botol air mineral ukuran 600 ml pada Adi.


"Terima kasih, Pak," ucap Adi setelah menerima air mineral.


"Bagaimana perjalanannya tadi, Pak?" tanya Dedi saat mulai melajukan mobil.


"Alhamdulillah lancar," jawab Adi.


"Kita check in di hotel setelah makan malam. Menginapnya di Bintan Lagoon Resort kan, Pak?" tanya Dedi.


"Iya. Oke. Apa bisa kita cari masjid dulu, Pak. Saya dan istri belum salat Zuhur?"


"Baik, Pak. Agenda kita sekarang berkeliling Kota Tanjung Pinang, jadi sekalian kita ke Masjid Raya Al Hikmah."


"Saya ikut saja, Pak Dedi," kata Adi. "Di sini yang khas apa, Pak?" tanyanya kemudian.

__ADS_1


"Ada otak-otak ikan, terus ada juga gonggong, Pak," jawab Dedi sambil terus mengemudi.


"Gong—apa tadi, Pak?" tanya Adelia.


"Gonggong, Bu."


"Oh iya, gonggong itu apa, Pak?" tanya Adelia yang merasa penasaran.


"Gonggong itu nama hewan laut yang mirip keong. Coraknya berwarna kuning tetapi tidak seperti keong emas yang biasa ditemukan di pinggir sawah atau rawa. Karena gonggong ini hanya terdapat di laut Tanjung Pinang saja maka hewan unik ini jadi icon kota Tanjung Pinang," terang Dedi.


Adi dan Adelia mengangguk-angguk mendengar penjelasan Dedi.


"Di sini juga ada Gedung Gonggong, Pak, Bu. Bentuk gedungnya menyerupai bentuk gonggong. Nanti sore kita ke sana sambil menikmati matahari terbenam di tepi laut."


"Wah, asyik itu. Gonggong berarti bisa dimakan ya, Pak?" tanya Adi.


"Bisa, Pak. Kalau bapak ingin mencicipi nanti saya antar untuk membeli," jawab Dedi.


"Oke." Adi mengangguk-angguk.


"Ai, mau kan coba makan gonggong?" tanya Adi pada istrinya.


"Boleh, tapi coba satu dulu, kalau suka baru makan lagi," jawab Adelia.


"Rugi loh, Pak, Bu, kalau tidak mencoba. Banyak orang yang ke sini untuk merasakannya langsung. Cara makannya juga unik."


"Gonggong kan masaknya biasanya direbus. Nah, itu cangkangnya tidak dilepaskan saat dimasak. Jadi kita mengeluarkan sendiri isinya dengan tusuk lidi atau garpu untuk mengambil daging di dalam cangkang yang sudah dimasak. Nanti dagingnya bisa dicocol dengan saos sambal atau tomat. Tapi kalau ada kolesterol jangan terlalu banyak makannya," jelas Dedi.


"Wah, seru tuh makannya, Ai," kata Adi pada istrinya.


Dalam perjalanan, Dedi bercerita mengenai kota Tanjung Pinang yang dahulunya adalah pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga. Sebelum dimekarkan menjadi kota otonom, Tanjung Pinang adalah ibu kota Kabupaten Kepulauan Riau yang sekarang menjadi Kabupaten Bintan. Kota ini juga mulanya adalah ibu kota Provinsi Riau (meliputi Riau daratan dan kepulauan) sebelum kemudian dipindahkan ke Kota Pekanbaru.


Tak terasa mereka sudah memasuki area Masjid Raya Al Hikmah Tanjung Pinang. Masjid ini merupakan salah satu masjid tua di Kota Tanjung Pinang yang memiliki gaya bangunan khas melayu, yang juga menjadi salah satu kebanggaan masyarakat asli Tanjung Pinang. Begitu memasuki kawasan masjid terasa asri dan sejuk.


Bangunan Masjid Al Hikmah memiliki warna utama hijau dan warna-warna lainnya sebagai perpaduan. Setelah mengalami beberapa kali pemugaran, masjid ini bisa menampung sekitar 3.000 jemaah. Di halaman masjid terdapat menara pandang yang memiliki ketinggian mencapai 36 meter. Menara ini bisa terlihat hingga Pelabuhan Tanjung Pinang yang menjadikan wilayah Tanjung Pinang terkenal dengan kawasan melayu yang tetap menjunjung tinggi budaya Islami.


Atap Masjid Raya Al Hikmah berbentuk limas yang memiliki 3 tingkatan. Di tingkatan kedua terdapat kubah kecil yang menghiasi setiap sudutnya. Sementara di tingkatan paling atas, terdapat kubah-kubah kecil di setiap sudut serta kubah utama di bagian tengah.


Mimbar masjid ini terbuat dari kayu jati yang dilengkapi dengan beberapa ornamen indah khas melayu. Di bagian dalam masjid juga dihiasi dengan berbagai ornamen yang unik dan juga kaligrafi yang mengelilingi setiap sisi masjid.


Masjid Raya Al Hikam dibangun pada awal abad ke-19 oleh masyarakat yang berasal dari India tepatnya oleh orang-orang suku Keling India yang merantau ke Indonesia, dan kebetulan menempati wilayah Tanjung Pinang. Makanya dulu masjid ini lebih dikenal dengan nama Masjid Keling.


Pada tahun 1965, masjid ini mengalami perubahan bentuk bangunan, yang awalnya merupakan bangunan panggung berubah menjadi bangunan permanen. Bentuk asli bangunan masjid ini terbuat dari kayu kapur atau kayu merah. Proses pembangunannya pun dilakukan dengan cara yang cukup unik. Waktu itu, jemaah masjid mengumpulkan botol-botol bekas yang kemudian dijual ke Singapura. Hasil penjualan tersebut dapat digunakan untuk membangun 8 tiang masjid yang sekarang dapat dilihat langsung di Masjid Raya Al Hikmah.


Adi dan Adelia menjalankan salat Zuhur dan Asar di sana. Setelah salat mereka beristirahat sejenak sambil melihat-lihat ornamen masjid. Tak lupa mereka juga berfoto di sana.


__ADS_1


Setelah beristirahat beberapa saat, mereka kembali melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya.


Seperti di daerah atau kota lain, Kota Tanjung Pinang juga mempunyai ikon yang berwujud Gedung Gonggong. Gedung ini terletak di kawasan Laman Boenda. Gedung Gonggong didesain menyerupai siput laut, dengan dinding yang terbuat dari kaca gelap dan atap berwarna emas.



Gedung Gonggong merupakan pusat informasi kebudayaan bagi para wisatawan yang tengah berkunjung ke kota Tanjung Pinang. Adi dan Adelia nasuk ke dalam gedung yang memiliki dua lantai ini. Di lantai pertama mereka mendapati pusat oleh-oleh khas Tanjung Pinang. Setelah itu mereka ke lantai dua, di sana mereka melihat museum mini dengan televisi yang berisikan informasi tentang kebudayaan di Tanjung Pinang.


Setelah puas berjalan-jalan ke Gedung Gonggong, Adi dan Adelia bersantai di Laman Boenda. Sambil menunggu pemandangan matahari terbenam yang indah, mereka duduk-duduk sembari makan gonggong yang tadi dibeli di salah satu kedai.



Sesudah matahari terbenam, Adi dan Adelia kembali ke minibus. Dedi mengantar mereka untuk salat Magrib sekaligus makan malam. Setelahnya, mereka menuju ke resort untuk check in.


Mereka mengambil kamar tipe deluxe sea facing room. Kamar dengan luas 37 meter persegi itu menghadap ke laut. Setelah masuk ke kamar, Adelia menata baju mereka, sementara Adi membersihkan diri. Begitu suaminya selesai, gantian Adelia yang membersihkan diri.



Mereka berdua duduk di atas ranjang sambil menonton televisi sesudah mereka membersihkan diri.


"Gimana Ai, senang enggak?" tanya Adi sambil menoleh pada istrinya.


"Senang banget, Mas. Jadi lebih fresh setelah melihat laut. Apalagi dengar suara ombak, rasanya menenangkan," jawab Adelia.


"Makasih untuk bulan madunya, Mas." Adelia mengecup pipi Adi.


"Hmmm, Ai mancing nih." Adi memberi tatapan menggoda pada istrinya.


"Mancing apa sih, Mas?" Adelia mengernyit, tidak mengerti apa yang dimaksud suaminya.


"Mancing aku buat makan kamu, Ai," jawab Adi sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Apaan sih, Mas." Adelia tersipu malu.


"Udah hampir seminggu aku puasa nih. Aku mau buka puasa sekarang. Ai, enggak capai kan?" Adi menatap sayu istrinya.


"Enggak, Mas." Pipi Adelia bersemu merah.


Adi lalu mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur. Setelah itu mereka saling menyalurkan rasa rindu dan cinta hingga meraih kenikmatan dunia berkali-kali.


...---oOo---...


Jogja, 110821 00.45


Terima kasih untuk Kak Norma yang sudah bersedia memberikan informasi mengenai Pulau Bintan. Kalau ada teman yang domisili di Bintan boleh juga kalau mau membagi informasi bisa via komentar, PC atau DM di IG @kokoro.no.tomo.82. Bila ada kesalahan saya dalam menyampaikan informasi mohon koreksinya. Terima kasih 🙏🤗


Catatan : Semua kredit foto pada pemilik

__ADS_1


__ADS_2