
Aku kaget saat orang-orang mulai berteriak dan mengacungkan tangan ke mobilku dari kaca spion. Aku bisa melihat ada beberapa motor yang coba mengejarku. Aku kembali menambah kecepatan mobilku.
Biasanya lalu lintas padat dan ramai saat Minggu seperti ini. Tapi kembali lagi, semesta berpihak padaku. Saat aku melajukan mobil ke arah tugu, lalu lintas tidak padat. Aku bisa segera melaju, memperlebar jarak dari motor yang mengejarku.
Aku terus melajukan mobil ke arah barat. Yang jelas aku menghindari lampu merah agar aku tidak terkejar. Aku terus melihat ke kaca spion dan rear view mirror. Setelah jauh aku melajukan mobil, aku tidak lagi melihat ada yang mengejarku. Mungkin mereka juga kesulitan mengenali mobilku karena hari yang sudah gelap.
Sesudah memastikan semuanya aman, aku mengendarai mobil ke arah jalan pulang. Untuk sementara, aku harus menjauh dahulu dari Adelia sampai suasana kembali tenang.
Aku pulang ke rumah hanya untuk mengambil bajuku. Aku tidak mau berlama-lama di rumah. Segera setelah aku selesai mengepak baju, aku berpamitan pada kedua orang tuaku kalau aku akan kembali ke kota tempatku bekerja dengan membawa mobil.
Aku tidak mau mereka melihat kaca spion yg sudah patah. Aku tidak mau membebani mereka berdua yang sudah berumur dengan masalah yang aku buat. Aku akan menyelesaikan masalah ini sendiri tanpa melibatkan mereka.
Aku tiba di kota tempatku bekerja sekitar pukul 07.00 pagi. Meski merasa mengantuk dan lelah karena menyetir sendiri, aku tetap memaksa pergi bekerja. Biarlah nanti aku mencuri tidur di ruanganku. Aku memutuskan langsung pergi ke kantor tidak pulang dulu ke kontrakanku dan Claudia. Akan membuang waktu kalau aku harus ke kontrakan dulu.
Aku menjalankan pekerjaanku seperti biasa. Setelah aku mengerjakan sebagian tugasku, aku tidak kuat menahan rasa kantuk. Akhirnya aku menyandarkan kepalaku di meja kerja. Setengah jam cukuplah untuk mengurangi rasa kantuk yang menyerang.
Dddrrrttt ... dddrrrttt ....
Gawaiku terus bergetar di dekat kepalaku. Aku meraih gawai lalu memicingkan mata untuk mengintip siapa yang menelepon. Aku langsung tersadar saat melihat nama ibuku. Ada apa ibu menelepon siang hari begini? Tidak biasanya.
Aku menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan dari ibuku.
"Kamu di mana sekarang, Le?" tanya ibu dari seberang telepon dengan nada panik. (Le : panggilan untuk anak laki-laki dalam bahasa Jawa)
"Aku di kantor, Bu. Ada apa? Tumben Ibu telepon aku siang begini," balasku.
"Kamu sudah melakukan apa to, Le? Tadi ada polisi cari kamu di rumah. Mereka bawa surat penangkapanmu, Le."
"Ibu tenang saja. Itu hanya salah paham." Aku coba menenangkan ibuku.
"Salah paham piye to, Le? (Salah paham gimana, Nak?) Kata Pak Polisi kamu nabrak orang terus lari."
"Oh itu enggak sengaja, Bu. Besok aku pulang ke Jogja buat urus kesalahpahaman ini."
Terpaksa aku berbohong pada ibuku agar beliau sedikit lebih tenang.
"Kamarmu tadi digeledah sama pak polisi. Ibu enggak tahu barang apa saja yang diambil mereka. Katanya mereka mengumpulkan bukti gitu, Le."
"Iya, Bu. Enggak apa-apa. Ibu tenang saja. Ibu jangan banyak pikiran nanti tensinya naik lagi."
"Ya wes, Le (ya sudah, Nak). Kamu jaga diri ya di sana. Ibu tutup dulu teleponnya."
__ADS_1
"Nggeh (iya), Bu."
Sial!!! Aku memukul mejaku setelah mengakhiri telepon dari ibu. Polisi ternyata bergerak dengan cepat. Aku segera membereskan pekerjaanku. Aku lalu menuju ke ruang atasanku untuk mengajukan izin selama beberapa hari dengan alasan menjaga orang tuaku yang sedang sakit.
Aku menemui Claudia sebelum pergi. Walaupun hubungan kami tidak seperti suami istri pada umumnya, tapi dia sedang mengandung anakku yang tak lama lagi akan lahir. Aku bilang padanya akan pulang ke Jogja lagi karena orang tuaku sedang sakit. Aku berpesan padanya kalau dia harus memberitahu aku kalau anak kami akan lahir.
Setelah semua urusan selesai, aku meninggalkan kantor. Aku pulang ke kontrakanku dahulu untuk mengambil beberapa baju bersih.
Aku memutuskan untuk tinggal di hotel melati dengan harga yang murah sampai semua kondisi terkendali. Aku berpindah dari satu hotel ke hotel lainnya. Dari satu daerah ke daerah lainnya. Aku berganti hotel setiap hari agar polisi tidak bisa mencium jejakku. Aku yakin polisi pasti akan mencariku di kantor dan juga kontrakanku. Dengan aku berpindah-pindah begini, polisi tidak akan mudah menemukanku.
Aku sedang tidur saat mendengar pintu kamarku diketuk dengan keras berulang kali.
"Saudara Restu, cepat keluar atau kami dobrak pintunya," teriak suara dari balik pintu.
Siapa sih yang berani-beraninya mengetuk pintu dan memaksaku keluar?
Dengan setengah sadar, aku membuka pintu kamar. Aku terkejut saat ada banyak orang di depan pintu kamarku.
"Saudara Restu, Anda ditangkap atas kasus pengancaman dan percobaan pembunuhan," kata seorang pria sambil menunjukkan selembar kertas.
Aku mengerutkan kening. "Ada apa ini, Pak?"
"Anda ditangkap. Angkat tangan di atas kepala. Balik badan!" Perintah sosok pria lain dengan jaket kulit hitam sambil membawa borgol di tangannya.
Saat polisi dengan pakaian preman sedang menggeledah kamar dan mobilku, aku mendapat kesempatan untuk melarikan diri. Aku berlari secepat yang aku bisa. Tak kusangka ada yang sadar kalau aku lari.
"Berhenti atau kami tembak," teriak polisi yang mengejarku sambil menodongkan pistol.
Aku tidak mau berhenti. Aku terus saja berlari.
Dor!!!
Argh ... kaki kananku terasa perih. Tapi aku terus berlari sambil menyeret kakiku yang tertembak.
"Hei, jangan lari! Atau kami tembak lagi."
Dor!!!
Tubuhku limbung dan jatuh ke tanah. Kedua kakiku tertembak. Aku sudah tidak bisa berdiri apalagi berjalan. Akhirnya aku hanya bisa pasrah. Dua orang polisi memapahku sampai di depan pintu kamar.
Polisi masih menggeledah dan meminta keterangan pada pegawai hotel, tamu dan juga orang di sekitar sana. Aku terduduk tak berdaya dan menjadi tontonan banyak orang yang tadi melihat aksi pelarianku.
__ADS_1
Setelah semua proses selesai, aku dibawa ke klinik untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di kedua kakiku. Rasanya sakit sekali saat pelurunya diambil. Kedua kakiku lalu dibalut perban untuk menutupi lukanya.
Sampai di kantor polisi, aku kembali dipapah dua orang polisi menuju ruang interogasi. Sebelum diinterogasi, mereka bertanya apa aku minta didampingi pengacara, tapi dengan congkaknya aku bilang tidak perlu. Aku tidak mau merepotkan kedua orang tuaku karena membayar pengacara butuh biaya yang tidak sedikit.
Aku sebenarnya punya tabungan dan juga uang pesangon dari kantor, tapi aku ingin menyimpannya untuk anakku. Aku resmi dipecat setelah polisi datang ke kantorku. Mereka mau memberikan pesangon itu sebagai tanda terima kasih atas prestasiku selama bekerja di sana.
Aku diinterogasi oleh beberapa polisi. Ada satu polisi yang terlihat marah sekali padaku. Beberapa kali dia menyahut dan sempat terpancing emosi saat aku bicara. Entah kenapa dia sangat menggebu-gebu tiap bicara padaku. Apa dia punya dendam pribadi denganku? Seingatku, aku tidak pernah punya urusan dengan polisi ini. Yang aku heran, kenapa dia bisa tahu kalau Adelia adalah mantan tunanganku?
Kai, nama polisi ituβdari yang aku dengar setiap kali polisi lain memanggilnya. Darinya aku tahu kalau pria berengsek itu masih belum mati. Sialan!!! Berarti rencanaku membunuhnya gagal.
Akhirnya aku memutuskan memakai pengacara. Aku merasa tidak tenang karena Adelia masih bersama pria berengsek itu. Setidaknya dengan bantuan pengacara bisa meringankan hukumanku. Aku akan membayar pengacara dengan uang pesangonku.
Saat aku menunggu pengacara, kedua orangtuaku datang menjenguk. Mereka membawa baju dan juga makanan untukku. Ibu menangis tersedu-sedu sambil memelukku. Mereka menyesalkan perbuatan nekatku. Berulang kali aku minta maaf pada kedua orang tuaku. Aku menyesal telah membuat mereka kecewa. Tapi aku tidak menyesal karena sudah bisa memberi pria berengsek itu pelajaran.
Aku selalu didampingi pengacara selama proses penyidikan. Pengacara itu mengajariku cara menjawab pertanyaan polisi agar tidak terjebak. Sepertinya polisi ingin segera menyidangkan kasusku ini karena semua dilakukan dengan cepat.
Selama dalam masa tahanan, aku selalu memikirkan Claudia dan anakku yang ada di kandungannya. Aku sempat memberi kabar pada Claudia kalau aku tertangkap. Tanpa kuduga, jawabannya sangat menyakiti hatiku. Dia akan mengajukan cerai dan memberikan hak asuh anak kami nanti padaku. Dia juga bilang tidak mau mengasuh anak seorang pembunuh. Berengsek!!!
Aku akhirnya meminta bantuan kedua orang tuaku untuk mengurus persalinan Claudia dan mengasuh anakku. Aku memberikan semua tabunganku pada mereka. Setidaknya aku tidak membuat mereka mengeluarkan banyak biaya untuk anakku.
Selama di tahanan, aku jadi punya lebih banyak waktu untuk merenung. Ada teman satu sel yang sangat taat beribadah. Dia bercerita kalau dahulu dia juga pernah membunuh seseorang karena dendam. Kini dia sudah menyesali perbuatannya dan bertobat. Dia banyak memberikan nasihat untukku.
Aku mulai sadar akan kesalahanku. Aku memutuskan untuk bertobat. Dengan sabar, temanku itu membimbingku. Meski aku masih belum bisa menghilangkan rasa benciku pada pria itu, tapi aku sudah lebih bisa menerima kenyataan kalau Adelia memang bukan jodohku.
Aku bertemu dan melihat Adelia saat dia menjadi saksi atau saat datang di persidangan. Aku selalu menatap wajah cantiknya yang semakin teduh dipandang. Kini, aku hanya bisa mengaguminya dari jauh. Aku bisa melihat kebahagiaan terpancar saat Adelia bersama pria itu.
Saat sidang, aku baru tahu kalau polisi yang bernama Kai ternyata teman pria itu. Pantas saja dia hampir selalu ada setiap kali aku diinterogasi. Rupanya dia ingin mengawal kasusku ini sampai selesai. Memastikan aku tidak membuat masalah.
Kedua orang tuaku menunggu Claudia saat proses melahirkan anakku. Tanpa banyak bicara, setelah itu mereka membawa putri kecilku pulang ke Jogja. Beberapa kali orang tuaku datang menjenguk dengan anak peremuanku yang aku beri nama Adelia, sama dengan nama wanita pujaanku. Aku berharap dia bisa secantik dan selembut Adelia.
Aku selalu menangis setiap melihat dan menggendong bayi mungil itu saat kunjungan. Aku berdoa semoga dia tidak malu punya bapak seperti aku yang ada di penjara karena hampir membunuh orang akibat obsesiku pada seorang wanita. Mungkin aku tidak akan pernah bisa mengantar atau menjemputnya ke sekolah karena lamanya hukumanku. Entah kapan aku bisa mendampinginya nanti. Yang jelas, hidupku sekarang hanya untuk putriku, Adelia.
...---oOo---...
Jogja, 010821 23.45
Ini jadi bab terakhir Restu POV. Setelah ini kita hepi-hepi dulu.
Mencintailah sewajarnya, jangan menjadi obsesi yang akibatnya bisa merugikan banyak pihak termasuk diri kita sendiri.
Mengagumilah juga sewajarnya, jangan terlalu berlebihan. Karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.
__ADS_1
Di atas langit masih ada langit.