
"Rencana Mas untuk taaruf kapan?" Dita menatap kakaknya.
"Coba kamu tanya sama Adel, kapan aku bisa datang ke sana," jawab Adi.
"Kok aku yang tanya Mbak Adel sih. Kenapa enggak Mas Adi sendiri?" Dita mengerutkan keningnya.
"Lewat Adek aja hubungan sama Adel. Mas takut kebablasan kalau menghubungi dia langsung." Adi beralasan.
"Eh, Adek kok jadi manggil mbak ke Adel?" Adi mengernyit.
"Kan sudah jadi bakal calon mbak iparku, Mas. Masa aku manggil Mas Adi, Mas, tapi manggil istrinya Kak. Lucu aja dengarnya. Aku udah minta izin kok ke Mbak Adel, dan diizinkan."
Adi menganggukkan kepalanya. "Terserah kamu, Dek. Jangan lupa hubungi Adel ya, tanya kapan aku bisa datang."
"Iya, Mas. Ini aku WA, Mbak Adel. Memang rencananya Mas Adi mau datang sendiri atau sama kita semua?" tanya Dita sambil mengetik pesan untuk Adel.
'Assalamu'alaikum, Mbak. Ini Mas Adi tanya kapan bisa datang ke rumah untuk taaruf dengan keluarga inti, Mbak Adel?'
Dita mengirim pesan ke Adelia. Dia menunjukkan pesannya pada Adi.
"Sip." Adi mengacungkan jempolnya.
"Aku berencana datang sendiri dulu ke rumah Adelia. Kenalan dulu sama kedua orang tuanya. Sama kaya Rendra dulu." Adi mengulum senyum. "Kalau orang tuanya sudah memberi restu, baru kita semua ke sana sama ayah dan bunda."
"Wah, Mas Rendra ternyata jadi panutannya Mas Adi," ledek Dita sambil tertawa.
"Kalau hal yang baik enggak apa-apa kan, Dek." Adi membela dirinya.
Ddrrrttt .... drrttt ....
Gawai Dita bergetar tanda ada pesan yang masuk. Dia segera membuka pesan yang ternyata dari Adelia.
'Insya Allah Minggu pagi sebelum jam 12.00 papa dan mama di rumah. Silakan kalau mau datang.'
Dita membacakan pesan dari Adelia.
"Bilang saja Dek, mas datang jam 09.00 pagi ke rumahnya."
'Insya Allah besok Minggu, Mas Adi mau datang jam 09.00, Mbak.'
Dita membalas pesan Adelia.
"Mas Adi mau bawa buah tangan apa ke sana?" tanya Dita setelah meletakkan gawainya di meja.
"Enaknya apa ya, Dek?" Adi minta pendapat adiknya.
"Apa aku bikinkan japanese cheesecake, Mas?" tawar Dita.
"Wah, ide bagus itu, Dek. Makasih ya." Adi merangkul Dita kemudian mencium pelipis adik tersayangnya itu.
"Adek, memang bisa diandalkan. Adeknya siapa dulu." Adi membanggakan dirinya.
"Aku juga mau japanese cheesecake, Sayang." Rendra mengelus kepala Dita.
"Iya, besok Sabtu aku bikin 2. Satu buat Mas Adi, satu buat Mas Rendra."
Ddrrrttt .... drrttt ....
Gawai Dita kembali bergetar. Dita mengambil gawainya, lalu membuka pesan yang masuk.
__ADS_1
'Mas Adi datang sendiri?'
Dita membaca lagi pesan Adelia, kemudian langsung mengetik jawaban tanpa bertanya pada Adi.
'Iya, Mbak. Insya Allah Mas Adi datang sendiri dulu.'
Tak lama balasa. dari Adelia datang.
'Oke. Nanti aku sampaikan sama papa dan mama.'
Dita menunjukkan pesan terakhir Adelia pada Adi.
"Sip. Makasih, Dek. Nanti kalau ada pesan lagi kasih tahu mas, ya."
"Oke, Mas."
"Mas mau tidur dulu. Capek banget hari ini," keluh Adi.
"Kirain capeknya jadi ilang Mas setelah mendengar jawaban Mbak Adel," goda Dita.
"Capek ya capek, Dek. Enggak ada hubungannya dengan jawaban Adel," timpal Adi.
"Kalian tidur di sini kan?" tanya Adi kemudian.
"Iya, Mas."
"Rend, nanti tolong dicek pintu ya," pinta Adi.
"Iya, Mas," sahut Rendra.
"Aku ke kamar dulu. Kalian juga jangan tidur terlalu malam," kata Adi sebelum beranjak dari duduknya dan masuk ke kamarnya.
Adi mengacungkan jempol tanpa membalas Rendra.
"Sayang, masuk kamar dulu aja. Aku cek pintu dulu."
"Iya, Mas." Dita bangkit dari duduknya lalu masuk ke kamar. Sementara Rendra mengecek pintu depan dan juga garasi sebelum menyusul istrinya ke kamar.
...---oOo---...
"Assalamu'alaikum, pagi Bun. Apa kabar?" Adi menelepon bundanya setelah salat Subuh.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, kabar bunda baik. Kabar Mas dan Adek gimana?"
"Alhamdulillah kabar kami di sini baik semua, Bun. Kabar ayah juga sehat kan, Bun?"
"Alhamdulillah, ayah sehat."
"Ayah ada dekat Bunda apa tidak?"
"Mas mau bicara sama ayah?" tanya Ibu Hasna dari seberang telepon.
"Mau bicara sama ayah dan bunda," jawab Adi.
"Tunggu sebentar ya, bunda ke ayah dulu."
"Iya, Bun." Adi menunggu bundanya menghampiri ayahnya yang kemungkinan besar sedang minum teh panas sambil melihat acara kajian agama di televisi.
"Mas, ini bunda sudah sama ayah. Bunda loud speaker ya hpnya."
__ADS_1
"Iya, Bun." Adi mengambil napas panjang dan mengembuskannya pelan sebelum mulai bicara dengan kedua orang tuanya.
"Ayah, Bunda, alhamdulillah ada seseorang yang sudah mengisi hati mas. Insya Allah hari Minggu besok mas mau taaruf dengan keluarganya. Mas mohon doa restu Ayah dan Bunda, semoga proses taarufnya lancar."
"Alhamdulillah, ayah doakan semuanya lancar."
"Alhamdulillah, akhirnya mas. Bunda juga pasti mendoakan mas."
"Aamiin. Terima kasih Ayah, Bunda."
"Calonnya siapa, Mas? Apa jadi dengan temannya Nak Rendra?" tanya Ibu Hasna.
"Insya Allah, Bun. Mas mau taaruf dengan Adelia dan keluarganya. Alhamdulillah, mas dan Adelia sudah sama-sama Istikharah, dan Adelia mau diajak untuk taaruf."
"Ingat ya, Mas, jangan sampai berduaan sampai kalian halal," pesan Pak Wijaya.
"Iya, Yah. Selama ini mas juga komunikasi dengan Adelia lewat adek. Tidak pernah kontak langsung."
"Bagus. Lalu kapan mas mau mengajak kami kenalan dengan Adelia dan keluarganya?" tanya Pak Wijaya.
"Besok mas kabari lagi ya, Yah. Besok Adi ke sana sendiri dulu. Kalau kedua orang tua Adelia merestui kami, baru kita sekeluarga ke sana."
"Ya sudah, Mas atur saja nanti. Jangan lupa kabari ayah dan bunda kalau sudah disetujui orang tuanya. Jadi kami bisa mengatur waktu untuk taaruf keluarga."
"Siap, Yah."
"Mas, mau bawa apa ke rumah Adelia? Jangan hanya bawa tangan kosong loh, Mas."
"Bunda tenang saja, sudah diatur sama adek. Katanya adek mau buatkan japanese cheesecake, Bun."
"Oh ya sudah kalau adek mau bikinkan. Bunda kira Mas belum menyiapkan untuk buah tangan."
"Bunda kaya enggak kenal adek aja. Adek itu selalu bisa diandalkan kalau dalam situasi kaya gini."
"Iya, Mas, bunda hampir lupa ada adek di situ." Terdengar tawa kecil Ibu Hasna dari seberang.
"Tahu enggak, Bun, Yah? Kemarin mas dikerjain sama adek sebelum kasih tahu jawaban Adelia. Mas sampai sudah pasrah saja kemarin. Mas kira Adelia menolak taaruf." Adi mencurahkan perasaan pada ayah dan bundanya.
"Adek masih suka usil ya, Mas."
"Iya, Bun. Saking gemesnya kadang mas ingin usilin balik tapi mas enggak enak sama Rendra."
"Sabar, Mas. Tapi pasti nanti mas bakal kangen sama usilnya Adek. Oh ya Mas, ini bunda mau masak. Mas ngobrol sama ayah, ya."
"Adi juga mau ngecek pekerjaan, Bun. Semalam pulang sudah capek tidak sempat mengecek ulang."
"Ya sudah, kalau begitu. Pokoknya di sini ayah sama bunda selalu mendoakan kebaikan untuk Mas dan Adek. Tetap diteruskan salat Tahajud-nya Mas, kalau perlu ditambah salat Hajat. Jangan lupa juga salat Duha dan puasa Senin Kamis." Ibu Hasna memberi pesan pada putra sulungnya itu.
"Iya, Bun. Mas tutup teleponnya ya, Yah, Bun. Wassalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
...---oOo---...
Jogja, 290521 01.35
Cerita ini mengikuti kontes You Are A Writer Seasons 5, mohon dukungannya šš¤
Kalau ada masukan, kritik dan saran yang membangun, boleh via kolom komentar, PC atau DM di instagram @kokoro.no.tomo.82
__ADS_1
Jangan lupa ritual jempol atau like-nya setelah baca ya, Kak. Terima kasih šš¤