
"Mas Rendra, sengaja ya ngajak Ale jemput aku." Dita melirik suaminya yang tersenyum penuh kemenangan seraya mengemudikan mobil.
"Biar pembimbingmu itu tahu diri. Istri orang kok didekati," sahut Rendra dengan santai.
"Untung saja Ale mau diajak kerjasama dan enggak rewel." Rendra menyentuh kepala putranya yang duduk di pangkuan Dita. "Good job, My Son."
Dita tersenyum geli mendengar ucapan suaminya. Dalam hati dia bersyukur, pria yang duduk di sampingnya itu menggunakan cara yang elegan untuk menjauhkan Abimanyu darinya. Membuatnya tak perlu lagi meminta sang pembimbing untuk menjaga jarak dengannya.
"Sayang, lihat enggak tadi ekspresinya saat aku memperkenalkan diri? Lucu banget." Rendra terkekeh-kekeh sambil melirik sang istri.
"Lagian Mas Rendra iseng banget sih tadi. Sampai bawa Ale segala. Bikin heboh orang kantor saja."
"Itu namanya strategi, Sayang. Yang penting semua berjalan lancar dan sesuai rencana. Sekali tepuk dapat banyak lalat." Rendra mulai menyombongkan diri.
"Dia enggak berkutik kan tadi. Coba kalau aku sendiri, pasti dia tidak akan percaya. Jadi aku ajak Ale sebagai bukti hasil cinta kita, Sayang."
"Tuh, dengar, Nak. Baba memanfaatkan kamu." Dita berbicara pada Ale.
"Ale pasti setuju lah sama tindakanku. Dia tentunya juga tidak mau bubunya digoda pria lain. Sifatnya kan mirip aku."
"Iya deh, kalau kalian sudah bersatu, aku bakal kalah nanti." Dita mengerucutkan bibirnya.
"Kita bikin adek aja buat Ale, Sayang. Biar impas. Satu dukung aku, satu dukung Sayang ya." Rendra mengerling genit pada Dita.
"Ingat pesan dokter Lita, Mas. Tunggu Ale 1,5 tahun dulu paling tidak. Syukur-syukur bisa 2 tahun. Ambisi banget sih mau ngasih Ale adik. Dia aja masih belum bisa jalan."
"Mumpung kita masih muda, Sayang. Nanti anak sudah besar, kita belum kelihatan keriput. Biar dianggap kakaknya Ale," seloroh Rendra.
Dita mencibir. "Terus mau tebar pesona sama teman-temannya Ale gitu?"
"Ya, enggaklah. Aku sudah punya istri cantik dan salehah masa mau cari yang lain lagi. Bisa digorok aku sama Mas Adi."
"Jadi cuma takut digorok Mas Adi?" Dita pura-pura marah.
"Dapetin bubunya Akhtar sama Ale aja susah, masa mau aku lepas gitu aja. Enggak mungkinlah. You are the one I share my life with. Just you and only you, My Love."
"Gombal," sahut Dita yang tertawa geli.
"Mana pernah aku gombal, Sayang. Semua yang aku bilang itu asalnya dari hatiku."
"Nak, tuh Baba mulai gombal. Besok kalau Ale sudah gede enggak boleh ya gombalin cewek-cewek." Dita mengajak Ale bicara lagi.
"Astaghfirullah, siapa yang suka gombalin cewek-cewek, Sayang. Jangan fitnah ya. Aku hukum nanti di rumah," kesal Rendra.
"Baba ngambek, Nak. Nanti kita main berdua saja ya kalau Baba masih ngambek." Dita malah makin menggoda suaminya.
...---oOo---...
Keesokan harinya, Dita berangkat magang seperti biasa. Ada yang sedikit berbeda saat dia bertemu dengan beberapa karyawan. Kebanyakan mereka jadi sok akrab. Menyapa dan mengajaknya ngobrol meski sekedar menanyakan kabar. Padahal biasanya mereka hanya saling tersenyum dan menundukkan kepala saat bertemu.
Saat Dita masuk ke ruangannya, Citra juga menjadi lebih ramah. Kembali seperti dahulu. Mungkin, rekan satu ruangannya itu sudah tak menganggapnya saingan lagi untuk mendapatkan Abimanyu. Atau ada maksud lainnya? Entahlah, hanya Citra dan Tuhan yang tahu.
"Anin, aku tunggu di ruanganku," perintah Abimanyu. Pria itu tak lagi masuk ke ruangan Dita dan Citra seperti biasa, hanya menyembulkan kepala di sela pintu yang terbuka.
"Baik, Kak," sahut Dita. Istri Rendra itu segera merapikan dokumen yang sedang dia baca agar tidak berantakan saat ditinggal menemui Abimanyu nanti.
"Kak Citra, aku ke ruangan Kak Abim dulu," pamitnya sebelum pergi.
"Iya," balas Citra tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.
Tok tok.
Dita mengetuk pintu ruangan Abimanyu. Meski pintunya terbuka, dia harus tetap mengetuk sebagai tanda sopan santun.
Abimanyu mendongak begitu mendengar pintu diketuk. "Masuk, Nin," titahnya kemudian.
Dita lalu masuk ke ruangan pembimbingnya itu tanpa menutup pintu. Membiarkan pintunya setengah terbuka, agar semua yang lewat bisa melihat mereka dan tidak menimbulkan fitnah.
"Kak Abim, ada perlu dengan saya?" tanya Dita setelah berdiri di depan meja Abimanyu.
"Duduk, Nin." Abimanyu kembali memerintah. "Tunggu sebentar, aku harus mengirim email dulu."
__ADS_1
"Baik, Kak." Dita kemudian duduk di depan Abimanyu. Mereka duduk berhadapan, dipisahkan dengan meja kerja yang terbuat dari kayu jati kualitas nomor satu. Dari kursinya, Dita bisa melihat kalau hari ini penampilan pembimbingnya itu agak beda. Wajahnya terlihat kuyu dan bajunya sedikit berantakan, tidak seperti biasanya yang sangat rapi. Apa tindakan suaminya kemarin sampai menimbulkan efek besar pada Abimanyu?
"Anin," panggil Abimanyu sambil tetap menatap layar monitornya setelah beberapa saat.
"Iya, Kak."
"Kenapa kamu tidak bilang kalau sudah punya suami dan anak?" tanya Abimanyu yang tetap tampak sibuk mengetik di keyboard.
"Maaf, Kak. Saya sudah beberapa kali mau bilang soal itu, tapi Kak Abim selalu memotong omongan saya," jawab Dita.
"Jadi, itu salahku karena memotong omonganmu?" Abimanyu menghentikan kegiatannya, beralih menatap wanita yang gagal dia dapatkan hatinya itu.
"Buβkan begitu, Kak. Mungkin saya memang salah tidak jujur dari awal. Tapi saat menyerahkan berkas dari kampus ada fotokopi KTP saya di dalamnya. Di KTP itu sudah tertulis kalau saya menikah. Saya kira Kak Abim sudah membaca dan tahu status saya."
Abimanyu menghela napas panjang. Ya, dia ingat hal tersebut. Namun, karena saat pertama bertemu Dita sudah terpesona, dia mengabaikan membaca secara detail semua berkasnya. Dia hanya membaca sekilas lampiran-lampirannya.
"Kamu benar, Nin. Aku yang salah. Aku tidak teliti membaca semua berkasmu." Abimanyu mengakui keteledorannya.
"Umurmu kan masih muda, kenapa sudah nikah dan punya anak? Padahal kuliahmu masih semester enam. Kamu tidak MBA (Married By Accident) kan?" tanya Abimanyu sambil menatap netra wanita di depannya.
Dita menggeleng. "Sebenarnya itu urusan pribadi saya dan tidak berhubungan dengan kegiatan magang saya. Tidak ada kewajiban untuk menerangkan. Tapi biar tidak ada salah paham lagi, saya akan menjawab pertanyaan Kak Abim."
"Saya memang menikah muda, Kak, saat umur 19 tahun. Waktu itu baru masuk semester dua. Ayah menikahkan saya dengan Mas Rendra karena beliau tidak mengizinkan kami pacaran dan untuk menghindari zina."
"Awalnya Mas Rendra datang ke rumah hanya meminta izin pada ayah untuk menjadikan saya pacar. Tapi, ayah tidak memberi izin. Kalau memang serius Mas Rendra harus melamar saya. Setelah pemikiran yang panjang akhirnya Mas Rendra melamar saya, saat itu juga kami langsung dinikahkan ayah. Jadi saya sudah dua setengah tahun menikah dengan Mas Rendra dan punya dua anak. Tapi anak pertama saya sudah dipanggil dahulu oleh Allah saat usia kandungan tujuh bulan. Ale itu, anak kedua kami."
Abimanyu terkesiap mendengar penjelasan Dita. Dia tidak menduga ternyata wanita yang pernah mengisi hatinya itu sangat dijaga kehormatannya oleh sang ayah. Membuatnya menghilangkan prasangka buruk yang sempat ada di pikirannya.
Diam-diam, dia juga mengagumi Rendra yang langsung datang ke orang tua Dita. Sosok pria yang gentleman. Pantas saja Dita mau menerimanya. Dia saja yang sudah hampir kepala tiga tidak pernah sekali pun datang menemui orang tua para mantan pacarnya untuk minta izin memacari anak mereka.
"Aku turut berduka cita atas apa yang menimpa anak pertamamu, Nin," ucap Abimanyu setelah beberapa saat membisu.
"Terima kasih, Kak."
"Sampaikan salamku pada suamimu. Aku iri padanya karena dia bisa mendapatkan cintamu."
"InsyaAllah, nanti saya sampaikan. Apa ada hal lain lagi yang ingin dibicarakan, Kak?"
"Tidak, Nin. Kamu bisa kembali ke ruanganmu."
"Nin," panggil Abimanyu lagi saat Dita sudah di ambang pintu.
"Ya, Kak." Dita membalikkan badannya, tetap berdiri di tempatnya sambil menghadap sang pembimbing.
"Maaf sudah mengajakmu bicara di luar pekerjaan," ucap Abimanyu.
Dita tersenyum. "Tidak apa-apa, Kak. Semoga setelah ini tidak ada kesalahpahaman lagi."
Abimanyu menganggut dan membalas senyum Dita.
"Ada lagi, Kak?"
Abimanyu menggeleng. "Tidak, kamu bisa kembali bekerja."
Dita menundukkan kepala lalu keluar dari ruangan tersebut.
Abimanyu menarik napas panjang setelah Dita tak terlihat lagi dari tempatnya duduk. Dia sekarang harus mau menerima kenyataan kalau cintanya sudah layu bahkan sebelum berkembang. Baru dengan Dita, dia merasakan ketertarikan yang mendalam. Apalagi Dita wanita pertama yang sejak awal kehadirannya sudah memikat hati. Harapannya untuk menjalin cinta dan rumah tangga dengan mahasiswi magang itu benar-benar harus pupus.
Kenapa Tuhan sangat kejam. Saat dia sudah merasa menemukan cinta sejati tapi malah tak bisa memiliki. Tidak mungkin bisa merebut hati Dita karena dia tahu besarnya ikatan cinta mereka. Apalagi Rendra bukan pria yang bisa dianggap remeh. Kejadian kemarin sudah membuatnya mati kutu dan menanggung malu. Haruskah dia kembali menjadi casanova yang selalu menebar cinta di mana-mana?
...---oOo---...
Dita akhirnya bisa melewati masa magang dengan tenang. Aksi Rendra yang sudah membuat heboh memberi dampak besar yang menguntungkan untuknya. Semua orang jadi ramah dan banyak membantunya.
Rendra menepati janjinya memberikan voucher belanja Osu kafe dan Ale Wear untuk seluruh karyawan. Selain itu juga memberikan makan siang di hari terakhir istrinya magang. Tentu saja mereka menyambutnya dengan penuh sukacita. Siapa yang menolak mendapat makanan dan voucher gratis.
Dita membereskan semua barang di mejanya sebelum pulang dan berpamitan dengan semua orang. Meski hanya sebentar, tapi banyak hal yang dia dapat selama magang. Membuktikan kalau di dunia kerja prakteknya tidak semudah saat kuliah. Meski mengerjakan tugas kuliah juga bukan hal yang mudah.
"Kak Abim, terima kasih sudah menerima dan membimbing saya selama magang di sini. Mohon maaf kalau ada salah dan khilaf yang saya lakukan. Semoga perusahaan semakin maju dan sukses," ucap Dita saat berpamitan dengan Abimanyu.
"Terima kasih, Nin. Maaf juga kalau selama kamu magang di sini ada banyak kekurangan. Semoga kuliahmu juga lancar dan bisa menjadi arsitek yang handal suatu hari nanti," balas Abimanyu.
__ADS_1
"Aamiin. Terima kasih, Kak. Mungkin selama beberapa waktu saya masih menganggu Kak Abim dalam pengerjaan laporan saya."
"It's okay, Nin. Itu memang sudah tugasku. Jangan sungkan kalau ada yang harus aku bantu."
"Terima kasih, Kak. Saya pamit dulu."
"Iya, Nin. Salam buat suamimu dan Ale."
Dita menganggut lalu keluar dari ruangan Abimanyu. Selanjutnya dia berpamitan dengan Citra.
"Kak Citra, terima kasih sudah banyak membantu saya selama magang. Mohon maaf kalau ada salah dan khilaf yang saya lakukan," ucapnya pada teman satu ruangannya.
"Iya, sama-sama, Dita. Aku juga minta maaf pernah julid sama kamu. Itu karena aku merasa cemburu sama kamu. Tapi ternyata aku salah mencemburui orang yang sudah bersuami," balas Citra.
Dita tersenyum. "Sudah lupakan saja semua itu, Kak. Anggap tidak pernah terjadi."
"Aku tidak mungkin lupa karena aku merasa sangat malu sama kamu. Ternyata kamu dan suamimu baik sekali orangnya."
"Itu karena aib kami ditutup sama Allah, Kak. Kami tidak sebaik itu."
"Tuh kan, kamu ini terus merendah. Aku benar-benar menyesal dan minta maaf karena pernah menuduhmu macam-macam." Citra kembali meminta maaf.
"Saya sudah memaafkan Kak Citra dari dulu. Saya tahu Kak Citra aslinya baik, mungkin saat itu sedang ada setan yang lewat dan mengompori Kakak," seloroh Dita untuk mencairkan suasana.
Citra tertawa mendengar canda Dita. Dia semakin mengagumi wanita yang jauh lebih muda tapi punya pemikiran lebih dewasa darinya. "Iya, setan cemburu yang sudah mengompori aku," balasnya dengan canda juga.
"Saya pamit ya, Kak. Semoga karir Kak Citra semakin bagus." Dita mengajak Citra bersalaman. Wanita berpenampilan menarik itu memeluk Dita setelah mereka bersalaman.
"Makasih ya, Dita. Kita masih bisa berteman kan?" tanya Citra usai mengurai pelukan.
"Tentu, Kak. Jangan sampai tali silaturahim kita terputus. Kabari kalau mau ke kafe atau ke butik, kalau pas tidak ada acara, saya pasti datang," jawab Dita.
"Oke. Semoga keluargamu samawa ya. Lancar kuliahnya dan jadi arsitek yang keren," doa tulus Citra.
"Aamiin. Doa yang sama untuk Kak Citra."
"Eh, aku kan belum menikah, samawa sama siapa?" canda Citra.
"Semoga segera ada yang menghalalkan Kak Citra," doa Dita kemudian.
"Aamiin," ucap Citra dengan lantang.
Sesudah berpamitan dengan semua orang, Dita meninggalkan kantor tempatnya magang dengan berbagai macam perasaan. Ada banyak hal yang sudah dilalui di sana baik yang menyenangkan maupun yang tidak. Dia tidak akan pernah melupakan jasa orang-orang yang pernah berbuat baik padanya selama magang. Doa tulusnya semoga Allah membalas kebaikan mereka dengan pahala yang berlipat ganda.
Rendra sudah menunggunya di depan kantor bersama Ale. Rutinitas yang sering suaminya lakukan beberapa waktu terakhir. Seolah, pria yang sudah membuatnya jatuh cinta itu, belum puas memberi tahu pada semua orang kalau dia sudah punya suami dan anak.
"Kita pulang sekarang, Mas," ujarnya setelah menyalami Rendra dan menggendong putranya seperti biasa.
"Sudah pamitan sama semua orang?"
"Sudah. Mereka semua mengucapkan terima kasih sudah dikasih makan siang dan voucher diskon. Mas Rendra, juga dapat salam dari Kak Abim."
"Wa'alaikumussalam," balas Rendra yang masih tetap merasa cemburu pada pembimbing istrinya itu meski tidak sebesar dahulu.
...---oOo---...
Jogja, 060222 23.27
Hai, apa kabar semuanya?
Semoga teman-teman semua dalam kondisi yang sehat meski cuaca sedang tidak bersahabat dan gelombang ketiga covid 19 mengintai. Tetap minum vitamin dan patuhi prokes ya. Tidak perlu bepergian kalau memang tidak terlalu penting.
Saya sudah melunasi hutang ya. Semoga setelah ini bisa up lebih dari sekali dalam seminggu. Namun, saya masih punya PR untuk melanjutkan kisah KaiSha yang per hari ini terakhir saya up di fb dan bukulaku. Semoga secepatnya bisa melanjutkan Smaradhana.
Mohon maaf saya belum bisa menjawab akan melanjutkan Smaradhana di mana. Ada banyak hal yang harus saya pertimbangankan. Nanti pasti akan saya kabari akan lanjut di mana, mungkin di platform hijau, oranye, hitam atau yang lain. InsyaAllah ada info apa pun saya pasti bagikan di IG atau FB saya.
Untuk yang belum sempat membaca atau ingin membaca Smaradhana, linknya sudah saya bagikan di status fb saya. Bisa langsung diklik dan dibaca tanpa harus mencari.
Udah kebanyakan cuap-cuapnya nih. Sebenarnya dua hari ini aktivitas saya padat sekali, badan lelah, kepala pusing dan sedikit kurang enak badan, tapi karena saya merasa punya hutang janji jadi saya tetap mengusahakan untuk up malam ini. Semoga tetap bisa diterima meski banyak kekurangan-kekurangan.
Terima kasih semuanya yang sudah membersamai Cinta Halal dan Smaradhana, love you all πππ
__ADS_1
Salam sayang untuk semua Teman Hati
Kokoro No Tomo