
Ting tong.
Bel rumah Adi berbunyi. Adelia yang sedang merebahkan diri di kamar, segera membuka gawainya. Dia melihat dari aplikasi yang digunakan untuk melihat CCTV.
Kening Adelia mengerut melihat sosok yang ada di depan rumah. Dia tidak sedang menunggu kiriman paket ataupun pesan makanan online.
"Siapa ya?" gumamnya.
Dia lalu memutuskan menghubungi sang suami.
"Ada apa, Ai?" tanya Adi setelah menjawab salam Adelia.
"Ada orang di depan, Mas. Aku enggak tahu siapa," jawab Adelia.
"Ai, enggak pesan makanan?"
"Enggak, Mas."
"Coba hubungin mama atau Arsen. Siapa tahu mereka kirim makanan, Ai."
"Biasanya mama atau Arsen kasih kabar dulu kalau mau kirim makanan, Mas. Ini sama sekali enggak ada yang ngabarin."
"Ya sudah, tidak usah dibuka pintunya, Ai. Aku coba hubungi Rendra biar dicek sama dia. Semoga dia ada di rumah."
"Iya, Mas."
"Ai, di kamar atau di ruang tengah saja. Dipantau terus CCTV-nya."
"Oke, Mas."
Adelia keluar dari kamar. Dia menyalakan televisi di ruang tengah. Dia terus mengawasi gerak-gerik orang yang ada di depan rumah dari layar televisi.
Ting tong.
Bel kembali berbunyi. Adelia tetap bergeming. Dia tidak ingin mengambil risiko dengan membukakan pintu orang yang tidak dia kenal.
Sementara itu Adi menghubungi Rendra.
"Assalamu'alaikum. Posisimu di mana, Rend?" tanya Adi begitu Rendra menjawab teleponnya.
"Wa'alaikumussalam. Aku di rumah. Kenapa, Mas?" jawab Rendra.
"Bisa minta tolong cek rumah, Rend. Ada yang datang, tapi Adel enggak kenal."
"Siap, Mas."
"Makasih ya, Rend. Nanti kabari aku kalau sudah ke rumah."
"Oke, Mas."
Rendra bersiap keluar setelah menutup telepon dari Adi.
"Mau ke mana, Mas?" tanya Dita yang baru mengganti popok Ale.
"Ke sebelah sebentar, Sayang. Ada orang yang datang, tapi Adel enggak kenal," jelas Rendra.
"Oh, ya udah buruan ke sana. Kasihan Mbak Adel sendiri di rumah. Pasti dia cemas."
__ADS_1
Rendra mengangguk. Dia mencium kening Dita dan Ale sebelum meninggalkan mereka berdua. "Baba pergi sebentar," pamitnya.
Rendra berjalan dengan cepat ke rumah Adi. Ada sepeda motor yang terparkir di halaman. Dia juga melihat ada seorang pria yang berdiri di teras. Dia pun segera menghampirinya.
"Assalamu'alaikum," salam Rendra pada orang itu.
"Wa'alaikumussalam," jawab pria dengan jaket hitam tersebut.
"Mau mencari siapa ya, Pak?" tanya Rendra.
"Apa benar ini rumah Pak Adi? Saya mau mengantar paket," jawab pria tersebut.
"Adi siapa ya?" tanya Rendra lagi.
"Saya tidak tahu nama lengkapnya. Saya hanya diminta mengirimkan pada Pak Adi. Alamat ini benar kan di sini?" Pria itu menunjukkan alamat yang harus dia tuju.
"Iya, benar itu di sini alamatnya. Kalau boleh tahu isi paketnya apa dan pengirimnya siapa ya, Pak?"
"Ini isinya kue. Mbaknya tidak mau menyebutkan nama, Mas. Katanya ini buat kejutan. Mungkin Adi ini pacar mbaknya yang kirim kue."
Rendra mengernyit. Dia hanya bisa memikirkan satu nama yang mungkin melakukan hal itu. Tapi, apa mungkin perempuan itu? Dia merasa sudah tidak dibuntuti saat pulang dari apartemen tempo hari.
"Apa Bapak tahu sosok perempuan yang mengirim kue ini?" tanya Rendra.
"Tahu banget, Mas. Soalnya mbaknya cantik, kulitnya putih, pakai hijab tapi bajunya seksi, Mas."
"Tidak salah lagi pasti perempuan itu," batin Rendra.
"Begini, Pak. Rumah ini sedang kosong. Penghuninya tidak di rumah. Dan setahu saya namanya bukan Adi tapi Indra. Sepertinya alamatnya keliru, Pak." Rendra terpaksa berbohong setelah tahu siapa yang mengirim kue.
"Nah itu namanya kan beda, Pak." Rendra berusaha meyakinkan pria tersebut.
"Duh, gimana ya, Mas." Pria itu mulai terlihat gusar.
"Coba Bapak hubungi yang kirim kue, tanya lagi benar tidak alamatnya," saran Rendra.
"Ah iya, kenapa saya enggak kepikiran ya, Mas." Pria itu lalu mengambil gawainya dan mencari nomor pengirim paket.
"Selamat siang, Mbak. Saya dari kurir yang tadi Mbak minta untuk mengirim kue. Ternyata alamat yang Mbak kasih ke saya salah. Di sini tidak ada yang namanya Adi."
"Masa sih, Pak. Tidak mungkin salah. Memangnya yang tinggal di sana namanya siapa?" sahut seorang perempuan dari seberang telepon.
"Mas, yang tinggal di sini namanya siapa?" tanya pria itu pada Rendra.
"Indra," jawab Rendra.
"Namanya Indra bukan Adi, Mbak," jelas pria tersebut pada perempuan yang dia telepon.
"Tapi saya yakin itu benar alamatnya, Pak. Memangnya siapa yang memberi tahu kalau Bapak salah?"
"Tetangganya Pak Indra, Mbak. Katanya rumahnya juga sedang kosong."
"Ish, gimana sih kok bisa salah infonya padahal sudah bayar mahal. Coba saya mau ngomong sama tetangganya."
Pria itu memberikan gawainya pada Rendra.
"Halo," ucap Rendra setelah mengaktifkan loud speaker gawai.
__ADS_1
"Halo. Selamat siang, Pak. Apa benar tidak ada nama Adi di situ?"
"Iya, benar. Saya sudah beberapa tahun tinggal di sini jadi sudah kenal dengan semua tetangga."
"Ya sudah, terima kasih infonya, Pak. Bisa minta tolong hp-nya dikembalikan sama bapak kurirnya."
"Ya." Rendra mengembalikan gawai tersebut.
"Pak, karena alamatnya salah, dan kuenya mubazir kalau tidak dimakan. Bapak, bawa saja kuenya buat anak dan istri Bapak."
"Alhamdulillah, terima kasih, Mbak."
"Ya, sama-sama, Pak."
Kurir tersebut menyimpan lagi gawainya ke dalam saku jaket setelah menutup telepon.
"Alhamdulillah, salah alamat jadi berkah untuk anak dan istri saya, Mas. Mbaknya malah memberikan kue ini buat saya."
"Alhamdulillah. Itu berarti rezeki Bapak hari ini. Pasti anak dan istri Bapak senang dibawakan oleh-oleh."
"Kalau begitu saya permisi dulu, Mas. Oh ya kalau butuh kurir untuk mengirim barang dengan harga murah, bisa hubungi saya, Mas." Kurir itu memberi kartu nama pada Rendra.
"Baik, terima kasih, Pak." Rendra menerima kartu nama orang tersebut. Sebuah ekspedisi lokal yang mengirim paket dengan tarif flat sepuluh ribu rupiah ke dua kabupaten dan satu kotamadya di DIY.
Setelah memberikan kartu nama, kurir tersebut menghampiri motornya dan meninggalkan halaman rumah Adi.
Rendra menghela napas lega begitu orang tersebut pergi. Setelah memastikan tidak terlihat lagi, Rendra mengetuk pintu.
"Del," panggil Rendra dari luar rumah.
"Sebentar, Ren. Aku enggak pakai hijab," sahut Adelia dari dalam rumah.
"Kamu enggak perlu keluar, Del. Aku juga enggak akan masuk. Orangnya sudah pergi sekarang," ujar Rendra.
"Siapa tadi, Ren?"
"Kurir yang salah alamat, Del. Sudah kamu tenang saja. Aku panggilkan Dita sama Ale ya buat temani kamu."
"Woalah salah alamat. Iya enggak apa-apa Dek Dita sama Ale ke sini kalau enggak merepotkan."
"Oke, aku panggilkan mereka dulu. Kamu di dalam saja. Tetap dilihat ya CCTV-nya."
"Iya, Ren. Makasih sudah bantu. Aku enggak tahu gimana kalau enggak ada kamu."
"Iya, sama-sama. Kita ini sudah jadi keluarga Del sudah selayaknya saling bantu. Aku pulang dulu ya."
"Iya, Ren."
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabakatuh."
...---oOo---...
Jogja 111121 23.59
Pendek saja ya, cuma pengen up di tanggal cantik 🤭🤭🤭
__ADS_1