Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Bulan Madu 2


__ADS_3

"Ai, bangun yuk salat Subuh." Adi mengecup kening istrinya yang masih tertidur pulas karena kelelahan dengan kegiatan mereka membakar kalori semalam.


Adelia menggeliat, perlahan dia membuka matanya. "Mas Adi, sudah mandi?" tanya Adelia dengan suara serak khas bangun tidur.


"Sudah dong. Aku kan tadi bangun salat Tahajud. Ai, mau aku mandi lagi?" Adi memberi tatapan menggoda pada wanita yang sudah berhasil mencuri hatinya itu.


"Ih, apaan sih, Mas." Adelia menjadi salah tingkah. Dia segera bangun dari tidurnya.


Adi tertawa melihat tingkah istrinya.


"Ai, mandi saja biar ini aku yang beresin," titah Adi. Setelah Adelia beranjak ke kamar mandi, Adi membereskan tempat tidur mereka. Sambil menunggu istrinya selesai mandi wajib, dia membaca Al-Qur'an di gawainya.


Sesudah sarapan pagi di hotel, Dedi menjemput Adi dan Adelia untuk pergi ke tujuan mereka berikutnya, yaitu Pulau Penyengat. Pulau kecil yang berada di sebelah barat Tanjung Pinang ini, hanya berjarak sekitar 2 km dari pusat kota Tanjung Pinang. Untuk mencapai pulau yang mempunyai luas 3,5 km persegi ini, dapat ditempuh dengan menggunakan perahu bermotor atau lebih dikenal dengan kapal pompong.


Adi, Adelia dan Dedi menaiki kapal pompong bersama penumpang lainnya dari dermaga Tanjung Pinang. Kapal kayu kecil ini mampu menampung sekitar 20 orang dalam sekali jalan menuju ke dermaga Penyengat, begitu pun sebaliknya. Waktu yang diperlukan untuk sampai di sana kurang lebih 15 menit.



...(gambar kapal pompong)...


Selama dalam perjalanan ke Pulau Penyengat, Dedi menceritakan asal usul kenapa dinamakan Pulau Penyengat. Sebelumnya pulau itu bernama Pulau Air Tawar. Pulau itu menjadi tempat di mana para pelaut biasa mengambil perbekalan air tawar untuk perjalanan mereka. Sampai saat ini pun, sumur-sumur di Pulau Penyengat airnya masih tawar, meski lokasinya dekat dengan pantai.


Konon dahulu ada banyak hewan semacam serangga yang bisa menyengat. Menurut cerita, ada para pelaut yang melanggar pantangan saat mengambil air, kemudian mereka diserang oleh ratusan serangga berbisa yang kemudian disebut penyengat. Karena itu pulau ini dinamakan dengan Pulau Penyengat. Sementara orang-orang Belanda pada masa itu menyebutnya dengan nama Pulau Mars. Saat pusat pemerintahan Kerajaan Riau bertempat di pulau ini, namanya menjadi Pulau Penyengat Inderasakti.


Dedi juga bercerita mengenai sejarah terbentuknya Kerajaan Riau-Lingga yang masih erat hubungannya dengan Kerajaan Johor di Malaysia. Dahulu, Kerajaan Johor mencari daerah baru untuk menyaingi Melaka. Suatu hari, kapal mereka dihantam badai dan akhirnya bersembunyi di hulu Sungai Carang. Karena melihat daerahnya ada sumber air, maka dijadikan bandar baru. Kawasan tersebut akhirnya secara perlahan-lahan ramai dengan aktivitas perdagangan. Karena saking ramainya, suasana menjadi riuh, dan lama-kelamaan daerah itu pun dinamakan Riau.


Pulau Penyengat merupakan pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Pulau ini juga merupakan 'Mas Kawin' dari Sultan Mahmud Syah kepada sang istri tercinta, Engku Putri Raja Hamidah pada tahun 1803.


Pulau Penyengat, saat ini ditetapkan sebagai 'Pulau Perdamaian Dunia' oleh Komite Perdamaian Dunia (World Peace Community), yang ditetapkan langsung oleh Presiden Komite Perdamaian Dunia, Prof. Dr. Djuyoto Sutani, di Balai Adat Pulau Penyengat. Ada sembilan alasan mengapa Penyengat yang dipilih, salah satunya karena merupakan pusat peradaban melayu ditambah masyarakatnya sangat beretika dan bertata krama.


Setelah sampai di dermaga Penyengat, para penumpang kapal pompong turun satu per satu. Dedi turun terlebih dahulu, baru kemudian Adi. Sesudah itu Adi membantu istrinya turun dengan memegang tangan Adelia.


Saat akan masuk ke Pulau Penyengat, mereka disambut oleh Gerbang Selamat Datang di Pulau Penyengat yang berwarna kuning menyala. Adi dan Adelia pun menyempatkan berfoto-foto di sana.



Setelah puas berfoto, mereka naik bentor atau becak motor untuk mengelilingi Pulau Penyengat. Tujuan pertama mereka adalah Masjid Raya Sultan Riau. Masjid yang berwarna kuning cerah dengan kombinasi hijau ini tempatnya tidak terlalu jauh dari dermaga Penyengat. Warna kuning melambangkan kesejahteraan, sedangkan warna hijau merupakan simbol agama.


...



(gambar Masjid Raya Sultan Riau)...


Masjid Raya Sultan Riau terbuka untuk umum tanpa pandang agama. Aturan utama di sini adalah pengunjung harus melepas alas kaki dan berpakaian sopan. Pakaiannya harus menutup lutut dan bahu serta kalau bisa berlengan panjang. Bagi perempuan harus mengenakan selendang yang menutupi rambut. Dan di dalam masjid, pengunjung tidak boleh mengambil foto agar tidak mengganggu aktivitas ibadah di dalamnya.


Masjid yang awalnya hanya berupa bangunan kayu sederhana berlantai batu bata ini, dibangun oleh Sultan Mahmud pada tahun 1803. Kemudian pada tahun 1832, Yang Dipertuan Muda VII Raja Abdurrahman mengumumkan akan membangun masjid tersebut. Masyarakat pun sontak bergotong royong untuk membangun masjid ini. Mereka berdatangan ke Pulau Penyengat untuk mengantarkan bahan bangunan, makanan, dan tenaga, sebagai tanda cinta yang tulus kepada Sang Pencipta dan Sang Sultan. Banyak yang menyumbang telur ayam hingga jumlahnya sampai berkapal-kapal. Karena takut mubazir tidak termakan, sang arsitek akhirnya memanfaatkan putih telur untuk bahan perekat bangunan dicampur dengan pasir dan kapur.


Adi dan Adelia menjalankan salat Duha di dalam masjid setelah sebelumnya mengambil wudu di sebelah kiri dan kanan masjid. Usai salat mereka melihat mimbar yang terbuat dari kayu jati yang khusus didatangkan dari Jepara. Di dekat mimbar, tersimpan sepiring pasir yang konon berasal dari tanah Makkah al-Mukarramah. Selain itu ada permadani dari Turki dan lampu kristal yang merupakan hadiah dari Kerajaan Prusia (Jerman) pada tahun 1860-an.


Mereka juga melihat mushaf Al-Qur'an tulisan tangan yang diletakkan di dalam peti kaca di depan pintu masuk utama. Mushaf ini ditulis oleh Abdurrahman Stambul, putera Riau asli Pulau Penyengat yang diutus oleh Sultan untuk di Mesir pada tahun 1867 M. Di halaman masjid terdapat dua buah rumah sotoh yang diperuntukkan bagi musafir dan tempat menyelenggarakan musyawarah. Selain itu, di halamannya juga terdapat dua balai, tempat menaruh makanan ketika ada kenduri dan untuk berbuka puasa ketika bulan Ramadhan tiba.


Setelah itu, mereka menuju ke Balai Adat Melayu. Balai ini terbuat dari kayu dan dibangun dengan gaya rumah tradisional. Di sini acara-acara adat biasanya berlangsung. Setelah melihat-lihat Balai Adat Melayu, Adi dan Adelia menyewa pakaian adat Melayu untuk berfoto di sana selama sekitar 15 menit. Mereka berfoto di spot foto berupa rangkaian tahta kerajaan dan jendela tradisional yang unik.



(gambar Balai Adat Melayu)



...(gambar tahta kerajaan)...


Tujuan mereka selanjutnya yaitu ke Gedung Mesiu yang saat terjadi peperangan digunakan untuk menyimpan bubuk mesiu. Gedung ini didirikan pada masa kejayaan kerajaan Riau. Awalnya ada empat gedung yang terletak saling berdekatan tetapi karena tidak dijaga dan dirawat dengan baik, akhirnya hanya tersisa satu gedung mesiu.


Gedung ini mirip bangunan masjid dengan dilengkapi kubah di bagian atapnya. Bangunan dengan warna kuning khas melayu ini sangat kokoh dan memiliki pondasi yang kuat serta di desain khusus agar bangunan tahan terhadap basah serta cuaca lembab. Seluruh bangunan terbuat dari beton dengan dinding yang kokoh dan tebal. Ketebalan dinding mencapai ukuran kurang lebih sekitar 40 cm. Selain itu, jendela pada gedung mesiu ini juga dilengkapi dengan jeruji besi. Sehingga bangunan menjadi aman digunakan untuk menyimpan bubuk mesiu.

__ADS_1



Adi dan Adelia menyimak baik-baik penjelasan mengenai gedung mesiu. Di sana mereka juga tidak lupa mengambil foto sebagai kenang-kenangan.


Selanjutnya mereka pergi ke Benteng Pertahanan Bukit Kursi. Benteng yang dibangun di atas bukit itu, digunakan sebagai alat pertahanan sekaligus untuk mempertahankan dan menjaga kedaulatan daerah dari serangan musuh pada zaman perang dahulu. Asal muasal nama benteng ini karena lokasinya yang berada di daerah yang bernama Bukit Kursi.


Setelah benteng dibangun selama 2 tahun, didatangkan 80 meriam dari Eropa sebagai alat pertahanan atau menyerang musuh yang diletakkan pada tiap sudut strategis. Menurut catatan sejarah, benteng ini mampu membuktikan menjadi perisai yang tangguh dalam menghalau penjajah Belanda yang awalnya berniat menaklukkan Pulau Penyengat.


Dari atas Bukit Kursi, Adi dan Adelia dapat melihat pesona pemandangan indah yang ada di bawahnya, yaitu hamparan laut yang berwarna biru jernih serta barisan bukit hijau yang sangat menyegarkan mata.



Mereka kemudian pergi ke Istana Kantor yang merupakan istana yang dimiliki oleh Yang Dipertuan Muda Riau VIII Raja Ali pada tahun 1844 hingga 1857. Istana Kantor juga dikenal dengan sebutan Mahrum Kantor. Dengan luas yang mencapai 1 hektar, bangunan ini termasuk kompleks istana di mana berfungsi sebagai kediaman Raja Ali beserta kerabatnya dan juga sebagai kantor Raja Ali.


...



(gambar Istana Kantor)...


Makam Raja Ali Haji menjadi tujuan terakhir mereka di Pulau Penyengat. Raja Ali Haji dikenal sebagai Bapak Bahasa Melayu Indonesia karena telah berkontribusi besar melahirkan pedoman tata bahasa melayu standar. Beliau bergelar pahlawan nasional di bidang sastra. Karyanya yang paling terkenal yaitu 'Gurindam Dua Belas'.


Raja Ali Haji meninggal pada 1837 dan dimakamkan di Pulau Penyengat. Makamnya sendiri dibangun sederhana di bawah pepohonan rindang. Ada beberapa bangunan di kompleks pemakaman ini, di antaranya sebuah masjid mini yang berkubah dan bermihrab. Bangunannya diselimuti cat warna kuning yang mendominasi bergariskan warna hijau. Di dalam kompleks pemakaman juga terdapat makam para raja seperti Raja Kesultanan Riau Lingga, Raja Ahamad Syah, Raja Abdullah dan makam orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan kerajaan.



Adi dan Adelia membeli deram-deram yang merupakan jajanan khas Pulau Penyengat. Jajanan ini mirip seperti donat mini tetapi terbuat dari tepung beras dicampur dengan gua merah. Dulunya deram-deram merupakan salah satu camilan di Kesultanan Melayu.



(gambar deram-deram)


Setelah semua selesai, mereka kembali ke Tanjung Pinang dengan kapal pompong. Tujuan mereka selanjutnya yaitu mengunjungi Pantai Trikora. Selama dalam perjalanan di dalam minibus, Adelia sempat tertidur karena merasa lelah.


"Ibu, kecapekan ya, Pak?" tanya Dedi saat melihat Adelia tidur bersandar di bahu Adi dari rear view mirror.


"Oh, pantas, Pak," sahut Dedi sambil tersenyum-senyum sendiri. "Sebelum ke pantai kita singgah dulu untuk melihat patung seribu wajah, Pak," lanjutnya kemudian.


"Patung seribu wajah?" Kening Adi berkerut.


"Iya, Pak. Nanti ada sekitar 500-an patung dari granit dengan berbagai macam ekspresi yang berbeda-beda. Karena saking banyaknya maka disebut seribu wajah meski jumlahnya tidak sampai seribu patung," terang Dedi.


"Wah, keren. Itu patungnya dibuat juga di sini, Pak?" tanya Adi.


"Tidak, Pak. Patungnya dibuat seniman dari China. Setelah jadi, baru dikirim ke sini."


Akhirnya mereka singgah di Vihara Ksitigarbha Bodhisattva yang dikenal unik karena ada patung 1000 wajah di sana. Adi dan Adelia langsung dibuat terpesona dengan arsitektur megah bangunan yang dibuat mirip dengan Tembok China. Di depannya, terdapat sebuah patung Buddha setinggi kurang lebih 5 meter. Di balik tembok itu ada patung-patung yang berdiri berderet di sebuah tribun berbentuk setengah lingkaran.



Sesudah puas melihat-lihat dan mengambil foto, mereka melanjutkan perjalanan menuju ke viraha yang terbesar se-Asia Tenggara yaitu Viraha Avalokitesvara Graha. Di dalam vihara ini, terdapat patung Dewi Kuan Yin Phu Sha dalam posisi duduk yang amat megah. Tingginya mencapai 16,8 meter. Beratnya 40 ton, dan dilapisi dengan emas 22 karat. Selain itu, ada juga patung dewa-dewi setinggi kurang lebih 3,5 sampai 4 meter yang berjajar di sisi kanan dan kiri ruangan menghadap ke arah patung Dewi Kuan Yin Phu Sha.



Tujuan terakhir hari ini ke Pantai Trikora. Pantai dengan pasir putih, air yang jernih dan ombak yang landai ini merupakan pantai terpanjang di Pulau Bintan. Garis pantai ini kurang lebih sekitar 25 km, karena saking panjangnya jadi kawasan pantai ini dibagi menjadi 4 bagian yaitu Trikora 1, 2, 3 dan 4.



Adi dan Adelia menikmati pemandangan sepanjang menyusuri Pantai Trikora tidak hanya di sisi laut saja. Di sisi daratan,  ada perkebunan kelapa yang cantik juga tak ada habis-habisnya.


Begitu mereka sampai di Pantai Trikora 3, ada batu-batu granit putih berukuran besar yang tidak ditemukan di bagian lain. Selama di sana mereka juga mencicipi kelapa muda yang airnya manis dan segar. Setelah puas menyusuri pantai, melihat pemandangan, bermain-main di pantai dan menikmati aneka kuliner, mereka kembali ke hotel di antar oleh Dedi.


Mereka memesan makan malam di hotel yang dinikmati di teras kamar sambil memandang laut lepas. Diiringi dengan suara debur ombak yang membuat suasana jadi lebih syahdu.


"Hari ini capai enggak, Ai?" tanya Adi sesudah makan malam, sambil menatap wanita yang duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Agak capai, tapi aku senang banget," jawab Adelia.


"Kata Pak Dedi kita besok bisa mainan air sepuasnya, atau kita mau ambil yang ke mangrove?"


"Ke mangrove saja, Mas. Main air kan bisa di mana-mana. Kalau kita sudah bawa anak ya pasti milih yang seharian mainan air. Karena kita masih berdua, jadi kita datangi saja semua tempat wisatanya. Aku juga malas kalau harus ganti baju," kata Adelia.


"Semoga pulang dari sini bawa hasil ya, Ai," harap Adi.


"Hasil apa, Mas? Oleh-oleh khas sini?" Adelia mengernyit.


"Masa gitu aja enggak ngerti, Ai," sahut Adi.


Adelia menggelengkan kepala. "Serius, aku enggak tahu, Mas."


Adi terkekeh melihat ekspresi wajah istrinya yang terlihat serius.


"Ih, Mas Adi malah tertawa gitu sih." Wajah Adelia berubah jadi cemberut.


"Ai, lucu sih. Gemesin." Adi mencubit gemas pipi istrinya.


"Mas Adi," seru Adelia. "Aku marah nih." Dia melirik kesal pada suaminya.


Adi malah kembali tertawa.


"Mana yang lagi marah, sini aku sayang dulu." Adi mendekatkan wajah, berniat menggoda istrinya.


"Mas Adi nyebelin, ih." Adelia mendorong badan Adi agar menjauh darinya.


Adi menangkap tangan Adelia lalu menggenggamnya.


"Masih ada tenaga nih untuk marah? Daripada dibuang percuma buat marah mending dipakai untuk yang lebih bermanfaat dan membuahkan hasil hummm." Adi memberi tatapan menggoda pada istrinya.


"Apaan sih, Mas. Dari tadi ngomongin hasil melulu," cerocos Adelia.


Adi kembali tersenyum, dia bangkit dari duduknya lalu mengajak Adelia berdiri.


"Mau ke mana, Mas?" tanya Adelia setelah berdiri.


"Mau membajak dan menanam sawah biar segera bisa panen," jawab Adi sambil mengedipkan sebelah matanya.


Adelia masih terlihat bingung. "Hah, emang di sini Mas Adi punya sawah?"


"Punya dong. Sini aku tunjukkan." Adi menggandeng Adelia masuk ke dalam kamar. Tak lupa dia mengunci pintu dan memasang tanda 'Don't disturb' di gagang pintu luar.


"Kok malah masuk kamar, Mas?" Adelia tampak semakin heran.


Adi lalu mulai mendekati istrinya. Mereka berdiri berhadapan. Dia menatap mata wanita yang sudah menjadi belahan jiwanya itu dengan penuh cinta. Dia menangkup wajah Adelia dengan kedua tangannya hingga membuat mereka saling bertatapan.


"Sawahku itu, Ai. Satu-satunya tempat aku menabur benih yang aku punya. Nanti kalau berhasil, akan tumbuh di sini benihnya." Adi menyunggingkan senyum sambil satu tangannya mengelus perut Adelia.


Blushhh ....


Adelia tersipu malu mendengar kata-kata suaminya. Kenapa dia jadi begitu bodoh dan tidak mengerti dengan semua istilah itu, batinnya.


"Sudah mengerti belum, Ai?"


Adelia mengangguk. Dia merasa malu pada suaminya.


"Siap kan dibajak dan ditanami?"


Adelia kembali menyengguk, masih dengan ekspresi malu-malu.


...---oOo---...


Jogja, 120821 10.20

__ADS_1


Terima kasih untuk Kak Norma yang sudah bersedia memberikan informasi mengenai Pulau Bintan. Kalau ada teman yang domisili di Bintan boleh juga kalau mau membagi informasi bisa via komentar, PC atau DM di IG @kokoro.no.tomo.82. Bila ada kesalahan saya dalam menyampaikan informasi mohon koreksinya. Terima kasih 🙏🤗


Catatan : Semua kredit foto pada pemilik


__ADS_2