
Adi dan Adelia ke luar dari hotel sambil bergenggaman tangan. Mereka langsung menuju ke mobil. Adi membukakan pintu untuk istrinya sebelum dia masuk ke mobil. Setelah memasang sabuk pengaman, Adi mulai melajukan mobilnya.
"Sebelum ke rumah papa, kita beli baju dulu ya buat kamu," kata Adi.
"Aku ikut Mas Adi saja," sahut Adelia.
"Di mana kira-kira yang lengkap yang ada baju muslim dan baju harian?" tanya Adi.
"Di Jalan C. Simanjutak saja, Mas," jawab Adelia sambil menyebutkan nama tokonya.
"Oke. Kita ke sana." Adi mengarahkan kemudi ke arah jalan yang disebutkan istrinya.
"Mas Adi, apa setelah ini Restu tidak akan mengusik kita lagi?" tanya Adelia seraya menoleh pada suaminya.
"Insya Allah, semoga saja. Tapi, sepertinya dia orang yang sangat gigih. Kalaupun nanti dia masih berani mengusik kita, biar aku yang atasi. Kamu tidak usah berpikir yang macam-macam. Cukup pikirkan tentang kita saja ya." Adi mengelus kepala istrinya dengan tangan kiri.
"Iya, Mas." Adelia mengangguk dan tersenyum pada suaminya.
"Nanti kamu pilih saja baju yang kamu suka, tidak harus tanya pendapatku. Carinya jangan yang ketat dan menerawang ya," kata Adi untuk mengalihkan pembicaraan.
"Masa aku tidak boleh tanya pendapat Mas Adi. Kan Mas Adi yang bisa menilai pantas atau tidaknya. Aku kan berhias juga untuk menyenangkan Mas Adi." Adelia menunduk malu setelah bicara.
Adi tersenyum lebar. "Istriku memang salehah, berhiasnya untuk menyenangkan suami," pujinya sambil mengerling sekilas pada Adelia.
Adelia semakin tersipu malu mendengar pujian pria di sampingnya.
Tak lama kemudian, mereka tiba di toko busana muslim yang tadi disebutkan Adelia. Adi memarkirkan mobilnya di basement. Setelah itu mereka naik lift ke lantai atas.
Mata Adelia langsung tertuju pada busana muslimΒ couple yang dipajang di maneken. Dia menghampiri maneken itu sambil menarik tangan suaminya. Adi menuruti saja ke mana Adelia pergi.
"Mas, ini bagus. Mas Adi, mau apa enggak?" Adelia menyentuh gamis dan baju koko yang terpajang.
"Kamu suka?" tanya Adi sambil menatap istrinya.
"Iya, bagus ini model dan coraknya," jawab Adelia. "Bisa kita pakai lebaran nanti, Mas."
"Ya udah, ambil aja. Cari ukuran yang cocok buatmu dan aku." Adi tersenyum lebar melihat istrinya yang terlihat bahagia.
"Terima kasih, Mas." Adelia refleks memeluk Adi. Tapi dia lalu sadar saat beberapa pasang mata menatap ke arah mereka. Dia lupa mereka sedang ada di tempat umum. Karena seminggu lagi lebaran, jadi toko tersebut cukup ramai pengunjung yang akan membeli baju lebaran.
Adelia memanggil salah seorang pramuniaga yang berjaga. Dia meminta ukurannya dan juga Adi. Setelah diberikan ukuran baju sesuai permintaannya, dia dan Adi mencobanya. Sesudah mencoba dan pas, dia bilang pada pramuniaga tadi kalau akan membelinya.
"Beli hijabnya sekalian. Cari yang menutup dada ya. Jangan cuma beli satu, beli juga untuk harian," titah Adi.
"Iya, Mas."
"Aku mau salat Zuhur dulu, sebentar lagi azan. Kamu pilih-pilih aja dulu. Nanti kabari kalau pindah ke lantai atas," kata Adi sebelum pergi ke musala yang ada di lantai paling atas.
"Iya, Mas." Adelia lalu menuju ke area hijab. Dia memilih beberapa hijab sesuai permintaan suaminya. Setelah itu dia naik ke lantai atas untuk memilih beberapa gamis dan baju harian. Dia juga memilihkan kemeja dan sarung untuk suaminya.
"Sudah semua?" tanya Adi sambil mengangkat 2 kantong belanja yang penuh, sebelum mereka ke kasir.
"Sudah, Mas. Sudah banyak banget itu. Mas Adi ini terlalu memanjakan aku, nanti aku jadi ketagihan loh dibelanjain terus," jawab Adelia.
__ADS_1
"Yakin, sudah? Mukenanya enggak sekalian?" tanya Adi memastikan.
"Kan ada yang Mas kasih buat mahar kemarin juga belum dipakai."
"Buat bergantian, masa cuma punya satu," kata Adi beralasan.
"Di rumah papa juga ada beberapa yang masih bagus, Mas. Enggak usah beli lagi. Uangnya bisa dipakai untuk yang lain." Adelia memegang lengan Adi, mengajaknya ke kasir.
"Bisa pakai kartu debit kan, Mbak?" tanya Adi saat di depan kasir.
"Bisa, Pak," jawab kasir.
Adi mengambil kartu debit di dompet lalu menyerahkan pada kasir.
"Totalnya xxx.xxx rupiah ya, Pak. Mau pakai pin atau tanda tangan?" tanya kasir itu.
"Pin saja." Adi lalu memencet beberapa tombol angka di mesin EDC.
Setelah proses transaksi selesai, Adi membawa dua kantung belanja di tangan kanannya. Sementara tangan kirinya menggenggam tangan Adelia. Mereka lalu turun ke parkiran dengan menggunakan lift.
"Kita mampir ke ATM dulu ya. Aku enggak punya uang cash. Nanti kalau butuh apa-apa biar enggak bingung. Sekalian juga buat pegangan kamu," kata Adi begitu mereka meninggalkan toko busana muslim.
"Aku ada cash kok, Mas. Tapi memang enggak banyak," ujar Adelia.
"Itu kan uangmu. Sudah disimpan saja. Ini uang nafkahku buat kamu. Enggak boleh ditolak, sekalian dengan uang belanja. Biasanya aku kasih uang belanja sama Dita. Mulai sekarang aku kasih ke kamu," tegas Adi.
"Iya, Mas."
"Terima kasih, Mas. Tapi kok banyak sih." Adelia keberatan Adi memberinya uang dengan nominal yang tidak sedikit.
"Buat pegangan lebaran sekalian. Nanti kalau ingin kasih ke saudara atau ada kebutuhan mendesak," ucap Adi beralasan.
"Disimpan dulu uangnya di dalam tas," titah Adi.
Adelia kemudian menyimpan uang di dalam tas selempangnya. Sesudah itu, mereka langsung pergi ke rumah Pak Lukman.
Sampai di rumah Pak Lukman ternyata sudah terpasang tenda yang memenuhi halaman rumah. Adi memarkirkan mobil di pinggir jalan depan rumah. Begitu mereka turun dari mobil ada ojol yang datang dengan membawa buket mawar putih.
"Siang, Mbak. Apa benar ini rumahnya Mbak Adelia?" tanya driver ojol itu.
"Iya, betul, Pak," jawab Adelia.
"Ini ada kiriman buket dari Mas Restu." Driver ojol itu akan menyerahkan buket pada Adelia.
"Maaf, Pak. Ini buketnya untuk istri atau pacar Bapak saja. Bapak nanti bilang buketnya sudah diterima," kata Adelia yang tidak mau menerima buket itu.
"Ada apa?" Adi menghampiri istrinya sambil membawa tas belanja dan koper.
"Restu kirim buket yang tadi, Mas," terang Adelia.
"Mas, bawa lagi saja ya bunganya. Terserah mau dikasih siapa." Adi meletakkan tas belanja dan koper yang tadi dia bawa. Dia lalu mengambil selembar uang dari dompetnya.
"Ini buat, Mas. Selesaikan orderannya di sini. Nanti buketnya dibawa ya." Adi memberikan uang itu pada driver ojol.
__ADS_1
"Ini sudah dibayar kok sama Mas Restu," tolak driver ojol.
"Ini rezeki buat, Mas." Adi tetap memberikan uang itu.
"Iya, terima kasih. Semoga rezeki Mas dan Mbak-nya lancar," ucap driver ojol.
"Aamiin," ucap Adi dan Adelia bersamaan.
Sesudah driver ojol pergi, mereka masuk ke dalam rumah. Mereka disambut beberapa kerabat yang sudah datang. Setelah memberi salam dan berkenalan dengan kerabat istrinya, Adi mengikuti Adelia ke kamar yang ada di lantai atas.
"Kamarmu girly banget, enggak kaya Dita." Komentar Adi setelah masuk ke kamar Adelia.
"Ya, kan beda, Mas." Adelia meletakkan tas selempangnya di atas meja.
Adi meletakkan tas belanja dan koper bersisian. Setelah itu dia duduk di atas ranjang, lalu merebahkan diri di atasnya.
"Nyaman," gumam Adi sambil memejamkan mata.
"Mas Adi ganti baju dulu kalau mau istirahat. Nanti kusut kemejanya." Adelia melihat suaminya yang setengah badannya terbaring di atas ranjang.
"Tolong ambilkan bajuku," ucap Adi masih dengan mata terpejam.
Adelia tersenyum. Rupanya suaminya ini tipe yang manja juga, minta dilayani. Tapi dia bahagia bisa melayani keperluan suaminya. Dia lalu membuka koper dan mengambil baju ganti Adi.
"Bangun, Mas. Ini bajunya." Adelia menepuk pelan lengan suaminya.
Pelan-pelan Adi membuka matanya. Dia tersenyum melihat Adelia yang berdiri di hadapannya. Coba sekarang sedang tidak puasa pasti sudah dia terkam istrinya yang cantik ini.
"Terima kasih, Istriku." Adi meraih baju yang dipegang Adelia.
"Kamar mandinya yang itu, Mas." Adelia menunjuk pintu kamar mandi yang ada di sebelah kanan.
"Aku ganti di sini saja ya." Adi mengerling pada istrinya.
"Terserah, Mas. Aku mau membereskan baju Mas Adi dulu." Adelia memalingkan wajahnya. Kenapa dia merasa Adi sedang menggodanya? Dia merasa malu. Dia lalu segera mengambil baju suaminya dari dalam koper dan menatanya di dalam lemari.
Adi tersenyum melihat istrinya yang tersipu malu. Dia berhasil menggodanya. Dia lalu beranjak ke kamar mandi untuk berganti baju dan membersihkan diri.
Saat Adi ke luar dari kamar mandi, Adelia sudah selesai membereskan bajunya dan juga barang belanjaan mereka. Rupanya Adelia tipe yang rapi.
"Aku tidur dulu sebentar ya. Kalau lima menit sebelum azan Asar aku belum bangun, tolong dibangunin," kata Adi sebelum merebahkan dirinya.
"Iya, Mas. Habis ini aku mau ke bawah bertemu keluarga yang lain," ujar Adelia.
"Kamu tetap pakai hijab ya, karena banyak yang bukan mahram meski di rumah sendiri," pinta Adi.
"Iya, Mas. Aku tahu. Mas, istirahat dulu saja."
"Oke." Adi merebahkan diri. Setelah berdoa dia memejamkan mata. Tak butuh waktu lama dia sudah terlelap ke alam mimpi.
...---oOo---...
Jogja, 230621 00.05
__ADS_1