Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Bude Lastri


__ADS_3

"Mas, gimana kalau kita juga menginap di rumah ayah? Aku sehari saja enggak ketemu Ale rasanya kangen banget." Adelia menatap suaminya setelah sesi percintaan mereka selesai. Adelia berbaring miring menghadap suaminya, sementara Adi berbaring terlentang dengan tubuh polos yang tertutup selimut.


"Kita besok juga menginap di sana, Ai." Adi mengecup kening istrinya yang masih terlihat basah karena keringat.


"Serius, Mas." Wajah Adelia langsung berseri.


Adi menyengguk. "Iya, besok aku ke proyek sebentar, setelah itu kita pulang ke rumah ayah. Minggu besok ada acara pertemuan keluarga besar yang rutin diadakan setiap beberapa bulan sekali. Kemarin ayah bilang juga sekalian syukuran kelahiran Ale."


"Jadi aku ikut Mas Adi ke proyek atau gimana?"


"Kalau Ai mau ikut, nanti pulang dari proyek bisa langsung ke ayah. Tapi kalau Ai enggak mau ya enggak apa-apa."


"Iya--iya, aku mau. Aku udah enggak sabar ketemu Ale."


"Senang banget sih sama Ale." Adi memiringkan badannya menghadap sang istri.


"Aku kaya punya mainan baru, Mas. Sekalian belajar kan cara mengasuh bayi kalau besok kita punya anak. Sekaligus, aku juga membantu Dek Dita yang masih belum bebas beraktivitas."


Adi mengulum senyum. "Iya, tapi jangan sampai kecapaian dan lupa waktu. Ada rumah dan suami yang harus diurus."


"Tidak mungkin aku melupakan tugas dan kewajibanku, Mas. Aku malah ingin kalau Dek Dita sudah masuk kuliah, aku yang mengasuh Ale, tidak perlu pakai jasa baby sitter."


Adi mengerutkan kening mendengar ucapan istrinya. "Mengasuh bayi itu tidak gampang loh, Ai. Lagian kan ada Rendra yang menjaga dan mengasuh Ale selama Dita kuliah. Dia malah lebih luwes daripada Dita."


"Mas Adi, tidak mengizinkan aku mengasuh Ale?" Adelia memandang suaminya dengan raut kecewa.


"Bukan tidak mengizinkan, tapi masih ada Rendra, Ai. Kalau mereka mengizinkan ya tidak masalah, asal Ai jangan sampai kecapaian." Adi mengelus pipi halus istrinya.


"Bagaimana pun, Ale punya orang tua. Meski niat kita membantu, tapi kalau mereka tidak mau, kita bisa apa. Kita tidak bisa memaksa mereka untuk menyerahkan pengasuhan Ale pada Ai selama Dita kuliah."


"Iya juga ya, Mas. Apalagi Rendra itu protektif dan posesif banget."


"Makanya, Ai. Tapi, coba saja memancing Dita apa Rendra kalau mereka membahas soal kuliah. "


"Iya, Mas. Rendra kayanya juga mau nunda kuliah S-2."


"Nah kan, karena itu Ai jangan terlalu berharap. Mungkin sesekali bisa ikut mengasuh kalau Rendra ada pekerjaan di luar."


Adelia menganggut. "Iya, Mas."


"Tidur yuk, sudah malam. Apa mau satu ronde lagi?" Adi mengedipkan sebelah matanya dengan genit.


"Mas, ih." Adelia menepuk dada Adi sambil tersipu malu.


...---oOo---...


"Anakmu ganteng, Nduk [panggilan pada gadis (wanita yang lebih muda) yang punya hubungan dekat - bahasa Jawa]. Kaya bapaknya," puji Bude Lastri setelah melihat Ale yang dibaringkan di atas karpet dengan dilapisi kasur kecil. Ale memang sengaja dibaringkan di ruang tamu karena banyak saudara yang ingin melihat dia.


"Kan cowok, Bude. Jadi ya ganteng, kalau cewek ya cantik," sahut Dita dengan nada bercanda.


"Iso wae kowe kie (bisa saja kamu ini), Nduk." Bude Lastri menepuk pelan paha Dita.


"Sehat kan, Bude?" tanya Dita sambil menyalami Bude Lastri.


"Alhamdulillah sehat," jawab Bude Lastri. "Suamimu mana?"


"Baru ke belakang, Bude. Ambil kipas buat Ale. Takut dia kepanasan."


"Jenenge Ale to (namanya Ale ya), Nduk?"


"Nama panggilanku Ale, Mbah (nenek - bahasa Jawa). Nama lengkapku Almair Syabil Daneswara." Dita menirukan suara anak kecil sambil memainkan tangan Ale, seolah putranya yang bicara dengan Bude Lastri.


Bude Lastri manggut-manggut. "Yo wes, aku tak nemoni Adi ro bojone (ya sudah, aku mau ketemu Adi dan istrinya)."


"Nggeh (ya), Bude."


Bude Lastri lalu mendekati Adi dan Adelia yang duduk bersebelahan.


"Piye kabare manten anyar (bagaimana kabarnya pengantin baru)?"


"Alhamdulillah, sae (baik), Bude." Adi yang menjawab Bude Lastri. Dia dan Adelia lalu menyalami Bude Lastri.


"Istrimu sudah hamil belum, Adi?" tanya Bude Lastri tanpa basa-basi lebih lanjut.


"Doakan segera hamil ya, Bude," jawab Adi dengan senyum menghias bibirnya.

__ADS_1


"Iya, bude doakan. Jangan sampai kalah sama adikmu, Di."


"Kalah apa, Bude?" Adi mengernyit mendengar pernyataan Bude Lastri.


"Ya kalah punya anak. Dita bisa dibilang sudah punya dua anak, tapi kamu masih belum."


"Memangnya lomba, ada yang menang dan kalah, Bude. Kami kan juga masih belum ada satu tahun menikah." Adi masih menanggapi Bude Lastri dengan santai.


"Bude cuma kasihan saja sama istrimu, yang lain bawa anak, dia sendiri yang tidak. Coba bawa istrimu pijat di tempat Mbah Suro. Siapa tahu habis dari sana terus isi. Banyak yang pijat di Mbah Suro bisa hamil padahal sudah lama tidak punya anak. Nanti dikasih jamu-jamuan juga buat diminum untuk menyuburkan kandungan," ujar Bude Lastri seraya melirik Adelia.


"Ya, Bude. Terima kasih infonya."


"Siapa nama istrimu, Di? Bude lupa."


"Adelia."


"Adelia dicoba ya pijat di Mbah Suro. Siapa tahu jodoh, bisa segera hamil." Bude Lastri bicara sambil menatap Adelia.


"Iya, Bude." Adelia menjawab seraya tersenyum.


"Biasa minum jamu tidak?"


"Paling kunir asem kalau datang bulan, Bude."


"Kalau ke tempat Mbah Suro dikasih jamu yang harus direbus, rasanya pahit. Bisa dicampur madu atau gula aren biar tidak terlalu pahit. Coba saja siapa tahu cocok."


"Iya, Bude." Adelia menganggut.


"Nanti perutnya dipijit sama Mbak Suro, dibenerin peranakannya kalau turun. Sudah pernah dipijit perutnya?"


"Belum, Bude."


"Nah, mungkin peranakannya turun itu makanya kamu belum hamil. Pokoknya nanti dibenerin semua sama Mbah Suro. Banyak yang cocok, sekali pijat langsung hamil. Ada juga yang dua atau tiga kali baru hamil. Yang penting jamunya jangan sampai kelewatan minumnya."


"Iya, Bude. Terima kasih sarannya."


"Rumah yang pojokan itu sudah tiga tahun tidak punya anak, pijat ke sana terus bisa punya anak." Bude Lastri terus menceritakan pengalaman orang-orang yang bisa hamil karena dipijat secara tradisional di tempat Mbah Suro, layaknya seorang marketing handal yang ingin menggaet konsumen agar membeli produknya.


Adelia diam mendengarkan saja, tanpa berminat untuk menanggapi. Sedangkan Adi sudah tampak bosan dan ingin menyela, tetapi Bude Lastri terus berbicara hingga dia sungkan untuk memotong.


"Iya, Bun. Maaf Bude, saya ke belakang dahulu." Adelia segera bangkit dari duduknya dan pergi ke dapur. Dia menghela napas lega setelah tiba di ruang tengah.


Adi tersenyum lebar melihat bundanya datang sebagai penyelamat.


"Mbakyu, monggo dicicip dulu nyamiannya (silakan dicicip kudapannya)." Ibu Hasna menyodorkan piring yang berisi wajik, lemper, pastel sayur dan sosis solo ke depan Bude Lastri.


"Iki gawe dewe kabeh po (ini bikin sendiri semua), Dik?" Bude Lastri mengambil lemper, lalu mengupas daun pisang yang menjadi bungkusnya.


"Iya, Mbakyu. Kemarin dibantu Mbok Darmi sama Adelia."


"Oh ya, itu mantumu disuruh pijat ke Mbah Suro biar cepat hamil."


"Nanti kalau sudah rezekinya hamil kan ya pasti hamil, Mbakyu. Sekarang masih belum rezekinya mereka punya anak." Ibu Hasna menanggapi Bude Lastri dengan bijak.


"Lakyo wes setengah tahun durung isi, yo rapopo to dipijetke. Kuwi jenenge ikhtiar (kan sudah setengah tahun belum hamil, tidak apa-apa kan dipijat. Itu namanya ikhtiar)."


Ibu Hasna tersenyum. "Maturnuwun awit kawigatosanipun (terima kasih atas perhatiannya), Mbakyu. Kersane larene ingkang mutusi piyambak (biar mereka yang memutuskan sendiri). Kita sebagai orang tua hanya bisa memberikan saran dan utamanya mendoakan mereka."


"Apa kamu tidak mau tambah cucu, Dik?"


"Ya pasti mau, Mbakyu. Tapi, anak itu kan rezeki. Kalau belum waktunya diberi, mau usaha seperti apa pun juga tidak akan berhasil. Kalau sudah waktunya meski tanpa banyak usaha, Insya Allah pasti berhasil."


"Kamu ini terlalu pasrah sama keadaan. Kalau mantuku pasti sudah kuajak pijat ke Mbak Suro."


Ibu Hasna kembali tersenyum. "Kalau kita sudah berusaha dan berdoa, memang seharusnya kita pasrah sama ketentuan Gusti Allah kan, Mbakyu. Aku yakin mereka juga sudah berusaha dan berdoa, tetapi memang belum waktunya diberi. Maaf Mbakyu, aku tinggal menyiapkan makan. Ini acaranya sudah mau dimulai."


"Iya," sahut Bude Lastri dengan sedikit ketus.


"Monggo dipun sekecaaken (selamat menikmati), Mbakyu." Ibu Hasna meninggalkan Bude Lastri yang sedang menikmati sosis solo setelah lempernya habis.


Ibu Hasna menghampiri Adelia yang sedang duduk di ruang tengah menemani Dita yang sedang menyusui Ale. Tadi Dita masuk ke dalam karena sudah waktunya Ale minum susu. Tidak etis rasanya menyusui di depan banyak orang.


"Mbak Adel, jangan dipikirkan ya ucapan Bude Lastri." Ibu Hasna duduk di samping sang menantu, lalu menggenggam tangannya, memberikan dukungan.


"Enggak apa-apa, Bun. Aku malah jadi ingin mencoba." Adelia tersenyum pada ibu mertuanya dan balas menggenggam tangan Ibu Hasna.

__ADS_1


"Memang Bude Lastri ngomong apa?" tanya Dita dengan kening berkerut. Dia tadi tidak mendengarkan pembicaraan Bude Lastri dan kakaknya karena sibuk menjawab pertanyaan saudaranya yang lain yang ingin tahu soal Ale.


"Bude menyuruhku pijat di tempat Mbah Suro, Dek."


"Oh, di sini memang terkenal itu Mbah Suro, Mbak."


"Kamu pernah pijat di sana, Dek?"


Dita menggeleng. "Belum pernah, Mbak. Aku kurang begitu suka dipijit area perut. Biasanya kalau capai ya cuma punggung, kaki sama tangan saja yang dipijit."


"Oh, memangnya hanya di perut ya pijitnya, Bun?" Adelia bertanya pada ibu mertuanya.


"Seluruh badan, cuma fokusnya memang di perut," jelas Ibu Hasna. "Kalau Mbak tidak suka, tidak usah ke sana. Tidak perlu menuruti Bude Lastri."


"Aku jadi penasaran malahan, Bun. Mas Adi tahu rumahnya Mbah Suro enggak ya, Bun?"


"Harusnya sih tahu. Kalau Mbak mau mencoba ya tidak apa-apa. Bunda, tidak memaksa atau menyuruh ya."


"Iya, Bun. Nanti kalau Mas Adi mau antar, sebelum pulang aku mau coba pijit. Siapa tahu kan memang rezekinya dari sana."


"Aamiin," ucap Ibu Hasna dan Dita bersamaan.


"Ya sudah, bunda mau menyiapkan makan dahulu. Acaranya sudah mulai, jadi nanti begitu selesai mereka bisa langsung makan." Ibu Hasna bangkit dari duduknya.


"Aku bantu ya, Bun. Dek, aku tinggal dahulu ya." Adelia ikut berdiri. Dia menggandeng lengan mertuanya berjalan ke dapur.


Dita tersenyum melihat kedekatan bundanya dan Adelia. Biasanya dia yang selalu membantu, kini ada Adelia yang menggantikannya.


Begitu acara pertemuan ditutup, para tamu yang masih punya hubungan keluarga itu, mulai menikmati makan siang yang disajikan oleh Ibu Hasna. Mereka mengambil makanan secara prasmanan di meja makan lalu menyantapnya di ruang tengah atau di ruang tamu.


Para tamu mulai pamit satu per satu setelah acara makan siang. Sesudah semuanya pulang, Adi dan Rendra membereskan ruang tamu dan teras yang jadi tempat pertemuan tadi. Mereka kembali meletakkan kursi dan meja ke posisinya semula, yang tadi ditempatkan di luar rumah karena mereka menggelar karpet di ruang tamu dan teras.


Setelah semuanya beres, mereka kemudian beristirahat di kamar masing-masing. Adi mengajak istrinya masuk ke kamar karena dia tahu Adelia pasti capai. Dari sejak datang, Adelia membantu Ibu Hasna membuat kudapan hingga malam. Dan, pagi tadi setelah Subuh membantu sang mertua lagi. Adelia bahkan hanya sesekali bermain atau menggendong Ale padahal tujuannya ingin bertemu Ale.


"Mas, kenapa mengajak aku ke kamar? Mas, enggak mau bercocok tanam kan?" tanya Adelia begitu mereka masuk ke dalam kamar.


"Apa Ai mau bercocok tanam?" Adi menaik turunkan alisnya, menggoda sang istri.


"Ish, enggak lah. Jangan bercanda, Mas." Adelia menatap suaminya dengan kesal.


"Aku enggak bercanda, kalau Ai ingin, ayo." Kali ini Adi mengedipkan sebelah matanya.


Adelia memutar kedua bola matanya. Dia tahu suaminya sedang menggodanya.


"Cubit nih." Adelia memposisikan tangannya untuk mencubit Adi.


"Astaga, Ai. Kejam banget sama suaminya. Dah sini tidur dulu biar enggak kecapaian." Adi menepuk kasur di sampingnya.


"Masa bunda dan yang lain kerja, aku malah tidur, Mas." Adelia menolak ajakan suaminya


"Sudah ada yang bantu bunda, Ai. Jangan khawatir. Aku tidak mau Ai capai. Bunda juga mengerti kok. Sudah sini." Adi kembali menepuk kasur di sampingnya.


Adelia akhirnya menuruti sang suami. Dia melepas hijab yang menutupi kepalanya dan berganti dengan baju rumah. Dia lalu berbaring di samping pria yang sangat dicintainya itu.


"Mas, nanti antar aku pijat ya di tempat Mbah Suro," ucap Adelia setelah merebahkan diri.


Adi terkejut mendengar permintaan istrinya. Dia kemudian berbaring miring menghadap Adelia. "Ai, serius mau menuruti Bude Lastri?"


"Iya, Mas. Tidak ada salahnya kan mencoba. Anggap ini salah satu ikhtiar kita."


"Ai, mau minum jamu yang pahit itu?"


"Kehidupan yang pahit saja bisa aku lalui kok, Mas. Apalagi cuma jamu yang pahit, kecil itu mah," seloroh Adelia.


"Kalau itu maunya Ai, aku ikut saja. Tapi, jangan terlalu banyak berharap ya. Kita tetap pasrahkan semuanya pada Allah. Jangan terus berkeyakinan kalau pijat di sana pasti bisa hamil. Aku tidak mau Ai kecewa nanti kalau tidak sesuai harapan." Adi mengelus kepala Adelia.


"Iya, Mas. Aku tahu. Aku hanya ingin mencoba. Lagian tarifnya juga tidak mahal. Lebih mahal biaya spa di salon." Adelia mengikik geli.


Adi ikut tertawa. Dia lalu mencubit ujung hidung istrinya dengan gemas. "Nanti habis Asar kita ke sana. Sekarang istirahat dahulu."


"Oke, Bos." Adelia memberi hormat pada suaminya sebelum memejamkan matanya.


...---oOo---...


Jogja, 270921 01.05

__ADS_1


__ADS_2