Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Baby Girl


__ADS_3

Adelia mulai mengalami mual dan muntah setelah dinyatakan positif hamil. Membuat badannya sering merasa lemas. Aktivitasnya juga sangat terbatas, lebih banyak tiduran di kamar atau sofa ruang tengah.


Selama itu pula, dia jarang memasak karena tidak tahan bila harus berdiri lama. Mencium aroma yang menyengat kadang juga membuatnya langsung mual dan muntah. Akhirnya Adi yang turun tangan memasak terutama untuk sarapan mereka. Untuk makan siang atau malam, mereka membeli makanan atau Dita yang akan memasak bila sedang ada waktu.


Beberapa kali Adelia dirawat di rumah sakit karena mengalami mual dan muntah parah hingga sama sekali tidak ada nutrisi yang masuk ke tubuh. Membuatnya jadi dehidrasi dan harus opname selama beberapa hari. Dia kemudian diinfus agar mendapat nutrisi tambahan yang dibutuhkan untuk ibu dan janinnya.


Ibu Hasna sering bolak-balik ke rumah Adi untuk menemani menantunya melewati masa-masa kehamilan yang berat. Terutama mendampingi saat di rumah sakit. Sebenarnya Adelia diminta untuk sementara tinggal di rumah Pak Lukman agar ada yang selalu menjaganya, tapi tidak mau. Dia merasa lebih nyaman tinggal di rumahnya dengan Adi.


Sesudah melewati trimester pertama, kondisi Adelia mulai lebih baik. Mual dan muntahnya sudah jauh berkurang. Dia bisa makan dengan normal, meski dalam porsi sedikit tetapi sering. Seperti yang Dita sarankan padanya. Istri Adi itu juga perlahan bertambah berat badannya setelah sempat turun selama tiga bulan kemarin.


Adi berusaha menjadi suami siaga sejak Adelia hamil. Dia menyempatkan pulang untuk makan siang dengan istrinya bila tidak ada pekerjaan yang mendesak. Menelepon atau mengirim pesan setiap jam sekali untuk tahu kondisi sang istri. Tidak pernah lembur kecuali dalam kondisi genting. Dia selalu ada untuk mereka berdua bila tidak sedang bekerja.


Adelia beruntung karena pasti ada yang menemaninya di rumah bila Adi sedang bekerja. Ada Dita dan Ale, Nisa, Mbak Surti, Arsenio, Ibu Hasna, serta Ibu Sarah yang saling bergantian datang untuknya. Adi memang meminta tolong pada mereka untuk mendampingi istrinya agar dia bisa tenang bekerja.


Memasuki usia kandungan 5 bulan perut Adelia sudah terlihat membesar, meski belum terlalu kelihatan kalau sedang memakai gamis.


Sore ini, jadwalnya kontrol ke dokter Lita untuk pemeriksaan rutin kondisi kehamilan dan juga mencari tahu jenis kelamin calon buah hatinya. Karena pada kontrol sebelumnya masih belum terlihat jelas jenis kelaminnya.


Adelia mengenakan gamis berwarna biru muda dengan hijab senada. Meski dandanannya hanya sederhana, dia terlihat sangat cantik. Sejak hamil, istri Adi itu jarang memakai make up atau melakukan perawatan kulit karena takut berefek pada janinnya. Walau begitu, Adelia justru terlihat lebih bersinar dan semakin cantik.


"Sore, Bu Adelia, Pak Adi. Wah, Bu Adelia makin cantik saja ini setiap ke sini," sapa dokter Lita dengan ramah seperti biasa.


"Sore juga, Dok. Ternyata dokter Lita bisa menggombal juga," seloroh Adelia membalas sapaan dokternya.


"Saya jujur loh, Bu. Pak Adi, juga setuju kan kalau Ibu makin cantik?" Sang dokter meminta dukungan pada Adi.


"Iya, Dok." Adi mengangguk seraya tersenyum simpul.


"Dokter, salah tanya sama suami saya. Mau saya berantakan kaya apa juga tetap dibilang cantik sama dia," timpal Adelia dengan nada bercanda, membuat semua yang ada di ruangan itu tertawa kecil.


"Apa ada keluhan yang dirasakan, Bu?" tanya dokter Lita usai tertawa.


"Alhamdulillah tidak ada, Dok. Kemarin sempat kaget saja pas kaya ada pukulan pelan di perut. Terus saya tanya sama Dek Dita, katanya baby-nya sedang bergerak," jawab Adelia sambil mengelus perutnya.


"Iya, usia lima bulan pasti sudah terasa gerakannya, Bu. Gerakannya sudah sering apa masih jarang?"


"Ya tidak setiap saat, Dok. Tapi sehari bisa beberapa kali."

__ADS_1


"Kalau begitu mulai hari ini coba dihitung gerakan janinnya, Bu."


"Bagaimana cara menghitungnya, Dok?"


"Ibu melakukannya harus dalam kondisi rileks, misalnya setelah makan atau sebelum tidur. Lalu Ibu berbaring menyamping dengan bagian kiri di bawah. Kemudian menghitung berapa menit yang diperlukan oleh bayi untuk bergerak dengan jelas 10 kali," terang dokter Lita.


"Kalau ada yang berbeda dari biasanya atau Ibu sama sekali tidak merasakan gerakan bayi yang selama ini terasa, segera periksa, Bu. Jangan sampai terlambat seperti kehamilan Bu Dita yang pertama." Dokter Lita melanjutkan penjelasannya.


"Baik, Dok."


"Mari, Bu, kita USG dulu kandungannya."


Adelia beranjak dari duduknya menuju ke ranjang untuk USG. Perawat kemudian menaruh gel di atas perutnya sebelum dokter Lita mulai menggerakkan transducer.


"Alhamdulillah kondisi rahim bagus, air ketuban cukup, berat dan ukuran janin normal," ucap dokter Lita saat menggerakkan transducer sambil melihat ke layar monitor.


"Bapak sama Ibu ingin jenis kelaminnya apa nih?" tanya sang dokter sembari masih menggerakkan transducer.


"Apa saja, Dok. Yang penting ibu dan bayinya sehat," jawab Adi seraya memegang tangan istrinya.


"InsyaAllah baby girl ini, Pak, Bu," ucap dokter Lita.


"InsyaAllah sehat dan normal." Usai mencetak hasil USG, dokter Lita kembali ke kursinya. Melihat citra USG dan mencatat di buku kehamilan Adelia serta di lembar catatan pemeriksaan rumah sakit.


"Tensi dan berat badan normal ya, Bu."


"Iya, Dok."


"Masih suka merasa lemas, pusing atau mual tidak, Bu?"


"Kalau lemas masih kadang-kadang. Pusing dan mual tidak."


"Masih saya resepkan vitamin dan suplemen ya, Bu. Jangan lupa pola makan dan jenis makanan tetap diatur meski sudah bisa makan dengan normal."


"Baik, Dok. Ini nanti saya kontrolnya apa masih sebulan sekali?"


"Iya, sampai usia kandungan enam bulan cukup sekali sebulan selama tidak ada keluhan. Tapi kalau ada keluhan atau merasa ada yang tidak beres langsung periksa saja tidak harus menunggu jadwal kontrol."

__ADS_1


"Baik, Dok. Terima kasih."


Setelah pemeriksaan selesai, mereka keluar dari ruangan dokter Lita. Adelia duduk di kursi tunggu sambil menunggu suaminya mengurus administrasi dan menebus resepnya.


"Pulang yuk, Ai," ajak Adi setelah semua urusannya selesai. Dia membantu istrinya berdiri. Mereka lalu berjalan bergandengan menuju ke parkiran.


"Ai, senang tidak mau punya anak perempuan?" tanya Adi setelah mereka di mobil dan mulai membelah jalanan.


"Senang, Mas. Nanti bisa aku dandanin kan anaknya," jawab Adelia dengan riang. "Kalau anak cowok kan enggak bisa didandani macam-macam."


"Alhamdulillah kalau Ai bahagia. Apa Ai mau yang nyiapin namanya?" Adi menoleh sebentar ke samping kirinya.


Kening Adelia mengerut. "Kenapa aku harus siapin nama, Mas? Bukannya tugas Mas Adi itu."


"Ya siapa tahu, Ai, mau siapin nama soalnya anak perempuan." Adi memberikan alasannya.


Adelia menggeleng. "Enggak, itu tugas Mas Adi. Aku cukup yang hamil dan melahirkan saja."


"Oke, kalau begitu. Mulai besok aku akan cari nama buat anak kita."


"Mas, mau dipanggil apa kalau anak kita sudah lahir?" Adelia menoleh pada suaminya.


"Kan sejak, Ai, hamil pertama sudah abi."


"Kirain mau berubah. Kalau begitu aku dipanggil umi ya. Abi dan umi, uh rasanya udah enggak sabar dengar dipanggil begitu sama anak kita, Mas."


Adi tersenyum melihat keceriaan istrinya. "Tapi kalau anak kita lahir juga tidak bisa langsung bicara kan, Ai. Itu Ale aja ngomongnya masih belibet padahal dah mau satu tahun."


"Eh, jadi ingat. Minggu depan Ale ulang tahun, Mas. Kita beli kado buat Ale yuk."


"Memangnya, Ai, enggak capai? Kita enggak bawa kursi roda loh."


"Enggak, Mas. Mungkin karena aku bahagia jadi aku merasa sangat sehat. Ke mal yuk, Mas, sambil lihat-lihat baju buat baby girl."


"Siap, Umi."


...---oOo---...

__ADS_1


Jogja 220222 23.59


__ADS_2