
Perasaan Adi tak tenang sejak berada di dalam toko Momcare. Dia merasa ada yang mengawasinya dan Adelia. Sudah berulang kali suami Adelia itu mengamati keadaan di luar toko, tapi tak menemukan sosok yang mencurigakan.
Dia tidak menunjukkan kegelisahannya pada Adelia karena tak mau istrinya jadi cemas. Biarlah belahan jiwanya itu hanya merasakan bahagia setelah mengetahui jenis kelamin calon buah hati mereka. Dia tidak ingin menghapus senyum di paras cantik sang pemilik hatinya.
Dengan langkah cepat Adi menuju ke parkiran mobil sambil membawa barang belanjaannya. Karena area mal yang luas, dia harus jauh berjalan dan menuruni eskalator sampai di lantai dasar, di mana mobilnya terparkir. Setelah memasukkan belanjaan ke mobil, pria itu bergegas menyusul istrinya yang tadi pamit pergi ke toilet.
Entah kenapa perasaannya semakin tidak tenang. Apalagi dia baru ingat kalau jalan menuju ke toilet melewati lorong yang panjang dan sepi. Letak toiletnya jauh dari keramaian karena berada di dalam area terpencil.
Adi berjalan dengan cepat menyusul istrinya. Usai melewati lorong yang sepi dan sampai di toilet, dia melihat ada dua orang perempuan di sana, termasuk petugas cleaning service. Mereka terlihat panik dan takut.
"Ada apa, Mbak?" tanya Adi pada petugas cleaning service yang ketakutan.
"A—da orang yang ditusuk di dalam toilet, Mas," jawabnya dengan terbata-bata.
"Orang ditusuk? Sudah menelepon polisi dan rumah sakit?"
"Be—lum."
"Di mana, Mbak, korbannya?"
"Di toilet wanita, Mas."
Deg! Jantung Adi rasanya berhenti detik itu juga. Seketika teringat dengan istrinya yang dia yakini masih ada di dalam. Semoga bukan Adel.
"Boleh saya masuk ke toilet wanita, Mbak?" tanya Adi sambil mencari nomor kontak Kaisar.
"Bo—leh."
"Kai, ini ada penusukan di toilet mal depan kantormu. Korbannya—" Adi tak melanjutkan kata-katanya setelah membuka pintu toilet. Dia terkesiap melihat istrinya tergeletak bersimbah darah. Langsung saja dia mendekati Adelia tanpa bicara pada sahabatnya lagi yang sedang menunggunya di seberang telepon.
"Ai, Ai, bangun, Ai," panggilnya sambil memeluk tubuh sang istri. Dunianya seakan berhenti berputar. Dia tak sanggup kehilangan Adelia dan calon anaknya.
"Di, Adi," panggil Kaisar dengan keras di seberang telepon yang membuat Adi kembali sadar. Untung dia tadi mengaktifkan loud speaker jadi bisa mendengar panggilan sang polisi.
"Kai, Adel ditusuk orang. Tolong cepat panggilkan ambulans ke sini," ucap Adi dengan suara bergetar menahan emosi.
"Aku teleponkan ambulans. Aku dan anggotaku segera ke sana. Di lantai berapa, Di?"
"Lantai 1, Kai." Adi kembali memanggil dan memeluk istrinya. Dia tidak peduli bajunya menjadi merah karena darah istrinya.
"Ai, bangun. Jangan tinggalkan aku. Siapa yang berani melukaimu, Ai? Aku akan membuat perhitungan sama dia," ucap Adi sambil menepuk pelan pipi Adelia.
"Mas A—di," lirih Adelia memanggil suaminya begitu mendengar suara Adi di sela kesadarannya yang menipis.
"Iya, Ai. Aku di sini. Siapa yang tega melakukan ini sama kamu, Ai?"
"Se—kar," ucap Adelia sebelum kehilangan kesadarannya.
"Ai, sadar, Ai." Adi menepuk lagi pipi sang istri, tapi Adelia tak bereaksi. Membuatnya merasa putus asa dan marah di saat yang bersamaan.
__ADS_1
"Sekar! Kali ini kamu enggak akan aku biarkan lolos," geram Adi dengan wajah memerah karena marah.
Tak lama Kai dan beberapa anggota unitnya datang bersama dengan tim medis dari rumah sakit yang terletak di timur kantor Kaisar, tak jauh dari lokasi mal hanya berseberangan jalan. Adelia ditangani dengan cekatan oleh tim medis. Anggota unit Kaisar langsung memasang garis polisi di sana. Kemudian mulai melakukan penyidikan dengan meminta keterangan para saksi, termasuk melihat dan menyalin rekaman CCTV di dalam toilet dan di lorong.
"Di, aku turut prihatin sama Adelia." Kaisar menepuk bahu sahabatnya.
"Kamu harus bisa menangkap Sekar, Kai. Kalau tidak aku yang akan menghabisinya sendiri," ucap Adi sambil menahan amarah.
"Secepatnya aku pasti akan menangkap Sekar, Di. Sambil menunggu Adelia ditangani tim medis, kamu bisa menceritakan dari awal kalian tiba di sini?"
Adi mengangguk. Dia menjelaskan pada Kaisar apa saja yang mereka lakukan setiba di mal. Termasuk saat dia merasa merasa diawasi sejak di dalam toko.
Kaisar menyimak dengan saksama cerita Adi agar dia bisa menentukan langkah apa saja yang harus diambil. Setelah Adelia dibawa oleh tim medis, Adi menghentikan ceritanya dan menitipkan kunci mobil pada sang sahabat karena dia akan ikut dengan ambulans. Ingin menemani istrinya.
Tak sampai lima menit, ambulans tiba di IGD rumah sakit. Adelia langsung mendapat penanganan yang cepat.
"Dok, tolong selamatkan istri dan calon anak kami," pintanya pada dokter jaga.
"InsyaAllah kami akan melakukan segala usaha yang terbaik untuk mereka berdua, Pak. Silakan Bapak mengisi administrasinya dulu sambil kami menangani istri bapak."
"Iya, Dok."
Dengan langkah lunglai Adi ke bagian administrasi. Dia memegang erat tas selempang istrinya yang berlumuran darah. Satu hal yang membuatnya sedikit lega, Adelia masih bernapas meski kondisinya sangat menyedihkan. Namun, dia masih belum tahu bagaimana keadaan calon buah hatinya. Semoga mereka berdua selamat.
Setelah mengisi administrasi, Adi menghubungi Pak Lukman, papa mertuanya. Dia menjelaskan kejadian yang menimpa Adelia. Tak lupa meminta maaf pada mertuanya karena tidak bisa menjaga putri kesayangan mereka.
Pak Lukman jelas sangat terkejut mendengar penuturan menantunya. Meski sedih, papa mertua Adi itu menanggapinya dengan tenang. Dia nanti yang akan menjelaskan pada istrinya tentang kondisi putri mereka. Dengan bijak Pak Lukman juga mengatakan kalau kejadian itu sudah menjadi takdir Adelia, bukan karena kelalaian Adi.
Setelah itu, Adi menelepon bundanya. Dia menangis saat bicara dengan sang bunda. Setegar-tegarnya pria, dia pasti juga mengalami masa rapuh di hidupnya. Dan, bunda menjadi tempatnya untuk berkeluh kesah, mencurahkan seluruh perasaannya. Tidak peduli kalau orang-orang melihatnya menangis. Pria itu hanya ingin menumpahkan apa yang dia rasakan.
Ibu Hasna mendengar curahan hati putra sulungnya itu lewat saluran telepon. Saat ini sang putra sangat membutuhkan dukungannya. Mendengar semua keluh kesah Adi, itu yang bisa dilakukannya sekarang karena jarak yang memisahkan mereka. Wanita paruh baya itu berjanji akan datang esok hari untuk memberi dukungan pada anak dan menantunya.
Adi merasa lebih tenang setelah berbicara dengan bundanya. Dia kembali ke ruangan di mana istrinya tadi ditangani.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Adi begitu bertemu dengan dokter yang menangani Adelia.
"Alhamdulillah kondisi istri bapak cukup stabil. Tapi tetap harus mendapatkan perawatan yang intensif. Ada luka tujuh tusukan di sekujur badan ibu. Untung saja tusukannya tidak terlalu dalam jadi tidak sampai melukai organ dalamnya," terang sang dokter.
Adi menghela napas lega. "Alhamdulillah. Lalu kondisi kandungan dan calon anak kami bagaimana, Dok?"
"Seperti yang saya katakan kalau organ dalamnya tidak terluka, jadi kandungan ibu dan kondisi janinnya baik-baik saja."
"Alhamdulillah, terima kasih, Dok. Apa saya boleh menengok istri saya?"
"Untuk sementara belum, karena masih ditangani luka-lukanya. Nanti setelah itu baru dipindahkan ke kamar inap. Bapak bisa menunggu di ruang tunggu terlebih dahulu. Mungkin besok akan ada pihak dari kepolisian yang datang untuk meminta hasil visum ibu karena itu kami harus benar-benar teliti."
"Baik, Dok."
"Sabar ya, Pak. InsyaAllah istri bapak bisa pulih seperti sedia kala. Mungkin nanti ibu juga butuh pemeriksaan secara psikologis karena baru saja mengalami kejadian yang mengerikan agar tidak merasa trauma yang mendalam. Karena kondisi ibu sedang hamil, kami berharap itu tidak berpengaruh pada kehamilannya."
__ADS_1
"Saya ikut saja, Dok. Tolong berikan perawatan yang terbaik untuk istri saya."
"Pastinya, Pak. Kami akan memberikan yang terbaik."
Sesudah mendapatkan informasi dari dokter, Adi kembali duduk di ruang tunggu. Dia menunduk sambil mengelus tas selempang sang istri yang bersimbah darah. Sembari terus berdoa dalam hati untuk kesehatan istri dan calon anaknya.
"Di," panggil Kaisar yang baru datang dan melihat sahabatnya duduk di ruang tunggu.
Adi mendongak setelah mendengar ada yang memanggilnya. "Kai," ucapnya saat menoleh pada Kaisar.
Kaisar yang mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung sampai siku itu menghampiri Adi lalu duduk di sampingnya.
"Ini kunci mobilmu. Aku parkir di depan." Kaisar menyerahkan kunci mobil dan struk parkir pada Adi yang langsung menerimanya.
"Makasih, Kai. Nanti Rendra ke sini ambil mobil," ucap Adi.
Kaisar menyengguk. "Gimana keadaan Adel?"
"Alhamdulillah stabil tapi butuh perawatan intensif. Kandungannya juga baik-baik saja."
"Alhamdulillah. Aku ikut lega. Tadi kami sudah olah TKP dan memeriksa CCTV, ternyata Sekar sudah membuntuti Adel sejak keluar dari toko."
"Berarti firasatku benar, ada yang mengawasi kami sejak di toko?"
"Iya. Anggotaku sedang memeriksa semua CCTV yang mungkin bisa memberi petunjuk. Tadi aku baru melihat yang dari toko sampai ke toilet. Aku terus ke sini. Oh ya, ini ada baju ganti kalau kamu mau ganti, Di?" Kaisar mengangsurkan tas kertas yang berisi bajunya. "Itu bajuku yang aku simpan di kantor. Bersih kok."
"Makasih, Kai. Tapi enggak usah. Rendra sudah aku minta bawa bajuku ke sini."
"Ya sudah kalau begitu." Kaisar menarik lagi tas tersebut.
"Di, kamu tahu nomornya Sekar?" tanya Kaisar setelah beberapa saat mereka terdiam.
Adi menggeleng. "Sejak Sekar menolak lamaranku, aku tidak pernah lagi menyimpan apa pun soal dia."
"Kalau tempat tinggalnya di sini, kamu tahu?"
Adi kembali menggeleng. "Mungkin bunda atau ibumu yang lebih tahu, Kai."
"Ah iya, aku sampai lupa. Kamu enggak apa-apa kan sambil aku tanya soal ini, Di?"
"Iya, enggak apa-apa. Yang penting iblis berwujud perempuan itu segera tertangkap." Rahang Adi mengeras saat mengatakannya.
"Aku janji secepatnya seret Sekar ke penjara, Di. Aku hubungi ibuku dulu barangkali tahu di mana rumah Sekar di sini." Kaisar kemudian keluar dari IGD.
Adi kembali duduk sendiri. Dia menyandarkan punggungnya di kursi sambil memejamkan mata. Seharusnya hari ini jadi hari bahagia setelah tahu jenis kelamin calon anak mereka. Namun, yang terjadi malah sebaliknya, hari ini jadi tragedi yang tak akan pernah dia lupa. Seandainya waktu bisa diputar lagi, dia tak akan menuruti istrinya membeli kado hari ini.
"Wali dari Ibu Adelia Putri Permana," panggil perawat IGD.
...---oOo---...
__ADS_1
Jogja, 010322 00.35
Mohon maaf bila bab kemarin dan hari ini mungkin membuat ketidaknyamanan bagi beberapa pembaca 🙏🙏🙏