Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Berdamai


__ADS_3

"Mas Kaisar, jadi kapan ini nikah? Katanya habis lebaran," tanya Pak Lukman pada Kaisar.


"Insya Allah setelah lebaran haji, Om. Soalnya gedung yang mau kita sewa, penuh di tanggal yang ditentukan sebelumnya," jawab Kaisar.


"Oh, kurang gerak cepat berarti," goda Pak Lukman.


Kaisar tersenyum. "Kebetulan baru bulan lalu kami sidang pranikah. Setelah itu kami baru mencari gedung, ternyata sudah penuh, akhirnya mundur. Tetapi juga tidak apa-apa, karena lebaran juga harus tetap dinas. Kemungkinan cuma bisa libur sehari, bergantian dengan teman yang lain."


Pak Lukman mengangguk. "Tingkat kriminalitas di bulan puasa sama lebaran biasanya meningkat ya, Mas. Karena ditinggal ke masjid atau mudik."


"Iya, Om. Kadang aja juga yang memanfaatkan kesempatan mencuri kotak infak di masjid. Kalau puasa kan infak biasanya lebih banyak dari hari biasa."


"Iya, Mas. Om jadi ingat pesan Bang Napi, kalau kejahatan itu terjadi bukan hanya karena ada niat dari pelakunya, tetapi juga karena ada kesempatan." Pak Lukman tersenyum.


"Betul sekali, Om. Apalagi sekarang banyak pelaku kejahatan yang nekat. Untung sekarang sudah banyak ada CCTV, jadi bisa lebih cepat menangkap pelakunya."


"Papa, kok malah ngobrol soal kejahatan sama Mas Kaisar. Ngobrol yang lebih ringan gitu," tegur Ibu Sarah pada suaminya.


"Ya, tidak apa-apa kan. Biar Mama dan yang lain tahu kalau di sekitar kita banyak pelaku kejahatan yang suka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan," sahut Pak Lukman.


"Iya, Pa. Tapi kita kan lagi suasana makan bersama. Tidak enak dengarnya."


"Iya, Ma." Pak Lukman akhirnya menuruti istrinya. "Nanti kita ngobrol lagi ya, Mas Kaisar," lanjutnya.


"Siap, Om," sahut Kaisar.


"Kai, makan dulu. Itu Shasha sudah di ruang makan," ucap Adi pada kaisar.


"Ya, Di. Om, Tante, saya permisi dulu." Kaisar pamit pada Pak Lukman dan Ibu Sarah sebelum pergi ke ruang makan.


"Piringku mana?" Kaisar memegang kedua bahu Shasha dari belakang yang membuat calon istrinya itu terkejut.


"Astaghfirullah. Mas Kai, bikin kaget saja. Untung enggak lepas ini piring," omel Shasha.


Kaisar tersenyum. "Maaf, Sha. Aku kira kamu enggak bakal kaget."


"Ih pegang-pegang, masih belum halal," sindir Nisa yang ada di dekat mereka.


Seketika Kaisar melepaskan kedua tangannya dari bahu Shasha. Dia merasa malu dan tidak enak hati pada calon ibu mertua yang hanya tersenyum melihatnya. Sementara Rendra terlihat menatap tajam padanya.


"Penjagamu seram, Sha," bisik Kaisar pada sang calon istri.


"Salah sendiri, pegang-pegang," balas Shasha juga sambil berbisik.


"Mas Kai, mau makan sama apa?" tanya Shasha kemudian dengan nada normal.


"Sama semua, tapi sedikit-sedikit saja, Sha," jawab Kaisar. "Porsi nasi normal, jangan banyak-banyak."


Shasha menganggut sebagai jawaban. Dia lalu mengambilkan nasi, sayur dan lauk untuk calon suaminya itu.


"Ini, Mas. Mau minum sama apa?" Shasha memberikan piring yang sudah terisi penuh pada Kaisar.


"Air putih saja. Piringmu mana biar kubawa sekalian."


"Itu," Shasha menunjuk piring di pinggir meja makan yang sudah terisi nasi, sayur dan lauk.


Kaisar mengambil piring Shasha. Dia kemudian membawa kedua piring ke ruang tengah di mana mereka berkumpul.


Suasana buka bersama hari itu terjalin penuh keakraban seperti biasanya. Mereka saling bercerita tentang kegiatan masing-masing atau melontarkan candaan yang membuat mereka semua tertawa. Kebersamaan bersama keluarga di bulan suci sungguh sangat membahagiakan. Biasanya mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing hingga jarang bisa buka puasa bersama.


Bulan puasa berlalu seperti tahun-tahun sebelumnya. Mereka lebih meningkatkan ibadah dan sedekah di bulan suci ini. Saling berlomba-lomba berbuat kebaikan dan meraih pahala di bulan yang penuh berkah.


Pada pertengahan bulan puasa, Adi dan Adelia mengundang buka puasa bersama anak yatim, para tetangga dan juga jemaah masjid di rumah. Mereka meminta doa pada mereka karena akan pergi beribadah umrah di akhir bulan Ramadhan.


Begitu pula Pak Wijaya dan Ibu Hasna juga mengadakan acara buka bersama dan pengajian di rumah mereka, satu hari sebelum keberangkatan ke tanah suci. Seluruh keluarga berkumpul di kediaman Pak Wijaya, termasuk keluarga Pak Lukman dan Ibu Dewi. Keluarga Kaisar juga turut hadir di sana karena memang sudah kenal baik dengan keluarga Pak Wijaya sejak lama.


"Saya, istri, Adi dan menantu saya, insya Allah besok akan menjalankan ibadah umrah di tanah suci. Kami meminta maaf bila ada salah dan khilaf dalam ucapan atau sikap kami selama ini."


"Kami memohon doa, semoga perjalanan umrah kami lancar dan bisa kembali pulang ke rumah dalam keadaan sehat dan selamat. Kami juga mendoakan semoga yang ingin ke tanah suci bisa segera pergi ke sana. Aamiin," ucap Pak Wijaya saat memberikan sambutan di acara tersebut.


Di akhir acara, mereka saling bersalaman dan berpelukan dengan para tamu undangan, tentu saja yang sesama jenis kelamin, dan yang masih mahram. Bila bukan mahram, mereka hanya menangkupkan tangan di depan dada serta saling mendoakan kebaikan.


Keesokan harinya, Rendra, Dita dan Ale mengantar kepergian Pak Wijaya, Ibu Hasna, Adi dan Adelia ke bandara. Mereka berempat memakai seragam yang sudah ditentukan oleh pihak biro umrah. Ibu Hasna menggendong cucunya selama dalam perjalanan dari rumah sampai tiba di bandara.


"Mas, jaga ayah, bunda sama Mbak Adel ya," ucap Dita saat memeluk kakaknya tercinta.


"Insya Allah, Dek. Aku titip rumah. Jangan lupa doakan kami," balas Adi.


Dita tidak menyahut hanya mengangguk dalam pelukan Adi. Dia sudah tidak bisa menahan air matanya. Baru kali ini dia ditinggalkan oleh ketiga orang yang sangat dia cintai itu. Adi mengecup kening Dita sebelum mengurai pelukan mereka.


"Rend, titip adikku ya," ucap Adi pada adik iparnya itu.


"Iya, Mas." Mereka berdua lalu berpelukan.


"Jaga kesehatan ya, Mbak. Semoga doa-doa Mbak di sana, diijabah sama Allah." Dita berganti memeluk Adelia.


"Aamiin. Dek Dita juga jaga kesehatan, ingat ada Ale yang masih bergantung sama Dek Dita."


"Iya, Mbak." Dita kemudian mengurai pelukan mereka.


"Jaga diri dan kesehatan selama di sana, Del," ucap Rendra.


"Makasih, Rend. Kamu juga ya jaga diri dan kesehatan. Titip rumah," balas Adelia.


Rendra tersenyum lalu mengacungkan jempol pada Adelia.


"Ayah, jaga kesehatan di sana. Jangan pikirkan kami di sini, fokus ibadah," ucap Dita saat memeluk sang ayah.


"Iya, Dek. Didik Ale dengan baik, sesuai dengan ajaran agama. Jadilah istri dan ibu yang salehah. Ayah sayang Adek."


Dita menyengguk. Dia terisak-isak di pelukan sang ayah.


"Terus doakan kami, Yah. Aku juga sayang Ayah," ucap Dita dengan terbata-bata karena sambil menangis.

__ADS_1


Pak Wijaya mengecup lama kening putri bungsunya itu sebelum mengurai pelukan mereka.


Selanjutnya, Dita menghambur ke pelukan sang bunda. Untung saja Ale sudah digendong Adelia, jadi tidak terhimpit di antara mereka berdua.


Dita hanya memeluk sang bunda tanpa mengatakan apapun. Lidahnya terasa kelu. Hanya air mata yang terus mengalir keluar dari sudut matanya.


"Adek jaga diri, jaga kesehatan. Patuh sama suami. Didik Ale dengan ilmu agama. Jadi ibu dan istri yang salehah. Bunda bangga sama Adek. Bunda sayang Adek," ucap Ibu Hasna sambil mengusap punggung putrinya tersebut. Dia berusaha tegar dan menahan air matanya.


Dita mengangguk. "Bunda jaga kesehatan. Doakan kami dari sana. Aku juga sayang Bunda."


Cukup lama ibu dan anak itu saling berpelukan. Mereka memang sangat dekat sekali. Meski tinggal berjauhan, setiap hari mereka selalu berhubungan lewat telepon.


"Nak Rendra, ayah titip Dita dan Ale. Didik mereka sesuai dengan ajaran agama," pesan Pak Wijaya pada menantunya.


"Insya Allah, Yah." Rendra mencium punggung tangan Pak Wijaya lalu mereka saling berpelukan.


"Nak Rendra, bunda titip Dita dan Ale. Didik mereka dengan ilmu agama. Jadi suami saleh yang bisa melindungi keluarganya dari api neraka," pesan Ibu Hasna pada Rendra.


"Siap, insya Allah, Bun." Rendra pun mencium punggung tangan ibu mertuanya itu lalu memeluknya sebentar.


Tak lama kemudian pihak biro umrah meminta semua jemaah untuk berkumpul karena mereka akan bersama-sama check in.


Dita mengambil alih menggendong Ale dari Adelia. Sebelum masuk untuk check-in, sekali lagi mereka saling bersalaman dan berpelukan, kecuali Rendra dan Adelia.


Mereka saling melambaikan tangan saat jarak mulai memisahkan. Dita menunggu sampai dia sudah tidak bisa melihat sosok ayah, bunda, Adi dan Adelia.


"Pulang yuk, Sayang," ajak Rendra pada istrinya. Dia dari tadi memeluk pinggang Dita untuk memberi kekuatan dan dukungan pada istrinya. Kalau biasanya mereka yang pergi jauh, kini mereka yang ditinggalkan untuk pergi jauh.


"Biar Ale, aku yang gendong. Sayang, pasti capai." Rendra mengambil Ale dari gendongan Dita. Tanpa disangka Ale justru menangis.


"Aku saja yang gendong, Mas. Mungkin Ale juga sedih ditinggal yangti-nya."


Rendra menyerahkan Ale kembali pada istrinya. Setelah itu Ale pun diam, tak menangis lagi. Dia memiringkan kepala ke dada ibunya, seolah menemukan kenyamanan di sana.


Rendra kemudian merangkul bahu Dita. Mereka berjalan menuju ke parkiran mobil. Banyak pasang mata yang tadi melihat kemesraan mereka, ada yang iri dan ada yang mencibir, tapi mereka tak memedulikan hal tersebut.


"Kita nanti mau langsung pulang atau menginap dulu di sini?" tanya Rendra setelah mereka dalam perjalanan pulang ke kediaman Pak Wijaya.


"Kita menginap sehari di sini enggak apa-apa kan, Mas? Sekalian besok titip rumah ke Mbok Darmi," jawab Dita.


"Iya, tidak apa-apa. Tadi juga ada yang belum diberesi kan di rumah ayah."


"Iya, Mas. Ale juga betah di sini meski agak panas."


Tiba di rumah Pak Wijaya, Rendra memarkir mobil Adi di samping rumah seperti biasa. Dia kemudian membantu istrinya turun dari mobil. Mereka lalu masuk ke dalam rumah.


Dita membaringkan Ale di kasur kecil yang diletakkan di karpet ruang tengah. Dengan telaten dia mengganti baju putranya itu dengan baju pendek dan tipis agar Ale tidak kepanasan. Setelah berganti baju, Ale terlihat lebih ceria karena tidak merasa gerah lagi.


Dita memberikan mainan di tangan Ale, agar putranya itu bisa bermain sendiri, sementara dia bisa melakukan hal lainnya. Rendra yang sudah berganti baju rumah, mulai membereskan sisa-sisa peralatan yang dipakai untuk acara pengajian kemarin.


Setelah selesai beres-beres dan membersihkan diri, Rendra tiduran di samping Ale yang masih asyik main sendiri. Ale baru senang tengkurap dan mengangkat kepala. Dia akan tertawa-tawa sendiri sambil memegang mainannya. Kalau sudah capai, biasanya dia akan meletakkan kepala di bantal.


Assalamu'alaikum.


Dita membuka pintu depan. Dia terkejut saat melihat sosok pria yang ada di depan pintu.


"Assalamu'alaikum. Hai, Dita. Pak Wijaya ada?" tanya pria itu.


"Wa'alaikumussalam. Ayah tadi sudah berangkat umrah. Apa Mas Reza tidak tahu?" jawab Dita yang terus bertanya balik.


"Aku tahu. Cuma aku pikir berangkatnya sore atau malam," jawab Reza.


"Tadi pagi kok berangkatnya. Mas Reza, ada perlu apa sama ayah nanti aku sampaikan?"


"Ini mau minta tanda tangan untuk proposal sumbangan lomba takbir keliling sama syawalan," jelas Reza.


"Minta tanda tangan sama wakil takmir saja, Mas. Kalau sama ayah kan tidak mungkin. Lagian kok mepet waktunya, Mas."


"Iya. Karena baru kemarin dapat pengumuman kalau ada lomba takbir keliling di kecamatan, jadi aku baru buat proposalnya tadi."


"Oalah. Masih sering ikut lomba ya masjid sini?"


"Iya, Dit. Biar pemudanya juga ada kegiatan, tidak hanya tidur atau melakukan hal yang tidak jelas selama puasa."


"Benar juga. Semoga bisa menang lomba takbir kelilingnya ya, Mas."


"Makasih, Dit. Omong-omong, kapan kamu pulang ke sini?"


"Dua hari yang lalu. Sehari sebelum pengajian. Memangnya Mas Reza kemarin enggak datang?"


"Datang, cuma sebentar karena aku ada acara lain. Oh ya, gimana kabarmu?"


"Alhamdulillah baik. Mas Reza gimana?"


"Aku juga baik. Apalagi setelah ketemu kamu, makin baik."


"Eh, kok gitu," celetuk Dita yang menjadi canggung.


"Sayang, siapa tamunya kok enggak diajak masuk?" Rendra keluar ke ruang tamu, menghampiri istrinya yang berdiri di depan pintu sambil mengobrol dengan seseorang.


Wajah Reza berubah masam saat mendengar suara Rendra.


"Ini Mas Reza cari ayah mau minta tanda tangan proposal, Mas," terang Dita yang langsung memegang erat lengan suaminya.


"Memangnya tidak tahu ayah sudah berangkat umrah," sinis Rendra.


"Mas Reza mengira ayah berangkatnya malam, Mas," jelas Dita.


"Sudah tahu ayah tidak ada, kenapa masih di sini?" Rendra menatap tajam Reza. Mungkin kalau ada laser di matanya, tubuh Reza sudah hancur karena tatapan Rendra.


"Aku yang tanya isi proposalnya, Mas." Dita mengelus lengan Rendra, agar suaminya lebih bisa menahan diri. Apalagi sedang menjalankan puasa, dia tidak mau suaminya hanya mendapat lapar dan haus tanpa mendapat pahala karena tidak bisa menahan emosinya.


"Memangnya proposal apa?" tanya Rendra dengan kening mengerut.

__ADS_1


"Sumbangan untuk lomba takbir keliling dan syawalan. Mungkin pengusaha dari kota mau ikut menyumbang?" sahut Reza.


"Coba aku lihat proposalnya," kata Rendra.


Reza lalu menyerahkan proposal pada Rendra.


"Mas, lebih baik duduk baca proposalnya," usul Dita.


"Mas Reza silakan duduk dulu sambil menunggu Mas Rendra baca proposal." Dita mempersilakan Reza duduk di kursi teras.


Akhirnya kedua pria itu duduk berhadapan di teras. Rendra fokus membaca proposal yang dibawa Reza, sementara Reza mengamati Rendra sambil sesekali melirik Dita.


Samar-samar terdengar suara tangisan dari dalam.


"Ale bangun. Aku ke dalam dulu, Mas." Dita meninggalkan mereka berdua. Dia menghampiri Ale yang ada di ruang tengah sendirian.


"Cup cup, jangan nangis lagi. Ale sendirian ya tadi. Yuk, ikut bubu ke depan." Dita menggendong Ale yang berlinang air mata. Di kening Ale juga penuh keringat, karena kegerahan.


"Gerah ya, Nak, di sini. Besok minta yangkung pasang AC ya biar Ale enggak kepanasan." Dita mengajak Ale bicara agar putranya itu kembali ceria.


"Ba, ba," ucap Ale.


"Baba di depan. Kita ke depan ya." Dita membawa Ale ke teras.


"Itu lihat ada Baba sama Pakde Reza," ucap Dita begitu melihat kedua pria yang saling diam. Dia lalu duduk di samping Rendra. Ale yang digendong dalam posisi duduk ingin meraih kertas yang dipegang Rendra.


"No. Tidak boleh. Ini bukan mainannya Ale," kata Rendra sembari menyingkirkan proposal dari dekat Ale. Dia mengembalikan proposal pada Reza. "Aku akan menyumbang atas nama keluarga ayah."


"Oh, oke," kata Reza.


"Aku tidak banyak bawa cash. Bisa transfer?" tanya Rendra pada Reza.


"Bisa, pakai rekeningku dahulu."


"Oke, ini amanah. Aku harap kamu tidak menyalahgunakannya," ujar Rendra sembari menatap Reza.


"Insya Allah, aku tidak pernah sepeserpun mengambil uang sumbangan untuk kepentingan pribadi. Semua dana yang masuk dan keluar pasti ada laporan pertanggungjawaban. Kamu tulis saja di daftar donatur, di lembar paling belakang biar tercatat," kata Reza.


"Memangnya mau nyumbang berapa, Mas? Aku ada cash kalau 300ribu," sela Dita.


"Itu buat pegangan Sayang saja. Cash-ku juga cuma cukup buat beli bbm nanti. Transfer saja tidak apa-apa. Aku ambil ponselku dahulu." Rendra beranjak dari duduknya untuk mengambil gawai di dalam.


"Berapa bulan umurnya, Dit?" tanya Reza sembari melihat Ale yang duduk di atas pangkuan Dita.


"Empat bulan jalan lima bulan, Mas," jawab Dita.


"Anakmu ganteng, Dit," puji Reza yang dari tadi melihat polah tingkah Ale.


"Cowok ya ganteng dong, Mas. Kalau cewek cantik. Kloningannya Mas Rendra ini," kata Dita sambil tertawa kecil.


Reza tersenyum samar. "Iya, mirip banget sama bapaknya."


"Itu bukti nyata kalau dia itu anakku," seru Rendra yang keluar dari ruang tamu.


Reza tersenyum kecut mendengar ucapan Rendra, yang di telinganya terdengar seperti sedang mengejeknya karena tidak bisa memiliki Dita.


"Berapa nomor rekeningnya?" tanya Rendra setelah duduk kembali di samping Dita.


Reza kemudian menyebutkan nomor rekeningnya.


Tak sampai satu menit, Rendra sudah berhasil melakukan transfer.


"Sudah masuk ya transfernya. Mau dikirim bukti transfernya?"


"Boleh, bisa dikirim via bluetooth." Reza mengambil gawai dan mengaktifkan bluetooth.


Rendra juga mengaktifkan bluetooth di gawainya. Dia lalu mengirimkan bukti transfer ke gawai Reza setelah bluetooth tersambung.


Reza terkesiap melihat nominal yang Rendra transfer. Sumbangan terbesar yang pernah diterima. Biasanya jemaah hanya menyumbang mulai dari nominal 20ribu sampai 100 atau 200ribu saja per orang. Namun, Rendra menyumbang sampai nominal 7 digit.


"I-ni besar sekali. Tidak salah kan?" tanya Reza memastikan.


Rendra menggeleng. "Tidak. Memang benar sejumlah itu."


"Terima kasih banyak. Semoga Allah melipatgandakan pahala dan rezeki keluarga Pak Wijaya."


"Aamiin."


"Kalau begitu, aku pamit dahulu," ucap Reza.


Rendra menyengguk. "Tolong dimanfaatkan dengan baik."


"Baik. Sekali lagi terima kasih." Reza mengajak Rendra bersalaman. Mereka berdua pun akhirnya bersalaman untuk pertama kalinya meski sudah beberapa kali bertemu.


"Assalamu'alaikum," salam Reza sebelum beranjak dari teras.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabakatuh."


"Baba keren ya, Nak," puji Dita sembari melirik suaminya yang bersikap sok cool.


"Ba, ba," celoteh Ale sambil menggerakkan tangannya.


"Suami dan babanya siapa dulu dong." Sikap narsistik Rendra mulai keluar.


Dita seperti biasa hanya tertawa menanggapi suaminya.


...---oOo---...


Jogja, 121221 23.45


Siapa yang hari ini berburu diskon 12.12 🤭🤭🤭


Oh ya, seandainya saya membuat kisah KaiSha (Kaisar dan Shasha), judul yang bagus kira-kira apa ya? Ada yang mau usul?

__ADS_1


__ADS_2