
Pagi ini usai salat Subuh berjemaah di Masjid Nabawi, Rendra dan rombongan kembali ke hotel. Sebelum check out, mereka diminta untuk mandi sunah ihram dan mengenakan kain ihram sebagai pakaian untuk menjalankan prosesi ibadah umrah. Dari hotel, rombongan mereka berangkat menuju ke Makkah.
Mereka singgah terlebih dahulu di Masjid Bir Ali yang terletak 11 km dari Masjid Nabawi untuk ber-miqat. Miqat adalah tempat atau waktu yang ditetapkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai pintu masuk untuk memulai haji atau umrah. Setelah miqat, jemaah menuju Baitullah dan mulai berlaku larangan saat berpakaian ihram. Bir Ali menjadi tempat miqat bagi para jemaah yang memulai perjalanannya dari Madinah.
(Masjid Bir Ali)
Setiba di masjid, mereka melaksanakan salat tahiyatul masjid sebanyak 2 rakaat, salat sunah ihram, baru kemudian berniat ihram. Setelah miqat dan mengucapkan niat, maka berlaku larangan-larangan saat berihram (1).
Rendra dan rombongan membaca talbiyah selama dalam perjalanan dari miqat menuju Masjidil Haram.
"Labbaik Allahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik, innal hamda wan ni'mata laka wal mulk laa syariika laka labbaik."
(Artinya : "Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu ya Allah dan tiada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, serta kekuasaaan hanya bagi-Mu tanpa sekutu apa pun bagi-Mu.")
Sesampai di Makkah mereka menuju ke hotel dulu untuk check in dan memasukkan barang bawaan mereka ke kamar. Setelah itu mereka berkumpul lagi di lobi hotel untuk persiapan tawaf, sai umrah dan tahalul.
Rendra dan rombongan berjalan kaki dari hotel menuju ke Masjidil Haram, karena hotel mereka hanya berjarak beberapa ratus meter dari Masjidil Haram. Saat mereka tiba di sana dan melihat Ka'bah di depan mata, ada perasaan haru dan bahagia menyeruak di dada.
(Masjidil Haram)
Mereka kemudian melakukan tawaf, yaitu berjalan mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali dengan arah yang berlawanan dengan jarum jam atau Ka'bah berada di sebelah kiri kita, sambil berdoa.
Mereka tawaf dengan berjalan beriringan dan berdekatan. Alhamdulillah Dita mampu berjalan mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali. Dia dan Rendra bahkan bisa mencium Hajar Aswad. Usai tawaf, mereka melaksanakan salat sunat tawaf di belakang Maqam Ibrahim (batu tempat Ibrahim berpijak saat membangun Ka'bah).
Selanjutnya mereka melakukan sai, yaitu berjalan dan berlari-lari kecil secara bolak-balik tujuh kali dari Safa ke Marwa. Mereka menuju ke Bukit Safa untuk memulai sai sambil berzikir dan berdoa.
Perjalanan dari Safa ke Marwa dihitung satu kali perjalanan. Sebaliknya, perjalanan dari Marwa ke Safa juga dihitung sebagai satu kali perjalanan. Dan, hitungan ke-tujuh berakhir di Marwa.
Dita hanya mampu berjalan dua kali perjalanan karena dia sudah kelelahan setelah tawaf tadi. Rendra dengan setia mendorong kursi roda Dita sampai proses sai selesai. Mereka lalu berdoa di Marwa dan tidak melakukan salat sunah setelah sai.
Sesudah sai, mereka mencukur atau memotong rambut yang disebut dengan tahalul. Rendra tidak memotong habis rambutnya, hanya dipendekkan saja karena besok lusa mereka akan umrah lagi yang kedua sebelum meninggalkan Makkah. Selesainya sai yang diakhiri dengan tahalul menandai terpenuhinya pelaksanaan rukun umrah (2).
Usai tahalul, mereka kembali ke hotel untuk beristirahat.
"Dita, nanti istirahat saja di kamar, tidak usah salat di masjid. Kamu pasti capai kan," kata Ibu Dewi saat mereka dalam perjalanan pulang ke hotel.
"Iya, Ma. Rencananya juga begitu. Kalau yang lain mau ke masjid, aku enggak apa-apa ditinggal sendiri. Maaf Ma, aku jadi beban dan merepotkan semuanya." Dita menunduk di atas kursi roda yang didorong suaminya.
"Tidak ada yang merasa direpotkan, Dita. Kita ini satu keluarga sudah selayaknya saling membantu dan mengerti. Jangan pernah berkata seperti itu lagi ya," tutur Ibu Dewi.
"Iya, Ma." Dita mendongak, tersenyum dan menoleh pada mertuanya.
"Mama sangat bahagia kita bisa pergi bersama dalam jangka waktu yang lama seperti sekarang. Biasanya kalian kan sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Jadi, di sini kita harus menikmati kebersamaan ini, meski Dita terbatas untuk beraktivitas, kita bisa terus bersama saat di hotel," lanjut Ibu Dewi.
"Betul, apa yang dikatakan mama, Sayang. Jangan bilang begitu lagi ya, nanti Ale dan aku jadi sedih," kata Rendra pada istrinya. "Sudah jadi kewajibanku untuk menjaga kalian."
"Iya, Mas. Maaf ya." Dita mendongak, memandang suaminya yang tetap terlihat ceria meski sudah mendorong kursi rodanya dari saat sai tadi. Rendra sama sekali tidak mau digantikan oleh mamanya, Shasha atau pun Nisa.
"Mbak Dita, ingin makan apa? Nanti aku belikan sama Kak Shasha," tanya Nisa saat mereka sudah masuk ke hotel. Mereka sedang menunggu pintu lift yang akan membawa mereka naik ke lantai atas di mana kamar mereka berada.
"Mas, aku boleh makan kebab?" Dita meminta izin pada suaminya.
"Boleh, Sayang. Mau berapa?" tanya Rendra.
"Dua, boleh?"
"Boleh." Rendra tersenyum sambil mengelus kepala istrinya.
"Siap, Mbak. Nanti aku kabari ya ada apa saja di sana variannya," kata Nisa.
"Makasih ya, Nis."
"Sama-sama, Mbak."
Hari berikutnya, mereka bebas melakukan apa saja. Tentu saja mereka banyak melakukan ibadah di Masjidil Haram, terutama menunaikan salat lima waktu dan salat sunah di sana. Mereka juga berburu kuliner khas saat senggang.
Di hari ke-tiga mereka di Makkah, bakda Subuh, mereka melakukan ziarah di Kota Makkah. Tujuan pertama mereka mengunjungi Jabal Tsur (Gunung Tsur). Di puncak gunung Tsur ini terdapat Gua Tsur yang sangat bersejarah dalam Islam. Di dalam gua ini, Rasulullah Muhammad SAW bersama sahabatnya Abu Bakar bersembunyi dari kejaran orang Quraisy yang bermaksud membunuhnya.
__ADS_1
Saat mereka bersembunyi di Gua Tsur, dengan mukjizat dari Allah, di depan gua tersebut tiba-tiba ada sarang laba-laba tebal yang menutupi mulut gua sehingga Rasulullah dan sahabatnya tidak tampak dari luar. Dan seekor merpati yang membuat sarang di depan gua dan memberi kesan tidak mungkin ada orang berada di dalam gua tersebut. Atas kehendak Allah SWT, setelah tiga malam bersembunyi di dalam gua, Rasulullah dan Abu Bakar bisa selamat dari kejaran orang Quraisy. Mereka kemudian bisa melanjutkan perjalanan ke Kota Madinah.
(Jabal Tsur)
Karena kemiringan gunung ini sekitar 45 atau 50 derajat dan jalur menuju puncak tidak mudah untuk didaki, akhirnya mereka hanya memandanginya dari bawah.
Tujuan mereka selanjutnya yaitu Jabal Rahmah di Padang Arafah. Sesuai dengan namanya, tempat ini dikenal sebagai bukit atau gunung kasih sayang. Di bukit inilah, nenek moyang manusia, Adam dan Hawa, bertemu setelah diturunkan ke dunia. Mereka diusir dari surga karena telah melanggar ketentuan Allah, yaitu memakan buah khuldi akibat terperdaya bujuk rayu iblis.
Di Jabal Rahmah ini, Nabi Muhammad SAW juga menerima wahyu terakhir. Yaitu, pada saat beliau wukuf, menunaikan Haji Wada, atau ibadah haji terakhir. Para jemaah banyak yang berdoa di sini untuk keharmonisan rumah tangga mereka. Bahkan ada juga yang menuliskan nama mereka dan pasangannya di sana.
(Jabal Rahmah)
Setelah itu mereka menuju ke Muzdalifah. Usai melaksanakan wukuf di Padang Arafah, para jemaah haji akan bergerak ke Muzdalifah dan Mina. Di Muzdalifah ini tempat para jemaah haji bermalam atau mabit sampai fajar tiba. Mereka melaksanakan salat Maghrib dan Isya secara jamak dan qashar. Di sini juga jemaah haji mengumpulkan batu kerikil yang akan digunakan untuk melempar jamrah.
Selanjutnya mereka pergi ke Mina, melihat tempat untuk melempar jamrah. Ada tiga tempat untuk melempar jamrah yaitu jamrah Ula, Wustha, dan Aqabah. Melempar jamrah adalah simbol perlawanan terhadap setan karena mereka selalu berupaya untuk menyesatkan manusia dari jalan kebenaran dan menjauhkan dari jalan Allah SWT.
Sesudah itu mereka pergi ke Jabal Nur. Di Jabal Nur atau Gunung Cahaya ini, terdapat Gua Hira, yaitu tempat Nabi Muhammad SAW pertama kali mendapatkan wahyu. Medan menuju ke Gua Hira ini juga sulit jadi mereka tidak mendakinya, hanya melihat dari bawah.
Tujuan terakhir yaitu ke Masjid Ja’ronah untuk mengambil miqat umrah kedua mereka. Masjid ini memang salah satu tempat yang ditunjuk oleh Rasulullah sebagai lokasi batas, di mana seorang muslim harus mengenakan ihram dan mulai berniat sebelum umrah atau haji. Masjid ini ramai dikunjungi para jemaah yang telah berada di Makkah, atau penduduk Makkah sendiri. Jadi, mereka tidak perlu jauh-jauh ke Madinah untuk mengambil miqat.
Di belakang Masjid Ja'ronah ini ada sebuah sumur yang bisa menyembuhkan penyakit. Sumur yang awalnya beracun itu, berubah menjadi netral, bahkan bisa untuk pengobatan lewat mukjizat Rasulullah. Tetapi kini sumur itu telah ditutup oleh pemerintah Arab Saudi untuk mencegah syirik, atau perbuatan menyekutukan Allah.
(Masjid Ja'ronah)
Dari Masjid Ja'ronah ini, mereka kembali ke Masjidil Haram untuk tawaf. Kemudian sai di Safa dan Marwah. Terakhir mereka tahalul. Rendra memotong cepak rambutnya ala tentara di umrah kedua ini.
Usai umrah kedua, mereka kembali ke hotel untuk beristirahat. Di umrah kedua ini, Dita menjalankan sai dengan kursi roda, karena dia sudah kecapaian setelah sebelumnya berkeliling ziarah dan tawaf.
"Mas, kakiku bengkak banget," keluh Dita saat mereka sampai di kamar. Dia tidak mau mengeluh di depan mertua dan yang lainnya karena tidak enak hati.
"Bubu, istirahat ya, baring di tempat tidur. Nanti aku pijitin." Rendra mengangkat tubuh istrinya, digendong ke atas ranjang.
"Siapa bilang, aku capai. I'm fine. I'm okay, Sayang." Rendra mendudukkan Dita di atas ranjang.
"Kakinya selonjor, jangan ditekuk. Ganti baju dulu ya, biar nyaman."
"Iya, Mas. Makasih." Dita memandang penuh cinta suaminya yang sedang mengambilkan baju ganti untuknya, sekaligus Rendra melepas kain ihram yang menutupi badannya. Rendra memakai baju gantinya dahulu sebelum mengganti baju Dita.
"Mas, aku bisa loh ganti baju sendiri. Aku kan enggak perlu berjalan dan berdiri lama," kata Dita pada suaminya.
"Sudah, Bubu diam saja, jangan mengeluarkan banyak tenaga," perintah Rendra seraya melepaskan gamis yang Dita pakai untuk ihram lalu menggantinya dengan daster batik panjang yang lebih nyaman untuk dipakai tidur.
"Perutnya enggak merasa tegang kan, Sayang?" Rendra mengelus perut istrinya.
"Alhamdulillah, sudah enggak lagi. Tadi habis tawaf aja agak tegang. Alhamdulillah, Ale bisa diajak kerja sama, meski aku tetap harus pakai kursi roda." Dita menggenggam tangan Rendra yang berada di atas perutnya yang sudah sedikit membuncit.
"Makasih, Baba Sayang, sudah menjaga Bubu dan Ale." Dita tersenyum manis pada suaminya.
"Ayo, Nak, ucapkan terima kasih sama Baba."
Janin yang ada di dalam kandungan Dita merespon ucapannya dengan bergerak-gerak.
"Ale bergerak, Sayang. Hai Nak, ini Baba. Terima kasih sudah membantu Bubu menjalani ibadah umrah. Ale anak yang saleh. Love you, Ale." Rendra berbicara di depan perut Dita yang diakhiri dengan mencium perut istrinya.
"I love you, Bubu Sayang." Rendra bangkit lalu mencium kening wanita yang sangat dia cintai itu.
"I love you too, Baba Sayang."
Rendra tersenyum. Dia kembali duduk di samping kaki istrinya.
"Mau duduk atau rebahan ini dipijitnya?" tanya Rendra.
"Rebahan saja, Mas. Biar aku bisa langsung tidur. Capai dan agak lemas badanku. Nanti kalau aku ketiduran dan Mas mau ke Masjid, langsung pergi saja ya tidak perlu pamit sama aku. Kasih catatan saja di meja atau kirim pesan," kata Dita.
"Iya, Sayang. Mau ke kamar mandi dulu enggak sebelum tidur?"
__ADS_1
"Iya, Mas."
Rendra kembali menggendong Dita, kali ini membawanya ke kamar mandi. Setelah itu Dita berbaring sambil dipijit suaminya sampai tertidur pulas.
Setelah istrinya tertidur, Rendra ikut membaringkan tubuhnya di samping Dita. Dia akan tidur sebentar sebelum nanti pergi ke Masjidil Haram untuk salat di sana.
...---oOo---...
Jogja, 270821 01.15
Semoga tidak bosan ya membaca narasi yang panjang x lebar x tinggi✌️✌️✌️
Insya Allah satu bab lagi ya perjalanan keluarga Ibu Dewi.
Oh ya, seandainya nih, saya buat grup WhatsApp, apa ada yang berminat bergabung? 👉👈
Catatan:
(1) Larangan saat berihram/umrah
Larangan bagi jemaah laki-Laki:
- Memakai pakaian biasa (seperti pakaian dalam, celana atau baju)
- Memakai kaus kaki atau sepatu yang menutupi mata kaki dan tumit
- Menutup kepala dengan topi atau peci, sorban
Larangan Bagi Jemaah Perempuan:
- Menutup kedua telapak tangan dengan kaus tangan
- Menutup muka dengan cadar
Larangan saat berihram yang berlaku bagi seluruh jemaah, baik laki-laki maupun perempuan:
- Memakai wangi-wangian kecuali yang sudah dipakai di badan sebelum niat umrah
- Memotong kuku dan mencukur atau mencabut rambut dan bulu badan
- Memburu dan menganiaya/membunuh binatang dengan cara apa pun, kecuali binatang yang membahayakan mereka
- Memotong kayu-kayuan dan mencabut rumput
- Menikah, menikahkan atau meminang perempuan untuk dinikahi
- Melakukan hubungan suami istri, termasuk bercum bu dan hal lainnya yang bersifat menimbulkan syah wat di antara keduanya.
(2) Rukun Umrah :
1. Niat/Ihram
Orang yang akan melakukan ibadah umroh menggunakan pakaian ihram (tanpa jahitan bagi laki-laki) dan melafalkan niat dari miqat (titik awal memulai ibadah umrah).
2. Tawaf
Tawaf yaitu mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Titik awal tawaf dimulai dari Hajar Aswad yang berada di satu sudut Ka'bah dan dianjurkan untuk mengusap Hajar Aswad saat melewatinya. Bila tidak memungkinkan untuk mengusap Hajar Aswad, jemaah diperbolehkan dengan hanya memberi isyarat berupa lambaian tangan ke arah Hajar Aswad.
3. Sai
Sai adalah berlari-lari kecil dari Safa ke Marwah sebanyak tujuh kali. Tidak ada doa yang wajib dibacakan, sehingga dalam melakukan sai diperbolehkan untuk memanjatkan doa yang diinginkan.
Rangkaian ibadah sai ini berasal dari kisah Siti Hajar ketika mencarikan minum bagi Ismail saat masih kecil. Istri Nabi Ibrahim itu berlari bolak-balik mencari air dari sumber mata air yang kini dikenal dengan mata air zam-zam.
4. Tahalul
Tahalul bermakna melepaskan diri dari larangan ihram seperti mencukur rambut atau menggunting rambut paling sedikit tiga helai rambut. Tahalul ini dilakukan di luar Masjidil Haram dekat Bukit Marwah. Setelah melakukan tahalul, jemaah bebas dari larangan ketika menunaikan ibadah umrah.
5. Tertib
Tertib memiliki maksud bahwa para jemaah umrah harus melaksanakan segala rukun umrah satu per satu atau sesuai urutan dan aturan yang ditetapkan. Jadi saat melaksanakan umrah tidak boleh melewatkan atau melompati rangkaian ibadah umrah. Bila salah satu rukunnya ditinggalkan secara sengaja atau tidak sengaja akan membuat ibadah umrah tidak sah.
__ADS_1