Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Sensitif


__ADS_3

"Assalamu'alaikum," salam Adelia begitu pintu rumah dibuka sama Mbok Sum.


"Wa'alaikumussalam, woalah Mbak Adel," sambut Mbok Sum dengan wajah sumringah.


"Apa kabar, Mbok? Aku kangen." Adelia memeluk asisten rumah tangga yang sudah bersama keluarga mereka sejak dia masih kecil itu.


"Mbok juga kangen, Mbak." Mereka saling memeluk.


"Siapa tamunya, Mbok?" Ibu Sarah masuk ke ruang tamu. Dia terkejut mendapati putrinya sedang memeluk Mbok Darmi.


Begitu mendengar suara sang mama, Adelia mengurai pelukannya dengan Mbok Darmi. Dia lalu mencium punggung tangan Ibu Sarah dan memeluknya.


"Mbak, mau pulang kok enggak bilang-bilang sama mama," protes Ibu Sarah pada putri sulungnya itu.


"Memangnya aku enggak boleh pulang setiap saat aku mau ya, Ma?"


"Ya, boleh banget. Mau setiap hari juga boleh. Kalau Mbak bilang kan bisa mama siapkan makanan yang lebih spesial dari biasanya," ujar Ibu Sarah.


"Mas Adi mana, Mbak?" tanya Ibu Sarah setelah mengurai pelukan dengan putrinya.


"Masih parkir mobil, Ma. Tadi aku minta turun dulu," jawab Adelia sambil meringis.


Tak lama Adi pun menunjukkan batang hidungnya. "Assalamu'alaikum," salamnya begitu di depan pintu.


"Wa'alaikumussalam."


Adi masuk ke dalam rumah, kemudian menyalami dan mencium punggung tangan ibu mertuanya. "Sehat, Ma?"


"Alhamdulillah sehat. Ayah dan bunda gimana kabarnya, Mas?"


"Alhamdulillah ayah dan bunda juga sehat, Ma."


"Ayo masuk, Mas. Kami baru makan tadi. Kalian belum makan kan?"


"Belum, Ma. Saya makannya nanti saja, tanggung sudah mau Isya. Adel mungkin mau makan dulu."


"Aku makannya nanti sama Mas Adi saja," sahut Adelia seraya memeluk lengan sang suami


"Ya, sudah kalau begitu. Mama lanjutkan makan dahulu. Kalian mau ke kamar kan?" Ibu Sarah memandang anak dan menantunya itu bergantian.


"Enggak, Ma. Aku ikut duduk di ruang makan saja. Ya kan, Mas?" Adelia menoleh pada suaminya.


"Iya, Ma. Ada yang mau kami sampaikan sama semuanya," ujar Adi pada Ibu Sarah.


Ibu Sarah mengangguk. Dia berjalan ke ruang makan diikuti Adi dan Adelia yang terus menempel pada suaminya sejak tadi.


Setelah menyapa papa dan Arsenio, mereka berdua duduk bersisian di kursi yang kosong.


"Tadi katanya ada yang mau disampaikan, Mas." Ibu Sarah mengingatkan sang menantu.


"Kami baru saja pulang dari dokter kandungan, Ma. Alhamdulillah, Adel positif hamil." Adi menggenggam erat tangan istrinya.


"Alhamdulillah. Mama senang sekali mau punya cucu. Iya kan, Pa?" Ibu Sarah menoleh pada suaminya.


"Iya, Ma. Alhamdulillah, papa bisa pamer sama teman-teman sekarang kalau mau punya cucu," timpal Pak Lukman dengan senyum lebar.


"Pantas tidak mau naik ke kamar, ternyata Mbak sedang hamil. Kalau mau tidur nanti di kamar tamu bawah saja, Mbak," ujar Ibu Sarah.


"Aku enggak nginep kok, Ma. Ke sini mau ngabarin kalau aku hamil dan ketemu semuanya," sahut Adelia.


"Mama kira kalian mau menginap di sini." Ibu Sarah tampak sedikit kecewa.


"Maaf, Ma. Insya Allah lain hari. Tadi saya juga sudah menawari Adelia menginap, tapi tidak mau karena saya besok masuk kerja." Adi coba menghibur ibu mertuanya.


"Iya. Enggak apa-apa, Mas. Mama bisa mengerti kok." Ibu Sarah tersenyum pada menantunya.


"Mbak Adel nyidam enggak, Mas?" celetuk Arsenio.


"Entah bisa dibilang nyidam atau enggak, tapi dia sekarang suka makan yang manis-manis," sahut Adi.


"Wah, berarti memang nyidam itu. Biasanya Mbak Adel kan paling anti makan yang manis-manis," seru Arsenio.


"Jangan terlalu banyak makan yang manis-manis loh, Mbak." Ibu Sarah ikut menimpali.


"Iya, Ma. Tadi sama dokter Lita juga sudah dikasih tahu risiko kalau terlalu banyak makan manis. Tapi, aku juga enggak setiap saat makan yang manis, cuma kalau pas pingin aja, Ma," balas Adelia.


"Bagus kalau dokter sudah memberi tahu risikonya, jadi Mbak bisa mengendalikan diri."


"Mama nih ngomongnya kaya aku tidak bisa mengendalikan diri saja." Adelia menjadi cemberut.


"Sudah mulai ini sensitifnya. Yang sabar ya Mas menghadapi ibu hamil. Stok sabarnya harus luber-luber," seloroh Ibu Sarah.


"Iya, Ma. Sudah pengalaman dengan Dita kemarin," ujar Adi sambil tersenyum.


"Tapi, pasti tetap beda. Mas Adi kan tidak menghadapi Dita setiap hari. Kalau sekarang Mas menghadapi Mbak setiap hari."


"Mama, kenapa sih? Kok kaya aku biang onar aja." Adelia semakin cemberut.


Ibu Sarah tertawa kecil. "Siapa yang bilang Mbak biang onar? Mama kan cuma bilang kalau Mbak jadi lebih sensitif jadi Mas Adi harus lebih bersabar."


"Sudah azan Isya, saya ke masjid dulu, Ma, Pa," pamit Adi menyela pembicaraan.


"Aku ikut ke masjid, Mas," rengek Adelia.


"Mau salat Isya di masjid?" tanya Adi pada istrinya.


Adelia mengangguk.


"Mbak Adel, sudah bucin. Masa ke masjid saja ikut," ledek Arsenio.


"Biarin. Suka-suka aku," balas Adelia sengit.


"Dek, jangan godain Mbak, kasihan Mas Adi nanti." Ibu Sarah menegur putra bungsunya.


"Ya, udah. Kita bawa mobil kalau begitu. Mukenanya ada di mobil kan, Ai?"


"Iya, di mobil. Bawa motor saja, Mas. Dekat juga masjidnya," kata Adelia.


"Arsen, aku pinjam motornya," kata Adi.


"Kuncinya di tempat biasa, Mas," sahut Arsenio.


"Oke." Adi kemudian mengambil kunci motor dan mengajak istrinya pergi ke masjid.


"Papa sama Adek enggak ke masjid?" tanya Ibu Sarah pada suami dan anaknya.


"Iya, Ma," sahut mereka berdua dengan kompak. Setelah itu mereka bangkit dari kursi untuk bersiap ke masjid.

__ADS_1


"Bu, nanti Mbak jadi makan di sini?" tanya Mbok Darmi sambil mengambil piring yang kotor.


"Katanya tadi sih gitu, Mbok. Disiapkan saja, kalau Mbak tidak mau juga tidak apa-apa," jawab Ibu Sarah dengan bijak.


"Mbak apa benar hamil, Bu?" Mbok Darmi memastikan. Tadi samar-samar dia mendengar percakapan mereka.


"Alhamdulillah iya, Mbok. Doakan ya biar lancar dan sehat sampai melahirkan."


"Alhamdulillah, mbok ikut senang, Bu. Pasti mbok doakan mbak."


"Makasih, Mbok. Aku mau salat Isya dulu. Nanti setelah cuci piring, Mbok istirahat saja."


"Iya, Bu." Mbok Darmi membawa gelas dan piring yang kotor ke dapur untuk dicuci.


"Mas, aku mau makan di hot plate yang dulu kita pergi sama Rendra dan Dek Dita," pinta Adelia saat mereka dalam perjalanan pulang dari masjid.


"Lho, enggak jadi makan di rumah papa?"


"Enggak. Aku maunya makan di sana."


"Besok saja ya ke sana. Sekarang kita makan di rumah papa. Kayanya mama masih kangen sama Ai loh," bujuk Adi.


"Ya udah, Mas Adi makan saja di sini. Aku nanti makan di hot plate." Adelia tetap dengan pendiriannya.


"Benar, aku boleh makan di sini, Ai?" Adi memastikan agar istrinya tidak mengambek.


"Terserah, Mas Adi. Tapi nanti Mas temani aku makan di sana."


"Iya, aku temani. Kita mengobrol sebentar sama papa dan mama ya, baru ke kedai hot plate."


"Aku udah lapar, Mas."


"Iya, Ai. Kita duduk sebentar, enggak sopan nanti kalau langsung pulang."


"Tapi jangan lama-lama, Mas."


"Iya. Nanti Ai yang pamit kalau sudah kelamaan."


Setelah tiba di rumah sang mertua, Adi memasukkan motor ke garasi. Adelia masuk ke rumah terlebih dahulu.


"Mbak, jadi makan di sini?" tanya Ibu Sarah setelah melihat sang putri masuk ke ruang tengah.


"Enggak, Ma. Tiba-tiba aku mau makan di kedai hot plate," jawab Adelia. "Enggak apa-apa kan, Ma?"


Ibu Sarah mengangguk. "Iya. Yang penting Mbak mau makan. Ini mau langsung pulang apa masih nanti?"


"Aku udah lapar, Ma."


"Kalau begitu langsung pulang saja. Tadi sama dokter dikasih vitamin kan, Mbak? Jangan lupa diminum," pesan Ibu Sarah.


"Dikasih vitamin sama buat mual, Ma."


"Memangnya Mbak ada mual?" Ibu Sarah mengernyit.


Adelia menggeleng. "Buat jaga-jaga saja kalau nanti ada mual, Ma. Kata dokter Lita biasanya trimester pertama ada yang mual dan muntah."


"Bagus kalau begitu, Mbak. Jangan lupa makan teratur. Kalau ada yang mau dimakan bilang saja, jangan dipendam. Tapi jangan yang aneh-aneh kasihan Mas Adi. Kalau Mas Adi kerja, minta sama adek atau mama."


"Iya, Ma."


Adelia menyengguk. "Siap, Ma."


"Loh, Mbak mau pulang?" tanya Pak Lukman yang baru berganti baju rumah setelah pulang dari masjid.


"Iya, Pa. Mbak lagi nyidam makan sesuatu." Ibu Sarah yang menjawab sang suami.


"Oh, ya sudah tidak apa-apa. Jangan sampai cucu papa suka ngeces kalau besok sudah lahir karena keinginannya tidak dituruti," canda Pak Lukman.


"Papa, jorok ih." Adelia melirik kesal pada papanya.


"Kata orang tua dulu kan begitu, Mbak. Jadi keinginan ibu hamil harus dituruti asal masih dalam batas kewajaran." Pak Lukman membela dirinya.


"Papa sudah, jangan godain Mbak terus." Ibu Sarah menengahi suami dan putrinya.


"Aku pulang dulu ya, Ma, Pa," pamit Adelia pada kedua orangtuanya. Dia menyalami papanya, kemudian mamanya. Sambil saling memeluk pinggang, Adelia dan Ibu Sarah keluar dari rumah.


"Ayo kita pulang, Mas," ajak Adelia pada Adi yang sedang mengobrol dengan Arsenio di depan garasi.


"Sekarang?" tanya Adi dengan mimik terkejut.


"Enggak. Tahun depan, Mas. Ya, sekarang lah," jawab Adelia dengan nada kesal.


Ibu Sarah memberi kode dengan anggukan pada Adi untuk segera pulang agar Adelia tidak semakin kesal.


"Sudah pamit sama papa dan mama?" Adi menatap istrinya.


"Sudah."


"Aku pamit sama papa dan mama dulu ya, Ai."


Adelia menganggut tanpa menjawab.


Adi lalu pamit pada kedua mertuanya.


"Tolong jaga Adel ya, Mas." Pak Lukman menepuk bahunya saat mereka berpelukan.


"Iya, Pa."


"Yang sabar ya, Mas. Maafkan kalau nanti sikap Adelia jadi berlebihan dan keinginannya aneh-aneh," pesan Ibu Sarah.


"Iya, Ma."


"Arsen, main ke rumah ya kalau tidak ada kuliah, temani Adel."


"Insya Allah, Mas. Kalau butuh bantuan jangan sungkan hubungi aku, Mas," kata Arsenio.


"Siap." Adi dan Arsen melakukan jabat tangan khas mereka.


"Ma, Pa, Arsen, kami pulang dulu. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabakatuh."


Dari depan rumah sampai ke samping mobil, Adelia memeluk lengan suaminya. Adi membuka pintu mobil dulu untuk Adelia sebelum dia masuk ke mobil.


"Pakai dulu sabuk pengamannya, Ai," titah Adi setelah dia duduk di kursi supir dan memakai sabuk pengaman.


"Pakein," ucap Adelia dengan nada manja.

__ADS_1


Adi tersenyum dan menuruti istrinya. "Sudah, Ai."


"Makasih, suamiku." Adelia tersenyum lebar pada Adi.


"Sejak kapan Ai panggil aku suami?" Adi mengerutkan kening.


"Sejak hari ini." Adelia tertawa kecil.


Adi tersenyum menanggapi. "Kita berdoa dulu, Ai"


Usai berdoa, Adi melajukan mobil, meninggalkan rumah Pak Lukman.


"Ai, tujuan kita ke kedai hot plate kan?" Adi memastikan tujuannya.


"Iya. Masa sudah lupa sih di mana aku ingin makan." Adelia mulai sewot lagi.


"Bukan begitu, Ai. Siapa tahu Ai berubah pikiran," ucap Adi beralasan.


"Memangnya aku plin-plan, Mas." Kening Adelia semakin mengerut karena kesal.


"Enggak, Ai. Jangan kesal begitu, nanti cantiknya luntur loh," goda Adi.


"Memang kenapa kalau cantiknya luntur? Mas Adi mau ninggalin aku, terus kembali sama Mbak Sekar."


"Naudzubillahi min dzaalik, tidak akan pernah seperti itu, Ai. Astaghfirullah. Istighfar, Ai. Dijaga omongannya jangan pernah mengatakan hal seperti itu lagi."


"Bagaimana pun keadaan Ai, aku tidak akan meninggalkan Ai. Lagian aku cuma bercanda, kenapa dianggap serius."


"Ai, sedang hamil. Lebih dijaga lagi omongannya. Jangan sembarangan bicara." Adi hampir terpicu emosinya. Untung saja dia masih bisa mengendalikan diri.


"Mas Adi yang mulai, malah aku yang disalahkan." Adelia melipat kedua tangan di depan dada. Dia memalingkan wajahnya ke samping kiri


"Astaghfirullah. Aku tidak menyalahkan, Ai. Aku hanya mengingatkan, Ai. Aku minta maaf kalau bercandaku keterlaluan." Mau tidak mau Adi harus mengalah untuk minta maaf.


Adelia masih diam dan memalingkan wajahnya.


"Ai, enggak mau maafin aku?" tanya Adi karena istrinya tidak menanggapi.


Adi mengurangi kecepatan mobil, lalu menepi di pinggir jalan.


"Kenapa berhenti?" tanya Adelia yang masih terlihat kesal.


"Aku enggak akan jalan kalau Ai masih belum memaafkan aku," jawab Adi.


"Iya, aku maafkan. Sekarang jalan, aku sudah lapar banget, Mas."


"Nak, umi marah sama abi. Bantu abi biar umi enggak marah lagi ya." Adi mengelus-elus perut istrinya.


"Apaan sih, Mas." Meski masih terlihat kesal tapi Adelia sedikit menyunggingkan senyum.


"Umi masih marah. Ayo kita rayu umi lagi." Adi melepas sabuk pengaman lalu menggeser tubuhnya ke samping. Dia rangkul bahu Adelia dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya mengelus perut calon ibu dari anaknya itu.


"Ih, lepas, Mas." Adelia berusaha memberontak dari suaminya, tapi sia-sia. Tenaganya kalah kuat dari Adi.


"Masa umi enggak mau dipeluk abi, Nak. Apa perlu abi cium umi di sini?"


"Apa-apaan sih, Mas. Iya-iya, aku maafin, Mas." Adelia akhirnya menyerah daripada mendapat ciuman dari suaminya di jalan. Dia tidak suka menampakkan kemesraan di depan umum. Meski mereka di dalam mobil, tapi tetap saja dia merasa tidak nyaman.


"Kalau dimaafin, senyumnya mana?"


Adelia melebarkan mulutnya ke samping.


"Enggak mau. Enggak ikhlas itu senyumnya, Ai."


Adelia kembali tersenyum lagi, kali ini dengan sepenuh hati.


"Nah, kan jadi semakin cantik kalau begini. Istri siapa sih ini, cantiknya ngalah-ngalahin bidadari saja."


Adelia tertawa mendengar gombalan suaminya. "Kaya pernah ketemu bidadari saja, Mas."


"Loh yang di depanku sekarang ini kan bidadari surgaku. Cantiknya, masya Allah. Enggak cuma cantik wajahnya, tapi juga cantik hatinya."


Adelia tersenyum dengan pipi merona. "Sudah gombalnya, ayo jalan. Aku sudah lapar, Mas."


"Siap, Tuan Putri." Adi meraih tangan Adelia lalu mencium punggung tangannya.


Adi kembali ke posisi duduknya semula. Setelah memakai sabuk pengaman, dia kembali melajukan mobil menuju ke tempat yang istrinya inginkan.


...---oOo---...


Jogja, 031121 00.10


Adakah yang menunggu cerita ini up?


Untuk yang rela menunggu, terima kasih. Mohon maaf karena mood sedang berserakan. Banyak hal yang sedang terjadi belakangan ini.


Salah satu yang membuat mood turun, ada segelintir pembaca yang menghapus komentarnya.


Pasti ada yang komen, "ah gitu aja jadi baper? Biasa aja keles."


Saya manusia biasa Gaes, yang juga baperan sama seperti yang lain. Buat saya ada yang membaca, menyukai, memberi komentar, hadiah atau vote itu menjadi mood booster dalam menulis.


Terus terang hal itu menjadikan saya down. Karena saya jadi berpikir, apa cerita saya tidak layak untuk dibaca dan bahkan dikomentari?


Apa berkomentar di cerita saya itu sebuah aib yang harus dihapus agar orang lain tidak membacanya?


Dan berbagai macam spekulasi yang muncul di pikiran saya.


Sejujurnya, saya paling benci orang yang munafik. Berpura-pura baik dan mendukung saya di depan, tapi di belakang menusuk saya. Atau berpura-pura berteman, tapi jadi musuh dalam selimut.


Kalian memikirkan tidak kalau menjadi saya, bagaimana perasaannya?


Saya menulis, memikirkan alur cerita tanpa mendapat bayaran.


Pasti ada yang komen lagi, "ya udah, enggak usah nulis aja. Gitu aja kok repot."


Dan saya memang sedang memikirkan untuk berhenti menulis karena saya merasa sangat tidak dihargai.


Kalian tahu tidak rasanya disanjung tinggi terus dijatuhkan lagi ke lantai paling dasar. Sakit!!!! Dan itu perbuatan yang jahat menurut saya.


Kalau memang sudah tidak suka dengan cerita saya, silakan unfavorit, tidak perlu dibaca, disukai atau dikomentari. Jangan memberi dukungan palsu pada saya. Silakan baca tulisan penulis lain yang lebih bagus dan lebih terkenal dari saya. Tidak perlu membaca tulisan receh ini.


Saya berterima kasih untuk yang sudah dengan tulus mendukung saya dari awal sampai saat ini. Tanpa perlu berpura-pura baik di depan saya. Juga untuk pembaca baru yang rela maraton baca mengejar ketertinggalan. Hanya Allah yang bisa membalas kebaikan teman-teman semua.


Mohon maaf lahir batin bila ada yang tersinggung atau ada kata-kata yang kurang pantas. Saya manusia biasa, jauh dari kata sempurna. Saya hanya mencoba terus menjadi orang baik meski banyak yang tidak baik pada saya.


__ADS_1


__ADS_2