Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Balas Dendam


__ADS_3

Sesampai di mal, Adi dan Adelia langsung menuju ke lantai 1, ke toko yang khusus menjual perlengkapan ibu, bayi, dan anak di bawah usia 8 tahun. Begitu masuk ke toko, pandangan Adelia seketika tertuju pada baju-baju bayi perempuan.


"Ya Allah, Mas. Bagus-bagus bajunya. Lucu-lucu lagi," ucap Adelia dengan girang. "Lihat deh ini lucu banget, Mas." Dia menunjuk ke salah satu baju yang dipajang.


"Ai, mau beli?"


Adelia menggeleng. "Enggak. Aku mau lihat-lihat aja. Katanya kalau belum tujuh bulan enggak boleh belanja-belanja dulu."


"Kata siapa?" Adi mengernyit.


"Ya, kata orang-orang, Mas. Katanya bakal bawa dampak buruk sama bayi."


"Mitos itu, Ai. Kalau ingin beli ya beli saja, tapi tidak perlu banyak-banyak. Pengalaman dari Dita kemarin banyak yang ngasih kado baju bayi baru lahir. Masih bisa pakai bekas Ale juga kan. Dia gedenya cepet jadi cuma dipakai sebentar."


"Iya sih, Mas. Dek Dita juga beli baju buat Ale yang warna netral jadi bisa dipakai cowok sama cewek."


"Beli satu atau dua saja kalau memang ingin beli, Ai. Tapi ingat tujuan kita ke sini untuk apa? Kita jangan terlalu lama belanjanya, nanti Ai capai."


"I'm fine, Mas. Don't worry." Adelia tersenyum pada suaminya.


"Kita pilih hadiah buat Ale saja yuk, Mas." Dia mengajak suaminya ke bagian baju anak laki-laki.


"Mau ngasih Ale baju? Dia kan sudah punya merek sendiri, Ai."


"Iya, kan aku tahu apa saja produknya, Mas. Rendra belum produksi jaket. Aku mau beliin Ale jaket tapi yang agak gede ukurannya biar bisa lama dipakai."


"Enggak mainan edukasi saja, Ai?"


"Sama mainan juga, Mas. Enggak apa-apa kan? Rendra sama Dek Dita kan udah banyak bantu kita. Jadi kita balasnya lewat Ale."


"Iya, aku ikut saja. Ai, yang lebih ngerti," ujar Adi yang dengan sabar mengikuti ke mana saja istrinya melangkah.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang mengamati gerak-gerik Adi dan Adelia dari luar toko tersebut. "Mas Adi, kita bertemu lagi," gumamnya sambil tersenyum licik.


Sementara di dalam toko, sepasang suami istri muda itu akhirnya membeli jaket dengan bahan katun bergambar bus dan mainan edukasi hape pound and tap bench. Set mainan anak yang dapat membantu anak mengenal musik melalui instrumen xilofon dan mengenal ruang atau tempat.



gambar hape pound and tap bench (ctto)


Mereka minta dikemas menjadi kado sekalian jadi tidak perlu repot lagi nanti di rumah. Tentu saja Adelia juga menulis kartu ucapan untuk Ale meski anak itu belum bisa baca dan mengerti apa yang ditulis. Sembari menunggu, Adelia kembali melihat-lihat pakaian bayi.


"Ai, mau beli yang mana biar sekalian bayarnya?"


"Enggak, Mas. Aku cuma mau lihat-lihat dulu."

__ADS_1


"Benar enggak mau beli? Nanti enggak menyesal? Jangan sampai baby-nya ngileran loh besok," canda Adi sambil mengelus perut istrinya.


Adelia tertawa kecil. "Enggak, Abi."


Kemesraan sejoli tersebut membuat seseorang yang terus mengamati mereka dari luar toko menjadi meradang. Kilatan amarah tampak sekali di netranya. Emosinya semakin memuncak setelah melihat Adi mengecup kening istrinya. "Seharusnya aku yang ada di sampingmu, Mas, bukan perempuan tidak tahu diri itu," geramnya dengan tangan mengepal.


"Ai, tunggu di sini ya. Aku ke masukkan ke mobil dulu ini biar enggak repot bawanya. Ai, masih ingin jalan-jalan 'kan," ucap Adi setelah barang belanjaan mereka selesai dikemas.


"Iya, Mas. Aku mau ke toilet dulu, kebelet pipis. Nanti kita ketemu di dekat toilet saja ya," sahut Adelia yang menjadi sering buang air kecil sejak kehamilannya mulai membesar.


"Oke. Perlu aku antar ke toilet?" tawar Adi.


Adelia tertawa. "Aku bukan anak kecil, Mas. Aku tahu toiletnya di mana. Sudah sana Mas Adi ke parkiran dulu."


"Hati-hati jalannya ya, Ai. Pelan-pelan saja tidak usah terburu-buru," pesan Adi.


"Iya, Mas." Adelia melambaikan tangan pada sang suami yang beranjak meninggalkannya. Setelah Adi tak nampak, dia berlalu menuju ke toilet dengan santai.


Tanpa istri Adi itu ketahui, ada seorang perempuan yang mengikuti langkahnya. Berusaha menjaga jarak agar tidak terlalu mencolok. Ini kesempatan yang bagus untuknya membalas dendam karena Adi tidak ada di sana. "Kamu akan rasakan akibatnya karena sudah merebut Mas Adi dariku," gumamnya sambil menyeringai.


Adelia masuk ke dalam toilet yang kebetulan sedang sepi. Mengambil tisu lalu masuk ke salah satu biliknya. Perempuan yang tadi mengikutinya juga ikut masuk. Melihat ke bawah pintu bilik, memastikan hanya ada mereka berdua di sana. Kebetulan petugas cleaning service sedang tidak ada. Setelah itu, dia berdiri di dekat pintu, menunggu mangsanya keluar.


Usai menyelesaikan hajatnya, Adelia keluar dari bilik toilet. Dia menuju ke deretan wastafel, mencuci tangan di sana.


"Kamu bisa ya bahagia di atas penderitaanku," sinis perempuan di belakangnya.


Dia segera mematikan kran dan bersiap pergi. Jantungnya langsung berdegup kencang begitu melihat sosok Sekar Ayu. Lebih baik dia segera pergi. Tidak perlu menanggapi cinta pertama suaminya itu.


Tanpa diduga, Sekar Ayu menghadang Adelia. "Mau ke mana kamu?"


"Mau keluar, Mbak. Permisi," ucap Adelia sambil menahan rasa takut. Di dalam hati, dia berdoa semoga segera ada yang masuk ke toilet jadi tidak hanya ada mereka berdua.


"Enak saja mau keluar. Kamu pikir Mas Adi ada di luar nungguin kamu?" seringai Sekar Ayu.


"Jangan kamu pikir sudah menang karena Mas Adi nikahin kamu. Mas Adi itu milikku, enggak ada yang boleh memiliki dia selain aku. Kamu itu hanya pelampiasannya saja karena dulu aku menolak lamarannya," ucapnya penuh percaya diri.


"Kamu juga tidak pantas mengandung anaknya. Hanya aku yang pantas menjadi ibu dari anak-anaknya." Sekar Ayu mengambil sesuatu dari saku belakang celananya. Adelia tidak tahu apa yang diambil perempuan itu karena tertutup telapak tangannya.


"Mbak Sekar, mau ngapain? Ini bisa kita bicarakan baik-baik," ucap Adelia dengan nada bergetar.


Sekar Ayu kembali menyeringai. "Bicara baik-baik? Tidak perlu. Aku hanya harus melenyapkan kamu dan anak di perutmu itu. Kalian harus mati agar Mas Adi jadi milikku."


"Istighfar, Mbak. Sadar." Adelia refleks melindungi perut dengan tas selempangnya. Namun karena tasnya kecil, tidak bisa menutupi semuanya.


"Kenapa? Kamu takut aku menyakiti anakmu?" Sekar Ayu semakin mendekat pada Adelia yang terus mundur dan akhirnya terpojok di dinding.

__ADS_1


Adelia berusaha mencari gawainya di dalam tas sambil terus berdoa dalam hati. Saking gugupnya dia tidak bisa cepat menemukan barang yang dicari.


Saat Sekar Ayu sudah benar-benar di depannya, Adelia berhasil menemukan gawai. Dengan tangan bergetar dia menekan tombol dial lalu menekan angka 2. Membuat panggilan cepat pada suaminya.


Melihat Adelia memegang gawai, Sekar Ayu semakin marah. Dia merebut gawai di tangan Adelia lalu membantingnya dengan keras. "Mau apa kamu? Minta bantuan? Jangan mimpi."


"Mbak Sekar, istighfar. Ingat Allah, Mbak."


Sekar Ayu tertawa keras. "Aku setiap hari berdoa agar Mas Adi kembali padaku. Allah sudah menjawab doaku. Ini kesempatanku untuk kembali sama dia."


"Itu bisikan setan, Mbak. Bukan petunjuk dari Allah."


"Diam! Jangan ceramah di depanku. Kamu juga bukan orang suci." Wajah Sekar Ayu mendekati wajah Adelia hingga hanya menyisakan jarak sedikit saja. Dia mengangkat tangan kanannya, mengelus pipi halus istri Adi dengan ujung gunting kecil yang tadi digenggam.


"Apa aku harus merusak wajah cantikmu ini dulu sebelum aku membunuhmu?" desis Sekar Ayu.


Adelia diam. Netranya mengamati ke mana saja gunting kecil itu bergerak. Dia harus membuat Sekar Ayu lengah agar bisa kabur dari kungkungan perempuan gila itu.


Sepertinya semesta mendukung Adelia. Tak lama kemudian gawai Sekar Ayu berbunyi hingga membuatnya kehilangan konsentrasi. "Sialan! Siapa yang berani telepon aku. Mengganggu saja," umpatnya.


Begitu ada kesempatan, Adelia langsung mendorong tubuh Sekar Ayu hingga membuat perempuan gila itu menjauh darinya. Seketika itu juga dia berlari menuju pintu, tapi nahas, Sekar Ayu berhasil menarik tangannya. Membuatnya kembali berhadapan dengan perempuan bercelana jin hitam itu.


"Kamu mau kabur?" Senyum licik menghiasi paras cantik Sekar Ayu. "Jangan bermimpi bisa keluar dari sini hidup-hidup," desisnya kemudian.


"Tolong lepaskan saya, Mbak. Mas Adi, pasti sedang mencari saya sekarang. Kalau Mbak tetap nekat, Mas Adi pasti akan melapor pada polisi. Mbak Sekar, tidak mau dipenjara 'kan? Saya tidak akan bilang apa pun sama Mas Adi kalau Mbak Sekar melepaskan saya sekarang," bujuk Adelia.


Sekar tertawa. "Coba membujukku? Tidak akan berhasil. Aku sudah muak melihat wajah dan mendengar suaramu. Bersiaplah ke neraka bersama anakmu."


"Tolong," teriak Adelia sekuat tenaga begitu Sekar Ayu siap menghunjamkan gunting kecil ke dadanya.


Teriakan Adelia membuat emosinya semakin tinggi. Dia tidak jadi menusuk dada Adelia tapi beralih ke perutnya.


"Argh," pekik Adelia kesakitan begitu gunting merobek kulit dan darah mulai keluar.


Sekar Ayu tertawa puas. "Rasakan itu!" Dia mencabut gunting lalu bersiap menikam lagi perut korbannya.


Adelia yang sudah lebih waspada berusaha mengelak, hingga gunting itu menancap di tangannya. Darah mulai keluar dari tangan begitu Sekar Ayu mencabut lagi guntingnya. Gamis yang semula berwarna biru jadi bertambah warna merah di beberapa bagian.


"Tolong," Adelia berteriak lagi dengan sisa tenaga yang dia punya. Bagaimanapun dia harus melindungi anak di dalam kandungannya. Tidak apa badannya terluka asal jangan calon anaknya.


Sekar Ayu semakin beringas. Dia mulai asal menghunjamkan guntingnya hingga mengenai beberapa bagian badan Adelia. Perempuan itu baru berhenti setelah belahan jiwa Adi itu tidak melawannya lagi dan terkapar tak bergerak di lantai.


Senyum puas dan kemenangan menghiasi wajah Sekar Ayu. Dia mencuci gunting dan tangannya di wastafel sampai bersih. Gunting kecil itu memang selalu dia bawa ke mana saja sebagai perlengkapan sehari-hari dan juga untuk perlindungan diri. Tidak disangka gunting itu akhirnya berguna juga. Tak ada raut penyesalan sedikit pun di wajahnya. Hanya rasa bahagia yang membuncah di dada karena sudah berhasil menyingkirkan musuhnya.


Dengan santai, Sekar Ayu melenggang keluar dari toilet. Keberuntungan sedang berpihak padanya, karena tidak ada satu orang pun yang masuk saat dia menjalankan aksinya. Semuanya berjalan sesuai rencana. Kini cukup menunggu kabar istri Adi itu meninggal lalu dia akan kembali lagi pada cinta pertamanya.

__ADS_1


...---oOo---...


Jogja, 260222 00.47


__ADS_2