Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Layu Sebelum Berkembang


__ADS_3

Ibu Hasna diam-diam menelepon putra sulungnya saat Adelia tidur setelah sakit di perutnya hilang. Dia terpaksa melakukannya karena menantunya itu bersikeras tidak mau ke rumah sakit.


"Mas, kalau bisa segera pulang. Mbak Adel tadi mengeluh perutnya sakit. Sebaiknya dibawa ke rumah sakit secepatnya," ucap Ibu Hasna sesudah Adi menerima panggilannya.


"Sakit perut gimana, Bun?" tanya Adi dengan nada khawatir.


"Katanya perutnya nyeri, Mas. Sekarang Mbak Adel baru tidur, jadi bunda telepon Mas."


"Sekitar 1 jam lagi, mas baru bisa pulang, Bun. Titip Adel dulu ya, Bun."


"Iya, tidak apa-apa. Tapi hari ini harus diperiksakan, Mas. Kalau perlu dipaksa karena sudah tidak normal gejalanya. Cuma Mas yang bisa membujuk Mbak Adel. Tadi bunda sudah membujuk, tapi dia tidak mau."


"Iya, Bun. Nanti Mas bujuk Adel. Bunda, sudah telepon Adek atau Rendra?"


"Belum. Habis ini bunda telepon mereka biar Ale ada yang jaga. Nanti bunda temani kalian ke rumah sakit."


"Oke, Bun. Mas lanjutkan kerja dulu. Mas usahakan secepatnya selesai."


"Iya, Mas."


Selesai menelepon Adi, Ibu Hasna menelepon putri bungsunya.


"Ada apa, Bun? Apa Ale rewel?" tanya Dita setelah menerima panggilan dari sang bunda.


"Ale sama sekali tidak rewel. Apa Adek sudah selesai kuliahnya?"


"Alhamdulillah sudah, Bun. Ini baru mau memasukkan buku ke tas. Kenapa, Bun?"


"Kalau bisa, Adek atau Nak Rendra segera pulang. Mbak Adel perutnya tadi sakit. Nanti bunda mau temani Mbak Adel periksa."


"Astaghfirullah, kok bisa sakit kenapa ya, Bun?"


"Bunda juga tidak tahu, Dek. Bunda merasa ini bukan pendarahan biasa."


"Iya, Bun. Habis ini aku telepon Mas Rendra. Bunda tidak terburu-buru kan perginya?"


"Tidak, Dek. Mas Adi juga masih kerja. Pulangnya satu jam lagi."


"Oke, Bun. Insya Allah setengah jam lagi aku sampai rumah."


"Tidak usah mengebut. Hati-hati di jalan."


"Siap, Bunda Sayang."


Setelah menelepon putri bungsunya, Ibu Hasna kembali masuk ke kamar untuk mengecek keadaan Adelia. Karena menantunya masih tertidur, dia kembali ke ruang tengah untuk membaringkan Ale yang tertidur setelah tadi minum susu. Setelah itu, Ibu Hasna ke ruang makan untuk mengambil makan siang.


Mengurus Ale dan Adelia sekaligus, ternyata membuatnya merasa sedikit lelah dan juga lapar. Faktor usia memang tidak bisa membohongi stamina tubuh. Usai mengambil makan, Ibu Hasna kembali ke ruang tengah. Dia makan di sana sembari mengawasi sang cucu dan juga menantunya.


Setengah jam kemudian, Dita datang bersama dengan Rendra yang tadi menjemputnya. Setelah menyalami sang bunda, Dita dan Rendra langsung ke kamar untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Mereka bergerak dan berbicara pelan, menjaga jangan sampai Ale terbangun. Karena kalau tahu bubu atau baba-nya ada, dia pasti akan minta perhatian mereka.


Usai membersihkan diri dan berganti pakaian, Dita pergi ke ruang tengah.


"Bunda, istirahat dulu saja. Biar Ale dan Mbak Adel, aku yang jaga," ujar Dita.


"Adek, kan capai habis pulang kuliah. Adek, saja yang istirahat, biar bunda di sini."


"Bun, nanti aku masih bisa istirahat. Lagian juga ada Mas Rendra yang bisa menjaga Ale. Bunda, kan nanti mau menemani Mbak Adel periksa ke rumah sakit, jadi Bunda istirahat saja sambil menunggu Mas Adi pulang," bujuk Dita.


"Ya sudah, kalau begitu. Bunda ke kamar dulu. Nanti kalau Mas sudah pulang tapi bunda belum keluar, tolong kasih tahu bunda ya," pesan Ibu Hasna.


"Siap, Bun."


Ibu Hasna kemudian masuk ke kamar tempatnya beristirahat. Dia merebahkan diri, meluruskan punggung setelah dari pagi memasak dan mengurus keluarganya.


"Bunda di mana, Sayang?" tanya Rendra yang baru keluar dari kamar.


"Di kamar, Mas. Aku minta bunda istirahat. Kasihan dari pagi belum beristirahat sama sekali. Pasti bunda capai, tapi enggak mau bilang," jelas Dita.


Rendra mengangguk. Dia lalu duduk di samping sang istri dan merangkul bahunya.


"Sayang, nanti mau ikut antar Adel?"


"Enggak, Mas. Kita jaga rumah saja. Kasihan Ale kalau terlalu lama di rumah sakit dan bertemu banyak orang."


"Iya, juga."


"Gimana penjualan hari ini, Mas?"


"Alhamdulillah bagus. Semoga juga tetap bagus meski sudah tidak promo."


"Aamiin. Itu kan juga rezekinya Ale, Mas."


"Iya. Ale memang membawa rezeki buat kita. Sejak Sayang mengandung Ale, omset kafe juga naik. Apalagi setelah Ale lahir, banyak rezeki yang datang dari arah yang tidak kita sangka."


"Alhamdulillah, yang penting jangan lupa zakat dan sedekahnya, Mas."


"Insya Allah tidak akan lupa, Sayang."


"Bun," panggil Adelia dari dalam kamar.


"Mas, aku ke Mbak Adel dulu ya," pamit Dita.


Rendra mengangguk, menanggapi istrinya.


"Ada apa, Mbak?" tanya Dita setelah di dekat Adelia.


"Loh, bunda ke mana, Dek?" bukannya menjawab, Adelia malah balik bertanya.


"Bunda sedang istirahat, Mbak. Sama aku saja kalau butuh sesuatu."


"Aku mau pipis sekalian ganti pembalut, Dek."


"Pembalutnya di mana, Mbak?"


Adelia menunjukkan tempat dia menyimpan pembalut. Dita lalu mengambil pembalut dan cawat untuk kakak iparnya itu. Sesudah itu, dia membantu Adelia bangun dan duduk di kursi roda. Dia mendorong kursi roda Adelia sampai ke depan pintu kamar mandi. Dia membantu Adelia bangun dari kursi roda dan memapah Adelia masuk ke kamar mandi.


"Mbak, aku tunggu di sini ya. Pintunya tidak aku tutup rapat," kata Dita setelah keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Iya, Dek," sahut Adelia.


Adelia kemudian melakukan aktivitasnya di kamar mandi. Darah yang keluar, tidak juga berkurang malah bertambah. Meski merasa cemas, tapi dia berusaha tetap tenang.


"Dek, bertahan ya di dalam. Kita berjuang bersama," ucap Adelia sambil mengelus perutnya.


Adelia lalu memanggil Dita setelah dia selesai membersihkan diri. Dita kembali membantunya sampai dia berbaring lagi di atas ranjang.


"Mbak Adel, mau makan apa minum?" tawar Dita.


"Minum saja, Dek."


Dita lalu mengambil gelas yang berisi air putih. Dia meletakkan sedotan di pinggir gelas untuk memudahkan Adelia minum dalam keadaan berbaring.


"Makasih, Dek. Aku ditinggal enggak apa-apa. Kasihan Ale nanti cari bubu-nya."


"Ale tidur kok, Mbak. Lagian ada Mas Rendra yang jaga dia."


Adelia menganggut, lalu dia bertanya pada Dita. "Dek, dulu apa pernah pendarahan selama hamil?"


"Alhamdulillah, dua kali hamil aman-aman saja, Mbak."


"Kamu beruntung ya, Dek, tidak harus bedrest kaya aku."


Dita tersenyum pada Adelia. Dia kemudian menggenggam tangan kakak iparnya itu. "Mbak, kehamilan itu anugerah dari Allah. Ada yang hamilnya lancar-lancar saja. Ada pula yang harus melewati banyak hal. Allah memberi Mbak cobaan, itu karena Allah tahu Mbak Adel mampu melewati semua ini."


"Allah akan memberikan balasan pahala yang besar bila Mbak Adel sabar dan ikhlas menjalani semua ini. Kuatkan hati dan tekad, demi dedek yang ada di perut dan juga Mas Adi," ujar Dita.


"Aku ini kurang bersyukur apa ya, Dek. Sudah dikasih banyak nikmat, tetapi masih merasa kurang dan minta lebih," gumam Adelia.


"Yang jelas Allah itu sangat sayang sama Mbak Adel dan juga Mas Adi."


"Iya, Dek. Kok kamu jadi lebih dewasa dari aku ya."


"Usia boleh muda, Mbak. Tapi pengalamanku lebih banyak," seloroh Dita.


Mereka berdua lalu tertawa.


"Assalamu'alaikum," salam Adi yang baru masuk ke kamar.


"Wa'alaikumussalam," sahut Dita dan Adelia bersamaan.


Adi menghampiri istri dan adiknya. Mereka melakukan ritual salam dan cium kening. Setelah itu Dita meninggalkan mereka berdua di dalam kamar.


Usai Adi membersihkan diri dan berganti pakaian, dia duduk di samping istrinya.


"Gimana keadaan Ai dan dedek di perut?" tanya Adi, memancing kejujuran istrinya.


"Alhamdulillah kami berdua baik-baik saja, Abi," ujar Adelia.


"Benar? Tidak ada yang Ai rasakan atau sembunyikan?" Adi bertanya lagi pada istrinya.


Adelia menggelengkan kepala. "Tidak ada."


"Kok aku dapat laporan kalau tadi perut Ai sakit." Adi akhirnya mengungkapkan apa yang dia pendam karena tidak berhasil membuat istrinya bicara jujur.


"Ai, tolong jangan bohong. Kalau cuma sakit perut biasa tidak mungkin bunda sampai bilang sama aku."


"Jadi, bunda mengadu sama Mas Adi." Adelia tiba-tiba cemberut.


"Bunda tidak mengadu, Ai. Bunda itu sayang sama Ai dan merasa khawatir sama Ai. Karena itu bunda ngomong tentang keadaan, Ai." Adi mengelus kepala istrinya penuh cinta.


"Kita ke rumah sakit, ya. Tadi kan Ai sudah janji sama dokter Lita kalau ada gejala yang tidak biasa harus langsung periksa ke rumah sakit." Adi mulai membujuk istrinya.


"Tapi aku tidak mau bedrest di rumah sakit, Mas."


"Makanya kita periksa ya. Kalau dokter Lita tidak masalah Ai bedrest di rumah, aku juga tidak masalah. Sekarang yang penting kita tahu keadaan Ai dan juga calon anak kita. Lagian kan sebentar lagi juga jadwal kontrol, jadi sekalian saja periksa. Mau ya, Ai?"


"Iya, tapi pokoknya aku tidak mau tidur di rumah sakit."


"Iya, Ai. Aku janji kalau dokter Lita mengizinkan Ai di rumah, Ai tidak perlu tidur di rumah sakit." Adi sampai mengangkat tangan kanannya, dan jemarinya membentuk huruf V.


"Benar ya, Mas Adi janji?" Adelia menatap suaminya.


"Iya, Ai. Aku janji. Ai, mau mandi dulu? Atau mau langsung ganti baju?"


"Ganti baju saja, Mas. Aku soalnya habis dari kamar mandi tadi sama Dek Dita. Tolong ambilkan gamisku, Mas." Adelia menyebutkan gamis yang ingin dia pakai. Adi pun mengambilkan apa yang istrinya inginkan.


Sembari menunggu Adelia berpakaian, Adi meminta tolong Dita untuk mendaftarkan Adelia di rumah sakit sekaligus membuat janji dengan dokter Lita. Setelah itu, Dita membangunkan bundanya yang ingin ikut menemani Adelia ke rumah sakit.


Usai Adi, Adelia dan Ibu Hasna selesai bersiap, mereka kemudian berangkat ke rumah sakit. Dalam perjalanan ke rumah sakit, perut Adelia terasa sakit lagi. Untung saja Ibu Hasna selalu sedia minyak kayu putih di tas, jadi dia bisa langsung mengoleskan di atas perut Adelia. Sandaran kursi Adelia dibuat lebih rendah, hingga posisi Adelia menjadi setengah duduk.


Dari rear view mirror, Adi bisa melihat wajah istrinya yang kesakitan. Adelia memang duduknya di belakang supir bersama Ibu Hasna, tidak duduk di sampingnya. Dia memelankan laju mobil agar goncangannya tidak terasa dan istrinya lebih nyaman.


Dia berulang kali melihat Adelia mengambil napas panjang lalu membuangnya dengan pelan, tanda dia coba meredakan rasa sakitnya. Ingin rasanya secepat mungkin dia sampai di rumah sakit. Namun, kalau dia terlalu kencang mengemudi, dia takut akan berpengaruh dengan keadaan istrinya dan memperparah sakitnya.


Akhirnya sampai juga mereka di rumah sakit. Adi yang sudah tidak sabar karena melihat istrinya kesakitan, langsung membopong Adelia ke IGD. Oleh dokter jaga Adelia diukur tekanan darahnya, dan juga ditanya apa keluhannya.


Setelah mendengar penjelasan dari Adi dan Ibu Hasna, pihak IGD langsung menghubungi dokter Lita. Adelia kemudian dibawa ke ruang praktek dokter Lita, karena kondisinya yang gawat. Tak lupa perawat mengambil sampel darah Adelia untuk dicek di laboratorium.


"Keluhan Ibu Adel apa saja ya, Pak, Bu?" tanya dokter Lita sambil memandang Adi dan Ibu Hasna bergantian.


"Pendarahannya katanya lebih banyak dari kemarin. Mungkin hampir seperti saat haid. Terus lemas, pusing, tadi ditambah sakit perutnya," jelas Adi.


"Baik. Coba kita cek dulu pakai USG di perut."


Perawat kemudian menuangkan gel di atas perut Adelia.


"Perutnya masih sakit, Bu?" tanya dokter Lita pada Adelia.


"Sudah berkurang, Dok," jawab Adelia lemah.


Dokter Lita menggerakkan transducer di atas perut Adelia. Keningnya terlihat mengerut.


"Kenapa, Dok? Apa ada masalah?" tanya Adi.


"Kantong janinnya tidak terlihat, Pak. Menurut perhitungan ini sudah masuk delapan minggu, seharusnya sudah terlihat. Kita pakai USG transvaginal kalau begitu."

__ADS_1


Perawat kemudian meminta Adelia melepas cawatnya.


"Tapi, saya keluar darah," kata Adelia.


"Tidak apa-apa, Bu," balas perawat itu sambil tersenyum.


Setelah cawatnya dilepas, Adelia duduk di ujung ranjang. Perawat memasang peyangga kaki di kedua sisi ujung ranjang. Kedua kaki Adelia kemudian diangkat dan diletakkan di penyangga dalam posisi ditekuk, hingga posisinya mengangkang.


Perawat lalu melapisi stik probe dengan k*ndom dan gel pelumas agar memudahkan masuk ke organ intim Adelia. Setelah persiapan selesai, dokter Lita mulai memeriksa Adelia dengan memakai sarung tangan.


"Rileks saja ya, Bu. Jangan ditahan," titah dokter Lita seraya memasukkan stik probe ke dalam organ intim Adelia. Dia menggerak-gerakkan transducer itu untuk melihat keadaan di dalam rahim Adelia sembari melihat ke dalam layar monitor.


"Ibu sakit perutnya rasanya bagaimana? Sakit sekali, nyeri? atau biasa?" tanya dokter Lita.


"Sakit sekali, Dok. Rasanya sampai kaya diiris-iris," jawab Adelia.


Dokter Lita mengangguk. Dia kembali menggerakkan transducer lalu memilih gambar yang akan dicetak agar terlihat lebih jelas. Setelah merasa sudah cukup, dokter Lita mengeluarkan stik probe dari dalam organ intim Adelia. Dia lalu melepas sarung tangan, dan membuangnya ke tempat sampah. Dia kembali duduk di kursinya.


Sementara itu, perawat membantu Adelia untuk bangun. Adelia kembali memakai cawatnya dan berbaring lagi di ranjang. Perawat kemudian memberikan hasil USG pada dokter Lita.


"Berdasar dari keluhan Bu Adelia dan juga hasil pemeriksaan, Bu Adelia mengalami kehamilan ektopik," kata dokter Lita.


"Apa itu, Dok?" tanya Adi dengan kening mengerut.


"Kehamilan ektopik itu kalau orang awam menyebutnya hamil di luar kandungan, Pak, Bu," jawab dokter Lita.


"Maksudnya bagaimana, Dok?" tanya Adi lagi.


"Begini, Pak, Bu. Dalam kondisi normal, sel telur yang sudah dibuahi oleh sp*rma atau yang kita sebut ovum, akan dibawa menuju rahim dan menempel di dinding rahim. Namun, kadang-kadang ovum bisa menempel di jaringan lainnya, sehingga menyebabkan terjadinya kehamilan di luar kandungan atau kehamilan ektopik. Di kasus Ibu Adel ini, ovum menempel di tuba falopi atau saluran telur yang sebelah kiri."


"Lalu bagaimana penanganannya, Dok?"


"Kita harus menggugurkan janin demi keselamatan Ibu Adelia," ujar dokter Lita.


...---oOo---...


Jogja, 011221 01.15


Saya pernah berjanji ya akan memberi tahu kalau antologi cerpen anak yang saya ikuti akan terbit. Karena itu sekarang bisa mulai pre-order buku tersebut.


Silakan yang mau membeli untuk putra-putrinya, keponakan, cucu, kado, atau untuk disumbangkan ke taman bacaan atau perpustakaan. Mari kita beri bacaan berkualitas untuk anak-anak kita. Karena ada pesan moral dari setiap cerita dengan bahasa yang sederhana.



OPEN PRE ORDER (30 Nov - 7 Des 2021)


Judul: Si Petualang Cilik


Tebal: 264 halaman


Jenis Sampul: Softcover


Ukuran Buku: 14x20 cm


Kertas isi: Bookpaper 57 gram


Kategori: Kumpulan Cerita Anak


Terbit: November 2021


ISBN: 978-623-6254-78-3


Blurb:


Layaknya kisah-kisah di dalam buku ini, manusia ialah petualang sejati yang melakoni perannya berdasarkan takdir. Buku ini kami persembahkan untuk seluruh anak-anak di segala penjuru mana pun untuk menemani proses tumbuh menjadi anak yang hebat versi dirinya.


Jadi, sudah siap memulai petualangan cilik versi kamu?


šŸ“¦ [Ready] H+20, terhitung setelah close pre-order


Harga Pre-Order


Paket A Rp. 75.000 šŸ‘‰ Buku, pembatas buku, ganci/pin



Paket B Rp. 110.000 šŸ‘‰ Buku, pembatas buku, notebook, ganci/pin



Paket C Rp. 110.000 šŸ‘‰ Buku, pembatas buku, totebag, ganci/pin



Paket D Rp. 145.000 šŸ‘‰ Buku, pembatas buku, notebook, totebag, ganci/pin



šŸ·ļø Format Pemesanan via WA


Nama Penerima:


Alamat Penerima:


No. HP Penerima:


Pesanan: (Paket A/B/C/D)


šŸ“² Kirimkan ke WA 08562872567


Untuk info lebih lanjut bisa di kolom komentar atau WA nomor di atas.


...šŸ’žšŸ’žšŸ’žšŸ’žšŸ’ž...


šŸ‘©šŸ»ā€šŸ¦± : Thor, kamu dah bikin cerita sedih kok malah promo buku, ngeselin tahu enggak šŸ˜’šŸ˜’šŸ˜’


šŸ§•šŸ» : Iya, maaf memang pas kebetulan waktunya buku terbit dan waktu PO terbatas šŸ™šŸ™šŸ™

__ADS_1


__ADS_2