Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Hormon Kehamilan?


__ADS_3

"Ta, kangen," seru Bella yang langsung memeluk Dita begitu sahabatnya itu muncul di ruang tamu. Saking semangatnya Bella, Dita sampai sedikit terhuyung ke belakang.


"Pelan-pelan, Bel. Istriku baru hamil muda. Kondisinya juga masih lemas." Rendra langsung menegur sahabat istrinya itu. Wajahnya terlihat cemas melihat Dita yang terhuyung.


"Maaf Kak Rendra, Ta." Seketika itu Bella mengurai pelukannya. Dia tampak merasa bersalah.


"Sayang, enggak apa-apa kan?" Rendra segera merangkul Dita. Membimbingnya untuk duduk di sofa ruang tamu.


"Aku enggak apa-apa, Mas. Tadi cuma kaget saja dan enggak siap." Dita memegang lengan suaminya. Meyakinkan Rendra kalau dia baik-baik saja.


"Lain kali jangan gerabak-gerubuk lagi, Bel." Rendra mengingatkan Bella setelah memastikan istrinya duduk di sofa dengan nyaman.


"Iya, Kak. Maaf, aku terlalu semangat karena kangen sama Dita."


"Udah, enggak apa-apa, Bel. Aku juga kangen kalian" Dita tersenyum pada sahabatnya. "Ayo duduk, Bel, Im."


Bella dan Baim kemudian duduk di sofa, berhadapan dengan Dita dan Rendra.


"Sayang, duduk di sini dulu. Aku mau ke dalam sebentar ambil notebook. Nanti aku temani di sini sambil kerja, ya." Rendra menggenggam tangan Dita.


"Iya, Mas." Dita menyengguk.


"Aku takut kalau Kak Rendra marah, serem," celetuk Baim dengan bergidik.


"Iya, Im. Aku juga." Bella menimpali.


"Suamiku enggak marah, cuma khawatir sama aku aja. Tahu sendiri kan gimana posesifnya Mas Rendra. Maaf ya kalau bikin kalian berdua takut dan tidak nyaman." Dita memandang kedua sahabatnya, merasa tak enak hati.


"Kak Rendra enggak salah, Ta. Aku yang terlalu heboh memang. Tapi, kamu benar enggak apa-apa kan?" Bella memandang Dita dengan kening berkerut.


"Aman, Bel. Insya Allah, aku baik-baik saja." Dita tersenyum lebar.


"Gimana keadaanmu, Dit? Sudah baikan apa belum? Wajahmu masih agak pucat gitu," ucap Baim merasa iba dengan Dita.


"Alhamdulillah, sudah mendingan. Tapi masih agak lemas. Kerjaanku rebahan aja jadinya. Enggak boleh ngapa-ngapain soalnya," terang Dita.


"Kamu kecapaian juga kali, Ta. Kan kamu juga yang mengurus pernikahannya Mas Adi," kata Bella.


"Iya, mungkin juga. Semoga besok sudah normal lagi biar enggak banyak bolong puasaku," doa Dita yang di-aamiin-kan kedua sahabatnya.


"Kamu enggak puasa sekarang, Dit?" tanya Baim.


"Iya, Im. Aku enggak puasa dari kemarin. Enggak puasa aja lemas apalagi kalau puasa. Sama dokter juga enggak boleh puasa kalau masih lemas. Aku nurut saja lah demi kebaikan juga." Dita mencurahkan isi hatinya.


"Beda ya sama kehamilanmu yang dulu, Ta?" Kali ini Bella yang bertanya.


"Hu um. Dulu aku tidur karena memang rasanya ngantuk terus. Sekarang tiduran karena lemas. Aku juga enggak bisa nyium bau parfum Mas Rendra, pasti langsung pusing. Kayanya anakku yang ini sensitif banget. Apa yang aku rasakan langsung berefek ke perutku." Dita bercerita sambil mengelus perutnya.


"Kenapa bisa begitu ya, Ta?" tanya Bella penasaran.


"Ya, memang biasanya begitu. Setiap anak pasti punya pembawaan masing-masing, Bel. Tidak bisa disamaratakan," jelas Dita.


"Tuh, dengar, Im. Itu bisa bekal pengetahuan kalau nanti istrimu hamil." Bella menyenggol Baim yang dari tadi manggut-manggut setiap Dita bicara.


"Kok jadi aku? Kan kamu yang bakal ngalamin hamil, Bel." Baim memandang sinis pada Bella.


"Sudah jangan ribut. Ini pengetahuan buat kalian berdua." Dita menengahi kedua sahabatnya.


"Dit, adik iparmu mana?" tanya Baim dengan suara pelan.


"Nisa, maksudmu, Im?" goda Dita.


"Memang kamu punya adik ipar berapa, Dit?" Baim mengernyit.


"Cuma satu," jawab Dita dengan terbahak.


"Sialan. Kamu ngerjain aku, Dit." Muka Baim berubah kesal.


"Kan aku memastikan, Im. Siapa tahu orang lain yang kamu maksud." Dita beralasan.

__ADS_1


"Memang aku kenal saudaramu siapa lagi yang cewek selain Kak Adel sama Nisa," gerutu Baim. "Enggak mungkin kan aku nanyain Kak Adel yang sudah jadi istri Mas Adi."


"Bukannya tadi yang bukain kalian pintu Nisa ya?" tanya Dita.


"Iya, tapi habis itu dia masuk ke dalam," kata Baim.


"Di kamarnya mungkin dia sekarang. Kenapa? Kamu mau ngobrol sama Nisa, Im?" Dita kembali menggoda Baim.


"Enggak, cuma nanya aja." Baim memegang tengkuknya sambil meringis.


"Kamu naksir ya Im sama Nisa?" Bella memandang Baim dengan tatapan menyelidik.


"Engβ€”enggak, Bel." Bima melambaikan tangannya.


"Pantas kamu semangat banget mau jenguk Dita. Kamu harus berani hadapi Kak Rendra kalau naksir Nisa," kata Bella.


"Sssttt, bisa diam enggak, Bel." Baim meletakkan telunjuk di depan mulut, meminta Bella tidak bicara lagi.


"Dasar cemen kamu, Im," ledek Bella.


"Siapa yang cemen?" tanya Rendra yang tiba-tiba masuk ke ruang tamu dengan membawa notebook di tangannya.


"Baim itu, Kak," jawab Bella yang membuat Baim menyenggol kakinya. Bella tersenyum mengejek saat pandangan mereka bertemu.


"Maaf lama, Sayang. Tadi mama telepon tanya keadaan Sayang." Rendra mengelus kepala istrinya setelah duduk di samping Dita.


"Iya, Mas. Enggak apa-apa."


"Ehm, Kak Rendra, ada dua jomlo di sini mohon dikondisikan kemesraannya," celetuk Bella sambil meringis dan mengangkat tangan kanannya dengan jemari membentuk huruf V.


Rendra tertawa kecil. "Maaf ya para jomlo. Beginilah nikmatnya pacaran halal."


"Iya, deh Kak," kata Bella akhirnya dengan nada pasrah.


"Oh ya, gimana tugas kemarin?" tanya Dita untuk mengalihkan pembicaraan.


"Tugasmu sudah aku kumpulkan kemarin. Aku juga bilang kamu izin sakit. Ada tugas lagi sih untuk selanjutnya," jawab Bella.


Mereka bertiga mengobrol hingga azan Asar berkumandang. Rendra mengajak Baim salat Asar di masjid. Kebetulan Bella sedang berhalangan jadi Dita menemaninya mengobrol. Dita akan salat nanti setelah Baim dan suaminya pulang dari masjid, jadi Bella tidak sendiri menunggu di ruang tamu.


"Ta, memang kamu enggak sadar kalau hamil?" tanya Bella saat mereka hanya berdua.


Dita menggeleng. "Enggak. Mungkin karena aku sibuk mengurus pernikahannya Mas Adi dan juga kuliah sampai lupa kalau belum haid."


"Bukannya harus ditunda ya kehamilanmu yang selanjutnya?" tanya Bella lagi.


"Iya, Bel. Tapi kalau Allah sudah kasih amanah masa ya ditolak. Sementara banyak orang yang ingin hamil dan punya anak tapi masih belum dikasih. Hanya saja, aku harus lebih berhati-hati di kehamilan sekarang. Aku harus peka kalau ada yang janggal," jawab Dita seraya mengelus perutnya.


"Betul juga ya. Semoga lancar dan sehat sampai melahirkan nanti ya, Ta," doa Bella dengan tulus.


"Aamiin. Doakan terus ya, Ta. Aku juga berdoa semoga aku masih bisa tetap kuliah meski kondisiku tidak sekuat dulu."


"Pasti aku doakan, Ta."


"Oh ya, kapan kamu mudik?" tanya Dita.


"Lusa. Aku masih kerja sampai besok. Katanya sih besok pak bos mau kasih THR. Apa benar, Ta?" selidik Bella.


"Kayanya sih. Mas Rendra tadi baru ngitungin THR kalian pas kita ngobrol." Dita menoleh ke notebook suaminya yang tertutup.


"Aku dapat berapa, Ta. Intipin dong," desak Bella.


Dita mencibir. "Enggak ada ya acara intip-intip. Itu rahasia perusahaan."


"Kok gitu sih, Ta." Bella berdecak kesal.


"Meski kita berteman, urusan kerja tetap profesional ya. Lagian masalah itu aku enggak begitu paham. Mas Rendra yang handle gaji dan THR kalian. Kalau kamu berani, tanya saja sendiri nanti."


"Mana berani aku. Meski Kak Rendra sekarang sudah lebih akrab, tapi auranya tetap menakutkan, Ta." Bella bergidik.

__ADS_1


Dita terkekeh. "Masa sih suamiku menakutkan?"


"Kamu enggak ingat dulu kalau kalian bertengkar di kampus?" sindir Bella.


"Biasa aja sih menurutku," sahut Dita santai.


"Emang kamu tuh enggak peka, Ta. Baim aja tadi sudah ketakutan lihat ekspresi Kak Rendra waktu aku peluk kamu."


Dita kembali tertawa. "Sudah jangan gibah suamiku. Terus kamu mau balik ke sini kapan?"


"Sehari sebelum masuk kuliah kayanya, Ta."


Dita menganggut mendengar jawaban Bella. Mereka kemudian membahas banyak hal sampai Rendra dan Baim datang. Setelah kedua pria itu pulang dari masjid, Bella dan Baim pamit pulang karena Bella harus masuk kerja di kafe.


Sesudah kepulangan dua sahabatnya, Dita segera melaksanakan salat Asar. Setelah itu dia duduk bersandar di headboard. Dia memejamkan mata karena rasa pusing mulai menyerangnya. Selain itu, mulutnya juga terasa agak pahit.


Rendra masih di ruang tamu menyelesaikan pekerjaannya. Hari ini dia harus sudah membuat daftar THR dan bonus karyawan berdasarkan masa dan prestasi kerjanya yang laporannya dibuat admin dan diketahui Candra. Kalau sudah selesai, dia tinggal mengirim pada Candra. Besok Candra yang akan membaginya pada karyawan. Selama keadaan Dita belum normal, dia masih tidak tenang meninggalkan istrinya, meski Dita tidak pernah sendirian di rumah. Karena itu, dia mendelegasikan pada Candra.


Setelah 1 jam berkutat di depan notebook akhirnya pekerjaannya selesai. Dia segera mengirimnya lewat email pada Candra. Dia meregangkan badan untuk menghilangkan rasa pegal yang menderanya. Saat itu dia baru sadar ternyata istrinya tidak kembali untuk menemaninya di ruang tamu.


Rendra mematika notebook lalu beranjak dari ruang tamu. Dia tidak melihat istrinya di ruang tengah dan juga di dapur. Pasti Dita ada di kamar. Dengan langkah gembira dia masuk ke dalam kamar. Dia terkesiap saat melihat Dita bersandar di headboard. Dia menghampiri istrinya dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Sayang, capek?" Rendra mengecup kening Dita setelah duduk di sisi ranjang, di samping istrinya.


"Aku agak pusing, Mas," jawab Dita tanpa membuka mata.


"Sejak kapan?" tanya Rendra cemas.


"Tadi habis salat Asar," jawab Dita pelan.


"Kok enggak bilang dari tadi sih, Sayang. Aku bikinkan teh panas ya biar lebih enakan." Rendra mengelus kepala istrinya penuh rasa cinta.


"Ya. Makasih, Mas." Dita akhirnya membuka mata dan tersenyum pada suaminya.


"Tunggu sebentar, ya." Rendra pergi ke dapur untuk membuat teh manis panas untuk istrinya.


Setelah minum teh, Dita merasa badannya lebih enak. Dia berniat membantu mertuanya menyiapkan makanan untuk buka puasa tetapi Rendra tidak mengizinkannya. Akhirnya mereka hanya mengobrol di kamar sampai menjelang azan Magrib.


Dita tetap melayani makan suaminya. Dia sama sekali tidak diizinkan untuk membantu di dapur. Bahkan membawa piring kotor saja tidak boleh. Dia sampai merasa tidak enak hati. Tapi itu perintah suami dan mertuanya yang tidak bisa dibantah.


Malam ini, mereka masuk ke kamar lebih awal. Setelah membersihkan diri dan berwudu, mereka berbaring di atas ranjang. Seperti biasa mereka pasti melakukan pillow talk sebelum tidur.


"Sayang, jangan coba memancingku," kata Rendra karena Dita dari tadi menciumi leher dan dadanya setiap dia bicara.


"Kenapa memangnya, Mas?" Dita menghentikan kegiatannya.


"Sayang, kan sedang sakit. Kita tidak mungkin melakukan itu." Rendra menatap istrinya.


"Kata siapa tidak boleh? Kata dokter Lita selama aku tidak ada keluhan, boleh-boleh saja, Mas." Tangan Dita mulai bermain di dada suaminya.


"Tapi, aku enggak tega, Sayang. Please, jangan buat aku tersiksa dengan menggodaku kaya gini." Rendra memegang tangan Dita yang ada di dadanya.


Dita tiba-tiba cemberut. "Mas, sudah enggak sayang dan cinta aku lagi." Dia memalingkan wajahnya.


"Astaghfirullah, pemikiran dari mana itu, Sayang. Justru karena aku sangat sayang dan cinta kamu, aku tidak tega melakukannya." Rendra menangkup wajah istrinya, membuat mereka saling bertatapan.


"Mas, jahat enggak mau. Padahal aku lagi pingin." Dita memukul dada suaminya.


"Oke, we'll do it. Aku akan pelan-pelan." Rendra menuruti keinginan istrinya.


"Tapi aku ingin di atas," ucap Dita dengan manja.


"Are you sure?" Rendra menatap Dita tak percaya. Apa ini salah satu efek dari hormon kehamilan istrinya? Dia tidak tahu. Meski yah tentu saja dia dengan suka hati melakukannya.


Dita mengangguk. "Off course I'm sure, Mas."


"Oke. Tapi kalau capai bilang ya. Aku enggak mau Sayang memaksakan diri."


"Don't worry, Mas." Dita tersenyum. Dia memulai permainan panas mereka dengan mencium bibir suaminya.

__ADS_1


...---oOo---...


Jogja, 050721 02.20


__ADS_2