Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Drama


__ADS_3

"Assalamu'alaikum," salam Adi begitu masuk ke rumah. Di ruang tamu sudah ada Ibu Dewi dan ketiga buah hatinya, ayah dan bundanya serta Dita.


"Wa'alaikumussalam." Semua yang ada di ruang tamu membalas salamnya.


"Nah ini pengantin barunya sudah datang," seloroh Ibu Dewi saat Adi menyalaminya.


Adi tersenyum menanggapi kelakar Ibu Dewi.


"Semalam menginap di rumah Pak Lukman ya?" tanya Ibu Dewi.


"Iya, Tante. Ini tadi dari sana," jawab Adi. Adelia mengikuti suaminya di belakang. Mereka menyalami semua yang ada di sana.


"Mas Adi, jauh-jauh deh." Dita mendorong Adi saat kakaknya itu mencium keningnya.


"Kenapa, Dek?" tanya Adi dengan tatapan heran.


"Aku pusing nyium parfumnya, Mas," jawab Dita sambil menutup hidungnya.


"Ini parfum yang biasa loh, Dek." Adi mengerutkan kening menatap adinya.


"Tapi bikin aku pusing, Mas." Dita masih menutup hidungnya.


"Dia juga pusing kalau aku pakai parfum, Mas. Jadi aku juga tidak pernah pakai parfum lagi sekarang." Rendra ikut menyahut karena Adi sepertinya masih bingung.


"Dimaklumi saja, Mas. Itu bawaan hamil." Ibu Hasna juga ikut menimpali.


Adi tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Anakmu yang ini kayanya enggak mau kalah keren sama pakde dan ayahnya."


"Apaan sih. Resek ih, Mas Adi." Dita melirik kesal pada kakaknya.


"Mas, sudah. Bawa masuk dulu kopernya." Ibu Hasna menengahi kedua buah hatinya.


"Iya, Bun." Adi menuruti bundanya. Setelah pamit dengan keluarga Ibu Dewi, dia dan Adelia pergi ke kamarnya.


"Kamarku yang ini, Ai. Kalau yang itu kamar Dita, yang ujung situ kamar ayah sama bunda." Adi menunjuk deretan kamar yang saling bersebelahan.


"Di sini kamar mandinya di belakang, enggak di kamar." Adi mengajak istrinya ke belakang untuk melihat letak kamar mandi.


"Rumah di desa ya kaya gini, Ai. Enggak ada AC. Beda sama di kota," jelas Adi sembari berjalan kembali ke kamar. Dia membuka pintu kamar dan menyuruh Adelia masuk lebih dulu. Dia menyusul sambil menyeret koper.


"Ini kamarku, Ai. Biasa aja, enggak ada yang istimewa. Aku jarang menempati kamar ini sejak kuliah." Adi duduk di atas ranjangnya.


"Mas, jangan rebahan kalau belum ganti baju." Adelia memperingatkan suaminya sebelum Adi merebahkan diri.


"Iya, Ai. Sini duduk dulu." Adi menepuk kasur di sampingnya.


Adelia menurut. Dia duduk di samping suaminya.


"Ai, selama Rendra di sini, kalau keluar dari kamar harus pakai hijab ya. Lepas hijab hanya boleh di kamar dan kamar mandi. Oh ya, kalau mau mandi sebelum Subuh enggak akan kedinginan. Di sini ada pemanas airnya, Ai."


"Iya, Mas." Adelia menyenggut.


"Ai, tidur saja kalau masih capek," saran Adi.


"Mas Adi, memang mau ke mana?" tanya Adelia.


"Temani tidur Ai dong," jawab Adi sembari memainkan alisnya.


Adelia mencibir. "Benar cuma tidur?"


"Kalau Ai mau lebih dari sekedar tidur, aku sih yes." Adi terkekeh.

__ADS_1


"Maunya Mas itu mah." Adelia kembali mencibir.


"Memang Ai enggak mau ya?" Adi kembali menggoda istrinya.


Adelia melengos, malas menanggapi suaminya yang setiap saat terus menggodanya. Dia kemudian bangkit dari duduknya.


"Mau ke mana Ai?" tanya Adi sambil menahan tangannya.


"Mau ke depan, ikut ngobrol sama Tante Dewi. Aku enggak enak kalau di kamar padahal ada tamu yang juga masih keluarga." Adelia memberi alasan.


"Ai, bener enggak mau tidur?" tanya Adi memastikan. Sebenarnya dia hanya berniat menggoda istrinya saja tadi, tidak serius.


"Tadi aku sudah tidur di mobil kan, Mas. Alhamdulillah sudah enakan sekarang," terang Adelia.


"Ya, udah kalau begitu. Ayo kita ke depan lagi." Adi bangkit dari duduknya lalu menggandeng Adelia ke luar dari kamar. Mereka bergabung dengan yang lain di ruang tamu.


Setelah bercengkerama mengenai banyak hal, Ibu Dewi pamit pulang usai salat Asar. Sebelum itu mereka sempat makan bersama dengan hidangan yang dimasak oleh Ibu Hasna.


Karena Pak Wijaya termasuk orang terpandang di sana, jadi banyak orang yang datang untuk bersilaturahim. Selain tetangga dan kerabat, ada rekan sejawat serta teman-teman di ormas yang bertandang ke rumah. Istilah kerennya open house. Jadi memang sudah kebiasaan Ibu Hasna menyiapkan kudapan dan makan bagi yang berkunjung ke rumah.


"Bun, aku ingin botok mlanding (lamtoro/petai cina)," pinta Dita sambil bergelayut manja di lengan bundanya.


"Iya, besok bunda buatkan. Nanti bunda minta Mbok Darmi cari mlanding." Ibu Hasna mengelus tangan putri semata wayangnya itu.


"Pakai teri juga ya, Bun," pinta Dita lagi.


"Iya. Adek, mau makan apa lagi?" tanya Ibu Hasna dengan lembut.


"Sudah itu aja, Bun." Dita menyandarkan kepala di bahu bundanya.


"Nanti kalau mau dibuatin apa lagi bilang ya, Dek."


"Siap, Bun. Itu mangga depan rumah sudah matang apa belum sih, Bun?"


"Ingin lotis atau rujak aja sih biar seger. Tapi buahnya enggak harus mangga, yang ada aja." Dita mengatakan keinginannya.


"Mau aku petikin mangganya, Sayang?" tawar Rendra yang dari tadi menyimak istri dan ibu mertuanya bicara.


"Boleh, Mas. Tapi aku ikut ke depan ya." Dita bangkit dari duduknya dengan antusias.


"Pelan-pelan berdirinya, Sayang." Rendra langsung mendekati istrinya, berjaga agar Dita tetap aman.


"Ayo, Mas." Dengan santainya Dita menggandeng lengan suaminya.


"Pelan-pelan saja jalannya. Enggak usah terburu-buru," tegur Rendra.


"Iya, Mas. Tenang saja." Dita meyakinkan suaminya.


Setelah sampai di bawah pohon mangga, Dita melihat-lihat buahnya yang bergelantungan.


"Mas, ambil yang paling dekat aja, yang bisa diraih. Mas Rendra jangan naik ke pohon." Dita menoleh pada suaminya yang sedang mengamati pohon mangga itu.


"Tapi ini mangganya tinggi semua, Sayang. Aku lompat pun enggak sampai. Enggak apa-apa aku naik ke pohon." Rendra coba melompat untuk meraih buah mangga tapi tidak tergapai.


"Jangan!!! Enggak boleh. Mas Rendra enggak boleh naik. Itu banyak semutnya nanti badan Mas gatal-gatal," larang Dita.


"Nanti aku langsung mandi biar enggak gatal."


"Pokoknya Mas Rendra enggak boleh naik," pekik Dita dengan kening berkerut.


"Tuh, kan perutku jadi tegang gini, Mas." Dita memegang perutnya.

__ADS_1


"Iya. Aku enggak akan naik ke pohon. Sudah ya jangan panik lagi. Maaf, Sayang." Rendra merangkul Dita. Dia lalu berjongkok di depan perut istrinya.


"Baby, maafkan ayah sudah membuat ibu panik. Jangan tegang lagi ya. Kasihan ibu." Rendra mengelus-elus perut Dita sambil bicara dengan calon buah hati mereka. Setelah Dita lebih tenang, kini perutnya sudah tidak tegang lagi.


"Metiknya pakai ini saja, Rend." Adi tiba-tiba datang dengan membawa bambu panjang dengan ujung berbentuk keranjang kecil. Bambu itu memang fungsinya untuk memetik buah yang tinggi, atau biasa disebut dengan sengget.


"Makasih, Mas. Kalau tahu ada alat ini kan enggak perlu ada drama, Mas." Rendra meraih sengget dari tangan Adi.


"Mas Rendra jahat, masa aku dibilang drama." Dita merasa kesal setelah mendengar kata-kata Rendra. Dia berjalan dengan cepat meninggalkan suami dan kakaknya.


"Aduh, Mas. Gawat ini. Salah omong aku." Rendra menepuk keningnya.


"Sini, biar aku yang petik mangganya. Kamu susul Dita saja sana." Adi mengambil kembali sengget dari tangan Rendra.


"Makasih, Mas. Aku susul Dita dulu." Rendra langsung berlari mengejar istrinya.


Adi tersenyum miris sambil menggelengkan kepalanya. Dia merasa kasihan pada Rendra yang harus membujuk adiknya yang sedang hamil dan jadi sangat sensitif. Salah omong sedikit bisa fatal akibatnya. Dalam hati dia juga berdoa, semoga nanti kalau Adelia hamil tidak seperti Dita.


"Sayang," panggil Rendra dengan lembut di belakang Dita setelah berhasil menyusul istrinya.


"Jalannya pelan-pelan ya, kasihan Baby. Sayang, boleh marah sama aku, tapi jalannya jangan cepat begini. Nanti kalau jatuh gimana?" Rendra berhasil merangkul Dita.


"Mas, doain aku jatuh?" Dita menghentikan langkahnya. Dia memandang Rendra dengan kesal.


"Astaghfirullah. Mana mungkin aku mendoakan Sayang dan Baby jatuh. Aku cuma takut nanti Sayang tanpa sengaja tersandung," jelas Rendra.


"Aku jalan juga lihat, Mas. Aku jalan enggak sambil merem." Dita membela dirinya.


"Iya, Sayang. Aku tahu. Yuk masuk ke dalam, Sayang." Rendra tidak ingin memperpanjang perdebatan. Dia memeluk pinggang istrinya. Dia menjaga agar Dita tidak berjalan cepat dan asal melangkah.


"Aku bisa jalan sendiri." Dita memberontak.


Ternyata istrinya masih kesal padanya. Tapi dia bersikukuh tidak melepaskan pelukan di pinggang istrinya. Karena kalah tenaga dengan suaminya, akhirnya Dita mau tidak mau berjalan sesuai arahan Rendra.


"Mau ke kamar, Sayang?" tanya Rendra setelah mereka masuk ke dalam rumah.


"Enggak, mau di sini aja." Dita menunjuk sofa di ruang tengah.


"Dari tadi pagi Sayang belum istirahat loh. Kita ke kamar saja ya. Ingat pesan dokter Lita, harus banyak istirahat." Rendra mengingatkan istrinya dengan lembut.


"Aku kan juga bisa istirahat di sini."


"Tapi lebih enak di kamar, Sayang. Rebahan di atas kasur yang lebar. Kalau di sofa kan sempit, Sayang." Rendra coba membujuk istrinya.


"Iya, Dek. Istirahat saja di kamar sana." Ibu Hasna tiba-riba menyahut. "Jangan sampai kecapaian, kasihan dedeknya di perut."


"Ya udah, aku ke kamar saja," celetuk Dita masih dengan bibir yang cemberut.


...---oOo---...


Jogja,080721 00.30


Adakah yang kemarin menunggu cerita ini up? šŸ‘‰šŸ‘ˆ


Maaf kemarin tidak bisa up karena mood yang agak berantakan. Mohon maaf kalau bab ini jadi agak enggak jelas ceritanya šŸ™šŸ™šŸ™ Semoga masih bisa dinikmati šŸ¤—šŸ¤—šŸ¤—


Catatan:


Botok mlanding : lauk dari mlanding atau lamtoro atau petai cina yang dicampur dengan parutan kelapa muda yang dibumbui, kemudian dibungkus dengan daun pisang dan dikukus.


...

__ADS_1



Gambar botok mlanding atau lamtoro (kredit foto sesuai yang tertulis di foto)...


__ADS_2