Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
The Storm 2


__ADS_3

"Mas Adiiiiiiii!!!" teriak Adelia begitu melihat suaminya terjatuh. Seketika itu dia menangis tanpa bersuara. Rasanya separuh jiwanya hilang. Hawa dingin langsung menyelimuti tubuhnya. Jantungnya berdetak dengan kencang. Dia merasa seluruh badannya lemas, tak bertenaga. Untung saja dia masih ingat pesan Adi tadi. Dengan sisa tenaga dan tangan gemetar, dia mencari-cari gawai di dalam tasnya, yang entah kenapa jadi sulit ditemukan. Setelah menemukan gawainya, dia segera mencari kontak Arsenio dan menghubungi adiknya itu.


Masih dengan tangan yang bergetar, dia membuka pintu mobil sambil menelepon adiknya.


"Dek," panggil Adelia dengan terisak.


"Mbak, kenapa?" tanya Arsenio dengan nada panik.


"Mas Adiโ€”." Suara Adelia tertahan. Dia tidak sanggup mengucapkan kata-kata lagi


"Oke, aku ke sana. Mbak tunggu aku ya." Arsenio langsung menutup telepon. Dia mengecek posisi Adi dariย WhatsApp grup yang tadi dibagikan kakak iparnya itu. Dia lalu mengirim pesan suara kalau terjadi sesuatu dengan Adi. Setelah itu dia bergegas mengambil motor. Kebetulan dia sedang di toko buku ternama yang tidak jauh dari Masjid Syuhada.


Suasana di depan masjid menjadi ramai setelah mendengar teriakan Adelia. Beberapa orang yang lewat di depan masjid dan mengendarai motor, langsung mengejar mobil yang dengan sengaja menabrak Adi. Sementara beberapa pria mendekat ke mobil Adi.


"Wong stres sajake mau sek nabrak, ketoke kok sengojo." (Orang stres kayanya yang tadi menabrak, kayanya disengaja.)


"Nek ra wong stres yo wong mabuk." (Kalau bukan orang stres ya orang yang mabuk.)


"Ngawur tenan. Wong wes nang pinggir kok iso-isone ditabrak." (Sembarangan banget. Orang sudah di pinggir kok bisa-bisanya ditabrak.)


"Wes ono sing ngoyak to?" (Sudah ada yang mengejar kan?)


"Wes mau sek do numpak motor. Wong loro opo wong telu sek ngoyak." (Sudah dikejar sama yang pakai motor. Dua atau tiga orang tadi yang mengejar.)


"Gek ditulungi kuwi mas-e ro mbak-e ora ngomong wae." (Segera ditolong itu mas sama mbak-nya jangan bicara saja.)


Banyak terdengar celetukan orang-orang yang ada di sana. Tapi Adelia tidak mendengar apa pun, fokusnya hanya ingin segera melihat keadaan suaminya. Dengan tubuh tertatih-tatih, dia berjalan sambil berpegangan pada mobil. Dia menuju sisi di mana suaminya berada.


Adelia langsung terduduk di samping suaminya yang terbaring terlentang. Adi sama sekali tak bergerak, hanya dadanya yang bergerak naik turun menandakan kalau dia masih bernapas. Keningnya juga terlihat memerah, pasti karena terbentur pinggiran hood saat tertabrak tadi.


"Mas Adi, bangun." Dia menggoyang-goyangkan tubuh suaminya yang diam tak bergerak.


"Mbak, jangan digoyang tubuh mas-nya, nanti tunggu ambulans dan tim medis datang. Takutnya nanti malah makin parah cederanya," celetuk seseorang di sana.


"Maaf, tolong minggir. Saya mau lihat kakak saya." Arsenio menerobos kerumunan orang yang mengelilingi Adi.


"Mbak," panggilnya, begitu dia di dekat Adelia.


Adelia menengok ke arah Arsenio. Dia langsung memeluk adik semata wayangnya itu.


"Dek, Mas Adi." Adelia terisak-isak dalam pelukan Arsenio.


"Tenang, Mbak. Aku di sini. Insya Allah, Mas Adi tidak apa-apa cuma pingsan." Arsenio mengelus punggung kakaknya.


"Mas ini siapa? Jangan mengambil kesempatan ya," tegur seorang bapak paruh baya.


"Saya adik kandungnya mbak yang memeluk saya ini. Yang terbaring itu kakak ipar saya," jelas Arsenio.


"Maaf, apa sudah ada yang menghubungi rumah sakit?" tanya Arsenio pada orang-orang.


"Sudah, Mas. Mungkin sebentar lagi ambulansnya datang."


"Terima kasih, Pak. Maaf, apa ada yang tahu kronologinya bagaimana?" Arsenio memandang sekeliling.


"Mas itu tadi lagi jalan mau masuk mobil. Dari selatan ada mobil yang ngebut terus nabrak mas-nya itu," jelas pria yang tadi menjawab dia.


"Terima kasih infonya, Pak."


Arsenio mengambil gawai lalu menghubungi Rendra dan Kaisar.


"Mas, ini aku sudah di TKP. Mas Adi tadi ditabrak dan sekarang kayanya pingsan. Nanti tolong diurus masalah di sini. Aku mau temani Mbak Adel, dia syok banget," kata Arsenio pada Rendra dan Kaisar.

__ADS_1


"Aku otw ke situ, lima menit lagi sampai," balas Kaisar.


"Oke. Aku segera meluncur ke TKP," sahut Rendra.


Arsenio menyimpan lagi gawainya, setelah itu dia kembali fokus pada kakaknya.


"Mbak, tenang ya. Istigfar terus, kita doakan semoga Mas Adi tidak apa-apa." Arsenio terus menenangkan kakaknya.


Tak lama sirene suara ambulans terdengar. Orang-orang yang berkerumun mulai menepi, membuka jalan bagi tim medis yang datang. Ada empat orang yang turun dari ambulans, dua orang membawa brankar, dan dua orang lagi sepertinya dokter dan perawat.


Setelah mengecek tanda vital Adi, mereka menempatkan Adi ke atas brangkar. Mereka kemudian mengusung Adi ke dalam ambulans. Adelia ikut dengan ambulans, sementara Arsenio mengunci mobil Adi lalu menyusul ambulans dengan motornya.


...---oOo---...


"Mas, dari tadi kok sibuk sama hp terus sih," protes Dita yang merasa tidak diperhatikan suaminya.


"Ini Mas Adi yang kirim pesan, Sayang. Kayanya penting banget," jelas Rendra sambil terus menatap gawainya.


"Mas Rendra memang sudah enggak sayang lagi sama aku," gerutu Dita sambil bersedekap dan memalingkan wajah. Sore itu mereka duduk-duduk di teras atas sambil menunggu matahari terbenam.


Rendra segera menghentikan kegiatannya melihat gawai karena istrinya sudah mulai mengambek. Dia meletakkan gawai lalu duduk lebih merapat pada Dita.


"Siapa bilang aku enggak sayang lagi sama ibu dari anak-anakku. Aku enggak cuma sayang, tapi cinta banget sama Anindita Kusuma." Rendra merangkul erat bahu istrinya. Perlahan dia menarik wajah istrinya agar berhadapan dengannya.


"Maafin aku, Sayang. Bukannya aku tidak mau memperhatikan Sayang dan sibuk dengan ponsel, tapi situasi Mas Adi sekarang sedang sedikit tidak menyenangkan." Rendra menatap kedua mata wanita pujaannya.


"Enggak usah banyak alasan, Mas." Dita tidak begitu saja mempercayai ucapan suaminya.


Rendra menghela napas. Dia lalu memperlihatkan gawainya pada Dita. Dia menunjukkan pesan Adi yang mengatakan kalau dia sedang dibuntuti Restu.


"Astaghfirullah," gumam Dita setelah membaca pesan Adi. "Terus keadaan Mas Adi gimana sekarang?" tanya Dita yang mulai panik.


"Tenang, Sayang. Tenang. Jangan panik. Nanti perutnya jadi tegang kalau Sayang panik. Baby, tenang ya jangan ikut panik." Rendra mengelus-elus perut Dita yang masih terlihat datar.


"Benar Mas Adi tidak apa-apa, Mas?" tanya Dita dengan mata berkaca-kaca.


"Insya Allah, kita doakan saja semoga Mas Adi dan Adel selalu dalam lindungan Allah."


"Aamiin."


"Jangan marah lagi ya nanti kalau aku sering melihat hp karena sedang memantau Mas Adi," pinta Rendra pada istrinya.


"Iya, Mas."


Menjelang azan Magrib, Adi kembali mengirim pesan, mengabarkan kalau dia sekarang sedang di Masjid Syuhada untuk melaksanakan salat Magrib. Setelah membaca pesan dari kakak iparnya, Rendra langsung berangkat ke masjid di dekat rumahnya.


Pulang dari masjid, dia melihat Dita sedang duduk di ruang tengah sambil menonton televisi dan memakan camilan. Selama beberapa hari terakhir ini nafsu makan Dita sudah mulai normal, meski masih mengalami mual dan muntah setiap pagi. Dia menghampiri dan menyapa istrinya terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kamar.


Setelah masuk ke kamar, Rendra mengecek gawai yang dia letakkan di atas meja kerja. Ada pesan suara baru dari Arsenio.


"Sepertinya terjadi sesuatu dengan Mas Adi dan Mbak Adel. Barusan Mbak Adel telepon aku tapi dia hanya bilang Mas Adi. Mungkin karena panik dan kaget jadi tidak bisa ngomong. Aku dekat dengan TKP. Aku langsung meluncur ke sana. Nanti aku kabari kalau sudah sampai."


Suara Arsenio terdengar terburu-buru saat bicara.


Rendra segera mengganti bajunya dengan kemeja dan celana panjang. Dia akan menyusul Arsenio ke tempat di mana kakak iparnya berada sekarang. Dia memanggil mamanya agar menemani Dita di ruang tengah.


"Sayang," panggil Rendra yang kini duduk di samping istrinya.


Dita menoleh ke samping. Dia mengernyit melihat penampilan suaminya.


"Mas Rendra mau ke mana kok sudah rapi? Aku enggak diajak lagi," tanya Dita dengan ekspresi cemberut.

__ADS_1


"Sayang, dengar dulu penjelasanku, ya. Jangan menyela sampai aku selesai bicara. Oke." Rendra memegang kedua bahu istrinya.


Dita menyenggut sambil mengerucutkan bibir.


"Sayang, aku mau menyusul Mas Adi. Tadi Arsen kirim pesan kalau terjadi sesuatu, tetapi dia juga belum tahu apa. Makanya sekarang aku mau mengecek ada apa sebenarnya."


Dita terkesiap mendengar ucapan suaminya. Dia menjadi khawatir dengan keselamatan kakaknya itu. "Aku ikut," pintanya.


"No. Tidak boleh. Sayang, di rumah saja. Kita belum tahu situasinya bagaimana. Nanti aku kabari kalau sudah dapat info lagi ya." Rendra mengelus kepala istrinya.


"Tapi Mas Adi enggak apa-apa kan, Mas?" Dita terlihat panik.


"Insya Allah, semoga tidak apa-apa. Sayang, doakan keselamatan Mas Adi dan Adel ya."


Belum sempat Dita menjawab, gawai Rendra bergetar karena ada panggilan masuk dari Arsenio yang mengabarkan kalau Adi ditabrak orang.


"Oke. Aku segera meluncur ke TKP." Rendra menutup telepon lalu menyimpan di saku jaketnya.


"Sayang, aku harus pergi sekarang. Doakan Mas Adi ya." Rendra mencium kening Dita.


"Mas Adi kenapa Mas?" tanya Dita yang mulai mengeluarkan air mata.


"Mas Adi ditabrak orang, Sayang. Sabar ya. Tetap tenang. Doakan Mas Adi baik-baik saja," jawab Rendra sambil merengkuh istrinya.


Dita menangis sesenggukan dalam pelukan suaminya. Rendra mengelus punggung istrinya sambil sesekali mengecup puncak kepalanya.


"Aku mau lihat Mas Adi. Aku ikut," kata Dita sambil menangis.


"Besok saja ya lihat Mas Adi. Ini Mas Adi pasti baru dibawa ke IGD. Aku juga harus mengurus semuanya, Sayang. Aku pasti akan bolak balik ke sana ke mari. Sayang, di rumah saja sama mama, Nisa juga Kak Shasha ya. Aku janji akan langsung hubungi setelah tahu kondisi Mas Adi. Oke." Rendra memberi pengertian pasa istrinya.


"Tapi, aku mau lihat Mas Adi." Tangis Dita semakin menjadi.


"Sayang, dengar. Saat ini Mas Adi pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Adelia juga syok. Arsenio yang menemani dia. Jadi, aku yang akan menangani urusan dengan polisi. Kalau Sayang ikut nanti Sayang capai. Ingat ada Baby di sini. Please, Sayang, jangan buat aku khawatir." Rendra memandang Dita dengan tatapan memohon.


"Dita, situasinya sekarang belum memungkinkan untuk melihat Mas Adi. Kamu di rumah saja sama mama ya, Nak. Kita berdoa untuk keselamatan Mas Adi." Ibu Dewi ikut membujuk dan memberi pengertian pada Dita.


"Mama tahu kamu khawatir. Mama juga khawatir. Kalau kamu ikut, justru akan membuat kami lebih khawatir lagi. Apa tidak kasihan ayah dan bunda yang harus mengkhawatirkan keadaan kalian berdua?" lanjut Ibu Dewi.


"Sayang, mau ya di rumah dahulu. Aku janji, besok pagi kalau Mas Adi sudah dapat kamar kita jenguk sama-sama ya." Rendra menangkup wajah istrinya.


"Mas, nanti pulang jam berapa?" tanya Dita sambil menatap mata Rendra.


"Aku belum tahu, Sayang. Tapi kalau semua urusan sudah selesai, aku pasti akan pulang. Nanti Sayang tidur dulu kalau sudah mengantuk. Minta ditemani Mama, Nisa atau Kak Shasha kalau tidak bisa tidur ya." Rendra mengusap air mata dari wajah cantik istrinya.


Dita mengangguk. Meski sedih, dia tidak boleh egois.


Rendra tersenyum lega setelah Dita setuju tetap di rumah.


"Aku pergi dulu. Terus berzikir ya, tetap tenang. Jangan panik nanti perutnya jadi tegang. I love you." Rendra mengecup kening Dita.


Selanjutnya dia menunduk dan berbicara di depan perut istrinya sambil mengelus-elus.


"Baby, ayah pergi dulu. Jaga ibu ya. Baik-baik di sana, tetap tenang ya. I love you." Rendra mengecup perut Dita.


"Ma, titip Dita. Rendra pergi dulu." Rendra pamit sambil menyalami punggung tangan mamanya.


"Iya, hati-hati di jalan. Jaga diri. Ingat ada istri dan calon anakmu yang menunggu di rumah," pesan Ibu Dewi.


"Siap, Ma. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."

__ADS_1


...---oOo---...


Jogja, 240721 01.45


__ADS_2