Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Family Time


__ADS_3

Usai pulang dari masjid, Kaisar bertandang ke rumah Adi. Dia mau mengobrol dengan Adi sekalian menunggu Tirta yang ikut membantu menjamu tamu di rumah Ibu Dewi.


Pak Wijaya dan Ibu Hasna tiba di sana saat azan Asar berkumandang. Setelah salat Asar, Ibu Hasna dan Pak Wijaya bertamu ke rumah besan mereka, berbarengan dengan Kaisar dan Tirta yang pamit pulang karena hari sudah sore. Sementara itu tamu-tamu terus berdatangan hingga menjelang Magrib.


Keluarga Pak Wijaya dan keluarga Ibu Dewi kemudian makan malam bersama di rumah Ibu Dewi. Mereka menikmati kebersamaan dua keluarga dengan mengobrol bersama. Pak Wijaya memberikan beberapa petuah mengenai rukun dan sunah selama umrah, serta doa-doa yang harus dilafalkan, meskipun mereka sudah menghafalkan dan melakukan manasik sebelumnya. Selain itu Pak Wijaya juga memberitahu adab dan hal-hal yang sebaiknya dilakukan serta dihindari selama di tanah suci.


Malam ini, Rendra dan Dita menginap di rumah Adi, karena Dita ingin lebih lama bersama ayah serta bundanya sebelum besok meninggalkan tanah air. Meski sudah biasa hidup terpisah, tetapi kali ini Dita akan pergi jauh selama kurang lebih 2 minggu, jadi dia ingin dekat dengan kedua orang tuanya. Sama seperti saat Pak Wijaya dan Ibu Hasna akan menunaikan ibadah haji. Selama beberapa hari sebelum keduanya berangkat, dia tidur bersama mereka meski dia sudah kelas satu SMA. Tapi kali ini, dia tidak tidur bersama keduanya karena dia sudah bersuami, tidak mungkin dia meninggalkan Rendra tidur sendiri.


Sementara itu di rumah sebelah, Ibu Dewi dan Shasha bicara berdua di ruang keluarga setelah Nisa pamit ke kamarnya untuk mengecek kembali semua barang bawaannya.


"Sha." Ibu Dewi membuka pembicaraan.


"Ya, Ma," sahut Shasha seraya menoleh pada wanita yang telah melahirkan dia itu.


"Sebenarnya bagaimana hubungan kamu sama Kaisar dan Arjuna?" Ibu Dewi memberi tatapan menyelidik pada putri sulungnya itu.


"Aku enggak ada hubungan apa-apa sama mereka, Ma," terang Shasha.


"Tapi mama lihat sepertinya mereka ada sesuatu sama kamu."


"Kami hanya berteman, Ma. Tidak lebih dari itu." Shasha mencoba meyakinkan mamanya.


"Kamu saja yang mau berteman? Apa mereka juga maunya hanya berteman sama kamu?"


Shasha mengangkat kedua bahunya. "Aku sih bilang ke mereka kalau kami hanya berteman, Ma. Urusan mereka ingin lebih dari berteman, aku tidak tahu."


"Apa kamu sama sekali tidak ada perasaan sama salah satu dari mereka?"


"Mama ini ngomong apa sih? Aku kan bilang hanya menganggap mereka teman."


"Bagaimana kalau suatu hari mereka berdua atau salah satunya menyatakan ingin serius sama kamu?"


"Maksud, Mama? Mereka melamar aku?"


Ibu Dewi menganggut. "Iya. Kalian kan sudah dewasa. Sudah pantas untuk menikah. Sudah bukan waktunya lagi bermain-main apalagi dengan hati dan perasaan."


"Aku kan sudah pernah bilang belum ingin menikah, Ma."


"Kalau begitu, tidak seharusnya kamu memberi mereka harapan, Sha."


Kening Shasha berkerut. Dia merasa tidak pernah memberi mereka harapan, karena selama ini dia menganggap Arjuna dan Kaisar hanya teman dekat biasa. "Aku tidak begitu, Ma."


"Jujur sama mama. Apa kamu sama sekali tidak ada perasaan dengan salah satu dari mereka?" Ibu Dewi menatap intens Shasha.


"Mmmhhh, ya mungkin ada sedikit, Ma," kata Shasha.


"Sama siapa?" desak Ibu Dewi.


"Mama mau tahu aja deh. Biar aku yakinkan hatiku dulu, Ma." Shasha masih belum mau terbuka pada mamanya.


"Kenapa?" Kali ini Ibu Dewi yang mengernyit.


"Nanti saja Ma, kalau semuanya sudah jelas," alasan Shasha.


"Mama lihat mereka berdua baik. Semuanya sudah kerja kan."


"Iya, Ma. Kalau Mas Kai kan polisi, Mama juga sudah tahu. Kalau Mas Juna kerja di luar kota, dia jadi konsultan pajak gitu. Mama sendiri lebih suka sama siapa?" Shasha menatap mamanya.


Ibu Dewi tertawa. "Memangnya kalau mama bilang suka dengan salah satu dari mereka, kamu akan pilih dia?"


"Itu bisa jadi salah satu pertimbangan sih, Ma."


"Siapa pun pilihan kamu, mama akan selalu mendukung, Sha."


"Mama jawab dulu, lebih suka sama siapa?" pinta Shasha.


"Kamu curang ya. Tadi mama tanya siapa yang lebih kamu sukai tapi enggak mau jawab. Sekarang kamu memaksa mama menjawab. Kalau bukan curang apa itu namanya." Ibu Dewi mencubit puncak hidung Shasha.


Shasha terkekeh. "Itu karena aku belum yakin, Ma. Insya Allah nanti saat umrah aku minta diberikan petunjuk. Mama jawab dulu dong ya." Shasha menggelendot manja di lengan mamanya.


"Mungkin pendapat mama subyektif. Karena mama sudah kenal sama Tirta, mama lebih suka Kaisar. Tapi kalau mama sudah kenal sama Arjuna, mungkin bisa berubah," tutur Ibu Dewi.

__ADS_1


"Mama kan kenal Adelia juga. Mas Juna itu kakak sepupunya Adelia, Ma."


"Iyakah? Kok enggak bilang. Pantas tadi Arjuna kelihatan akrab sama Adelia."


"Sekarang apa pendapat Mama jadi berbeda?" tanya Shasha penasaran.


Ibu Dewi tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. "Mama baru sekali bertemu Arjuna, kalau Kaisar kan sudah beberapa kali. Meski Arjuna sepupunya Adelia, tetapi hubungan mereka pasti tidak sedekat Kaisar dan Tirta."


"Iya sih, Ma. Tapi aku lebih lama dekat dengan Mas Juna, meski lebih dulu kenal sama Mas Kai. Jadi aku lebih kenal sifatnya Mas Juna."


"Apa itu berarti kamu memilih Arjuna?" tanya Ibu Dewi dengan lembut.


Shasha menggeleng. "Kok Mama terus ambil kesimpulan seperti itu?"


"Kamu tadi bilang lebih kenal sifatnya Arjuna."


"Lebih kenal sifatnya bukan berarti terus jadi lebih suka sama dia kan, Ma."


"Berarti kamu memilih Kaisar?" tanya Ibu Dewi lagi.


Shasha tertawa mendengar pertanyaan mamanya lagi.


"Mama nih pinter kalau mancing-mancing. Besok kalau aku sudah yakin, Mama yang pertama aku kasih tahu. I promise!" Shasha mengangkat tangan kanannya, telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V.


Ibu Dewi mengangguk seraya tersenyum pada putrinya itu.


"Seperti yang mama katakan tadi, mama akan mendukung siapa pun pilihan kamu. Tapi ingat semua harus melibatkan Allah dalam mengambil keputusan, seperti Rendra dan Dita dahulu. Jangan hanya karena menuruti hati saja. Dan, setiap pilihan ada konsekuensinya. Mama percaya sama kamu, Sha. Mama hanya bisa merestui dan mendoakan kebaikan serta kebahagiaan kalian."


"Makasih, Ma." Shasha memeluk erat mamanya.


Ibu Dewi mengelus kepala putrinya dengan penuh rasa sayang. "Sudah malam, saatnya tidur. Besok kita harus pergi pagi."


"Iya, Ma. Aku juga sudah mulai mengantuk. Mama juga istirahat ya." Shasha mengurai pelukan mereka.


Ibu Dewi menyengguk. Mereka kemudian bangkit dari sofa ruang tengah menuju ke kamar masing-masing untuk beristirahat.


Bakda Subuh, Pak Wijaya dan Ibu Hasna berpamitan pada Ibu Dewi. Mereka akan kembali pulang ke desa. Dita menangis sesenggukan saat memeluk kedua orang tuanya. Berulang kali dia meminta maaf dan minta restu pada mereka berdua, sampai Rendra harus menenangkan Dita dan memeluknya erat.


Setelah kedua orang tuanya pulang, Dita juga meminta maaf dan doa restu pada Adi dan Adelia. Mereka saling berpelukan sampai meneteskan air mata karena rasa sedih dan haru. Sesudah itu, Dita dan Rendra kembali pulang ke rumah Ibu Dewi.


"Mas, kenapa cuma kita berdua yang upgrade kelas? Kenapa yang lain tidak?" tanya Dita saat mereka sudah duduk di pesawat kelas bisnis.


"Ini mama yang atur semuanya, Bubu Sayang. Biar Bubu dan Ale enggak capai dan bisa istirahat," jawab Rendra.


"Tapi kan ini enggak adil, Mas. Aku jadi enggak enak. Masa mama dan yang lain di kelas ekonomi, kita di kelas bisnis berdua," protes Dita.


"Sstttt, kalau mau protes nanti saat turun sama mama. Pesawatnya sudah mau take off ini." Rendra memasangkan sabuk pengaman pesawat Dita setelah memasang sendiri sabuknya.


Meski masih merasa tidak puas dengan jawaban suaminya, Dita menutup mulutnya sambil melafalkan doa di dalam hati.


"Ini dimakan permennya biar telinganya enggak sakit dan berdengung." Rendra menyuapkan permen yang sudah dia buka bungkusnya pada istrinya. Dita pun menurut mengunyah permen itu begitu pun Rendra juga mengunyah permen yang tadi dibagi oleh pramugari.


Mengunyah permen saat pesawat take off atau landing bisa mencegah penyumbatan saluran telinga (oklusi tuba) karena perbedaan tekanan udara di telinga tengah dengan tekanan udara di luar. Penyumbatan saluran telinga ini bisa mengakibatkan sakit telinga bahkan pusing. Sebenarnya bukan permen yang mencegah hal itu, tetapi gerakan rahang saat mengunyah permen yang membuat udara bisa keluar.


"Sini tangannya." Rendra meraih tangan istrinya, membuat tangan mereka saling menggenggam. "Sudah berdoa?"


"Sudah, Mas."


Selama penerbangan yang kurang lebih membutuhkan waktu sekitar 9 jam 20 menit itu, Dita berulang kali berdiri dan berjalan di lorong pesawat bila merasa pegal. Meski tempat duduknya lebih longgar dari kelas ekonomi, tetapi bila duduk selama itu pasti akan tetap tidak nyaman. Untung saja dia juga sempat tertidur setelah pesawat take off.


Setelah sampai di Bandara King Abdul Aziz Jeddah, mereka melewati proses imigrasi dan bagasi. Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Madinah. Begitu tiba di Madinah, mereka check in di hotel lalu beristirahat.


Usai beristirahat sejenak dan membersihkan diri, mereka pergi ke Masjid Nabawi untuk salat Subuh berjemaah di sana. Meski belum masuk waktu Subuh tetapi sudah banyak orang di sana. Ada yang sedang salat, zikir, atau membaca Al-Qur'an. Rendra berpisah dengan keluarganya karena dia menempati area jemaah pria.



(Masjid Nabawi)


Bakda Subuh mereka bergerak pelan menuju Raudah atau Taman Surga. Dita berada di tengah, dia dilindungi Shasha di depan, Ibu Dewi di sebelah kanannya dan Nisa di sebelah kirinya. Karena jemaah saling berebut dan berdesakan, mereka berjalan dengan hati-hati, sebisa mungkin mencegah benturan dengan jemaah lain meski itu pasti terjadi. Dita meletakkan tangannya di depan kandungan untuk melindungi perutnya sambil terus melafalkan doa meminta kelancaran dan keselamatan.


Setelah mengantre selama beberapa waktu, akhirnya mereka bisa menginjakkan kaki di Raudah dan mendapat giliran untuk menjalankan salat sunat dan berdoa di sana. Selama sekitar 15 menit mereka secara khusyuk salat dan berdoa di tempat paling mustajab di Masjid Nabawi itu.

__ADS_1



(Raudah)


Mereka kemudian ziarah ke makam Rasulullah SAW serta kedua sahabatnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar Bin Khattab, dan diakhiri ziarah di makam Baqi. Makam yang terletak di bagian timur Masjid Nabawi ini merupakan makam para sahabat Nabi Muhammad SAW dan beberapa keluarga beliau. Usai berziarah, mereka kembali ke hotel untuk sarapan.



(Makam Nabi Muhammad SAW)



(Makam Baqi)


Rendra, Ibu Dewi dan Shasha menjalankan salat lima waktu di Masjid Nabawi. Mereka memperbanyak berdoa, berzikir dan membaca Al-Qur'an di sana. Sedangkan Dita ditemani Nisa hanya menjalankan salat Magrib dan Isya di sana.


Hari kedua di Madinah, bakda Subuh, mereka mengunjungi berbagai tempat di Madinah seperti Masjid Quba, Jabal Uhud, Masjid Qiblatain, Masjid Khandaq dan di Pasar Kurma.


Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun Rasulullah pada 8 Rabiul Awal, 1 Hijriyah. Letaknya sekitar 5 km dari Masjid Nabawi atau sebelah tenggara kota Madinah.



(Masjid Quba)


Jabal Uhud atau gunung Uhud ini merupakan tempat peperangan besar antara Rasulullah SAW dan para sahabat dengan kaum kafir Quraisy pada 15 Syawal 3 Hijriyah, yang dikenal sebagai Perang Uhud. Di kaki gunung ini ada pemakaman para sahabat Rasulullah SAW yang gugur saat Perang Uhud.



(Jabal Uhud)


Masjid Qiblatain yang awalnya bernama Masjid Bani Salamah ini, menjadi saksi saat Rasulullah Saw mengganti kiblat salat ke arah Ka’bah di Makkah dari yang semula menghadap Masjid Al-Aqsha di Palestina. Karena itu ciri khas Masjid Qiblatain ini memiliki dua mihrab di dalamnya, yakni yang menghadap Baitul Maqdis dan Masjidil Haram.



(Masjid Qiblatain)


Masjid dan benteng Khandaq merupakan salah satu peninggalan Nabi Muhammad SAW di Madinah. Khandaq berarti parit. Dalam sejarah Islam, Khandaq adalah peristiwa penggalian parit untuk benteng pertahanan melawan kaum kafir Quraisy bersama sekutu-sekutunya yang mengepung Madinah.


Tujuan terakhir mereka adalah pasar kurma. Di pasar kurma ini dijual berbagai jenis kurma. Selain buah kurma, biskuit-biskuit yang terbuat dari bahan dasar kurma juga tersedia di sini. Pasar Kurma Madinah berlokasi sekitar 60 meter di sebelah selatan Masjid Nabawi.



(Pasar Kurma)


Setelah berbelanja berbagai macam kurma, mereka kembali ke hotel untuk beristirahat. Malam ini mereka harus berkemas, karena besok pagi mereka akan meninggalkan Madinah untuk pergi ke Makkah.


Dita duduk bersandar di atas ranjang. Dia menyelonjorkan kakinya yang mulai tampak bengkak. Untung saja dia membeli sandal yang nyaman sebelum berangkat umrah.


"Bubu Sayang, capai ya." Rendra memijat pelan kaki istrinya.


"Iya, Mas. Kayanya nanti aku enggak ikut salat di masjid."


"Iya, enggak apa-apa. Aku boleh kan salat di masjid?" Rendra menatap mata istrinya.


"Tentu saja boleh, Mas. Nisa kalau mau salat di masjid juga tidak masalah. Aku enggak apa-apa di kamar sendiri, yang penting sudah ada makanan di sini."


Sejak Dita tidak mengalami mual dan mentah, memang keinginan makannya bertambah. Bobot tubuhnya yang sempat turun, mulai normal lagi. Karena itu dia selalu menyediakan camilan yang sehat, yang tidak banyak mengandung kalori tetapi kaya gizi dan serat. Demi memenuhi keinginannya makan, dia membeli beberapa lusin snack bar sebagai bekal.


"Mas, udahan pijatnya. Aku ngantuk."


Rendra menghentikan pijatannya. Dia membantu Dita merebahkan diri di atas ranjang hotel.


"Mau dikelonin?" tawar Rendra.


Dita menyengguk. "Iya. Mana bisa aku tidur tanpa dipeluk Mas."


Rendra tersenyum. Dia lalu berjalan memutar menuju sisi ranjang yang kosong. Dia merebahkan dirinya di samping wanita yang sangat dia cintai itu.


...---oOo---...


Jogja, 250821 00.45

__ADS_1


Seandainya ada cerita saya yang diterbitkan, apa ada yang mau membelinya 👉👈


Semua kredit foto pada pemilik


__ADS_2