Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Konfrontasi


__ADS_3

Dita akhirnya kembali masuk magang setelah dua hari izin karena menemani Ale yang sedang rewel karena tumbuh gigi. Sebenarnya selama empat hari dia terus bersama buah cintanya itu, tapi karena dua harinya Sabtu dan Minggu, jadi tidak terhitung izin.


"Pagi, Kak," sapanya pada Citra, karyawan yang satu ruangan dengannya.


"Eh, sudah masuk? Kirain mau izin lama," sinis Citra.


Dita hanya tersenyum menanggapi Citra. Dia langsung menuju ke mejanya.


"Ini harusnya kamu yang mengerjakan. Gara-gara kamu tidak masuk, jadi terpaksa aku yang mengerjakan." Citra membanting berkas di atas meja Dita.


Dita terkesiap. Dia baru saja duduk dan meletakkan tasnya, tiba-tiba Citra sudah berdiri di samping mejanya dengan ekspresi yang tidak menyenangkan.


"Terima kasih, Kak. Maaf jadi merepotkan, Kak Citra," ucapnya.


"Cek lagi tuh sudah semua apa belum? Mentang-mentang kamu dekat sama Abim terus seenaknya saja minta izin. Nambah kerjaan orang saja," ketus Citra.


"Iya, setelah ini saya cek, Kak." Dita masih menahan diri. Dia hanya mau magang tidak mau cari ribut. Dia tidak tahu kenapa Citra jadi jutek, padahal biasanya selalu bersikap ramah. Mungkin gara-gara Citra harus mengerjakan pekerjaannya jadi begitu. Entahlah, dia tidak mau ambil pusing.


Dita melihat berkas di dalam map yang tadi dilempar Citra. Saking seriusnya dia tidak menyadari kalau Abimanyu duduk di depannya.


Tok tok tok.


Abimanyu mengetuk meja. Hal itu sukses membuat Dita mendongak dan menyadari keberadaan pembimbingnya itu.


"Serius amat, Nin. Gimana kabarmu? Sudah beneran sehat?" Seperti biasa Abimanyu selalu menyapa dan menanyakan kabar Dita sebelum masuk ke ruangannya.


"Eh, Kak Abim. Alhamdulillah saya sehat, Kak. Bukan saya kok yang sakit, tapi anak--" Belum selesai Dita bicara, Abimanyu sudah memotongnya.


"Anak kakakmu, kan. Iya enggak apa-apa, aku paham kok. Kakakmu pasti semua sibuk kerja, hanya kamu yang agak longgar waktunya. Jadi mereka minta tolong kamu merawat anaknya yang demam." Abimanyu mengarang cerita versinya.


"Bukan begitu, Kak, ceritanya," sanggah Dita.


"Aku enggak peduli gimana ceritanya. Yang penting kamu sudah masuk. Aku senang bisa melihatmu lagi. Ngomong-ngomong sudah siang, aku ke ruanganku dulu, Nin." Abimanyu bangkit dari duduknya setelah melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


Dita hanya menggelengkan kepala begitu Abimanyu meninggalkannya.


"Jangan sok cantik sama Abim," sindir Citra.


"Siapa, Kak?" tanya Dita dengan wajah polos.


"Ya, kamu. Memang ada siapa lagi di ruangan ini selain kita berdua. Kamu pikir aku ngomong sama tembok," jawab Citra penuh emosi.


"Oh, padahal saya biasa saja sama Kak Abim. Saya juga tidak pandai berdandan seperti Kak Citra yang selalu tampak cantik. Dari mana saya bersikap sok cantik?"


"Ah, jangan belagu kamu. Berkasnya sudah kamu cek belum, aku mau antar ke bos sekarang."


"Sebentar lagi, Kak." Dita kembali fokus pada pekerjaannya.


"Aku tunggu lima menit. Kalau lebih dari itu, kamu yang antar sendiri ke bos," ketus Citra.


"Ini sudah saya cek semua, Kak." Lima menit kemudian, Dita menyerahkan berkas pada rekan satu ruangannya itu.


Dengan cepat, Citra menyambar berkas tersebut. Ditumpuk jadi satu dengan berkas lainnya lalu dia keluar dari ruangan itu.


Dita menghela napas lega begitu Citra menghilang dari pandangannya. "Astaghfirullah. Sabar, Dit. Sabar. Jangan terpancing emosi." Dia mengelus dadanya berulang kali.


Tidak hanya sekali itu Citra bersikap tidak ramah padanya. Hampir setiap saat seolah ingin mencari masalah dan ribut dengan Dita. Sekedar izin ke pantry atau toilet saja, Citra berkomentar macam-macam.


"Nin, makan siang yuk," ajak Abimanyu yang sengaja datang ke ruangannya.


"Maaf, Kak Abim. Saya bawa bekal makanan," tolak Dita.


"Wah, sayang sekali. Padahal aku mau traktir kamu loh. Kamu bebas pilih mau makan di mana." Abimanyu coba membujuk Dita.


"Terima kasih, Kak. Tapi, tidak perlu. Sayang bekal saya bisa basi kalau tidak dimakan."


"Apa nih kok ngomongin traktir? Kamu ngajak Dita aja enggak ngajak aku, Bim. Tega ya kamu sekarang," protes Citra.


"Ya udah, sama kamu aja kalau Anin tidak mau. Tapi kita makan di depan aja ya. Aku masih banyak pekerjaan soalnya."


"Ck, kirain aku boleh milih di mana aja sama kaya Dita," gerutu Citra.


"Kamu kan sudah sering aku traktir, Cit. Kalau Anin kan belum pernah. Jadi mau aku traktir di depan enggak? Kalau mau ayo, kalau enggak ya udah." Abimanyu berlalu sebelum mendapat jawaban dari Citra.


"Ya udah, aku mau. Eh, Abim, tunggu. Jangan tinggalin aku." Citra bergegas menyusul Abimanyu.

__ADS_1


Setelah di ruangan itu hanya ada dia sendiri, Dita menutup pintu. Dia duduk dengan posisi membelakangi pintu dan mencari sudut yang sedikit tersembunyi. Dia memakai apron menyusui lalu mengeluarkan alat untuk memompa asi. Tentu saja dia membersihkan tangannya lebih dengan tisu basah yang mengandung antibakteri sebelum memulai proses memompa asi.


Di kantor tempatnya magang memang tidak tersedia ruangan laktasi. Tidak mungkin dia memompa asi di toilet yang penuh dengan kuman meskipun terlihat bersih dan selalu wangi. Di musala juga tidak mungkin, karena hanya ada satu musala dan itu untuk pria dan wanita. Jadi, dia melakukannya di ruangan saat kondisi sedang sepi, seperti saat ini.


Setelah selesai memompa asi dan mengganti breast pad, dia pergi ke musala untuk menjalankan salat Zuhur. Sesudah itu, baru makan siang. Dita memang sengaja membawa bekal makanan, selain lebih sehat, kandungan nutrisinya juga terjamin untuk busui seperti dia. Alasan lainnya, agar dia bisa memompa asi dengan tenang, saat yang lain makan siang di luar.


Abimanyu dan Citra sudah kembali dari makan siang mereka, begitu juga para karyawan lainnya. Sementara Dita masih menghabiskan buahnya sambil melihat desain rumah yang sudah dia buat. Memastikan desainnya sudah sesuai dengan tema yang diminta dan tidak ada hal yang kurang.


"Hai, Nin. Kamu enggak istirahat?" tanya Abimanyu sambil menghampiri Dita.


"Sudah kok, Kak. Ini kan juga sambil istirahat." Dita menunjukkan kotak buah yang dia bawa.


"Makananmu sehat ya," respon Abimanyu begitu melihat buah-buahan yang dibawa Dita.


"Biasa saja, Kak. Ini juga seadanya yang di rumah."


"Kamu dari tadi makan buah saja? Enggak makan nasi?" Abimanyu merasa penasaran.


"Sudah makan nasi kok, Kak. Ini buahnya buat camilan." Dita meringis, sedikit merasa malu karena dia seolah mengaku makannya banyak. Namun, memang demikian adanya, sejak hamil dan menyusui keinginan makannya bertambah. Dia juga jadi gampang lapar.


"Oh, aku kira kamu diet nasi dan hanya makan buah-buahan saja," komentar Abimanyu.


"Enggak diet, Kak. Hanya mengatur makanan yang masuk ke tubuh saja."


Abimanyu manggut-manggut mendengar jawaban Dita. "Wah, bagus itu. Kapan-kapan kita sharing ya soal makanan sehat."


"Eh, iya, Kak."


"Aku ke ruanganku dulu. Kerja yang rajin ya," pamit Abimanyu sambil memberi semangat pada Dita.


"Iya, Kak. Terima kasih."


"Cit, aku tunggu laporanmu ya," kata Abimanyu pada Citra sebelum keluar dari ruangan tersebut.


"Kamu pakai pelet apa sih sampai Abim semanis itu sama kamu?" tuduh Citra setelah Abim meninggalkan mereka berdua.


"Astaghfirullah, Kak. Jangan asal memfitnah tanpa bukti. Demi Allah, saya tidak memakai seperti yang Kak Citra tuduhkan. Silakan tanya sama Kak Abim kenapa dia seperti itu." Dita membela dirinya.


"Halah jangan sok suci kamu. Jangan berlindung di balik hijab lebarmu itu. Aku tahu kalian tidak sesuci seperti yang orang-orang pikirkan."


"Saya memang bukan orang suci yang tanpa dosa. Tapi saya sama sekali tidak seperti yang Kak Citra tuduhkan. Apa Kak Citra tahu kalau fitnah itu dosa besar, bahkan lebih besar dari membunuh?" Dita menatap tajam Citra.


"Tidak akan masuk surga orang yang suka menyebar fitnah—."


“Stop, aku enggak butuh ceramahmu.” Citra memotong ucapan Dita. “Lagian aku kan cuma bercanda, kenapa kamu menganggapnya serius?” sambung Citra dengan santai.


“Cara bercanda Kak Citra itu tidak lucu. Itu jatuhnya sudah fitnah, Kak.”


“Sudahlah enggak usah diperpanjang. Aku mau ke ruangan Abim, dia sudah nunggu laporanku.” Citra menunjukkan map di tangannya. Melenggang santai meninggalkan Dita yang masih merasa kesal.


Sampai di luar ruangan, Citra mengembuskan napas lega. Sejujurnya dia takut tadi saat melihat Dita mulai terpancing emosinya. Apalagi menakutinya dengan dosa, membuatnya jadi bergidik. Dia harus hati-hati sekarang bicara dengan anak magang itu. Kelihatannya saja kalem, kalau taringnya keluar seram juga.


Citra merasa iri pada Dita yang selalu mendapatkan perhatian Abimanyu sejak hari pertama magang. Biasanya dia yang paling dekat dengan atasannya itu, tapi sekarang posisinya tergeser. Sedekat apa pun dia dengan Abimanyu, tidak pernah pria itu bersikap manis seperti pada Dita.


Puncak kekesalannya kemarin saat Dita izin tidak magang, dia harus mengerjakan apa yang seharusnya Dita kerjakan. Membuat pekerjaannya menjadi dobel. Jadi, pagi ini dia meluapkan kekesalannya pada Dita. Dia pikir Dita akan terus diam, ternyata berani melawannya juga.


Dita terus mengucap istighfar setelah kepergian Citra. Untung saja Citra segera keluar, kalau tidak, mungkin dia akan membuat perhitungan dengan wanita itu. Namun, dia sadar posisinya di kantor hanya mahasiswi magang. Dia harus bisa menjaga diri agar tidak ada konfrontasi dengan karyawan di sini. Takutnya hal itu akan mempengaruhi nilainya nanti.


Dia harus berbicara dengan Abimanyu agar menjaga jarak dengannya. Dia tidak mau orang-orang jadi salah paham dan timbul fitnah. Magangnya masih setengah jalan, jadi bukankah lebih baik menghindari masalah yang mungkin akan terjadi karena prasangka yang tidak benar dari yang lain. Dia ingin menjalani sisa waktu magangnya dengan tenang.


Dita kembali melanjutkan pekerjaannya setelah lebih tenang. Citra juga kembali ke ruangan dalam diam. Mereka tidak saling bicara bila tidak perlu. Bicara pun hanya menyangkut pekerjaan.


Saat jam pulang, Abimanyu kembali masuk ke ruangan Dita dan Citra.


“Mau ngajak aku pulang bareng, Bim?” tanya Citra penuh percaya diri.


“Enggak. Aku ada perlu sama Dita.” Jawaban Abimanyu membuat Citra tersenyum kecut.


“Oh, ya udah, aku pulang dulu.” Citra bergegas mengambil tas lalu melangkah keluar ruangan dengan cepat.


“Kak Abim, ada perlu apa sama saya?” tanya Dita sembari membereskan mejanya.


“Kamu dijemput, Nin?”


“Iya, Kak. Memangnya kenapa?”

__ADS_1


“Kalau mulai besok aku yang antar kamu pulang gimana? Biar kakakmu tidak perlu antar jemput setiap hari.”


“Oh tidak perlu, Kak. Lagian itu bukan kakak saya, dia itu su—."


"Supir kamu kan." Abimanyu memotong ucapan Dita. Kebiasaan buruk yang selalu dia lakukan.


"Bukan, Kak."


"Pacar kamu?"


"Bukan. Dia suami sa—."


"Bentar, Nin. Ada telepon." Abimanyu menunjukkan gawainya yang bergetar, kemudian berbicara di telepon.


Dita sudah selesai membereskan meja dan bersiap pulang. Dia memberi kode pada Abimanyu kalau mau pulang dulu. Namun, Abimanyu mencegahnya. Dia ingin keluar dari kantor berbarengan dengan Dita.


Tak lama Abimanyu selesai. "Ayo kita pulang, Nin."


Mereka lalu berjalan bersama.


"Kak Abim, sebaiknya mulai besok menjaga jarak dengan saya."


Abimanyu mengernyit. "Kenapa, Nin?"


"Saya tidak mau orang-orang salah paham, Kak. Apalagi sampai mempengaruhi hubungan saya dengan karyawan di sini karena merasa Kak Abim pilih kasih."


"Apa ada orang yang mencari gara-gara, Nin? Siapa orangnya biar aku kasih teguran?" tanya Abimanyu.


Dita menggeleng. "Tidak ada, Kak. Tapi, saya lihat sepertinya ada yang mulai merasa saya diistimewakan."


"Siapa? Citra?" tebak Abimanyu.


"Bukan." Dita terpaksa berbohong. Dia tidak mau menambah masalah dengan Citra kalau sampai Abimanyu menegurnya.


"Kamu santai saja, Nin. Jangan diambil pusing. Kalau ada yang macam-macam sama kamu, biar aku yang menghadapinya."


Dita menghela napas. Mengajak Abimanyu bicara untuk menjaga jarak dengannya sepertinya tidak berhasil.


Mereka akhirnya sudah di depan kantor. Dita melihat ke halaman, tempat biasa suaminya memarkirkan mobil saat menunggunya. Dia tersenyum karena Rendra sudah menjemputnya.


"Kak Abim, saya pulang duluan. Sudah dijemput," pamit Dita.


"Oke, Nin. Hati-hati di jalan ya. Sampai ketemu besok." Abimanyu melambaikan tangan pada Dita. Dia terus memandangi Dita yang berjalan menjauhinya.


Rendra cemburu melihat istrinya berbicara dengan pria yang sepertinya memberi perhatian lebih pada Dita. Saat dia mau keluar dari mobil, istrinya sudah berjalan ke arahnya, membuat dia mengurungkan niatnya.


"Assalamu'alaikum, Mas," salam Dita begitu masuk mobil. Dia langsung meraih tangan sang suami lalu mencium punggung tangannya.


"Wa'alaikumussalam," balas Rendra datar meski tetap mencium kening istrinya.


"Ale enggak rewel lagi kan, Mas?" tanya Dita sembari meletakkan kedua tasnya di jok belakang.


"Enggak, dia sudah ceria seperti biasa," jawab Rendra.


"Alhamdulillah. Sudah mau makan dan minum dengan normal kan?"


"Sudah."


"Mas, kenapa sih dari aku datang kok wajahnya kaya gitu? Bukannya nyambut istrinya dengan senyum," protes Dita yang merasakan suaminya beda dari biasanya.


"Enggak apa-apa," sahut Rendra.


"Jangan bohong deh, Mas. Aku tahu Mas pasti menyembunyikan sesuatu. Apa lagi ada masalah di kafe? Atau di butik?"


"Enggak ada, semua aman terkendali. Omset, penjualan, produksi, karyawan, semuanya aman."


"Terus kenapa?"


Rendra diam. Dia menarik napas panjang lalu mengembuskannya dengan pelan sembari menatap lurus ke depan. "Siapa pria yang tadi bicara dengan kamu di depan kantor?"


...---oOo---...


Jogja, 230122 23.05


Saya sudah menepati janji ya, lunas utang up.✌🏻✌🏻✌🏻

__ADS_1


__ADS_2