Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Menemani Adelia


__ADS_3

"Ai, nanti aku mau ketemu Kaisar tapi belum tahu jam berapanya," kata Adi sambil mengecek berkas pekerjaan yang akan dia bawa ke kantor.


"Sudah janjian sama Mas Kai memangnya, Mas?"


"Sudah kemarin. Dia bilang mau hubungi aku kalau waktunya sudah luang."


"Rencananya mau ketemu di mana, Mas?"


"Kalau enggak di kantornya, ya di daerah dekat sana. Makanya aku bawa motor hari ini biar bisa gerak cepat." Adi menutup tas ranselnya setelah memasukkan semua berkas pekerjaan dan laptopnya.


"Mas, lembur enggak nanti?"


"Insya Allah enggak. Kenapa, Ai?" Adi menoleh pada Adelia.


"Buka puasa di rumah kan berarti?"


Adi mengangguk. "Insya Allah, Ai."


"Aku nanti juga mau belanja, Mas. Sekalian beli coklat, arum manis, es krim." Adelia menyebutkan apa saja yang ingin dia beli.


Adi mengernyit heran mendengar apa saja yang ingin dibeli istrinya. "Ai, itu kan makanan manis semua. Eh, itu arum manis beli di mana? Tidak ada pasar malam atau sekaten loh, Ai."


"Mas Adi, itu selama ini kalau belanja beli apa saja sih? Arum manis ada dijual di supermarket Mas, tapi kemasan kecil ada yang pake cup gelas gitu, ada yang bulat-bulat trus dilapisi sempe. Masa kaya gitu enggak ngerti sih, Mas?" Adelia berdecak kesal.


Adi menggeleng pelan. "Serius aku enggak tahu, Ai. Aku ya belanja apa yang aku butuh saja tidak pernah beli yang lain. Kadang malah dibeliin sama bunda atau Dita. Ya sudah, nanti cari di supermarket. Ai, yang tahu di mana belinya, aku enggak tahu. Ingat, jangan banyak-banyak belinya, nanti bisa sakit gigi. Aku bayangin saja sudah ngilu, Ai."


"Ya kan tidak dimakan setiap hari, Mas. Buat stok saja di rumah kalau aku pingin ngemil."


"Bukannya Ai tidak begitu suka makanan manis ya. Katanya biar badannya tetap proporsional," ujar Adi.


"Aku lagi ingin makan yang manis, Mas. Memangnya Mas Adi tidak mau ya kalau aku nanti jadi gemuk?" Adelia berubah cemberut.


"Bukan begitu, Ai. Yang penting buatku, Ai bahagia. Mau kurus, sedang, gemuk, aku tetap cinta sama Ai. Aku kan hanya mengingatkan, biasanya Ai menjaga berat badan banget."


"Sejak habis wisuda berat badanku sudah naik, Mas. Banyak celana sama baju yang sudah tidak muat lagi." Adelia menghela napas.


"Kode nih mau minta baju baru," goda Adi.


"Enggak, ya. Kan masih ada gamis, beberapa rok dan juga abaya, Mas. Mungkin memang aku harus sudah kaya Dek Dita pakai gamis terus."


"Senyamannya Ai saja pakai apa, asal jangan yang ketat dan memperlihatkan lekuk tubuh. Kalau Ai mau beli baju baru juga tidak apa-apa kok, nanti sekalian kita beli."


"Iya, Mas. Tapi aku lagi enggak ingin beli baju baru. Besok saja kalau mau umrah."


"Ya sudah kalau begitu. Habis ini Ai mau ke sebelah?"


Adelia menggeleng. "Enggak, Mas. Lagi enggak mood. Aku lagi males ngapa-ngapain."


"Ya, sudah. Istirahat saja. Kecapaian belajar masak sama bunda kemarin mungkin. Kalau nanti malas masak enggak usah masak biar aku belikan makanan untuk buka puasa."


"Makasih, Mas." Adelia tersenyum lebar pada Adi.


"Sudah jam 07.00. Jangan lupa kunci pintu ya, Ai. Kalau ada yang datang lihat CCTV dulu, jangan asal membuka pintu. Kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi aku, Arsen atau Rendra," pesan Adi sebelum pergi.


Adelia mengangguk tanpa menjawab. Dia mengikuti sang suami yang sudah bangkit dari sofa ruang tengah dan berjalan ke depan.


"Aku antar sampai sini ya, Mas. Aku malas ganti baju dan pakai hijab," kata Adelia di ruang tamu.


"Iya, enggak apa-apa. Aku berangkat dulu. Baik-baik di rumah ya, Ai."


Adelia lalu mencium punggung tangan sang suami, setelah itu Adi mengecup kening dan bibir istrinya.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Adelia mengunci pintu setelah Adi keluar. Dia kemudian melihat kepergian suaminya dari balik kaca jendela ruang tamu. Sesudah Adi pergi, Adelia masuk ke kamar. Dia merebahkan diri sambil berselancar di dunia maya.


...---oOo---...


"Sori ganggu waktumu, Kai," kata Adi saat bertemu dengan Kaisar di kantornya.


"Enggak apa-apa. Aku baru enggak bisa ke mana-mana, jadi terpaksa kita bertemu di sini. Mau minum apa, Di?" tawar Kaisar setelah mempersilakan Adi duduk.


"Aku sedang puasa."


"Oh iya, sekarang Senin ya. Sori, aku lupa, Di."


Adi tersenyum. "Enggak apa-apa. Gimana persiapan pernikahanmu?"


"Masih menunggu jadwal sidang pranikah. Persiapan lainnya ibuku sama Shasha yang atur. Shasha sudah mengajak buat lihat desain kartu undangan, tapi aku belum sempat." Kaisar menghela napas.


"Aku sudah pasrahkan semua sama ibu dan Shasha, tapi Shasha maunya ide berdua. Padahal aku enggak punya ide apa-apa." Kaisar menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Ya kan itu pernikahan kalian, Kai. Aku dulu juga enggak banyak ikut campur, aku iyakan sajalah apa yang bunda dan keluarga Adel inginkan. Tapi, aku tetap ikut saat pesan undangan, suvenir sama cincin nikah. Lainnya terserah mereka." Adi membagi pengalamannya pada Kaisar.


"Mauku ya begitu. Aku cuma minta sama WO (Wedding Organizer) nanti ada prosesi Pedang Poda (1) saat resepsi. Lainnya aku ikut saja. Tapi ternyata mau nikah tuh ribet ya, Di." Kaisar tertawa.


"Iya, apalagi kalau keluarganya punya nama. Nanti siap-siap saja tanganmu pegal kalau salaman." Adi ikut tertawa.


"Eh, kok malah membahas pernikahanku sih. Omong-omong ada apa, Di? Kok kayanya gawat." Kaisar mulai bersikap serius.


"Aku tidak sengaja ketemu Sekar, Kai."


"Hah? Serius, Di?" Kaisar membelalak, tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Serius, Kai. Buat apa aku bohong. Untungnya pas aku sama Adel." Adi lalu menceritakan saat bertemu Sekar Ayu di mal dan saat perempuan itu datang ke rumahnya.


"Wah, sudah gila kayanya Sekar, Di. Tipe nekat dia. Kamu dan Adel harus hati-hati."


"Makanya aku ngajak kamu ketemu, Kai. Menurutmu apa yang sebaiknya aku lakukan?"


"Kalau belum ada bukti ancaman agak susah kalau mau melapor, Di. Kalau kaya Restu kemarin kan kamu ada bukti dan Restu juga sudah melakukan percobaan pembunuhan jadi mendakwa dia lebih gampang. Yang penting sekarang kalian lebih waspada lagi. CCTV masih dipasang kan?"


"Masih, Kai. Aku lebih tenang juga kalau ada CCTV, bisa memantau keadaan rumah kapan pun. Jadi, aku belum bisa melapor, Kai?"


"Kamu masih belum mengantongi bukti, Di. Seandainya ada rekaman video saat dia mengancam, itu bisa dijadikan bukti. Atau bisa dari pesan atau telepon. Misal ada teror yang dikirim ke rumah juga bisa dijadikan bukti. Kalau tidak ada bukti akan susah menjeratnya."


"Aku sih agak santai, Kai. Tapi istriku yang jadi takut. Traumanya sepertinya muncul lagi."


"Ajak Adel terapi lagi, Di. Jangan sampai berlarut-larut. Apalagi kalian sedang program untuk punya anak."


"Iya, Kai, rencanaku juga begitu. Kemarin pas pulang bunda juga menyarankan hal yang sama."


"Dita masih belum masuk kuliah kan? Kalau siang disuruh ke rumahmu saja temani Adel," saran Kaisar.


"Belum, tapi kayanya seminggu atau dua minggu lagi masuk. Minggu ini mau heregestrasi sama bayar uang semester terus KRS."


"Iya, begitu saja. Selama Dita belum kuliah, kalau siang temani istrimu. Adel juga bisa teralihkan pikirannya. Siapa tahu dengan Dita, dia bisa lebih terbuka karena sama-sama perempuan."


"Makasih sarannya, Kai. Kamu sudah seperti psikolog saja."


"Jelek-jelek begini aku lulusan jurusan psikologi, Di. Ilmu ini bisa kupakai kalau pas menginterogasi orang."


"Wah, hebat kamu, Kai." Adi menepuk bahu sahabatnya itu.


"Hebat apanya? Aku belum apa-apa. Itu kan juga buat menunjang karir, Di." Kaisar merendah.


"Aamiin. Insya Allah, Di. Semoga saja semuanya dilancarkan."


"Aamiin."


"Ndan, sepuluh menit lagi rapat dimulai," sela rekan sejawat Kaisar.


"Oke," sahut Kaisar.


"Kalau begitu, aku pulang dulu, Kai," pamit Adi.


"Sori ya, Di. Nanti langsung hubungi aku saja kalau ada apa-apa," pesan Kaisar.


"Siap, Ndan." Adi memberi hormat pada Kaisar.


"Apa-apaan kamu pake hormat segala, Di."


Adi hanya tertawa menanggapi Kaisar. "Aku pulang, Kai. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam. Hati-hati di jalan. Salam untuk Adel."


Adi menyengguk dan mengacungkan jempol pada Kaisar sebelum meninggalkan sahabatnya itu.


"Masih ada waktu untuk salat," gumam Kaisar setelah melihat jam. Dia bergegas mengambil wudu lalu salat sebelum rapat.


...---oOo---...


"Mas, aku boleh ke sebelah ya," pinta Dita pada sang suami.


"Kok tumben. Ada apa?" tanya Rendra.


"Mas Adi yang minta." Dita lalu menunjukkan pesan yang dikirim Adi, yang memintanya untuk menemani Adelia.


Rendra mengerutkan keningnya. "Pasti ada sesuatu yang terjadi, Sayang."


Dita menaikkan kedua bahunya. "Mungkin, Mas. Coba aku tanya bunda ya, siapa tahu bunda tahu sebabnya."


"Iya, Sayang. Coba telepon bunda biar Ale main sama aku."


Dita kemudian menelepon bundanya dan menanyakan apa yang terjadi pada kakaknya dan Adelia. Ibu Hasna menceritakan semua kejadian saat Adi dan Adelia menginap di sana.

__ADS_1


"Astaghfirullah, jadi begitu ceritanya. Pantas Mas Adi minta aku temani Mbak Adel, Bun."


"Kalau Adek ada waktu temani Mbak Adel ya. Kasihan nanti kalau kepikiran terus. Tapi Adek jangan tanya peristiwa kemarin. Kalau Mbak Adel cerita, Adek baru menanggapi," pinta Ibu Hasna dari seberang telepon.


"Siap, Bun. Aku siapkan keperluan Ale dulu baru temani Mbak Adel. Bunda mau lihat Ale enggak? Ganti video, Bun. Ini Ale lagi main sama baba-nya." Dita mengganti mode panggilan menjadi video. Dia lalu menyerahkan gawai pada Rendra karena dia harus menyiapkan perlengkapan Ale.


"Iya, Dek. Mana cucu yangti yang ganteng?" Ibu Hasna menyapa Ale lewat video setelah melihat sang cucu yang sedang berbaring sambil memainkan mulutnya. Selama beberapa menit Ibu Hasna mengajak Ale bicara yang dijawab oleh Rendra.


Sesudah menyiapkan semua keperluan Ale, Dita menghubungi Adelia, mengabari kalau mereka akan ke sana agar Adelia bersiap memakai pakaian panjang dan berhijab.


"Sudah siap semua, Sayang?"


"Sudah, Mas. Ale biar aku yang gendong." Dita mengangkat Ale yang tengah berbaring ke dalam gendongannya.


"Kita main ke rumah Bude ya, Nak. Temani Bude biar enggak sendirian." Sesering mungkin dia mengajak Ale berkomunikasi meski Ale belum bisa mengerti dan menanggapi.


"Mas, jangan lupa nanti kasih kabar mama sama Nisa. Takutnya mereka pulang nyariin kita."


"Iya, Sayang. Nanti kalau sudah di sebelah aku kabari. Yuk ke sana. Jangan lupa pakai payung biar Ale enggak kepanasan." Rendra membawa perlengkapan Ale dan perlengkapan kerjanya.


"Iya, Mas."


Mereka bertiga pergi ke rumah Adi setelah mengunci pintu rumah. Rendra memayungi istri dan anaknya agar tidak terkena panas matahari yang menyengat. Meski hanya dekat, tetapi Rendra tetap menjaga kedua orang yang menjadi tanggung jawabnya itu.


Dita lebih memilih memencet bel daripada membuka pintu sendiri. Dia menghormati Adelia yang sudah menjadi kakak iparnya. Dia juga menjaga agar Adelia sudah dalam posisi berhijab saat bertemu suaminya. Meski mereka berdua berteman akrab tetapi mereka bukan mahram dan Adelia juga sudah berhijrah.


"Assalamu'alaikum, Bude," sapa Dita begitu Adelia membuka pintu.


"Wa'alaikumussalam, Ale," balas Adelia.


Mereka masuk ke ruang tengah. Rendra yang masih di belakang mengunci pintu rumah sebelum menyusul istri dan anaknya.


"Tumben, Dek, main ke sini?" tanya Adelia.


"Ale kangen sama Bude ya, Nak. Biasanya ketemu Bude, hari ini belum ketemu," jawab Dita.


"Biar Ale juga biasa di sini, Del, kalau aku sama Dita pas ada acara bareng." Rendra ikut menambahi.


"Mas, Ale dibaringkan di sini saja ya biar lega. Tolong mejanya disingkirkan, terus karpetnya digelar di situ," pinta Dita pada Rendra.


"Iya, Sayang. Aku masukkan dulu tasku ke kamar."


"Sebentar aku ambilkan karpetnya, Dek." Adelia beranjak dari ruang tengah.


"Bubu mau ambil minum ya, Nak. Kita ke dapur dulu sambil nunggu baba dan bude menyiapkan tempat buat Ale." Dita menggendong Ale ke dapur untuk mengambil minum. Dia lalu duduk di kursi makan sambil minum dan menunggu.


Usai karpet bulu digelar di ruang tengah, Rendra menaruh kasur kecil Ale di sana. Dita lalu membaringkan Ale di atas kasurnya.


"Mulai masuk kuliah kapan, Dek?" tanya Adelia.


"Insya Allah dua minggu lagi, Mbak," jawab Dita. "Minggu ini mau heregistrasi, minggu depan KRS."


"Besok aku antar Dita heregistrasi, Del. Dicoba ya Ale sama kamu gimana?" tanya Rendra pada Adelia.


"Siap, Ren. Kalau heregistrasi kan biasanya tidak lama," sahut Adelia.


"Iya, Mbak. Ini latihan juga buat aku ninggalin Ale."


"Pasti berat ya, Dek?" Adelia menatap adik iparnya.


"Iya, Mbak. Tapi ya sudah konsekuensiku. Liburan semester depan aku juga magang." Dita menghela napas panjang dan mengembuskannya pelan.


"KKN kapan, Dek?"


"Bareng sama skripsi Mbak di programku. Tapi dilihat nanti. Berat kalau harus meninggalkan Ale apalagi aku harus menginap. Tidak mungkin kan aku mengajak Ale menginap di sana dengan teman-teman KKN-ku."


"Kalau tahun depan Ale sudah satu tahun lebih, Dek. Selesai semester ini kan Ale sudah enggak asi eksklusif lagi."


"Iya, Mbak. Tapi aku sedih kalau bayangin itu." Raut wajah Dita menjadi sedikit muram.


"Jangan sedih, Sayang. Ada aku, Adel, mama dan yang lainnya, yang menjaga dan menyayangi Ale." Rendra mengelus kepala istrinya.


"Kalian berdua ini sudah hampir 2 tahun menikah, sudah punya anak, tapi masih kaya pengantin baru terus sih," komentar Adelia yang iri melihat kemesraan Dita dan Rendra.


Rendra tertawa. "Memang kita merasa terus jadi pengantin baru, Del."


"Mas, tuh yang merasa pengantin baru terus." Dita menyikut pelan perut suaminya.


...---oOo---...


Jogja, 241021 23.50


Catatan :

__ADS_1


(1)Β Pedang Pora merupakan tradisi untuk prosesi pernikahan perwira. Pedang Pora berasal dari kata Pedang Pura atau Gapura Pedang. Makna Pedang Pora yang dimaksud yaitu iringan rangkaian pedang yang berbentuk gapura. Prosesi ini merupakan sebuah penghormatan bagi perwira yang akan memulai hidup baru dalam bahtera rumah tangga.


__ADS_2