Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
You're Mine


__ADS_3

Adi merasa bersalah dan menyesal karena teledor meletakkan gawainya. Seharusnya dia tetap menyimpan gawainya di tas kerja saja dan tidak meletakkan sembarangan di atas meja kerja. Sejak Adelia membaca pesan dari Restu, istrinya terus merasa cemas dan takut.


Adelia sama sekali tidak mau ke luar rumah. Bahkan untuk bimbingan skripsi yang hanya tinggal bab akhir saja dia tidak berani. Alhasil dia pun membolos tidak masuk kuliah padahal ujian akhir semester sebentar lagi. Dia juga tidak mau membuka gawainya bila ada pesan atau telepon yang masuk selain dari keluarganyaโ€”yang diatur beda notifikasinya dengan yang lain.


Adi akhirnya meminta tolong Dita, Rendra dan Arsenio untuk menemani Adelia kalau mereka tidak sedang kuliah selama dia pergi bekerja. Dia harus segera mengambil tindakan agar istrinya tidak merasa ketakutan lagi. Dia merasa gagal jadi suami yang bisa memberi keamanan dan ketenangan pada istrinya karena hal ini.


Adi menghubungi salah satu teman SMA-nya yang menjadi polisi. Dia ingin berkonsultasi soal pesan-pesan Restu yang membuat istrinya ketakutan. Dia izin pulang pukul 02.00 siang demi menemui temannya itu. Mereka janji bertemu di sebuah kafe yang tidak terlalu ramai di siang hari.


"Hai, Kai. Di sini." Adi melambaikan tangan sambil memanggil temannya yang baru datang masih dengan memakai seragam polisinya. Di dada kanannya bertuliskan 'Kaisar', di dada kiri 'Polisi', sementara di kerahnya ada gambar dua balok warna emas.


Pria yang dipanggil Kai itu tersenyum saat melihat Adi. Dia bergegas menghampiri tempat duduk Adi.


"Wah, makin keren saja kamu, Di," puji Kaisar saat mereka bersalaman.


"Lebih keren Iptu Kaisar Musafee lah." Adi balas memuji pria berseragam polisi itu. Mereka berdua kemudian tertawa.


"Ayo duduk, Kai." Adi mempersilakan Kaisar untuk duduk di depannya.


"Kita pesan minum dan makan dulu ya sebelum ngobrol." Adi menyerahkan buku menu pada Kaisar. Mereka lalu memilih dan menyebutkan pesanan mereka pada pramusaji yang tadi dipanggil Adi.


"Apa kabar, Di? Berapa lama ya kita enggak ketemu?" tanya Kaisar setelah duduk dan memesan makan serta minuman.


"Alhamdulillah, baik. Terakhir kali kayanya sebelum kamu pindah ke Polda," jawab Adi.


"Kamu sendiri gimana kabarnya? Sudah menikah apa belum?" tanya Adi balik.


"Alhamdulillah, aku baik seperti yang kamu lihat sekarang. Aku masih jomlo sampai sekarang. Niatku dulu mau melamar adikmu, Dita, lah kok sudah keduluan yang lain," jawab Kaisar dengan tertawa.


"Kamu tuh ya kebiasaan bercanda enggak pernah hilang," celetuk Adi.


"Siapa bilang aku bercanda. Dari dulu kan aku sudah bilang kalau mau menunggu Dita, kamu aja yang tidak pernah percaya. Rencanaku mau melamar kalau dia sudah lulus kuliah. Makanya dari dulu sampai sekarang aku enggak pernah pacaran karena nungguin adikmu itu. Tapi ya ternyata aku enggak berjodoh sama dia." Kaisar menghela napas panjang.


"Aku kira waktu itu kamu cuma bercanda, Kai." Adi meringis sambil menatap pria yang duduk di depannya.


"Memangnya kalau aku bilang serius, apa kamu mau merestui aku sama Dita?" tanya Kaisar yang jadi penasaran.


"Belum tentu, tergantung adikku lah. Kalau dia juga suka kamu, ya pasti aku dukung."


"Ternyata juga belum pasti," cibir Kaisar. "Lagian Dita kenapa sih harus nikah muda? Dia enggakโ€”"


"Enggak. Dia enggak hamil duluan. Ayah enggak kasih izin pacaran makanya langsung dinikahkan sama suaminya," sela Adi memotong ucapan Kaisar.


"Tahu gitu setelah aku pendidikan langsung aku lamar Dita saja ya," gumam Kaisar.


"Ya, kalau adikku mau. Lagian dia juga masih SMP waktu itu," sahut Adi sambil tertawa lebar.


"Dasar kamu ini enggak setia kawan," sindir Kaisar.


"Bukan begitu, Kai. Kebahagiaan Dita paling utama. Kalau dia enggak cinta sama kamu masa ya aku paksa dia terima kamu. Iya kan?" Adi menjelaskan alasannya.


"Tapi, serius loh. Waktu aku dengar Dita menikah, rasanya separuh jiwaku pergi." Kaisar memandang Adi dengan ekspresi serius.


"Kaya judul lagu aja, Kai," sahut Adi sambil tertawa geli.


"Terserah kalau kamu enggak percaya. Omong-omong gimana kabar Dita sekarang?" tanya Kaisar penuh rasa ingin tahu.


"Dia baru hamil muda sekarang, lagi mengalami fase mual dan muntah," terang Adi.


Kaisar menganggukkan kepalanya. "Semoga kehamilannya lancar ya, Dita dan bayinya juga sehat," doanya dengan tulus.


"Aamiin. Makasih, Kai."


"Sampaikan salamku untuk Dita ya," pesan Kaisar.

__ADS_1


"Insya Allah nanti aku sampaikan," balas Adi.


"By the way, ada masalah apa sampai kamu butuh bantuanku, Di?" Kaisar mengerutkan keningnya.


"Sebelum aku cerita, aku makasih dulu karena kamu sudah menyempatkan waktu untuk bertemu denganku, Kai."


"Kebetulan pekerjaanku sedang tidak begitu banyak. Ini nanti kalau ada telepon dari atasan untuk rapat, ya aku harus langsung cabut. Tapi kayanya aman sih karena tidak ada kasus yang mendesak." Kaisar menyesap kopinya yang baru saja disajikan oleh pramusaji.


"Gini, Kai. Istriku diteror samaโ€”"


"Wait a minute. Istri? Kamu sudah nikah, Di? Kok enggak undang-undang sih?" protes Kaisar dengan memotong ucapan Adi.


"Iya, aku sudah nikah secara Islam. Resminya nanti hari kedua Idul Adha. Tenang, pasti aku undang kamu," terang Adi.


"Woalah, pantas aku belum mendengar kamu nikah kok kamu sudah nyebut istri. Kirain istri orang," seloroh Kaisar.


"Memangnya aku ada tampang perebut istri orang gitu," gerutu Adi.


Kaisar tergelak melihat ekspresi Adi yang kesal.


"Aku bercanda, Di. Jadi kenapa istrimu?" Kaisar mulai terlihat serius lagi.


"Mantan pacar istriku suka kirim pesan, foto sama video. Minggu kemarin aku lalai simpan hp, jadi dia baca pesan dari mantan pacarnya. Sejak itu dia jadi selalu merasa takut dan cemas mantan pacarnya akan mendatanginya." Adi menghela napas lega setelah mengatakannya.


"Sebentar, memang hp-nya kamu yang bawa?" Kaisar mengernyit.


"Jadi ceritanya begini ...." Adi menceritakan dari pertama kali Restu mengirim pesan pada Adelia hingga dia mengambil alih nomor istrinya. Dia juga menjelaskan alasan kenapa dia akhirnya menikah secara Islam sebelum menikah resmi.


Kaisar menganggut berulang kali saat mendengar cerita Adi. Dia menyimak dengan serius setiap kata-kata yang Adi ucapkan.


"Apa boleh aku melihat pesannya?" Kaisar minta izin pada Adi.


"Boleh." Adi menyerahkan gawainya pada Kaisar.


"Sejauh ini lewat pesan saja atau ada teror lainnya " tanya Kaisar memastikan.


"Cuma pesan saja. Semoga tidak ada teror lainnya. Aku sudah pusing karena istriku yang jadi enggak mau ke luar dari rumah padahal masih harus kuliah sekaligus menyelesaikan skripsinya," terang Adi.


"Ini bisa sih kena UU ITE karena lewat pesan online. Hukumannya maksimal 4 tahun penjara dan denda 750 juta rupiah. Kalau mau enak dan tidak banyak buang waktu pakai pengacara, Di. Tapi ya harus pakai uang. Kalau mau diurus sendiri ya enggak apa-apa. Kamu nanti datang aja ke polsek, polres atau polda ke unit cyber crime. Semua bukti pesan ini di-screen shoot. Foto atau video yang memprovokasi jangan lupa disimpan." Kaisar menjelaskan pada Adi.


"Apa nanti istriku juga ikut dalam proses penyidikannya?" tanya Adi.


"Tentu saja. Dia kan yang paling merasa terancam," jawab Kaisar.


"Aku harus bicarakan dulu sama keluarga kalau mau melakukan tindakan hukum," kata Adi.


"Iya, sebaiknya begitu. Apalagi istrimu juga harus mendapat dukungan psikis. Jangan sampai dia merasa trauma."


Adi mengiakan ucapan Kaisar. "Makasih sharing-nya, Kai. Setidaknya aku bisa sedikit lega karena bisa menuntut pria itu."


"Sama-sama, Di. Nanti hubungi aku kalau jadi lapor."


"Pasti, Kai. Ayo dimakan dulu ini makanannya sambil kita ngobrol." Adi mengajak Kaisar makan karena pesanan makanan mereka sudah diantarkan.


Mereka mengobrol santai sambil makan. Membicarakan alternatif tindakan yang bisa diambil Adi. Mengenang kembali masa SMA mereka dan membicarakan hal random lainnya.


Setelah selesai makan dan cukup mengobrol, mereka memutuskan pulang. Adi membayar tagihan sebelum ke luar dari kafe dan beranjak pulang.


Sesampai di rumah, ada Dita dan Rendra yang siang ini bertugas menemani Adelia di sana.


"Tumben pulang cepat, Mas?" tanya Dita setelah menyalami kakaknya.


"Tadi habis ketemu sama Kai. Oh ya, Adek dapat salam dari Kai," kata Adi.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam. Kai? Siapa sih, Mas?" Dita mengerutkan keningnya, mencoba mengingat orang bernama Kai, teman Adi.


"Teman SMA Mas. Masa kamu enggak ingat, Dek? Dia dulu sering main ke rumah loh."


Dita menggelengkan kepalanya. "Teman Mas Adi kan banyak yang ke rumah."


"Itu loh orangnya yang tinggi, ganteng. Sukanya pakai motor Tiger kalau ke rumah. Kaisar, ingat enggak?"


"Oh, Mas Kaisar yang jadi polisi itu. Iya-iya, aku ingat sekarang. Dulu sering bawain aku makanan kalau ke rumah. Apa kabar dia sekarang, Mas?" tanya Dita yang sudah mengingat Kaisar.


"Baik, dia sekarang dinas di polda," jawab Adi.


"Wah, makin keren dong ya sekarang."


"Iya," Adi mengangguk. "Eh, Adelia di mana kok enggak ada?" tanya Adi yang baru sadar kalau istrinya tidak ada di ruang tengah.


"Di kamar, Mas. Mungkin masih tidur. Katanya Mbak Adel baru enggak salat, jadi enggak aku bangunin untuk salat Asar," terang Dita.


"Ya udah, Mas ke kamar dulu. Yuk, Rend," pamit Adi yang beranjak masuk ke kamar.


"Ya, Mas," sahut Rendra datar. Sejak Adi mengatakan kalau Dita mendapat salam dari teman Adi, wajahnya menjadi masam. Dita tidak menyadari perubahan mimik suaminya karena terlalu asyik bicara dengan kakaknya.


"Mas, kita mau balik kapan?" tanya Dita tanpa mengalihkan pandangan dari layar datar di depannya.


Rendra bergeming, tidak menjawab pertanyaan istrinya. Dia duduk sambil bersedekap, tidak memeluk atau menggenggam tangan Dita seperti biasa.


Dita yang sadar kalau suaminya tidak seperti biasa, langsung menoleh ke samping kanan. Dia terkejut saat melihat wajah Rendra yang terlihat tidak menyenangkan. Something wrong here.


"Mas, kenapa sih?" tanya Dita tanpa merasa bersalah.


"Enggak apa-apa," jawab Rendra pendek.


"Ih, enggak mungkin enggak apa-apa. Tadi aja Mas baik-baik saja kok." Dita tidak percaya dengan ucapan suaminya. Dia coba mengingat-ingat hal apa yang bisa membuat suaminya jadi berubah seperti itu. Mungkinkah suaminya cemburu pada Kaisar, teman Adi?


"Mas Rendra," panggil Dita dengan nada manja. Dia semakin merapatkan diri pada suaminya. Tapi, tanpa diduga, Rendra justru bangkit dari duduknya lalu masuk ke dalam kamar tanpa mengatakan apa pun.


Dita terperanjat begitu Rendra meninggalkannya. Sepertinya Mas Rendra sedang merajuk karena cemburu.


Dita langsung mematikan televisi dan menyusul suaminya masuk ke kamar. Tak lupa dia mengunci pintu. Dia melihat Rendra berbaring membelakangi pintu kamar. Perlahan dia naik ke atas ranjang, ikut berbaring di samping suaminya.


"Baby, ayah baru mengambek nih karena cemburu. Bantu ibu bujuk ayah ya," ucap Dita sambil mengelus perutnya.


Dita memeluk Rendra dari belakang. "Mas Rendra Sayang, hadap sini dong. Baby kangen nih ingin dielus sama ayahnya."


Rendra masih bergeming. Dita kembali merayu suaminya. Dia memainkan tangannya di dada Rendra. Dia juga berulang kali mencium tengkuk suaminya.


"Mas Rendra, apa enggak ingin nengok Baby? Dia kangen loh ingin ditengok ayahnya," rayu Dita lagi.


"Mas Kaisar itu cuma teman SMA Mas Adi. Aku enggak terlalu kenal dekat juga sama dia. Memang dulu dia sering datang ke rumah dan bawain makanan. Dulu ngobrol juga seperlunya hanya untuk basa basi. Cuma sebatas itu saja enggak lebih." Dita menjelaskan hubungannya dengan Kaisar.


"Aku cinta dan sayangnya cuma sama Mas Rendra, ayahnya Akhtar dan Baby. Enggak ada pria lain. Apa Mas Rendra masih enggak percaya sama aku? Ini loh Mas di perutku ada Baby, bukti cinta kita."


"Mas Rendra masih butuh bukti apalagi hummm?" Dita mengecupi punggung suaminya.


Rendra akhirnya membalikkan badan. Lama-lama dia juga tidak bisa menahan godaan dari istrinya. "Jangan pernah lagi membalas salam dari pria lain," ucapnya datar.


"Namanya orang dikasih salam ya dijawab, Mas. Kan cuma menjawab salam, sekedar sopan santun, tidak lebih dari itu. Apa saja yang ada di diriku ini semua milik, Mas. I'm yours." Dita mendekatkan diri, menyentuhkan bibirnya di bibir suaminya. Dia harus mengambil inisiatif agar suaminya tidak lagi merasa cemburu dan insecure.


Meski awalnya Rendra pasif, tetapi dia akhirnya menjadi aktif. Dia mulai mengambil alih kendali. "Yes, you're mine. Always be mine."


...---oOo---...


Jogja, 190721 06.20

__ADS_1


Selamat menjalankan puasa Arafah bagi yang menjalankan ๐Ÿ™๐Ÿค—


__ADS_2