Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Kehangatan Keluarga


__ADS_3

Adelia merasa sangat senang karena sudah bisa pulang ke rumah. Meski di rumah sakit menggunakan fasilitas kamar VIP, tetapi rumah tetap menjadi tempat yang paling nyaman dan menenangkan. Begitu sampai di rumah, dia langsung ingin tiduran di kamar. Badannya masih agak lemas. Dia juga belum berani banyak bergerak karena luka operasinya terkadang masih terasa nyeri.


Ibu Hasna meminta Ibu Sarah untuk beristirahat di kamar tamu, tetapi dia tidak mau. Ibu Sarah ingin menemani putri sulungnya selama dia masih berada di rumah Adi. Karena esok hari, dia sudah harus bekerja kembali. Terkadang dia merasa iri dengan besannya yang tidak bekerja. Ibu Hasna bisa setiap saat menemani anak-anaknya tanpa harus terbebani dengan pekerjaan kantor yang menunggu untuk dijamah. Namun, menjadi wanita yang berkarir adalah pilihan hidupnya. Dia tidak boleh menyesali hal itu.


Adelia lebih sering berada di kamar. Dia hanya keluar kamar saat waktunya makan atau salat. Meskipun sebenarnya dia bisa melakukannya di kamar. Namun, dia tidak boleh memanjakan dirinya. Sudah selama beberapa hari ini dia hanya boleh berbaring saja. Itu terasa sangat membosankan.


Malam harinya, ketiga keluarga makan malam bersama di rumah Adi. Keluarga Pak Lukman juga Mbok Sum datang ke sana. Keluarga Ibu Dewi juga ada, hanya Pak Wijaya yang tidak ada di sana. Tadi siang, Ibu Hasna memasak beberapa menu untuk makan malam dibantu Dita dan Ibu Sarah. Dia meminta Adi untuk mengundang semua sebagai bentuk rasa syukur atas kepulangan Adelia ke rumah.


Mereka berkumpul penuh sukacita. Banyak doa yang tercurah untuk kesembuhan Adelia. Mereka juga memberi semangat dan dukungan pada Adelia agar tidak terlalu lama bersedih karena masih banyak kesempatan untuk bisa hamil kembali secara normal.


"Mbak, mama pulang dulu ya. Insya Allah besok mama ke sini lagi sama teman-teman mama yang mau menjenguk Mbak," pamit Ibu Sarah pada putrinya.


Adelia mengangguk. "Makasih sudah jaga aku tiga hari ini, Ma. Pasti Mama capai sekali. Malam ini Mama harus istirahat yang cukup."


"Mbak juga harus tidur yang cukup biar cepat sembuh. Biar kita bisa segera liburan bersama."


"Iya, Ma." Adelia mencium punggung tangan sang mama dan kedua pipinya. Setelah itu memeluk wanita yang sudah melahirkannya itu.


"Papa, malam ini tidak boleh mengganggu istirahat Mama ya," kata Adelia pada papanya setelah mengurai pelukan dengan Ibu Sarah.


"Siap, Tuan Putri." Pak Lukman memeluk putri sulungnya. "Cepat sembuh ya, Mbak. Papa sayang Mbak."


"Aku juga sayang Papa." Adelia membalas pelukan papanya. Mereka berpelukan selama beberapa saat.


Setelah itu Mbok Sum dan Arsenio juga berpamitan pada Adelia. Setelah berpamitan pada semuanya, keluarga Pak Lukman pulang dengan menggunakan mobil yang dikendarai oleh Arsenio. Selanjutnya keluarga Ibu Dewi juga pamit pulang karena sudah larut malam.


Adi dan Rendra kemudian membereskan ruang keluarga. Adelia masuk ke kamar untuk beristirahat. Dia tidak diperbolehkan membantu. Sementara Dita menidurkan Ale di dalam kamar, Ibu Hasna membereskan meja makan.


Saat Ibu Hasna hendak mencuci alat makan yang kotor, Rendra mencegahnya. Dia meminta ibu mertuanya itu untuk istirahat, karena dia yang akan mencucinya. Meski awalnya menolak, akhirnya Ibu Hasna menuruti menantunya itu. Seharian tadi sudah memasak, tentu saja badannya terasa capai.


Rendra mencuci alat makan sendiri. Adi yang sudah selesai membereskan ruang tengah dan mengunci pintu rumah, langsung beristirahat di kamar. Badannya terasa lelah setelah beberapa hari tidak bisa tidur nyenyak karena menjaga istrinya di rumah sakit.


Dita yang sudah menidurkan Ale, akhirnya keluar kamar membantu suaminya. Bukannya membuat pekerjaan semakin cepat selesai. Mereka justru menikmati waktu berdua di dapur. Sejak kehadiran Ale, mereka jarang bisa berduaan.


Usai mencuci piring, mereka duduk di kursi ruang makan. Rendra memangku Dita yang memeluk lehernya.


"Kita sudah lama tidak liburan, Sayang. Liburan yuk." Rendra menyelipkan anak rambut Dita di belakang telinga.


Dita mengernyit. "Liburan ke mana, Mas?"


"Yang dekat-dekat saja, kaya biasanya." Rendra memainkan alisnya.


"Bukannya bulan lalu kita sudah liburan. Yang Mas bilang kita bulan madu lagi itu." Dita menatap suaminya.


"Beda, Sayang. Itu bulan madu bukan liburan."


Dita tertawa kecil. "Bedanya apa? Sama saja kan kita liburan."


"Pokoknya beda." Rendra mencubit gemas puncak hidung istrinya.


"Mas, ih apa-apaan sih," kesal Dita sambil mengelus hidungnya.


"Satu atau dua minggu dari sekarang pokoknya kita liburan. Aku enggak mau ada penolakan," tegas Rendra.


"Ck, terserah, Mas, sajalah." Dita hanya bisa pasrah kalau suaminya sudah menetapkan sesuatu. Alasan apa pun pasti tidak akan didengar.


"Tapi syaratnya kita pergi bertiga. Ale harus ikut," lanjutnya.


"Tenang saja soal itu. Kita tidak akan meninggalkan Ale di rumah." Rendra mengedipkan sebelah matanya.


Dita kembali tertawa melihat suaminya yang genit kalau ada maunya itu.


"Kita bikin adik buat Ale, yuk," bisik Rendra.


"Ish adik apaan. Ingat pesan dokter Lita, aku tidak boleh hamil sampai Ale berumur 1,5 tahun." Dita mengingatkan suaminya.

__ADS_1


"Ini latihan dulu. Biar besok tidak lupa gimana cara bikin adik buat Ale." Tanpa menunggu jawaban istrinya, Rendra membopong Dita ke dalam kamar. Tak lupa dia mengunci pintu kamar sebelum memulai aktivitas favoritnya.


Keesokan harinya, Adi sudah kembali bekerja. Dita juga masuk kuliah. Rendra pergi ke butik dan kafe untuk mengecek laporan penjualan selama istrinya kuliah. Ibu Hasna menemani Adelia dan juga menjaga cucu semata wayangnya di rumah Adi.


Sore harinya teman-teman kantor Ibu Sarah datang menjenguk Adelia. Mereka membawa bingkisan buah dan kue sebagai bentuk sopan santun. Mereka juga memberikan doa dan dukungan untuk Adelia.


Setelah itu teman-teman kantor Adi datang. Ada beberapa anak magang yang ikut, termasuk Lisa. Adelia masih bisa merasakan kalau Lisa tidak suka dengannya. Sepertinya Lisa masih belum sadar dan belum melupakan Adi. Meski tidak suka dengan kehadiran Lisa, tapi sebagai tuan rumah yang baik, dia tetap bersikap ramah.


Usai menerima banyak tamu, Adelia berbaring di kamar. Badannya masih belum pulih dan merasa cepat lelah. Untung saja dia menerima tamu di rumah, jadi bisa beristirahat dengan tenang dan nyaman.


Seminggu kemudian Adelia kembali kontrol ke dokter Lita. Ibu Hasna ikut menemaninya. Selama seminggu ini mertuanya itu dengan setia selalu menjaga dan membantunya sembari mengasuh cucu pertamanya.


Perawat membuka semua perban di perut Adelia. Dokter Lita kemudian memeriksa luka jahitan operasinya. Dia memencet di sekitar luka bekas operasi.


"Ouch, masih agak sakit, Dok," kata Adelia sembari meringis menahan sakit.


"Karena belum kering sepenuhnya, Bu. Kondisi luka jahitan sudah bagus kok. Ini nanti akan diganti perbannya. Jangan sampai kena air dulu. Tiga hari lagi baru boleh dibuka ya perbannya," kata dokter Lita.


"Berarti saya tidak bisa mandi selama tiga hari, Dok?" tanya Adelia.


"Sementara mandinya bisa dilap dulu yang bagian depan, Bu. Atau mandinya nanti bisa dibantu Pak Adi atau ibu mertua," jawab dokter Lita sembari tersenyum.


"Apa setelah tiga hari, lukanya sudah bisa kena air, Dok?"


"Iya. Insya Allah sudah tidak apa-apa setelah tiga hari. Yang penting dijaga kebersihannya ya, Bu. Usahakan selalu kering lukanya."


"Terus benang jahitannya ini bagaimana, Dok?"


"Kalau lukanya sudah kering nanti akan lepas sendiri benangnya. Jangan khawatir, Bu."


"Alhamdulillah, Dok. Saya lega kalau begitu. Saya takut kalau benangnya harus diambil."


"Itu kan zaman dahulu. Sekarang zaman sudah maju, sudah banyak kemajuan dalam bilang teknologi. Oh ya, apa Bu Adelia masih keluar darah?"


"Alhamdulillah sudah tidak, Dok."


"Iya, Dok."


"Ini kontrol terakhir kalau tidak ada keluhan ya, Bu. Kalau masih ada keluhan nanti bisa hubungi saya seperti biasa."


"Oh ya, Dok. Kalau kami mau program hamil lagi berarti waktunya dua bulan dari sekarang ya?" tanya Adi.


"Bisa jadi, Pak. Yang penting Bu Adelia sudah mengalami dua kali menstruasi, silakan kalau mau program hamil lagi. Kalau dua bulan lagi mungkin saat umrah ya. Bu Adelia dan Pak Adi, insya Allah bisa menjalankan ibadah umrah dengan tenang tanpa merasa khawatir. Umrahnya malah bisa sekalian bulan madu lagi kan. Siapa tahu sepulang umrah, Bu Adelia bisa kembali hamil."


"Aamiin."


"Apa kalau mau program hamil harus konsultasi lagi, Dok?" tanya Adi lagi.


"Kalau mau konsultasi, silakan dengan senang hati saya akan membantu. Vitamin yang dulu saya resepkan bisa dikonsumsi Pak Adi lagi. Begitu juga Bu Adelia," jawab dokter Lita.


"Baik, Dok."


"Jika ada pertanyaan lagi silakan," ujar dokter Lita.


Adi memandang istrinya dan sang bunda. Karena tidak ada jawaban, Adi lalu berkata, "sepertinya sudah tidak ada, Dok."


"Baiklah kalau begitu. Bu Adelia, sampai jahitan kering tetap konsumsi banyak protein atau putih telur. Silakan mau dimasak apa saja putih telurnya. Kalau mau beraktivitas biasa silakan, tetapi jangan sekali-kali mengangkat barang yang berat," pesan dokter Lita pada Adelia.


Adelia menganggut. "Terima kasih atas segalanya, Dok. Semoga Allah membalas kebaikan hati Dokter," doa tulus Adelia.


"Aamiin. Terima kasih kembali. Mohon maaf, Pak, Bu, kalau saya dan teman-teman sejawat di sini ada salah atau khilaf selama melayani Bapak dan Ibu di sini."


"Kami sekeluarga juga minta maaf kalau ada salah dan khilaf, Dok."


Dokter Lita tersenyum dan mengangguk. "Sama-sama, Pak, Bu."

__ADS_1


Setelah selesai berkonsultasi, mereka bertiga pamit dari ruangan dokter Lita. Sementara Adi mengurus administrasi dulu sebelum pulang, Adelia dan Ibu Hasna duduk menunggu di ruang tunggu. Sesudah itu Adi menggandeng tangan istrinya sampai di parkiran mobil.


Adi membantu istrinya naik ke atas mobil. Adelia memilih duduk di kursi penumpang belakang supir bersama Ibu Hasna. Dia merasa senang berada di samping Ibu Hasna, karena rasanya seperti sedang bersama mamanya.


Kesehatan Adelia perlahan-lahan mulai pulih kembali. Dia sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Dia bahkan ikut membantu memasarkan clothing line milik Rendra melalui media sosialnya sembari mengisi waktu senggang. Kehidupan mereka kembali berjalan dengan normal.


Waktu terus berlalu, tanpa terasa sudah memasuki bulan Ramadan. Waktunya umat Islam menjalankan kewajiban puasa di bulan penuh berkah ini. Adelia sangat antusias menyambut datangnya bulan Ramadan. Ini merupakan bulan Ramadan keduanya bersama Adi. Meski dulu mereka menikah secara agama di pertengahan bulan Ramadan. Apalagi di akhir bulan Ramadan nanti, dia, Adi dan kedua mertuanya akan menjalankan ibadah umrah.


Adelia menyiapkan menu berbuka puasa dengan antusias. Dia mengundang keluarganya dan keluarga Rendra untuk buka bersama di hari pertama puasa, di rumahnya. Dia ingin sedikit memamerkan hasil belajar masaknya selama ini.


Adelia tak pernah lelah belajar memasak. Dari yang dulu hanya bisa memasak mie instan, sekarang beberapa masakan rumahan dan internasional sudah dia kuasai. Adi memang sangat mendukungnya belajar memasak. Apapun dan bagaimanapun hasilnya, Adi selalu menikmati hasil masakan istrinya.


Kini Adelia sudah bertransformasi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Dia sudah mahir mengurus rumah dan suaminya, meski untuk pekerjaan yang berat seperti mengepel dan menyeterika tetap dibantu oleh Mbak Surti.


Adelia juga semakin percaya diri. Dia sudah belajar untuk mengikhlaskan. Dia belajar untuk menerima keadaan dirinya yang sekarang. Dia sudah tidak mau ambil pusing dengan omongan orang tentang kondisinya. Setiap orang berbicara yang sekiranya menyinggung perasaan, dia akan membalasnya dengan senyuman.


Ting tong.


Adelia sedang menata kudapan di atas piring saat bel berbunyi. Dia melihat jam dinding di ruang makan. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00. Dia kemudian mengecek siapa yang datang dari CCTV yang tampak di layar televisi. Ada Dita dan Nisa di depan pintu.


Adelia memakai hijabnya lalu membuka pintu. "Awal banget datangnya, Dek," sapanya.


"Siapa tahu butuh orang yang bisa mencicipi masakan, Mbak," seloroh Dita yang tidak menjalankan puasa karena sedang menyusui. Bukannya dia tidak mau berpuasa, tetapi karena Ale masih ASI ekslusif dan kuat menyusu, jadi dia butuh banyak asupan makanan bergizi dan minum untuk menunjang ASI-nya. Hal itu dia putuskan setelah berkonsultasi dengan dokter yang menyarankan dia tidak perlu berpuasa agar tidak mengalami dehidrasi. Nanti dia akan membayar fidyah dan mengganti puasa yang dia tinggalkan di lain hari.


"Bisa saja kamu, Dek. Ayo masuk. Aku baru menata kudapan tadi." Adelia mengajak mereka ke ruang makan untuk membantu menyiapkan makanan yang nanti akan disajikan.


"Mbak, aku cicipi ya masakannya," kata Dita yang sudah di dapur.


"Iya, Dek. Nanti kamu tambahi kalau ada yang kurang rasanya," sahut Adelia.


"Siap, Mbak." Dita mulai mencicipi sup ayam jagung.


"Wah enak banget, Mbak." Dita mengacungkan jempol pada Adelia.


Selanjutnya dia mencicipi tumis daging sapi dengan saos lada hitam, ca brokoli, dan tempura udang. "Masya Allah, masakannya enak-enak. Sudah kelas restoran ini, Mbak," pujinya.


"Kamu bisa saja, Dek. Aku masih belajar itu. Oh ya, dagingnya sudah empuk kan?"


"Sudah pas empuknya, Mbak. Baru belajar aja sudah enak begini, gimana kalau sudah ahli."


"Ya aku bikin restoran, Dek," selorohnya yang diikuti tawa Dita dan Nisa.


"Aku aamiin-kan, Mbak. Semoga bisa jadi kenyataan," ujar Nisa.


"Aamiin. Makasih, Nis. Gimana kuliah?"


"Alhamdulillah lancar, Mbak. Biasalah kalau banyak tugas ya," ungkap Nisa.


"Alhamdulillah, ikut senang kalau lancar. Mahasiswa tanpa tugas itu kaya sayur tanpa garam, Nis," kelakar Adelia.


"Hehehe, iya, Mbak."


Tak lama, Adi pulang dari kantor. Setelah menyapa istinya, Dita dan Nisa, dia bergegas ke kamar untuk mandi agar badannya lebih segar. Seharian di proyek, apalagi puasa pertama, membuatnya sedikit kepayahan. Untung saja, kondisi tubuhnya bagus, jadi tidak perlu membatalkan puasa seperti beberapa temannya.


Rendra kemudian datang bersama Ale. Setelah menyerahkan Ale pada Dita, dia menyiapkan tempat untuk berbuka puasa di ruang tengah. Dia menggelar karpet di samping karpet bulu yang biasa dipakai untuk tempat berbaring Ale.


Pukul 17.00, satu per satu yang diundang mulai berdatangan. Ibu Dewi, Shasha, Kaisar, Pak Lukman, Ibu Sarah dan Mbok Darmi. Arsenio yang langsung dari kampus baru datang pukul 17.30.


Seperti biasa, Kaisar dan Shasha menjadi bulan-bulanan Pak Lukman. Dia sangat suka menggoda kedua calon pengantin itu. Kebetulan hari ini Kaisar dinas pagi dan tidak lembur, jadi bisa ikut berbuka puasa.


...---oOo---...


Jogja, 091221 00.50


Mulai minggu ini sepertinya saya akan cukup sibuk dengan berbagai kegiatan, baik di RL maupun di dunia menulis. Kebetulan bulan ini saya mengikuti beberapa event menulis, jadi konsentrasi saya juga harus terbagi. Mungkin saya akan jarang update. Namun, sebisa mungkin saya usahakan tetap up minimal seminggu sekali.

__ADS_1


Kalau ada yang kangen dengan tulisan saya, bisa diintip IG saya @kokoro.no.tomo.82 karena setiap hari saya menulis di sana. Entah itu cerita pendek, bersambung atau tulisan apa pun yang sedang ada di pikiran saya saat itu. Insya Allah saya akan setiap hari menulis di IG sampai akhir Desember 2021.


__ADS_2