Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Pulang


__ADS_3

Dokter Lita memanggil Adi ke ruangannya setelah selesai melakukan tindakan operasi pada Adelia. Saat ini kondisi Adelia belum sadar dan masih ada di ruang pemulihan.


"Dok, apa boleh bunda dan mertua saya ikut masuk?" tanya Adi begitu masuk ke ruangan dokter Lita.


"Boleh, Pak," jawab dokter Lita dengan senyum ramah seperti biasanya.


Adi kemudian memanggil Ibu Sarah dan Ibu Hasna agar masuk ke ruangan dokter Lita. Dia ingin mereka juga mendengar penjelasan tentang kondisi Adelia langsung dari dokter Lita. Setelah mereka masuk, Adi duduk diapit oleh sang bunda dan mama mertuanya.


"Alhamdulillah operasi Bu Adelia berjalan dengan lancar, Pak, Bu. Kondisinya juga stabil. Sekarang Bu Adelia sedang di ruang pemulihan." Dokter Lita memulai penjelasannya.


"Ini janin yang tadi diambil dari tuba falopi kiri Bu Adelia. Silakan nanti kalau mau dikuburkan." Dokter Lita menyerahkan kendi yang biasa dipakai untuk tempat ari-ari bayi yang baru lahir.


"Terima kasih, Dok." Adi menerima kendi itu, lalu menaruh di atas pangkuannya.


"Tuba falopi kiri Bu Adelia, tempat di mana janin menempel, sudah tidak bisa diperbaiki. Tadi terpaksa saya potong dan ambil. Untuk tuba falopi yang kanan, alhamdulillah kondisinya bagus. Jadi, insya Allah masih bisa hamil lagi dengan normal meski hanya dengan satu tuba falopi. Kondisi rahimnya juga bagus," jelas dokter Lita.


"Alhamdulillah," ucap Adi, Ibu Hasna dan Ibu Sarah bersamaan.


"Alhamdulillah lagi, tadi Bu Adelia tidak membutuhkan transfusi darah karena belum terlalu banyak pendarahannya. Kadar hemoglobinnya masih bagus. Mungkin nanti selama beberapa hari masih akan keluar darah, itu untuk pembersihannya," terang dokter Lita.


"Apa itu darah nifas, Dok?"


"Bukan, Pak. Karena janin masih belum terbentuk sempurna jadi itu masuk darah istihadhah." (*)


"Kapan istri saya keluar dari ruang pemulihan, Dok?" tanya Adi.


"Ditunggu sampai Bu Adelia sadar dulu ya, Pak. Kami juga tidak bisa memastikan berapa lama. Namun, nanti kalau sudah sadar dan kondisinya stabil langsung kami pindahkan ke kamar," jawab dokter Lita.


"Baik, Dok," ucap Adi.


"Dok, kalau boleh tahu penyebab Adel hamil di luar kandungan apa ya?" tanya Ibu Sarah pada dokter Lita.


"Untuk kasus Bu Adelia itu karena infeksi," jawab dokter Lita.


"Penyebab infeksinya apa ya, Dok?" tanya Ibu Sarah lagi.


"Bisa dari keputihan di masa lalu, gaya hidup atau faktor lingkungan. Maaf, saya tidak bisa memastikan soal itu," terang dokter Lita.


"Apa setelah ini anak saya bisa langsung program hamil lagi, Dok?"


"Menunggu dua kali siklus menstruasi baru boleh program hamil lagi, Bu."


"Berarti setelah dua bulan sudah aman untuk hamil lagi ya, Dok? Kalau Dita kan harus menunggu 1,5 tahun dulu." Ibu Hasna kali ini yang bertanya.


"Iya, Bu. Menunggu siklus menstruasi Bu Adelia normal kembali. Kalau Bu Dita kan caesar, membedah rahim, butuh pemulihan yang lebih lama sampai jahitannya kuat dan menempel sempurna," jelas dokter Lita.


"Ada risiko Adelia mengalami kehamilan seperti ini lagi tidak, Dok?"


Dokter Lita tersenyum. "Ya tetap berisiko mengalaminya lagi, Bu. Bahkan risikonya lebih besar. Namun, kita berdoa saja semoga di kehamilan Bu Adelia berikutnya bisa normal dan sehat sampai melahirkan."


"Aamiin."


"Apa kasus hamil di luar kandungan ini banyak yang mengalami, Dok?" tanya Adi.


"Dari penelitian, ada sekitar 2-4% perempuan yang hamil mengalami hal tersebut. Jadi, bukan kasus yang langka. Mungkin karena orang-orang sekitar tidak pernah ada yang mengalami, jadi terdengar asing," jawab dokter Lita.


"Terima kasih penjelasannya, Dok."


"Sama-sama. Apa ada lagi yang akan ditanyakan, Pak, Bu?"


"Kami rasa sudah cukup, Dok."


"Baik, kalau begitu. Silakan menunggu Bu Adelia keluar dari ruang pemulihan."


"Baik, Dok."


Adi, Ibu Hasna dan Ibu Sarah keluar dari ruangan dokter Lita. Mereka kembali ke ruang tempat mereka menunggu tadi.


"Mas, itu janinnya mau dikubur di mana?" tanya Ibu Hasna.


"Mas bingung, Bun. Tidak mungkin juga dibawa pulang ke rumah," jawab Adi.


"Biar nanti diurus papa, Mas. Setelah rapat, papa izin pulang kok. Mungkin sebentar lagi datang," sela Ibu Sarah.


"Iya, Ma. Terima kasih."


"Kaya sama siapa saja, Mas. Bagaimanapun janin itu juga cucu kami. Kita ini kan sudah jadi keluarga, tidak perlu merasa sungkan."


Adi mengangguk. Dia mengelus-elus kendi yang terbuat dari tanah liat itu di pangkuannya. Seolah-olah sedang memangku anaknya. Saat azan Zuhur berkumandang, dia menitipkan kendi pada bundanya karena dia akan pergi ke masjid.


Tinggallah Ibu Sarah dan Ibu Hasna berdua menunggu Adelia.


"Bu, terima kasih sudah merawat dan menjaga Adelia kemarin," ucap Ibu Sarah pada besannya.


"Mbak Adel itu sekarang sudah jadi anak saya, Bu. Sudah sewajarnya kan seperti itu," sahut Ibu Hasna seraya tersenyum.


"Alhamdulillah, Mbak Adel punya mertua yang baik sekali. Saya kan jadi tenang karena ada Bu Hasna."

__ADS_1


"Bu Sarah, berlebihan memujinya."


"Tidak berlebihan, kan memang kenyataannya seperti itu."


"Untung saja kemarin saya pas di sini, Bu. Pagi-pagi itu, Mas panik karena Mbak Adel lemas, badannya juga sampai dingin semua. Saya jadi tidak tega meninggalkan mereka," ujar Bu Hasna.


"Iya, Bu. Waktu flek pertama itu saya sudah minta mereka tinggal di rumah. Ada Mbok Sum, yang bisa menemaninya, tapi Mbak Adel yang tidak mau."


"Yang penting sekarang Mbak Adel sudah dioperasi, Bu. Insya Allah sudah tidak sakit lagi. Semoga nanti bisa secepatnya hamil lagi. Saya kadang merasa kasihan sama Mbak Adel karena sangat ingin hamil dan punya anak. Padahal kita juga tidak pernah meminta dia segera hamil, karena anak itu kan rezeki dari Allah."


"Iya, Bu. Tapi, memang Mbak yang ingin segera hamil. Mungkin dia merasa kurang percaya diri. Apalagi Mbak Dita sudah punya Ale. Kita hanya bisa mendukung dan mendoakan kebaikan untuk mereka, ya kan, Bu."


"Betul, Bu Sarah."


Sementara itu di ruang pemulihan, Adelia yang mulai sadar membuka mata perlahan. Dia bingung berada di mana karena ruangan itu asing untuknya. Badannya mulai merasa kedinginan.


"Dingin," ucapnya sambil mencari-cari sosok orang yang ada di sana.


"Bu Adelia, sudah sadar," ucap seorang perawat yang bertugas menunggu Adelia.


"Dingin, Sus," ucap Adelia lagi.


Tak lama perawat itu menyelimuti tubuh Adelia.


"Apa sudah tidak dingin, Bu?" tanya perawat itu.


"Iya, Sus," jawab Adelia lemah. "Saya di mana?"


"Ibu sedang di ruang pemulihan."


"Kapan saya dibawa ke kamar, Sus?"


"Ditunggu sebentar ya, Bu."


Beberapa menit kemudian, perawat mendorong brangkar Adelia keluar dari ruang pemulihan.


Ibu Hasna dan Ibu Sarah yang berada di luar ruangan langsung berdiri. Mereka mengikuti perawat dari belakang. Adi yang baru kembali dari masjid langsung menyusul mereka ke kamar inap Adelia.


Adelia dipindahkan ke ranjang setelah sampai di kamar. Dia masih belum sepenuhnya sadar, tapi dia tahu ada suami, mertua dan juga mamanya di sana. Dia tersenyum pada ketiga orang yang sangat dia sayangi itu.


"Bu Adelia masih belum diperbolehkan makan atau minum sampai nanti bisa buang angin ya," ucap perawat setelah memasang infus dan obat di dalam suntikan besar yang diatur waktunya dengan pompa infus.


"Baik, Sus," sahut Adi.


"Kalau sudah bisa buang angin nanti tolong bilang ke perawat yang jaga ya, Pak."


Adi mendekati istrinya. Dia mengecup lembut kening wanita yang sangat dia cintai itu. "I love you, Ai," bisiknya.


"Love you too, Mas." Adelia tersenyum pada suaminya.


Adi menjauhkan diri dari sang istri. Dia ingin memberi kesempatan pada Ibu Sarah dan Ibu Hasna untuk menyapa Adelia.


Usai kedua wanita paruh baya itu menyapanya, Adelia kembali memejamkan mata. Dia masih lemas dan rasanya ingin tidur terus.


Tak lama Pak Lukman datang. Setelah menemui putrinya sebentar, dia berbincang dengan menantu, besan dan juga istrinya. Mereka membicarakan soal penguburan janin yang tadi sudah diserahkan pada Adi.


Setelah bermusyawarah, akhirnya diputuskan janin akan dikubur di makam keluarga Pak Lukman. Adi ikut pergi bersama Pak Lukman untuk mengubur calon anaknya itu. Sementara Ibu Hasna dan Ibu Sarah tetap di sana menjaga Adelia.


Dita, Rendra dan Ale datang ke rumah sakit bakda Magrib bersama Ibu Dewi dan Shasha yang juga ingin menjenguk Adelia. Mereka sekalian menjemput Ibu Hasna yang tidak ikut menginap di rumah sakit.


"Mbak, kalau laparoskopi dijahitnya bagaimana?" tanya Dita yang duduk di samping Adelia.


"Ada empat tempat kayanya, Dek. Tapi kecil-kecil perbannya," jawab Adelia sambil meraba bagian perutnya yang ditutup perban tahan air.


Kondisi Adelia kini sudah membaik. Kesadarannya sudah sepenuhnya pulih.


"Beda ya sama caesar? Jahitanku panjang," kata Dita seraya menunjukkan di mana letak bekas jahitan caesar-nya.


"Iya, Dek. Katanya ini juga lebih cepat pulih."


"Semoga lekas pulih ya, Mbak."


"Aamiin."


"Apa sudah boleh makan sama minum, Mbak?"


"Belum, Dek. Aku masih belum bisa buang angin."


"Banyak bergerak saja, Mbak. Miring ke kanan terus miring ke kiri. Biasanya nanti terus cepat. Tapi, pelan-pelan saja geraknya," saran Dita.


"Iya, Dek. Nanti aku coba tidur miring."


"Oeee, oeee." Rendra menggendong Ale yang menangis keras karena menolak minum asi dari botol. Dia selalu menolak kalau tahu ada Dita. Padahal Rendra sudah mengajak Ale keluar dari kamar inap Adelia agar tidak melihat Dita. Namun, rencananya gagal.


"Ale disusuin dulu, Dek," kata Adelia.


"Iya, Mbak. Aku tinggal dulu ya." Dita beranjak dari duduknya lalu mengambil alih Ale dari gendongan Rendra. Dia kemudian duduk di sofa agar nyaman saat menyusui. Rendra bantu memasang apron menyusui di leher istrinya. Dita pun mulai menyusui putra tercintanya itu. Ruangan yang semula dipenuhi suara tangisan Ale, kini menjadi tenang kembali.

__ADS_1


"Ale masih belum mau minum asi pakai botol ya, Mas Rendra?" tanya Ibu Sarah.


"Sebenarnya mau kalau tidak ada Dita. Tapi kalau ada ibunya tidak mau, Tante. Tadi sudah saya ajak keluar biar tidak melihat Dita, tetapi tetap tidak mau," jawab Rendra.


"Mungkin Ale juga kangen sama ibunya. Mbak Dita sekarang sudah kuliah kan?"


"Bisa jadi, Tante. Biasanya kalau ada yangti-nya, dia tidak rewel. Tapi tadi sudah digendong sama bunda masih tetap menangis."


"Sepertinya dia kurang nyaman sama suasana di sini. Maunya dekat sama ibunya yang paling bisa membuat dia nyaman."


"Iya, Tante."


Pukul 08.00 malam, rombongan Rendra pulang bersama Ibu Hasna karena Ale agak rewel hari ini. Ale terlihat tidak tenang meski sudah menyusu dan berulang kali menangis. Dia hanya mau digendong sama Dita, bahkan digendong Rendra dan Ibu Hasna pun tidak mau.


Adi dan Ibu Sarah tetap tinggal di rumah sakit untuk menjaga Adelia. Mereka berdua bergantian melayani Adelia yang sudah boleh makan dan minum setelah bisa buang angin.


Pagi harinya, Adelia kembali dimandikan oleh Ibu Sarah. Dia belum bisa bangun dari ranjang karena infusnya masih terpasang dengan pompa infus. Namun, Adelia sudah bisa duduk meski tidak bisa beranjak.


Dokter Lita melakukan kunjungan pagi. Dia menanyakan bagaimana keadaan Adelia dan memeriksanya.


"Nanti kalau Bu Adelia sudah bisa berjalan, silakan kalau mau pulang," kata dokter Lita.


"Saya belum bisa jalan karena masih ada infus, Dok," sahut Adelia.


"Nanti kalau cairan di tabung suntik itu habis, infusnya dilepas kok, Bu." Dokter Lita menunjuk pompa infus yang diletakkan di atas meja samping ranjang Adelia.


"Baik, Dok."


"Kontrol lagi kapan, Dok?" tanya Adi.


"Satu minggu dari sekarang silakan kontrol. Nanti akan saya beri keterangan di lembar pemeriksaan," jawab dokter Lita.


"Baik, terima kasih, Dok."


"Bu Adelia banyak konsumsi protein ya agar jahitannya cepat kering. Biar bisa beraktivitas normal kembali."


"Iya, Dok."


"Nanti akan saya resepkan juga obat untuk dibawa pulang. Bu Adelia, tetap semangat. Semoga segera sehat kembali."


"Aamiin, terima kasih, Dok."


Setelah dokter Lita dan perawat keluar dari kamar inap Adelia, Ibu Sarah mulai membereskan barang bawaan mereka.


"Ai, ini teman-teman kantor mau jenguk ke sini bagaimana?" Adi meminta pendapat Adelia agar istrinya tidak merasa terganggu dengan kedatangan rekan kerjanya.


"Jangan hari ini, Mas. Besok saja kalau aku sudah di rumah biar lebih nyaman."


"Ya sudah kalau begitu. Aku bilang sama mereka dulu." Adi kemudian mengetik pesan di gawainya.


"Mama nanti ikut aku pulang atau dijemput papa?" Adelia beralih pada mamanya.


"Mama ikut Mbak. Nanti malam baru dijemput papa," ujar Ibu Sarah sembari beres-beres.


"Mama, enggak apa-apa izin kerja dua hari?"


"Ya enggak apa-apa. Kebetulan semua agenda bisa diwakilkan sama yang lain. Malah tadi teman-teman mama juga ingin jenguk Mbak, tapi mama bilang besok saja kalau sudah di rumah."


"Iya, Ma. Kondisiku juga masih kaya gini enggak bebas bergerak." Adelia menunjuk infusnya.


"Sabar ya, Mbak." Ibu Sarah tersenyum pada putrinya, memberi kekuatan.


Setelah cairan di tabung suntik habis, perawat melepas infus di tangan Adelia. Sekarang, dia bisa bebas bergerak. Dia meminta tolong Adi agar membantunya bangun dari tempat tidur dan mulai berjalan pelan-pelan.


Adi memberi tahu perawat kalau Adelia sudah bisa berjalan.


"Kami hubungi dokter Lita dahulu ya, Pak. Nanti kalau dokter Lita sudah setuju, akan kami buatkan pengantar ke bagian administrasi."


"Baik, Sus. Saya tunggu di kamar Adelia. Terima kasih."


Beberapa waktu kemudian, perawat memberikan surat pengantar untuk mengurus kepulangan Adelia. Adi kemudian pergi ke bagian administrasi.


Adelia sudah berganti gamis yang dia bawa dari rumah. Dia duduk-duduk di sofa kamar sembari menunggu suaminya.


Sesudah proses administrasi selesai. Adelia boleh pulang ke rumah.


Adi melajukan mobil dengan pelan. Saat tanpa sengaja mobilnya tergoncang, Adelia merasakan sakit di perutnya karena luka bekas operasinya yang tentu saja masih basah.


Sesampai di rumah, Adelia disambut Ibu Hasna yang menunggu kepulangannya dengan penuh sukacita.


...---oOo---...


Jogja, 071221 01.15


Catatan:


(*) https://konsultasisyariah.com/3743-hukum-shalat-wanita-yang-mengalami-keguguran.html

__ADS_1


__ADS_2