
"Ai, kita langsung ke ayah saja ya enggak usah mampir ke rumah," kata Adi setelah dari rumah Pak Wijaya. Sesudah memesan cincin dan mengecek undangan, mereka jadi berkunjung ke rumah Pak Wijaya.
"Kenapa, Mas? Aku kan belum bawa baju ganti," sahut Adelia seraya menoleh pada suaminya.
"Nanti kita beli baju di perjalanan," ujar Adi sambil melihat spion dan rear view mirror bergantian.
"Ada apa sih Mas sebenarnya?" tanya Adelia yang mulai curiga dengan sikap suaminya.
"Kalau aku bicara jujur, Ai, jangan panik ya," jawab Adi sambil menengok ke samping kirinya.
"Iya, aku janji, Mas."
"Sepertinya kita sedang diikuti, Ai. Tapi Ai tenang saja. Aku coba mengalihkan perhatiannya dengan mampir ke beberapa tempat baru kita ke rumah ayah. Karena itu kita tidak usah pulang ke rumah dahulu," kata Adi dengan tenang.
Mata Adelia membelalak. Dia menutup mulutnya dengan tangan. "Seβserius, Mas?"
Adi menyengguk. "Buat apa aku bercanda, Ai. Tapi semoga itu hanya perasaanku saja. Makanya kita mampir ke beberapa tempat sambil belanja baju ganti atau apa yang Ai butuhkan. Kalau dia ikut berhenti berarti memang kita diikuti."
"Sejak kapan Mas Adi merasa diikuti?" tanya Adelia penasaran.
"Sejak kita keluar dari rumah papa," jawab Adi.
"Kok Mas Adi enggak bilang dari tadi sih." Kening Adelia semakin mengerut.
"Aku kira tadi memang pas bareng saja jalannya. Tapi tadi aku coba pelan kok dia ikut pelan. Kita belok ikut belok. Kita tunggu saja Ai. Nanti kalau ke luar dari mobil, Ai sikapnya biasa saja, jangan terlihat panik atau cemas. Pura-pura tidak tahu kalau diikuti. Oke, Ai."
Adelia menganggut. "Memang kita diikuti pakai apa, Mas?"
"Pakai karimun hitam. Apa Ai tahu apa mobilnya Restu?" Adi kembali menoleh pada istrinya.
Adelia terkesiap. Dia langsung menoleh ke belakang. Dia melihat ada mobil karimun hitam di belakang mereka meski tidak terlalu dekat. Beberapa kali memang Restu datang ke rumah dengan mobil itu, meski mereka lebih sering naik motor kalau pergi ke mana-mana.
"IβIya benar itu mobilnya, Mas," ucap Adelia dengan terbata-bata.
"Tenang, Ai. Jangan panik. Tarik napas panjang lalu diembuskan pelan. Ulangi beberapa kali," perintah Adi sambil memberi contoh.
Adelia mengikuti perintah suaminya. Setelah beberapa kali melakukannya, dia menjadi lebih tenang.
"Kita cari baju ke mana, Ai? Ke toko yang di Jalan C. Simanjuntak kemarin?" tanya Adi setelah istrinya lebih tenang.
"Ke Mirota Kampus saja lebih komplet, Mas. Kalau di toko kemarin tidak jual pakaian dalam," jawab Adelia.
"Oke kita ke sana. Sekalian aku cari kemeja buat ke kantor besok."
Adi melajukan mobil ke Mirota Kampus yang terletak di sebelah barat Bundaran UGM. Mobil hitam tadi masih terus ada di belakang mereka. Saat Adi masuk ke area parkir toko, mobil tadi tetap lurus tidak ikut berbelok. Tapi Adi yakin, mobil tadi pasti berhenti di dekat sana.
Setelah memarkirkan mobil, Adi bicara dengan petugas parkir. Dia meminta tolong petugas parkir untuk mengecek apa ada mobil karimun hitam yang berhenti di sekitar sana. Kalau ada, dia juga minta tolong dicatatkan nomor polisinya. Tentu saja Adi memberi imbalan pada petugas parkir yang dia mintai tolong tersebut. Dia juga meminta nomor ponsel petugas tersebut agar bisa langsung menghubunginya begitu sudah mendapat info.
Adelia yang selalu digandeng suaminya sejak turun dari mobil hanya diam, menurut saja. Dia tahu apa pun tindakan yang dilakukan suaminya untuk melindunginya. Jadi dia tidak akan protes dan mencoba tetap bersikap wajar.
__ADS_1
Adi selalu ada di dekat Adelia selama istrinya itu memilih baju dan hijab serta kemeja untuknya. Matanya menjadi awas mengamati keadaan di sekitar mereka. Sambil menemani istrinya, dia mengirim pesan pada Kaisar, Rendra dan Arsenio lewat WhatsApp tanpa sepengetahuan Adelia.
Beberapa hari yang lalu Adi membuat grup WhatsApp yang berisikan dia, Kaisar, Rendra dan juga Arsenio. Tujuannya untuk mempermudah komunikasi dan mengantisipasi bila Restu tetap berbuat nekat. Dia mengabari kalau saat ini Restu membuntutinya. Dia juga membagikan lokasinya sekarang. Jadi seumpama terjadi sesuatu dengan dia dan Adelia, mereka tahu di mana posisinya. Setelah mendapat info nomor polisi mobil Restu, seketika itu dia mengirimnya di grup.
"Mas, kemejanya mau dicoba enggak?" tanya Adelia usai memilihkan kemeja untuk suaminya.
"Ukurannya seperti biasa kan?" Adi balik bertanya.
"Iya. Tapi beda merek biasanya beda ukuran. Mas Adi coba saja deh." Adelia menyerahkan kemeja pada Adi.
Adi menerima kemeja dari istrinya. Dia membuka semua kancing lalu mencobanya.
"Mas, kenapa dicoba di sini," tegur Adelia karena suaminya tidak pergi ke kamar pas untuk mencoba kemejanya.
"Sama saja kan. Aku baru males lepas baju, Ai," alasan Adi. Padahal sebenarnya dia tidak mau meninggalkan Adelia sendiri di luar jarak pandangnya.
"Ini pas kok, ambil aja." Adi melepas kemeja itu lalu menyerahkan pada Adelia.
"Mas Adi butuh apalagi?" tanya Adelia sambil memandang suaminya.
"Kemeja saja. Aku masih punya baju lain di tempat ayah," jawab Adi. "Ai, masih ada yang mau dipilih?"
"Aku sudah semua kok. Kita menginap semalam saja kan, Mas?"
"Iya. Besok pagi kita pulang sekalian ke KUA. Sini tasnya aku bawa." Adi meraih tas belanja yang dibawa istrinya.
"Aku antri di kasir sendiri saja, Mas," kata Adelia saat mereka berjalan ke kasir.
"Mas Adi, sudah bilang bunda belum kalau kita mau ke sana?"
"Belum. Enggak apa-apa. Biar kita kasih kejutan buat bunda sama ayah. Kalau kita bilang nanti malah ditunggu-tunggu," ujar Adi.
Adelia mengangguk. Dia melihat sekeliling sambil menunggu gilirannya. Tanpa sengaja dia seperti melihat sosok Restu. Dia lalu membalikkan badan memeluk suaminya.
"Mas, tadi sekilas kayanya aku lihat Restu di sini," bisik Adelia.
Adi mengecup singkat kening Adelia. "Enggak apa-apa. Tetap tenang, jangan terlihat panik. Pura-pura saja tidak melihat. Dia tidak akan berani macam-macam di tempat ramai seperti ini."
Adelia mengangguk di dalam pelukan suaminya. Dia sudah tidak peduli dilihat banyak orang karena berpelukan dengan Adi, padahal biasanya dia tidak suka mengumbar kemesraan di depan umum.
Usai melakukan pembayaran di kasir, mereka turun ke lantai 1 lalu berjalan ke tempat parkir. Adi meminta Adelia berjalan di depannya sambil tetap bergandengan tangan. Adi membukakan pintu mobil untuk wanitanya sebelum dia masuk ke mobil.
"Ai, butuh apalagi?" tanya Adi setelah melajukan mobil ke luar dari area parkir.
"Sudah semua, Mas. Apa kita enggak beli oleh-oleh buat ayah sama bunda?"
"Ai, mau beli oleh-oleh apa?" Adi menoleh pada istrinya.
"Beli buah-buahan gimana, Mas? Kalau kue kan bunda sudah pintar bikinnya."
__ADS_1
"Ya sudah nanti kita mampir ke toko buah dalam perjalanan ke sana. Tapi kita ke masjid dulu ya, sebentar lagi Magrib."
"Iya, Mas."
Adi mengemudi sambil sesekali melihat rear view mirror. Mobil Restu masih mengikuti mereka. Saat ini posisi mereka masih di kota jadi tidak mungkin mengebut untuk menghindari kejaran Restu. Adi melajukan mobilnya ke arah Masjid Syuhada untuk menjalankan salat Magrib. Dia merasa aman di sini karena selalu ramai orang yang datang untuk beribadah.
Setelah memarkirkan mobil, Adi ke luar lebih dahulu lalu menghampiri istrinya. Mereka berjalan masuk ke area halaman masjid sambil bergandengan tangan.
"Sudah pernah ke sini, Ai?" tanya Adi.
"Belum, Mas. Kalau lewat sering," jawab Adelia sambil meringis.
"Toilet sama tempat wudu di bawah. Untuk akhwat di sebelah kanan, ikhwan di sebelah kiri. Nanti aku tunggu di tangga sini ya," kata Adi di ujung tangga.
"Iya, Mas."
Usai wudu, Adi menunjukkan di mana jemaah wanita salat. Karena jemaah wanita tempat salatnya di bawah. Tidak menyatu dengan jemaah pria. Kalau pria di lantai atas. Meski begitu, jemaah wanita bisa melihat imam dari layar televisi yang dipasang di ruangan itu.
"Nanti salatnya berjemaah sama imam ya, Ai. Kalau Ai sudah selesai, tetap tunggu di sini sampai aku jemput, ya," titah Adi.
Adelia menganggukkan kepala. Setelah itu dia masuk ke ruang salat khusus wanita. Sesudah memastikan istrinya masuk dan aman, Adi segera naik ke lantai atas, di tempat jemaah pria.
Adelia menunggu Adi di dalam ruangan selesai salat dan berdoa. Dia tidak mau mengambil risiko ke luar dari area masjid sendiri. Tadi saat sepintas melihat Restu saja dia merasa gemetar, apalagi kalau sampai berhadapan. Lebih baik dia cari aman dengan menunggu suaminya. Tak lama Adi pun muncul menjemputnya.
"Ai, ayo," ajak Adi dari depan pintu masuk.
Adelia tersenyum lebar saat Adi datang. Dia bergegas bangkit dari duduknya kemudian menghampiri suaminya dengan wajah ceria.
"Kita mau makan sekarang atau nanti, Ai?" tanya Adi saat mereka menuju ke tempat mobilnya diparkir.
"Kalau Mas Adi sudah lapar, kita makan saja sekarang," jawab Adelia sambil memeluk lengan suaminya.
"Ai, ingin makan apa?"
"Apa saja yang Mas Adi mau."
"Oke, nanti kita lihat di jalan ada makanan apa saja," kata Adi.
"Ai, nanti kalau ada apa-apa, kamu langsung hubungi Arsen atau Rendra ya," pesan Adi saat mereka sudah di samping mobil. Dia lalu membukakan pintu mobil untuk Adelia.
"Mas Adi ngomong apa sih? Jangan ngomong sembarangan ah, aku enggak suka," protes Adelia setelah dia duduk di kursi penumpang samping sopir.
"Kan aku bilang kalau ada apa-apa. Semoga saja tidak terjadi apa-apa." Adi tersenyum seraya mengelus kepala istrinya. Dia lalu mengecup kening Adelia sebelum menutup pintu mobil.
Adi berjalan memutar lewat depan mobil karena dia sudah menghadapkan mobil ke jalan saat parkir tadi. Saat dia berjalan di depan mobil, tiba-tiba dari arah belakang ada mobil yang bergerak cepat ke arahnya. Karena langit sudah gelap, dia tidak melihat dan tidak sempat menghindar.
Dugggg.
"Mas Adiiiiiiii!!!"
__ADS_1
...---oOo---...
Jogja, 220721 23.55