
"Apa dengan kamu diam ini, berarti kamu lebih memilih karirmu?" Kaisar menatap tajam Shasha.
"Bukan begitu. Mas Kai, jangan salah paham dahulu." Shasha akhirnya bersuara.
"Aku diam karena aku sedang berpikir. Aku sedang menghitung berapa lagi yang aku butuhkan untuk membelikan hadiah buat mama. Insya Allah selama satu tahun tabunganku sudah cukup."
"Aku memang ingin menjadi wanita karir. Mencapai jabatan tinggi dalam pekerjaan. Motivasiku ingin berkarir karena melihat mama yang dahulu harus pontang-panting bekerja demi kami setelah papa meninggal. Mama yang seorang ibu rumah tangga, harus banting tulang untuk menghidupi kami bertiga. Papa bukan pegawai negeri, karena itu mama tidak mendapat uang pensiun."
"Mama mulai membuka butik dengan uang tunjangan papa. Mama pergi pagi, dan pulang saat malam. Tidak pernah sekali pun mama mengeluh lelah. Padahal aku tahu, mama pasti sangat lelah. Yang ada, mama selalu minta maaf karena tidak pernah di rumah menemani kami seperti saat masih ada papa. Alhamdulillah sekarang perjuangan mama membuahkan hasil. Mama tidak perlu bekerja keras lagi."
"Aku ingin bekerja karena aku tidak ingin seperti mama yang harus berjuang dari nol saat ditinggal papa. Setidaknya aku sudah punya gaji untuk aku dan anakku hidup kalau ditinggal suamiku. Aku tidak harus susah payah mencari kerja atau membuka usaha lagi. Sekarang, setelah aku pikir-pikir lagi, rasanya itu sudah tidak begitu penting." Shasha tersenyum pada Kaisar.
"Maksudmu apa, Sha? Aku enggak ngerti." Kaisar mengerutkan kening.
"Dengan teknologi maju seperti sekarang, bekerja tidak harus di kantor kan. Seperti Rendra yang di rumah tetap dapat gaji karena mengerjakan desain pesanan orang-orang. Aku pun nanti pasti masih bisa mendapatkan uang dari rumah tanpa harus bekerja di kantor. Jadi, mengejar karir sudah tidak penting bagiku. Aku hanya minta waktu bekerja selama setahun, Mas. Apa Mas Kai keberatan?"
"Bagaimana kalau seandainya di daerah penempatanku sinyal internet tidak sebagus di sini?" Kaisar kembali menatap Shasha intens.
"Memangnya masih ada tempat yang tidak ada sinyal internet, Mas?" tanya Shasha tak percaya.
"Ada, banyak malah. Di Jogja pun juga ada," jawab Kaisar.
"Sebelum aku jawab. Mas Kai, jawab dulu pertanyaanku. Apa Mas Kai tidak keberatan kalau istrinya bekerja?"
"Pada dasarnya, aku tidak keberatan kalau istriku bekerja asalkan masih bisa menjalankan tugas utamanya sebagai istri dan ibu kalau sudah punya anak. Dan, dia juga harus mau ikut ke mana pun aku bertugas. Aku bukan pria kolot yang ingin istrinya di rumah saja. Boleh kerja tapi ada syarat."
"Berarti seumpama aku jadi istri Mas Kai, aku masih boleh kerja?" tanya Shasha mencari kepastian.
Kaisar menyengguk. "Boleh, tapi aku tidak mau beda tempat tinggal. Bekerja di sekitar daerah di mana aku ditugaskan."
Shasha tersenyum lalu menganggut berulang kali. "Kalau tidak ada sinyal internet untuk kerja online, ya aku kerja offline, entah apa pun nanti asal aku masih bisa menghasilkan uang sendiri dan halal."
"Apa kamu tidak percaya aku bisa menafkahi kamu, Sha?"
"Aku percaya Mas Kai mampu. Aku hanya ingin membantu suamiku. Kita tidak tahu bagaimana masa depan. Setidaknya kalau Mas Kai dan aku punya tabungan, kita bisa lebih tenang bila ada hal yang terjadi di luar kuasa kita."
"Oke, aku bisa terima hal itu. Berarti kita sudah sepakat?" Kaisar mengulurkan tangan mengajak Shasha bersalaman.
"Sabar, Mas. Harus diperjelas dahulu poin-poinnya. Aku tetap bekerja selama satu tahun ini. Kalau Mas Kai dipindah tugas ke luar kota, aku akan resign kerja setelah satu tahun bekerja sebagai karyawan tetap. Tapi, selama Mas Kai masih dinas di Jogja, aku masih bisa bekerja seperti biasa. Begitu kan?"
Kaisar mengangguk, menyetujui poin-poin yang Shasha katakan. "Oke, deal!"
Mereka kemudian bersalaman sambil tertawa.
"Apa lagi yang masih jadi ganjalan kamu, Sha?"
"Kalau seumpama kita menikah akan tinggal di mana, Mas?"
"Di rumahku tentu saja."
"Maaf, apa Mak Kai sudah punya rumah sendiri atau masih di kontrakan yang dahulu?" tanya Shasha dengan hati-hati agar tidak menyinggung perasaan Kaisar.
"Alhamdulillah habis lebaran kemarin, aku sudah menempati rumah sendiri. Tipe perumahan kecil dengan dua kamar, tidak sebesar dan sebagus ini. Rumah yang sanggup aku beli dengan uangku sendiri." Kaisar tersenyum.
"Biar pun kecil kalau punya sendiri kan lebih tenang, Mas."
"Iya, tidak perlu bingung kalau waktu kontrak hampir habis. Kamu maunya tinggal di perumahan yang masih agak sepi atau di aspol (asrama polisi)?"
"Kalau sudah punya rumah sendiri kenapa harus di aspol, Mas?" Shasha mengernyit.
"Siapa tahu kamu mau punya banyak tetangga. Di aspol kan ramai, kalau di perumahan sepi karena baru beberapa yang ditempati."
"Nanti lama-lama juga ramai kan," ucap Shasha. "Kalau boleh tahu rumahnya di mana, Mas?"
"Dekat sama kontrakan kok. Aku suka karena sudah nyaman sama lingkungan di sana."
Shasha mengangguk-angguk.
"Jadi, kamu mau tinggal di perum sederhana dan sepi?"
Shasha kembali menganggut dengan senyum menghias bibirnya.
"Aku tidak punya mobil loh, Sha. Apa kamu mau ke mana-mana naik motor? Kena panas dan hujan?"
"Aku kerja setiap hari juga naik motor, Mas."
"Yakin mau dan sanggup hidup sederhana?"
"Insya Allah. Hidupku selama ini juga biasa saja, tidak mewah, Mas."
"Tapi di sini segala fasilitas ada, Sha. Beda sama di rumahku atau nanti di aspol kalau aku pindah ke luar kota."
"Mas Kai, kayanya menganggap aku selalu hidup enak selama ini. Mas Kai, hanya melihat kehidupanku yang sekarang, tidak melihat bagaimana prosesnya."
"Maaf kalau aku membuatmu tersinggung, Sha. Aku hanya ingin kamu tidak berharap hidup penuh kemewahan kalau jadi istriku. Aku ingin kamu tahu pahitnya bukan manisnya. Aku tidak ingin memberikan janji-janji manis yang tidak bisa aku penuhi."
"Soal mobil, aku memang sengaja tidak membeli. Buat apa aku punya mobil kalau aku tidak punya rumah. Lagian aku belum begitu butuh mobil. Aku sengaja menabung sedikit demi sedikit biar bisa punya rumah sendiri tanpa bantuan dari orang tuaku. Alhamdulillah akhirnya aku bisa punya rumah sendiri meski kecil dan sederhana."
"Sebenarnya rumah yang ditinggali orang tuaku sekarang, nantinya akan jadi milikku. Tapi aku ingin punya rumah dari hasil keringatku sendiri. Mungkin kalau sudah pensiun, aku akan tinggal di rumah orang tuaku. Hidup tenang di desa menjalani hari tua. Apa kamu mau, Sha?"
Shasha menyengguk seraya tersenyum manis pada Kaisar. "Insya Allah, Mas."
"Apa masih ada hal lain yang ingin kamu bicarakan lagi, Sha?"
Shasha tampak berpikir sejenak, setelah itu dia menggelengkan kepala. "Sepertinya sudah, Mas."
"Alhamdulillah kalau sudah tidak ada. Kalaupun besok masih ada yang mengganjal, bilang saja."
"Iya, Mas."
__ADS_1
"Jadi, apa kamu siap mengikuti sidang pranikah dan menjadi ibu Bhayangkari, Sha?"
Shasha kembali menyengguk dengan senyum malu.
"Aku mau dengar jawabanmu, Sha." Kaisar meraih satu tangan Shasha dan menggenggamnya erat.
"Bismillahirrahmanirrahim. Alesha Candraningtyas, apa kamu mau menerima pinangan Kaisar Musafee, sebagai suami dan imammu?" Kaisar menatap mata Shasha dengan intens, ada harapan yang terpancar di sana.
"Insya Allah, aku mau. Tapi, Mas Kai harus meminta restu dahulu sama mama dan Rendra." Shasha langsung menundukkan pandangan setelah menjawab Kaisar.
"Alhamdulillah, terima kasih, Sha. Pasti aku akan meminta restu mereka berdua." Kaisar mencium tangan Shasha yang dia genggam.
"Eh, Mas Kai." Shasha terkejut mendapat perlakuan seperti itu dari Kaisar. Dia lalu menarik paksa tangannya.
"Maaf, Mas Kai. Kita belum muhrim, tidak boleh seperti ini."
"Maaf kalau sikapku tadi berlebihan. Aku tadi spontan saja. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi sampai kita halal nanti."
Shasha mengangguk. Dia masih merasa malu hingga tak sanggup bertatap mata dengan Kaisar.
"Maaf Sha, tidak ada cincin, bunga atau hal romantis yang bisa aku berikan sekarang."
"Tidak apa-apa, Mas."
"Sha, sudah malam ternyata." Kaisar melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 09.00 malam.
"Aku antar ke bawah, Mas Kai." Shasha bangkit dari duduknya.
"Sha, sekalian aku mau ngomong sama Tante Dewi dan Rendra, bisa kan?"
Shasha mengangguk. Dia berjalan di depan dan Kaisar mengikutinya dari belakang.
Setelah sampai di lantai bawah, ternyata Ibu Dewi sedang merapikan ruang tamu bersama Rendra. Baru saja tamu terakhir mereka pulang.
"Tante, mohon maaf, saya lupa waktu mengobrol dengan Shasha," ucap Kaisar pada Ibu Dewi dengan rasa bersalah.
Ibu Dewi tersenyum. "Tidak apa-apa, Mas Kaisar. Tante tahu pasti banyak hal yang harus kalian bicarakan."
"Terima kasih atas pengertiannya, Tante. Sebelum pulang, saya ingin berbicara dengan Tante dan juga Rendra."
"Ayo duduk dahulu biar lebih enak bicaranya, Mas Kaisar." Ibu Dewi mempersilakan Kaisar untuk duduk.
Mereka berempat akhirnya duduk di sofa ruang tamu. Kaisar duduk bersisian dengan Shasha, sementara Ibu Dewi dan Rendra duduk berhadapan dengan mereka.
"Tante Dewi, Rendra, sebelumnya saya ingin minta maaf kalau saya kurang sopan berbicara. Meminta waktu Tante dan Rendra saat sudah waktunya beristirahat. Saya tidak ingin menunda karena saya tidak tahu kapan bisa punya waktu seluang ini." Kaisar memulai pembicaraan.
"Mungkin Tante dan Rendra sudah mengetahui kalau saya mencintai Shasha. Selama ini, Shasha belum memberikan jawaban karena ada beberapa hal yang menjadi ganjalan dia. Tadi kami sudah berbicara banyak hal. Insya Allah, saya serius dengan Shasha dan ingin menjadikan dia istri saya. Insya Allah, Shasha sudah bersedia dan siap menjadi istri abdi negara seperti saya dengan segala risikonya. Karena itu, saya ingin meminta restu pada Tante Dewi dan juga Rendra untuk mempersunting Shasha. Apa Tante dan Rendra merestui kami?" Kaisar dengan penuh percaya diri, memandang kedua orang di hadapannya.
"Shasha, apa kamu sudah yakin? Sudah minta petunjuk pada Allah dengan salat Istikharah?" Ibu Dewi menatap sang putri sulung yang dari tadi hanya diam dan menundukkan kepala.
"Insya Allah sudah, Ma." Shasha mengangkat kepala, menatap mamanya.
"Kalau Kak Shasha mau menerima Mas Kai, dan Mama merestui mereka, Rendra setuju."
"Apa Mas Kaisar sudah mantap dengan Shasha dan minta petunjuk pada Allah?" Ibu Dewi bertanya pada pria yang berprofesi sebagai polisi tersebut.
"Insya Allah sudah, Tante." Kaisar menjawab dengan penuh keyakinan.
"Kalau Mas Kaisar dan Shasha sudah saling cinta, yakin dan sudah meminta petunjuk pada Allah, mama hanya bisa memberikan restu dan doa, semoga niat baik kalian diridai oleh Allah," tutur Ibu Dewi.
"Alhamdulillah," ucap syukur Kaisar dan Shasha.
"Kapan rencananya keluarga Mas Kaisar akan datang ke sini?" tanya Ibu Dewi.
"Insya Allah secepatnya, Tante. Terus terang saya belum menyampaikan pada keluarga karena saya masih menunggu jawaban dari Shasha. Nanti akan saya kabari lewat Shasha kapan keluarga saya akan datang untuk melamar Shasha secara resmi," terang Kaisar.
Ibu Dewi mengangguk dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajah teduhnya. "Kami tunggu kabarnya, Mas Kaisar."
"Insya Allah akan saya kabari secepatnya, Tante. Kebetulan Minggu besok, saya pulang ke rumah orang tua."
"Aku selama seminggu besok menginap di rumah Pak Wijaya, Mas Kai." Rendra menyahut.
"Wah kebetulan, besok aku bisa mampir ke sana sebelum pulang ke sini," ujar Kaisar.
"Oke, aku tunggu, Mas Kai."
"Tidak terasa sudah larut malam. Saya pamit pulang dulu, Tante."
"Hati-hati di jalan, Mas Kaisar. Sampaikan salam Tante pada kedua orang tua Mas Kaisar," ucap Ibu Dewi.
"Rendra, aku pulang dulu. Nanti aku kabari kalau mau ke rumah Pak Wijaya."
"Siap, Mas."
"Assalamu'alaikum," salam Kaisar setelah menyalami Ibu Dewi dan Rendra.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
"Ma, aku antar Mas Kai ke depan ya." ucap Shasha.
Ibu Dewi mengangguk, menanggapi Shasha. Dia dan Rendra lalu meneruskan membereskan ruang tamu.
"Aku pulang dulu, Sha."
"Hati-hati, Mas. Mau pulang ke rumah atau kembali ke kantor lagi?"
"Ke rumah lah. Insya Allah nanti aku kabari kalau sudah sampai rumah."
"Iya."
__ADS_1
"Sudah masuk sana, dingin udaranya," ucap Kaisar yang sudah duduk di atas motor.
"Aku tunggu sampai Mas Kai pergi." Shasha tetap berdiri di dekat motor Kaisar.
"Aku tidak akan pulang kalau kamu belum masuk rumah, Sha. Masuklah, aku tidak tenang kamu di luar rumah sendiri. Ini sudah larut malam."
"Jangan lupa nanti kabari ya kalau sudah sampai rumah."
"Insya Allah. Masuk ya, Sha."
Shasha akhirnya menurut setelah berulang kali Kaisar memintanya masuk ke rumah. Dia melambaikan tangan sebelum masuk dan menutup pintu rumah. Setelah memastikan Shasha sudah menutup pintu, Kaisar kemudian melajukan motornya menembus kegelapan malam.
Tiga puluh menit kemudian, Kaisar menghubungi Shasha.
"Sudah tidur, Sha?"
"Belum, Mas. Aku baru selesai bersih-bersih. Jam berapa sampai rumah, Mas?"
"Sekitar 20 menit yang lalu. Mandi, terus telepon kamu."
"Malam-malam kok mandi, Mas. Enggak baik loh."
Kaisar tertawa di seberang telepon. "Ternyata begini rasanya ada yang merasa khawatir. Makasih, Sha."
"Mas Kai, nyebelin ih." Shasha mengerucutkan bibir.
"Aku enggak bisa tidur kalau badanku belum bersih, Sha. Tadi kan aku belum mandi sore, jadi baru bisa mandi setelah pulang. Tadi kamu ditanya apa setelah aku pulang?"
"Enggak ada, Mas. Mungkin besok pagi. Semua sudah capai karena acara akikah Ale."
"Kamu pasti juga capai. Besok kerja kan?"
"Iya, tadi aku cuma masuk setengah hari."
"Tidur, Sha. Sudah malam ini."
"Ini juga sambil rebahan. Mas Kai, juga harus tidur."
"Aku sih sudah biasa begadang, Sha. Kadang malah enggak tidur."
"Kok gitu?" Kening Shasha berkerut.
"Biasa, tuntutan pekerjaan."
"Tapi badan butuh istirahat loh, Mas."
"I know, Sha. Kalau ada waktu pasti aku curi waktu buat tidur kok. Don't worry."
"Ya udah, aku mau tidur, Mas." Shasha menutup mulutnya yang menguap karena mengantuk.
"Mau aku nyanyikan lagu, Sha?"
"Yang benar saja tengah malam gini mau nyanyi, Mas."
"Tenang, enggak bakal bangunin tetangga. Soalnya rumah sebelah kanan dan kiri masih kosong." Kaisar terkekeh-kekeh.
"Terserah, Mas Kai saja. Aku akan dengerin. Kalau aku diam berarti nanti aku ketiduran ya, Mas."
"Iya, kalau begitu, selamat tidur, Sha. Mimpi yang indah tentang kita ya."
"Mas Kai, ternyata bisa menggombal juga." Shasha tersenyum geli.
"Kapan aku menggombal, Sha?"
"Sudah-sudah, tidak usah dibahas lagi. Aku sudah ngantuk banget ini."
"Oke, dengarkan lagu ini ya untuk pengantar tidurmu."
Kaisar mengambil gitar di sudut kamar. Dia lalu mulai memetik dawai gitar dan menyanyikan lagu untuk Shasha.
...Tuhan memberikanku cinta...
...Untuk kupersembahkan hanyalah padamu...
...Dia anugerahkanku kasih...
...Hanya untuk berkasih berbagi denganmu...
...Atas restu Allah kuingin milikimu...
...Kuberharap kau menjadi yang terakhir untukku...
...Restu Allah kumencintai dirimu...
...Kupinang kau dengan Bismillah...
.........
...(Rossa & Ungu - Kupinang Kau Dengan Bismillah)...
...---oOo---...
Jogja, 240921 00.02
Lunas ya kisah KaiSha ✌️✌️✌️
Untuk teman-teman yang punya IG (instagram) bisa minta tolong bantu like dan komen untuk tugas sekolah adek kita, Tirta (Honey Bear), batas tugasnya sampai tanggal 27 September 2021. Tugas Dek Tirta Mahardhani ada di slide pertama yaitu 'Taman Nasional Lorentz'. Sila cari IG dengan ID @atlataa_ kemudian like dan komen 'pilih Taman Nasional Lorentz'
__ADS_1
Atas bantuan like dan komentar teman-teman, sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih. Hanya Allah yang bisa membalas kebaikan teman-teman semua 🙏🙏🙏🤗🤗🤗