Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Terjadi Lagi


__ADS_3

Ibu Sarah jelas terkejut mendengar ucapan Sekar Ayu. Dia lalu menatap sang menantu. "Maksudnya apa ini, Mas Adi?"


"Itu--itu sudah lama sekali, Ma. Tolong jangan dengarkan Sekar, Ma. Saya sudah tidak ada hubungan lagi sama Sekar. Saya tadi juga terkejut melihat dia ada di sini. Saya sudah mengusir dia, tapi dia tetap tidak mau pergi," jelas Adi pada ibu mertuanya.


"Saya hanya ingin menyambung silaturahim saja, Bu. Tidak ada maksud lain," ucap Sekar Ayu, mencoba meraih simpati Ibu Sarah.


"Hentikan semua omong kosongmu, Sekar," tukas Adi. "Aku sudah bilang berulang kali tidak mau punya hubungan apa pun sama kamu."


"Mas Adi, tenang sedikit. Kita bisa membicarakan ini baik-baik." Ibu Sarah berusaha menenangkan menantunya.


"Ma, kita tidak bisa bicara baik-baik sama Sekar. Dia ini keras kepala. Dia pernah datang ke rumah ayah membuat keributan sampai ayah mengusir perempuan tidak tahu diri ini. Jangan pernah memberi hati padanya, Ma." Adi menatap ibu mertuanya.


"Mama ingin tahu duduk permasalahannya, Mas," tutur Ibu Sarah.


"Kami tidak punya masalah, Bu. Mas Adi saja yang menganggap itu jadi masalah," sahut Sekar Ayu dengan tenang.


"Diam kamu, Sekar. Kamu tidak punya hak bicara di sini." Adi menatap tajam Sekar Ayu.


"Nanti akan saya jelaskan, Ma. Intinya dia ingin menganggu rumah tangga saya dan Adel," jelas Adi pada Ibu Sarah.


"Oh, punya niat jadi pelakor ya," sindir Ibu Sarah setelah mendengar penjelasan Adi. "Sayang punya wajah cantik tapi kelakuannya sama sekali tidak baik."


"Itu hanya salah paham, Bu. Saya hanya ingin menyambung tali silaturahim yang pernah terputus. Tidak ada maksud lain." Sekar Ayu masih berusaha meraih simpati Ibu Sarah.


"Bukannya Mas Adi sudah menolak ya, kenapa tidak menyerah saja? Saya malah jadi kasihan loh sama kamu," ucap Ibu Sarah.


"Ma, jangan termakan omongan manisnya." Adi mengingatkan Ibu Sarah.


"Terima kasih, Bu. Menyambung tali silaturahim itu bisa memperpanjang umur, benar kan, Bu. Jadi, tidak seharusnya ditolak kan." Sekar Ayu merasa mendapat angin segar dari Ibu Sarah.


Ibu Sarah tersenyum pada Sekar Ayu. "Tidak perlu berterima kasih. Saya kasihan karena kamu ini jadi tidak punya harga diri sama sekali. Mengemis perhatian pada pria yang sudah beristri, yang sebentar lagi mau jadi ayah. Jangan tutup mata dan hati kamu. Masih banyak pria baik di luar sana yang bisa kamu dapatkan."


"Apa? Mas Adi mau jadi a--yah?" tanya Sekar Ayu dengan raut wajah terkejut.


"Iya. Istriku sedang mengandung anakku sekarang. Sudah cukup kamu menganggu hidup kami, Sekar. Pergi, jangan membuat malu dirimu sendiri," seru Adi.


Sekar Ayu menggelengkan kepala berkali-kali. Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Adi, pria pujaannya itu, sebentar lagi akan memiliki anak dari istrinya.


"Kalian pasti berbohong kan biar aku tidak mendekati Mas Adi lagi?" Sekar Ayu tidak mau percaya.


"Buat apa kami berbohong. Tidak ada gunanya. Silakan tinggalkan rumah ini dan jangan pernah kembali ke sini lagi," ucap Ibu Sarah.


"Jangan menganggu rumah tangga anak kami. Atau kami akan mengambil tindakan hukum kalau kamu masih tetap nekat menganggu mereka." Ibu Sarah memberi peringatan pada Sekar Ayu.


Tiba-tiba pintu rumah terbuka, Arsenio muncul dari dalam rumah.


"Mama, masuk saja ke dalam. Biar aku seret perempuan ini ke kantor polisi kalau tidak mau pergi," ucap Arsenio.


"Oke, aku akan pergi." Sekar Ayu akhirnya menyerah. Dia tidak mau sampai berurusan dengan polisi. Kedua orangtuanya pasti marah padanya kalau sampai mereka mengetahui hal tersebut.


Dengan raut wajah kesal, Sekar Ayu meninggalkan rumah Adi. Dia berjalan cepat menuju mobilnya tanpa menoleh ke belakang. Setelah masuk ke mobil, dia memutar arah dan melajukan mobil keluar dari cluster perumahan tersebut.


"Kok dia bisa balik ke sini lagi sih, Mas?" tanya Arsenio begitu Sekar meninggalkan mereka bertiga.


"Loh, memangnya tadi dia sudah ke sini, Dek?" Ibu Sarah bertanya pada putra bungsunya.


"Iya, Ma. Tadi pas aku datang dia sudah duduk di teras. Aku sudah curiga karena Mbak tidak membukakan pintu. Terus dia tanya ini rumah Mas Adi apa bukan? Aku jawab saja yang kasih alamat salah. Terus dia pamit pulang," jelas Arsenio.


"Sudah lama dia pulangnya?" tanya Adi.


"Enggak lama setelah itu Mas Adi pulang," jawab Arsenio.


"Mungkin tadi papasan di depan. Dia melihat mobilku terus mengikuti aku," ujar Adi.


"Bisa jadi, Mas."


"Ya sudah, yang penting dia sudah pergi. Sekarang kita masuk saja, kasihan Adelia sendiri di dalam." Ibu Sarah mengajak mereka masuk ke rumah.


"Iya, Ma," sahut Adi dan Arsenio bersamaan. Mereka mengikuti Ibu Sarah masuk ke dalam rumah. Tak lupa Adi mengunci pintu rumah.


"Mamaaaa," seru Adelia sambil merentangkan tangan menyambut kedatangan sang mama.


Ibu Sarah tersenyum lebar melihat putrinya yang tampak ceria meski harus terus duduk berselonjor. Dia menghampiri Adelia lalu memeluk putrinya tersebut.

__ADS_1


"Mbak, sudah makan?" tanya Ibu Sarah setelah mengurai pelukan mereka.


Adelia menggeleng. "Belum, Ma."


"Mama belikan ayam bakar kesukaan Mbak. Kita makan bareng ya." Ibu Sarah mengelus kepala Adelia.


Adelia mengangguk. "Iya, Ma. Tapi, aku mau Zuhur dulu. Tadi belum salat karena ketiduran, terus Arsen datang."


"Mama juga belum salat. Kita salat dulu kalau begitu."


"Iya. Ma."


Adi menghampiri sang istri. Setelah melakukan ritual salam dan cium tangan, dengan cekatan Adi langsung membopong istrinya ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudu. Setelah itu membopong ke musala agar Adelia bisa menjalankan salat dengan mamanya meski sembari duduk.


Usai Ibu Sarah dan Adelia salat Zuhur, mereka berkumpul di ruang makan untuk makan bersama. Mbak Surti juga turut makan dengan mereka.


Sama seperti pagi tadi, Adelia makan sepiring berdua dengan Adi. Dia juga minta disuapi suaminya. Meski diledek Arsenio karena sikap manjanya, Adelia cuek saja. Sementara Ibu Sarah dan Mbak Surti bisa memaklumi sikap Adelia.


Sesudah makan, mereka berempat berkumpul di ruang tengah. Adi menceritakan pada Ibu Sarah dan Arsenio tentang Sekar Ayu. Perihal lamaran yang dahulu ditolak sampai pertemuan terakhir mereka di rumah Pak Wijaya. Dia tidak mau ada kesalahpahaman soal hubungannya dengan Sekar Ayu.


Setelah mendengar cerita dari Adi, Ibu Sarah menyarankan mereka untuk sementara tinggal di rumahnya. Mengantisipasi kalau Sekar Ayu nekat datang lagi, tetapi Adelia menolak. Dia tidak mau kalah dari Sekar Ayu. Jangan sampai mereka merasa takut hingga membuat Sekar Ayu besar kepala. Dia ingin mengumpulkan bukti agar bisa melaporkan Sekar Ayu ke polisi.


Meski dengan berat hati, Ibu Sarah menyetujui keinginan putrinya. Tak lupa dia berpesan pada Adelia agar jangan terlalu banyak pikiran karena sedang hamil. Apalagi sekarang kondisinya harus bedrest.


Ibu Sarah tidak kembali lagi ke kantor karena tadi sudah izin pulang. Dia mengobrol dengan sang putri sembari menunggu suaminya yang sudah berjanji akan datang untuk menjenguk Adelia sekaligus menjemputnya. Sedangkan Arsenio kembali ke kampus karena ada jadwal kuliah siang.


Malam harinya, keluarga Ibu Dewi datang menjenguk Adelia. Rendra membawakan kursi roda yang dahulu dipakai Dita saat umrah agar Adelia bisa lebih bebas bergerak, tidak bergantung pada Adi.


Untung saja flek yang dialami Adelia hanya selama satu hari. Esok hari, fleknya sudah tidak keluar, tetapi Adi meminta istrinya tetap mengurangi aktivitas bergerak. Adelia harus memakai kursi roda kalau mau ke mana-mana.


Beberapa hari kemudian, saat Rendra dan Dita melakukan launching clothing line dengan merek Ale Wear di butik Ibu Dewi, Adelia juga ikut datang. Selain mengundang kolega bisnis dan pelanggang butik, mereka juga mengundang anak yatim di acara tersebut.


Acara launching berjalan dengan lancar. Beberapa tamu juga membeli di sana karena ada promo diskon 50% selama tiga hari. Meski tidak mendapat keuntungan selama masa promosi, tetapi itu jadi cara yang efektif agar orang-orang mengenal kualitas produk mereka. Karena kalau mereka merasa puas dan senang pasti akan membeli lagi dan merekomendasikan pada orang lain.


Malam hari setelah acara launching, keluarga besar mereka dengan karyawan butik dan kafe, makan malam bersama di sebuah restoran. Itu sebagai bentuk rasa syukur sudah berjalannya bisnis baru Rendra dan juga merayakan pertambahan usia Dita. Ibu Hasna secara khusus membuatkan puding berbentuk tumpeng dengan potongan buah di sekelilingnya untuk sang putri bungsu itu.



(Ilustrasi puding tumpeng, kredit foto pada pemilik)


Selanjutnya, Pak Wijaya memimpin doa bersama. Baru kemudian Dita memotong puding tumpeng itu dengan dibantu Rendra. Potongan pertama dia berikan pada suaminya, selanjutnya untuk sang bunda, baru kemudian mama mertuanya. Setelah itu Dita memotong-motong lagi dan dibagikan kepada yang lainnya sampai semua mendapatkan puding dan buah. Selesai membagi puding dan buah, mereka mulai makan hidangan yang sudah disajikan oleh pihak restoran.


Suasana makan malam itu penuh dengan keakraban. Tidak ada batas antara atasan dan bawahan, semua membaur jadi satu. Kaisar yang kebetulan sedang tidak bertugas juga berada di sana. Dia tentu saja duduk bersebelahan dengan Shasha, calon istrinya. Meski hampir setiap hari berkomunikasi, tetapi mereka tidak bisa setiap saat bertemu.


"Jadi kapan mau diresmikan Mas Kaisar?" tanya Pak Lukman yang senang menggoda kedua calon pengantin.


Kaisar tersenyum pada Pak Lukman. "Insya Allah setelah lebaran, Om. Tanggalnya tapi masih belum diputuskan. Mohon doa semoga dilancarkan semuanya," jawab Kaisar.


"Aamiin," ucap semua yang ada di sana.


"Mas Kaisar ini sedang sibuk-sibuknya, Pak Lukman. Semoga nanti setelah lebaran bisa sedikit longgar," ujar Ibu Dewi yang memaklumi kesibukan calon menantunya.


"Jangan terlalu sibuk Mas Kaisar, nanti Mbak Shasha diserobot orang loh," goda Pak Lukman.


"Ya, saya serobot balik, Om," balas Kaisar sembari tertawa.


"Papa nih aneh-aneh saja, lagian siapa yang berani menyerobot calon istrinya Pak Kapolda. Bisa langsung disikat, ya kan, Mas Kai." Ibu Sarah ikut menanggapi dengan gurauan.


Semua orang tertawa mendengar gurauan Ibu Sarah. Kaisar pun ikut tertawa. Sedangkan Shasha memerah wajahnya karena malu menjadi obyek pembicaraan.


"Sudah sidang pranikah, Mas Kaisar?" tanya Ibu Sarah.


"Belum, Tante. Masih menunggu jadwal sidang. Berkas sudah masuk. Sidang biasanya kan beberapa orang sekaligus. Jadi, mungkin masih menunggu ada yang mendaftar lagi," jawab Kaisar.


"Oh, Tante kira begitu mendaftar bisa langsung sidang," sahut Ibu Sarah.


"Belum tentu, Tante. Kalau kebetulan banyak yang sudah mendaftar bisa cepat sidangnya. Tapi ada juga yang harus menunggu berbulan-bulan," terang Kaisar.


"Kalau rencana nikahnya habis lebaran, masih ada waktu beberapa bulan, jadi bisa tenang. Mbak Shasha, masih sabar kan menunggu?" Ibu Sarah beralih pada Shasha.


"Iya, Tante. Saya juga santai, tidak terburu-buru," sahut Shasha seraya tersenyum pada Ibu Sarah.


Pembicaraan masih terus berlanjut dalam suasana kekeluargaan. Saling melempar canda dan juga berbagi cerita.

__ADS_1


Usai makan, Adi mengajak Kaisar bicara berdua.


"Selamat atas kehamilan istrimu, Di," ucap Kaisar setelah mereka hanya berdua.


"Makasih, Kai. Semoga nanti Shasha juga segera hamil setelah kalian menikah. Tapi kamu enggak DP dulu kan?" gurau Adi.


"Sialan kamu, Di. Memangnya aku tipe yang suka begitu." Kaisar menonjok lengan sahabatnya itu.


Adi tertawa. "Siapa tahu kamu sudah berubah, Kai."


"Aku kan jomlo seumur hidup sebelum melamar Shasha," ujar Kaisar.


"Kamu tahu sendiri, aku menunggu adikmu selesai kuliah, tapi malah keduluan sama Rendra." Kaisar tertawa.


"Iya, aku cuma bercanda, Kai. Aku tahu kamu masih perjaka ting ting." Adi kembali meledek Kaisar.


Mereka berdua tertawa bersama.


"Kai, beberapa hari yang lalu Sekar ke rumah," kata Adi setelah mereka berhenti tertawa.


Kaisar mengernyit. "Sekar? Serius, Di?"


Adi menyengguk. "Iya. Malah pas mama mertua dan Arsenio ke rumah." Adi menghela napas panjang.


"Wah, terus gimana?" tanya Kaisar penasaran.


"Sekar ngajak mama kenalan. Terus yang bikin aku kesal dia mengaku cinta pertamaku."


"Memang benar kan kalau Sekar cinta pertamamu," sahut Kaisar.


"Iya. Tapi, kalau orang tidak tahu masalahnya, nanti bisa salah paham. Bisa-bisa aku dianggap masih berhubungan sama dia. Untung saja mama tidak salah paham setelah aku memberi penjelasan."


"Syukurlah kalau begitu. Terus maumu gimana, Di?"


"Aku bisa bikin laporan tidak?" tanya Adi.


"Kamu ada bukti buat melapor tidak? Aku kan sudah bilang kalau tidak ada bukti, susah, Di."


"Cuma rekaman CCTV saja pas dia ke rumah."


Kaisar menggeleng. "Itu belum cukup, Di. Kalau ada rekaman percakapan, video atau bukti tertulis ada pengancaman baru bisa maju. Kalau Restu dulu, kamu punya banyak bukti dari pesan yang dikirim, jadi lebih gampang."


"Seandainya nanti Sekar datang lagi, kalau perlu kamu video atau rekam semua ucapan dia buat bukti," saran Kaisar.


"Agak susah ya menyeret dia."


"Iya, Di. Apalagi tidak ada bukti kuat. Kalau dulu ada pasal perbuatan tidak menyenangkan, tetapi sekarang pasal itu sudah dihapus," terang Kaisar.


"Kalau sekarang bisanya pakai pasal pengancaman atau pemaksaan," lanjut Kaisar.


"Aku kasihan sama Adel, Kai. Apalagi dia sedang hamil muda. Aku takut dia jadi kepikiran, terus berpengaruh sama kandungannya."


"Kalau aku lihat Adel lebih kuat sekarang. Karena sudah pasti dia belajar dari pengalaman kasus Restu. Kamu yang harus terus meyakinkan dan memberi semangat dia."


Adi mengangguk, setuju dengan apa yang sahabatnya itu katakan. "Iya, Kai. Adel malah bilang jangan sampai kalah sama Sekar. Jangan malah bikin Sekar besar kepala karena kami takut sama dia. Bukannya aku takut sama Sekar, tapi aku takut dengan kondisi psikis istriku."


"Iya, aku tahu, Di. Apalagi Adel sedang hamil, kondisi emosionalnya pasti lebih tidak stabil. Tapi kamu juga harus percaya sama Adel, kalau dia, kalian berdua bisa melewati ini semua." Kaisar menepuk bahu sahabatnya itu.


"Iya, Kai. Makasih masukannya."


Setelah selesai bicara, mereka kembali bergabung dengan yang lain.


Mereka mengakhiri makan malam saat jam dinding menunjukkan pukul 09.00 malam. Begitu acara diakhiri, para karyawan satu per satu pamit pulang. Tak lupa mereka juga mengucapkan selamat pada Dita yang sedang berulang tahun.


Setelah semua karyawan pulang, keluarga Pak Lukman juga pamit pulang. Masih tersisa keluarga Pak Wijaya dan juga Ibu Dewi yang menunggu Rendra membayar tagihan malam itu. Ale sudah tidur nyenyak di dalam stroller setelah tadi digendong yangti-nya. Dia tidak rewel meski kedua orang tuanya sibuk hari ini.


Malam ini, Rendra, Dita dan Ale menginap di rumah Adi. Rutinitas yang dilakukan setiap Pak Wijaya dan Ibu Hasna menginap di sana.


Mereka semua langsung masuk ke kamar setelah sampai di rumah Adi, karena merasa lelah setelah seharian beraktivitas.


Adi membersihkan diri terlebih dahulu, sementara Adelia menyiapkan baju tidur untuk suaminya. Setelah Adi keluar dari kamar mandi, baru Adelia masuk untuk membersihkan diri. Betapa terkejutnya Adelia saat melihat ada darah lagi di cawatnya.


...---oOo---...

__ADS_1


Jogja, 261121 00.55


__ADS_2