
Aku mendapat kiriman foto pria yang mengaku sebagai suami Adelia dari Toni. Rupanya pria itu dan Adelia memang benar sudah menikah. Pak Lukman tidak akan mungkin menggelar syukuran dan mengenalkannya pada tetangga kalau hanya melamar atau tunangan seperti aku dulu.
Sial!!! Aku mengacak kasar rambutku. Kepalaku rasanya mau meledak karena kenyataan ini. Aku coba menenangkan diri sambil menyusun rencana selanjutnya. Yang jelas, aku tidak akan begitu saja melepaskan wanita pujaanku itu.
Paginya, aku mengirim pesan pada Toni, menanyakan informasi pria berengsek itu. Aku tidak akan menyebutnya suami karena aku tidak akan pernah rela melepas wanita yang sangat kucintai itu untuk orang lain. Ternyata pesanku tidak terkirim. Apa mungkin Toni sedang tidur dan mematikan data internetnya? Ya mungkin begitu. Mungkin tadi malam dia bergadang mengerjakan skripsi jadi dia masih tertidur. Atau mungkin semalam dia keasyikan nongkrong dengan yang lain sampai pagi.
Aku memutuskan tak ambil pusing, nanti siang saja aku akan mendatangi dia langsung. Aku akan mengorek semua informasi yang aku butuhkan dari Toni. Sekarang sebaiknya aku bersantai dulu sambil berbincang dengan keluargaku.
Sampai siang pesanku pada Toni belum juga terkirim. Aku berinisiatif untuk meneleponnya, tetapi jawaban operator yang aku terima. Ada apa gerangan dengan Toni? Kenapa dia sangat susah untuk dihubungi? Apa terjadi sesuatu dengannya?
Tanpa pikir panjang lagi, aku mengambil kunci mobil. Aku melajukan mobil ke kompleks rumah Adelia. Setelah sampai, aku memarkirkan mobil di pinggir jalan di dekat kompleks agar tidak ada yang melihat kedatanganku. Aku kembali menghubungi Toni, tapi kembali suara operator yang aku dengar. Akhirnya kuputuskan untuk ke rumahnya.
Aku memakai jaket dan juga topi untuk menutupi diriku. Aku berjalan cepat seraya menunduk sambil melirik keadaan sekitar. Aku tidak ingin kedatanganku diketahui keluarga Pak Lukman.
Sampai di depan rumah Toni, aku melihat ke arah rumah Adelia. Aku tidak melihat ada mobil fortuner hitam yang terparkir di sana. Mungkin Adelia dan pria berengsek itu tidak ada di sana.
Aku melangkah masuk ke halaman. Pintu rumah Toni tertutup rapat. Apa tidak ada orang di rumah? Biasanya pintu rumah ini selalu terbuka. Aku mengetuk pintu sekali, tidak ada jawaban. Aku mengetuk sekali lagi, masih tidak ada jawaban. Begitu aku mengetuk yang ketiga kali, aku mendengar seseorang berjalan di balik pintu.
"Siapa di luar?" tanya Toni, yang aku hafal suaranya.
"Ini aku, Ton. Restu," jawabku.
"Mau apa ke sini?" tanya Toni lagi tanpa membuka pintu.
"Aku mau bicara sama kamu. Tolong buka pintunya, Ton."
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Pergi sana! Aku tidak mau ketemu dan bicara lagi sama kamu."
Berengsek!!! Kenapa Toni jadi seperti ini? Ingin rasanya aku mendobrak pintu rumah itu, tapi nalarku masih berjalan. Aku akan coba bicara baik-baik dengannya.
"Kamu kenapa, Ton? Kamu minta bayaranmu naik? Kita bisa bicarakan ini baik-baik." Aku coba membujuknya.
"Aku tidak butuh uangmu. Kamu sudah menipuku."
__ADS_1
Aku tersentak mendengar kata-kata Toni. Kenapa dia bilang begitu?
"Aku menipu apa, Ton?" Aku mengerutkan keningku.
"Kamu sudah memanfaatkan aku. Kamu bohong penyebab putusmu sama Adelia. Ternyata kamu yang selingkuh dan menghamili wanita lain."
Aku kembali terhenyak. Dari mana dia tahu hal itu? Mungkinkah dari Arsenio?
"Kamu jangan mudah percaya omongan orang lain. Memangnya siapa yang bilang sama kamu, Ton?"
"Mas Adi dan Arsen. Aku lebih percaya mereka daripada kamu. Aku tidak mau membantumu lagi memata-matai Adelia. Aku tidak mau berurusan dengan polisi. Jangan pernah cari aku dan datang lagi ke sini. Sebaiknya kamu pergi sekarang. Atau aku panggil orang-orang untuk mengusirmu."
Aku mendengar langkah kaki menjauh dari balik pintu.
"Ton, Toni," panggilku sambil menepuk pintu berulang kali.
Toni benar-benar tidak mau mendengar dan bertemu denganku lagi. Dia tidak membuka pintu dan menjawabku.
Berengsek!!! Aku mengumpat berulang kali. Aku meninggalkan rumah Toni dengan penuh rasa dongkol. Sampai di mobil aku memukuli setir mobil untuk melampiaskan kekesalanku.
Beberapa hari setelah lebaran, ada saudara yang bekerja di KUA memberitahu kalau pernikahan Adelia belum terdaftar. Ckck, mereka ternyata hanya menikah siri saja. Terlalu ngebet ingin menikah atau hanya untuk membuatku menjauh? Yang jelas aku tidak akan menyerah. Jalanku masih lebar untuk mendekati Adelia lagi.
Menurut informasi yang aku dapat, Adelia tinggal dengan pria itu sejak mereka menikah siri. Aku heran kenapa Pak Lukman membiarkan mereka tinggal bersama. Kenapa mereka tidak digerebek warga? Mereka kan belum resmi menikah. Buatku menikah siri sama saja belum menikah karena tidak tercatat di KUA dan tidak mendapat surat nikah.
Aku mulai menghubungi Adelia lagi sejak aku tahu status pernikahannya. Aku kembali mengungkapkan kata-kata manis ungkapan cinta dan rinduku padanya. Kerap kali aku juga mengirim foto dan video kebersamaan kami dahulu. Aku ingin dia terus ingat kenangan indah kami.
Aku bilang kalau aku akan menjemput dan menikahinya secara resmi, tidak seperti pria berengsek yang menikah siri dengannya. Aku juga sedikit memberi peringatan kalau aku akan mengacaukan acara akad nikah dan resepsi mereka kalau dia tetap nekat menggelar pernikahan resmi.
Mendapatkan informasi tanggal dan tempat mereka melaksanakan akad dan resepsi hal yang sangat gampang untukku. Karena kami satu SMA tentu saja kami punya lingkaran pertemanan yang sama. Sesama alumni salah satu SMA terkemuka di Jogja. Aku yakin dengan pasti, Adelia akan mengundang teman-teman SMA-nya.
Suatu hari aku mendapat balasan pesan dari wanita pujaanku. Aku senang saat mendengar notifikasi dan melihat pop up pesan yang tampak di layar gawaiku. Tanpa menunggu lama, aku langsung membuka pesan itu.
'Sudah cukup kamu mengganggu hidup kami. Aku sudah bahagia dengan suamiku. Jangan pernah hubungi aku lagi. Kalau kamu masih nekat menggangguku, siap-siap saja polisi akan menjemputmu dan kamu akan berakhir di penjara.'
__ADS_1
Aku terkesiap membaca pesan Adelia. Apa-apaan ini? Kenapa Adelia mengatakan hal itu? Apa pengaruh pria berengsek itu sudah begitu besar? Kenapa dia harus bawa-bawa polisi segala dalam masalah ini?
No! No! Bukan seperti ini balasan yang aku mau. Aku baru saja mengirim pesan kalau cepat atau lambat aku akan menemukan dan menjemput dia. Dan saat itu aku kan menjadikannya milikku selamanya. Aku juga bilang kalau aku tidak akan menyingkirkan pria berengsek itu kalau dia kembali padaku. Menyingkirkan pria itu juga bukan hal yang sulit untukku.
Aku menghela napas panjang untuk menenangkan diriku. Oke, aku harus mengatur strategi baru. Aku tidak boleh gegabah lagi bertindak.
Aku memutuskan untuk pulang setiap akhir pekan ke Jogja. Selama dua hari aku menyambangi kompleks rumah Adelia dari pagi sampai malam. Aku memarkirkan mobil di tempat yang sekiranya aman dan tidak begitu terlihat. Tapi aku sama sekali tidak pernah melihat mobil fortuner hitam—yang kata Toni milik pria itu—parkir di jalan atau di halaman rumah Pak Lukman.
Apa Adelia tidak pernah mengunjungi kedua orang tuanya? Apa dia terlalu sibuk dengan pria itu sampai melupakan papa dan mamanya? Kenapa dia jadi tidak dekat lagi dengan orang tuanya? Kalau dia jadi istriku pasti setiap minggu akan aku ajak di ke rumah orang tuanya.
Minggu siang ini, sepertinya semesta berpihak padaku. Aku melihat mobil fortuner hitam seri terbaru masuk ke kompleks rumah Pak Lukman. Mobil itu terparkir di pinggir jalan depan rumah. Beberapa jam aku menunggu hingga mobil itu ke luar dari sana.
Segera aku menyalakan mobil lalu mengikuti mereka. Aku berusaha menjaga jarak agar tidak terlihat kalau aku sedang membuntuti mereka. Ternyata mereka tidak langsung pulang ke rumah. Mereka mampir ke Mirota Kampus. Sepertinya mereka akan berbelanja.
Aku memarkirkan mobil di selatan Mirota Kampus. Aku lalu mengitari setiap lantai mencari mereka. Akhirnya aku menemukan mereka di lantai 2 di area baju. Ingin rasanya aku mendekati Adelia, tapi pria itu selalu saja di sampingnya, seolah tidak mau jauh-jauh dari wanita pujaanku itu.
Hatiku memanas saat melihat Adelia memeluk pria itu saat antri di kasir. Dan, sial!!! Pria itu malah mencium kening Adelia. Apa-apaan mereka mengumbar kemesraan di depan umum. Mau pamer ke semua orang?
Aku tidak tahan melihat kemesraan mereka. Aku putuskan untuk menunggu mereka di lantai bawah. Setelah mereka masuk ke mobil dan melaju ke arah selatan, aku kembali mengikuti mereka. Mau ke mana lagi mereka?
Aku tidak menduga kalau mereka pergi ke Masjid Syuhada. Aku baru sadar kalau sebentar lagi masuk waktu Magrib. Berarti benar yang dikatakan Toni kalau pria itu alim dan rajin ke masjid. Sepertinya memang pria itu sudah merubah Adelia. Dahulu, kami jarang bahkan bisa dibilang tidak pernah menjalankan salat lima waktu selama bersama. Kini Adelia sudah berhijab dan pasti rutin menjalankan salat wajibnya.
Aku menghentikan mobil saat melihat fortuner hitam itu sedang diparkir menghadap ke arah jalan. Setelah melihat mereka ke luar dari mobil, dan masuk ke area masjid, aku kembali menjalankan mobilku dengan pelan. Aku melaju ke arah selatan yang terlihat sepi. Aku memarkirkan mobil di sana. Dari tempat itu, aku masih bisa melihat pergerakan mereka.
Aku memutuskan menunggu mereka di mobil. Terlalu kelihatan kalau aku turun dan mengamati mereka di masjid.
Setelah beberapa saat aku menunggu, aku melihat mereka berjalan ke luar area masjid. Adelia melingkarkan tangannya di lengan pria itu. Meski tak begitu jelas, aku bisa melihat raut bahagia di wajah Adelia.
Hatiku semakin memanas melihat pria itu membukakan pintu mobil dan mengecup kening Adelia. Oke, ini saatnya aku menghabisi pria itu. Aku menyalakan mesin mobil dan siap mengeksekusi dia.
Pria itu menutup pintu lalu berjalan ke depan mobil. Dengan cepat, aku melajukan mobil dengan kecepatan penuh. Tepat di depan mobilnya, aku menabrak dia dengan kencang sampai kaca spion kiriku lepas. Dari rear view mirror aku bisa melihat dia terjatuh. Aku tersenyum lebar, puas dengan hasil pekerjaanku.
"Mampus kamu, berani-beraninya kamu merebut Adelia. Sekarang rasakan akibatnya."
__ADS_1
...---oOo---...
Jogja, 310721 23.15