Cinta Halal Sang Senior

Cinta Halal Sang Senior
Bulan Madu 3


__ADS_3

"Mas Adi, jadi mau bawa baju ganti apa tidak?" tanya Adelia usai mereka salat Subuh berjemaah di dalam kamar hotel.


"Bawa saja, Ai. Siapa tahu nanti kita mau basah-basahan di sana," jawab Adi sambil membuka aplikasi Al-Qur'an di gawainya. "Ngaji dulu yuk, Ai," ajak Adi pada istrinya.


"Iya, Mas." Adelia mengambil gawai lalu membuka aplikasi Al-Qur'an seperti suaminya. Mereka kemudian saling membaca dan menyimak bacaan masing-masing. Meski bacaan Adelia belum selancar suaminya, tetapi dia tetap semangat untuk belajar dan membaca Al-Qur'an setiap hari.


"Ai, mau sarapan di kamar apa di resto?" Adi melipat sajadah yang tadi dia pakai sesudah mereka selesai membaca Al-Qur'an.


"Ke resto aja, Mas. Dari kemarin kita makan di kamar melulu, biar ada pemandangan lain," sahut Adelia.


"Oke, tapi kita nanti balik ke kamar lagi ya. Masa kita sarapan sambil bawa banyak barang."


"Iya, enggak apa-apa. Sekalian jalan-jalan kan lihat suasana di sekitar sini."


"Ya sudah. Ai, siapin baju ganti sekalian, jadi nanti habis makan kita bisa langsung pergi tidak perlu siap-siap lagi."


"Ya, Mas." Adelia lalu menyiapkan baju untuk dia sendiri dan suaminya.


Usai sarapan, mereka sudah dijemput Dedi dengan mini busnya.


"Selamat pagi, Pak Adi, Bu Adelia," sapa Dedi dengan ramah.


"Pagi, Pak Dedi. Hari ini bisa kan kita ke hutan mangrove sama yang gurun apa kemarin Pak Dedi bilang," kata Adi.


"Bisa, Pak. Kita ke Gurun Pasir Busung dulu, biar nanti tidak terlalu panas," ujar Dedi.


"Memangnya di sini ada gurun pasir, Pak?" tanya Adelia.


"Bukan gurun pasir asli seperti yang di Arab sih, Bu. Dulu di sana bekas penambangan jadi menyisakan gundukan pasir. Di sana nanti juga ada Danau Biru," jawab Dedi.


"Bekas tambang apa, Pak?" Adi merasa penasaran.


"Penambangan pasir bauksit, Pak. Tapi sudah lama dihentikan. Karena terbengkalai selama bertahun-tahun terus sama masyarakat setempat dijadikan tempat wisata," terang Dedi.


"Tapi di sana pasirnya sudah mengeras, jadi tidak akan kesulitan kalau berjalan. Orang-orang biasanya suka foto-foto di sana, Pak, Bu," lanjut Dedi.


"Terus Danau Biru-nya di sebelah mana, Pak?"


"Danau Biru ada di tengah padang pasirnya, Bu. Sebenarnya Danau Biru itu cekungan bekas area pertambangan galian pasir. Saat hujan, airnya mengisi cekungan itu secara alami lalu terbentuk Danau Biru itu, Bu."


Adi dan Adelia mengangguk-angguk mendengar penjelasan Dedi.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit, mereka akhirnya tiba di kawasan Gurun Pasir Busung. Hamparan pasir yang luas dengan danau biru yang indah dan pepohonan hijau menyapu pandangan mereka. Adi memakai kacamata hitam dan topinya sebelum turun dari mobil. Begitu pun Adelia, tetapi yang dia pakai topi bulat lebar yang tempo hari dia beli saat ke pantai. Tak lupa tongkat selfie dibawa Adi untuk mereka mengambil gambar berdua nanti.


Begitu menginjakkan kaki di atas pasir, Adelia merasa takjub. Dia kagum melihat warna pasir yang berwarna putih cokelat, merah muda bahkan ungu, tidak seperti pasir pada umumnya yang berwarna cokelat hingga cokelat tua. Adi dan Adelia mengambil foto di atas gundukan pasir dan beberapa spot foto yang ada di sana. Ada spot foto kapal, ayunan, bahkan unta. Tak lupa, mereka berjalan menyusuri jembatan kayu yang membentang di tengah danau biru yang bening. Mereka juga mengambil foto di sana.



Sesudah puas menikmati pemandangan dan juga berfoto-foto, mereka melanjutkan perjalanan selanjutnya ke hutan mangrove (bakau). Waktu yang ditempuh dari Gurun Pasir Busung sampai ke hutan mangrove sekitar 20 menit.


Sesampai di sana, Adi dan Adelia naik perahu kecil untuk menyusuri hutan mangrove yang suasananya hening dan menenangkan. Mereka bisa melihat kumpulan satwa liar seperti ular, monyet, burung, biawak dan lainnya. Mereka juga melihat nelayan yang sedang bekerja dengan peralatan tradisional. Hutan mangrove ini sangat penting bagi eksistensi Pulau Bintan karena selain menjadi tempat wisata, juga merupakan perlindungan dari erosi air laut.



Setelah salat Zuhur, mereka makan siang dengan menu asam pedas sembilang. Asam pedas merupakan menu khas melayu, yang membedakan dengan yang lain yaitu bahan utamanya menggunakan ikan Sembilang. Ikan ini bentuknya sama persis dengan ikan lele, tetapi bedanya ikan sembilang hidup di laut dan rasanya lebih gurih dan kenyal.


Penyajian asam pedas sembilang cukup menggugah selera Adi dan Adelia. Penampilan ikan dengan kuah kuning kental yang kaya akan rempah-rempah terutama rasa asam dan pedas yang cukup memanjakan lidah mereka.



"Dita pasti senang kalau makan ini, Ai." Adi tiba-tiba teringat adik semata wayangnya. Adiknya yang sedang hamil itu suka sama masakan pedas dan asam seperti ini.


"Iya—ya, Mas. Sayangnya, kita enggak bisa bungkus terus dibawa pulang ke Jogja," sesal Adelia.


"Jangan pamer foto makanan hari ini ya, Ai. Kasihan Rendra nanti kalau Dita minta disuruh nyariin," pesan Adi.


"Iya, Mas."


"Kalau Dita tanya, makan biasa saja."


"Iya, Mas. Jangan khawatir." Adelia mengelus lengan suaminya.


Sesudah makan dan beristirahat sebentar, mereka menuju ke Treasure Bay Lagoi yang merupakan kolam renang terbesar di Asia Tenggara. Luasnya yang mencapai 6,3 hektar ini setara dengan 50 kolam renang untuk olimpiade.


Kolam renang ini airnya sangat jernih dan berwarna kebiruan, layaknya crystal water. Bagian tepi kolam sengaja didesain landai seperti pemandangan pantai, miring ke bawah hingga ke tengah. Dasar kolam renang menggunakan fiber berwarna putih yang sekilas nampak seperti pasir. Pasir asli ditempatkan di bagian tepi luar kolam yang tak tersentuh air.

__ADS_1



"Wah keren, kaya di pantai beneran ya, Mas." Adelia memandang kagum suasana di sana. Dia merasa ada di pantai tetapi tanpa ada ombak yang bergelombang.


"Iya. Ai, ingin main apa?" Adi merangkul bahu istrinya yang masih merasa terpukau.


"Mas, aku ingin naik perahu kayak. Seru kayanya. Aku belum pernah," kata Adelia pada suaminya.


"Oke, kita naik perahu kayak." Adi mengajak Adelia menuju ke tempat persewaan perahu kayak.


Sebelum naik ke atas perahu kayak, mereka memakai baju pelampung yang sudah disediakan oleh pihak penyewa perahu kayak. Hari ini Adelia sengaja memakai celana jin dengan atasan abaya sepanjang paha agar dia lebih bebas bergerak.


Adi naik di bagian depan, kemudian Adelia menyusul di belakangnya. Perahu kayak itu memang hanya untuk dua orang. Mereka masing-masing membawa dayung. Adi memberi komando istrinya untuk mendayung bersama. Mereka kemudian berkeliling kolam itu.


Usai naik perahu kayak, mereka berkeliling naik segway. Segway adalah kendaraan futuristik yang dirancang untuk satu orang. Penggunanya cukup naik ke atas pijakan dan bebas bergerak maju, mundur, atau belok dengan tuas pengendali yang ada di depannya. Karena belum begitu mahir, Adi dan Adelia menggunakan pelindung kepala dan lutut untuk meminimalisir risiko cedera yang disediakan oleh pihak pengelola.



Setelah itu mereka ikut tur naik kapal untuk melihat-lihat kekayaan flora dan fauna di sekitarnya. Terakhir, mereka naik ATV berdua melintasi tanah berlumpur. Baju Adi dan Adelia sama-sama kotor terkena percikan lumpur. Mereka kemudian berganti baju sebelum meninggalkan Treasure Bay.


Usai berganti baju, mereka melihat matahari terbenam sambil menikmati makan malam di tepi pantai. Selanjutnya mereka kembali ke hotel untuk beristirahat.


Di hari keempat, sebenarnya acara bebas dari pihak agen perjalanan, tapi mereka memilih untuk tur ke Batam. Sudah sampai di Bintan, sekalian saja mereka mengunjungi Batam karena jaraknya yang dekat. Setelah sarapan Dedi menjemput Adi dan Adelia. Mereka pergi ke Pelabuhan Sri Bintan Pura untuk naik kapal feri menuju ke Batam.


Kapal feri menuju Batam berangkat setiap lima belas menit sekali. Waktu yang diperlukan untuk sampai di Pelabuhan Ferry Punggur di Batam kurang lebih 60 menit. Tujuan pertama mereka yaitu ke Jembatan Barelang yang menjadi ikon Kota Batam.


Barelang merupakan akronim dari Batam, Rempang, serta Galang. Jembatan ini menghubungkan ketiga pulau tersebut. Karena Batam merupakan daerah yang memiliki pulau-pulau kecil di sekitarnya. Adi dan Adelia berfoto di sana seperti orang-orang lainnya.



Tujuan mereka selanjutnya ke Bukit Welcome to Batam. Tulisan ini menjadi landmark ala Hollywood yang terdapat di Bukit Clara Batam Center. Welcome to Batam atau Selamat Datang di Batam menjadi salam untuk menyambut para wisatawan yang datang ke Batam karena dapat dilihat dari jauh.


Sebelum naik ke atas bukit, mereka berfoto di bawah dengan latar belakang tulisan Welcome to Batam. Mereka kemudian naik ke atas bukit. Dari sana Adi dan Adelia bisa melihat pemandangan Kota Batam yang luas.



Engku Putri Center Park Batam atau yang dikenal dengan Alun-alun Kota Batam menjadi tujuan mereka berikutnya. Kemudian mereka ke Masjid Raya Batam yang tak jauh dari alun-untuk untuk melaksanakan salat Zuhur dan Asar, sekalian beristirahat sejenak.



"Baik, Pak. Tapi kalau tidak nasi bagaimana, Pak?"


"Aman, Pak. Saya bukan penggemar nasi garis keras, jadi tanpa nasi tidak masalah," ujar Adi. "Memangnya kita mau makan apa, Pak?" tanyanya kemudian.


"Mi tarempa, Pak."


Adi menyengguk tapi dia lalu bertanya pada Dedi. "Bedanya sama mi biasa apa, Pak?"


"Bumbu rempahnya lebih banyak dan kuahnya juga kental," jelas Dedi.


"Ai, enggak masalah kan kita makan mie?" Adi menoleh pada istrinya.


"Enggak apa-apa, Mas." Adelia tersenyum pada suaminya.


Mereka sengaja datang ke warung mi tarempa setelah jam makan siang agar tidak terlalu penuh.


Mi tarempa berasal dari Tarempa, Kabupaten Anambas, Kepulauan Riau. Mie yang terbuat dari tepung dan telur ini bentuk dan rasanya tidak jauh berbeda dibandingkan mie tarempa dari daerah asalnya. Rasa mi tarempa asam manis dan sedikit pedas di lidah. Meski kuahnya kental dan berminyak tetapi terasa ringan. Rasanya menyatu sempurna dengan tekstur mie yang sedikit kenyal. Topping seafood yang terdiri dari cumi-cumi, udang, dan bakso ikan membuat mie terasa semakin nikmat.



"Kenapa makanannya dari kemarin mengingatkan aku sama Dita ya, Ai," gumam Adi.


"Mas Adi mungkin lagi kangen sama Dek Dita."


"Bisa jadi, Ai." Adi menghela napasnya.


"Kalau kangen telepon Dik Dita, Mas," saran Adelia.


"Iya, nanti setelah kita makan."


"Mungkin Dek Dita juga kangen sama Mas Adi, tapi enggak berani hubungi kita."


Entah kenapa, dari kemarin Adi merasa kepikiran terus dengan adiknya. Meski dia tetap menikmati bulan madunya, tetapi setiap makan makanan kesukaan Dita selalu membuat dia ingat adik semata wayangnya itu.


Sudah empat hari mereka tidak berhubungan baik lewat pesan atau telepon. Padahal biasanya setiap hari mereka selalu bertukar pesan atau telepon sebentar untuk sekedar saling menanyakan kabar atau mengobrol tak jelas. Meskipun mereka tinggal bersebelahan, tidak setiap hari juga saling bertemu.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Dek," salam Adi begitu Dita menjawab panggilan teleponnya.


"Wa'alaikumussalam. Mas Adi, aku kangen," sahut Dita dari seberang telepon.


"Sama, Dek. Mas, juga kangen. Adek lagi ngapain?"


"Lagi di kafe ini, nungguin Mas Rendra meeting sama Mas Candra."


"Kamu enggak ikut meeting, Dek?"


"Enggak, Mas. Aku lagi di ruang produksi roti, diskusi sama baker."


"Mas ganggu ya, berarti."


"Enggak ganggu kok. Orang udah selesai ngobrolnya pas Mas telepon."


"Sudah makan, Dek?"


"Sudah tadi dibikinkan spagheti dan lasagna sama karyawan hihihi. Mas sama Mbak Adel sudah makan?"


"Sudah. Ini baru selesai."


"Mas, kapan pulang bulan madunya?"


"Insya Allah besok jam 5 sore sampai Jogja, Dek. Kenapa?"


"Aku mau jemput Mas lah."


Adi tertawa. "Memangnya Adek sudah bisa nyetir?"


"Aku kemarin belajar nyetir ya sama Mas Rendra. Tapi belum berani bawa di jalan."


"Baguslah kalau begitu. Besok kalau sudah lancar Mas patungan sama Rendra beliin Adek mobil."


"Idih, enggak ah. Belum butuh mobil aku. Eh udah dulu ya, Mas. Kafe lagi ramai ini, kasihan pada kewalahan melayani pelanggan. Aku mau bantu di kasir."


"Oke, Dek. Kalau capai istirahat ya, jangan dipaksakan. Salam ya buat Rendra."


"Siap, Mas. Wassalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam, Dek."


Adi meletakkan gawai di atas meja setelah mengakhiri pembicaraan dengan adiknya.


"Gimana, Mas? Sudah lega?" tanya Adelia dengan lembut.


"Sudah, Ai. Ternyata kami sama-sama kangen," jawab Adi sambil meringis pada istrinya.


"Ikatan kalian itu sangat kuat, Mas."


"Iya, mungkin." Adi mengangkat kedua bahunya.


Setelah makan, Maha Vihara Duta Maitreya menjadi tujuan mereka selanjutnya. Konon, wihara ini salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Memasuki area wihara, terlihat bangunan besar berwarna putih, lengkap dengan patung-patung maitreya yang turut menghiasi.



Adi dan Adelia memasuki bangunan tiga lantai itu. Lantai satu Maha Vihara Duta Maitreya digunakan untuk beribadah bagi umat Buddha. Sedangkan lantai dua digunakan sebagai tempat ibadah umat Buddha dengan aliran maitreya, khususnya bagi mereka yang beribadah pada leluhur. Dan lantai tiga untuk beribadah bagi umat beragama Buddha dengan aliran maitreya.


Nagoya Hill menjadi tujuan mereka hari ini. Kawasan pusat perbelanjaan yang nyaris seluruhnya menjual produk-produk luar negeri, seperti Singapura serta Malaysia. Di sini bisa belanja apa pun yang dimau, mulai dari elektronik sampai snack-snack impor. Harganya jauh lebih murah daripada yang dijual di kota-kota lain. Nagoya Hill memang tempat surganya belanja. Adi dan Adelia membeli beberapa barang dan makanan untuk oleh-oleh keluarga mereka.


Setelah puas berbelanja, mereka kembali ke Pulau Bintan dengan naik feri lagi. Mereka makan malam dahulu sebelum kembali ke hotel untuk beristirahat dan mulai mengepak barang, karena esok siang mereka akan pulang ke Jogja.


...---oOo---...


Jogja, 150821 00.20


Hai, hai, ada yang nungguin enggak sih cerita ini update?


Maaf ya telat, mood lagi berantakan karena ehem efek PMS ✌️🙏 Ada yang suka kaya saya enggak 👉👈


Ini akhir perjalanan bulan madu Adi dan Adelia. Maaf bila terasa membosankan, tidak banyak dialog dan terlalu banyak narasi 🙏🙏🙏 Misi saya agar orang lebih mengenal Pulau Bintan dan Batam terutama tempat wisatanya, walau tidak semua ya diceritakan. Karena di Indonesia, negeri kita tercinta ini, banyak tempat yang indah untuk didatangi dan tidak kalah dengan di luar negeri.


Duh, jadi kepanjangan kan cuap-cuapnya. Sekali lagi terima kasih Kak Norma sudah membantu dan memberi info tentang Pulau Bintan dan Batam. Siapa pun, mohon koreksi ya kalau ada kesalahan informasi yang saya jabarkan di sini. Silakan koreksi di kolom komentar, PC atau DM di IG @kokoro.no.tomo.82. Terima kasih 🙏🤗


Catatan : Semua kredit foto pada pemilik

__ADS_1


__ADS_2