
Acara ulang tahun pertama Ale yang sedianya akan dirayakan di restoran dengan mengundang anak-anak yatim piatu akhirnya dibatalkan. Mereka memutuskan untuk langsung datang ke beberapa panti asuhan dan memberi sumbangan ke sana. Ale memang belum mengerti, tapi Rendra dan Dita ingin mengajarkan pada putra mereka sejak dini untuk berbagi dengan sesama yang tidak seberuntung mereka.
Malam harinya, keluarga besar mereka berkumpul di rumah Ibu Dewi untuk makan malam bersama. Mengingat kondisi Adelia yang masih dalam masa pemulihan dan terbatas pergerakannya. Acara tersebut selain merayakan pertambahan usia Ale juga sebagai wujud syukur atas kehamilan Shasha yang sudah memasuki usia empat bulan.
Ale senang sekali saat meniup lilin dan menyanyikan lagu ulang tahun. Dia acap kali bertepuk tangan dan menunjukkan barisan gigi susunya yang baru berjumlah 8 buah. Sungguh sangat menggemaskan bagi yang melihatnya. Namun, anak itu harus terus diawasi pergerakannya. Sejak bisa berjalan, batita itu sering menghilang karena berkeliling sendiri ke seluruh area rumah tanpa bersuara. Pernah naik tangga sendiri hingga membuat Rendra panik. Takut kalau sampai putranya itu terjatuh dari tangga.
Ale menerima banyak hadiah. Semua orang seolah berlomba memberikan kado untuk cucu pertama Ibu Dewi tersebut. Rendra dan Dita merasa sangat bahagia karena sang buah hati begitu disayangi dan diperhatikan seluruh keluarga besar mereka.
"Ale, sini. Yuk main sama Om." Arsenio melambaikan tangan pada Ale yang sedang duduk di pangkuan babanya.
"Sana main sama Om." Rendra menegakkan badan Ale agar berdiri dan berjalan menghampiri Arsenio. Anak itu menurut dan melangkahkan kaki dengan cepat. Karena jalannya masih terhuyung, batita itu terjatuh. Netranya langsung menatap sang baba.
"Enggak apa-apa. Ayo bangun, Nak. Pelan-pelan saja jalannya. Ale 'kan anak kuat dan hebat," ujar Rendra menyemangati putranya.
Ale yang awalnya ingin menangis kembali berdiri. Dia berjalan lagi mendekati Arsenio yang sudah menunggunya.
"Wih, Ale keren banget, jatuh tapi enggak nangis," puji Arsenio begitu bocah itu berdiri di depannya. "Mau buka kado dari om?" tawar Arsenio.
"Do—do," sahut Ale sambil bertepuk tangan.
"Oke, kita buka kado ya. Ale duduk sini dulu." Arsenio memangku lelaki kecil itu lalu meletakkan kadonya di depan Ale. Anak itu sangat antusias membuka hadiahnya. Dia langsung merobek kertas kado yang membungkus. Setelah itu dia memukul-mukul bungkus mainan karena tidak bisa membuka sendiri.
"Mau dibuka?" tanya Arsenio yang dijawab anggukan oleh Ale. "Ka—ka," celotehnya.
Sesudah membuka bungkusnya, Arsenio mengeluarkan semua balok mainan yang berwarna-warni. Ale mengambil salah satu balok lalu menunjukkan pada babanya.
"Bilang makasih sama Om, Nak," ujar Rendra. "Makasih, Om," lanjutnya mengajari Ale.
"Cih," ucap Ale menirukan ucapan babanya sambil menundukkan badan pada Arsenio.
"Sama-sama. Kita bikin mobil ya." Arsenio mengelus kepala batita itu lalu mulai menyusun balok membentuk mobil. Mereka berdua larut membuat mobil dengan balok, meski Ale terlihat sibuk sendiri dengan mainan barunya itu.
"Dita tidak ada niat hamil juga biar bareng-bareng nanti ngasuh bayi sama Mbak Adel dan Mbak Shasha?" tanya Ibu Sarah pada istri Rendra itu.
Dita tersenyum lalu menggeleng. "Tunggu Ale dua tahun dulu, Tante. Semester depan saya KKN dan membuat tugas akhir. Sekarang fokus ke Ale sama kuliah biar bisa selesai tepat waktu," jawabnya.
"Wah, cepat ya sudah mau lulus saja. KKN-nya di mana?"
"Saya ambil di Jogja saja, Tante. KKN Tematik untuk Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS). Kerjasama kampus dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR)."
"Itu kegiatannya apa?"
"Membantu masyarakat mewujudkan rumah yang layak huni untuk masyarakat kurang mampu yang mendapatkan bantuan bedah rumah, Tante."
"Keren itu bisa langsung praktek ilmu yang didapat. Mendesain rumah juga 'kan?"
Dita mengangguk. "Iya, itu salah satunya."
__ADS_1
"Lalu tugas akhir rencananya buat apa?" tanya Bu Sarah lagi.
"Kompleks one stop place di dekat bandara baru, Tante. Jadi ada hotel, perkantoran, pusat perbelanjaan, perumahan, dan tempat wisata keluarga. Di sana 'kan masih belum banyak fasilitas seperti itu."
"Bagus itu. Nanti dijadikan maket ya?"
"Iya, membuat maket sekaligus grand desainnya. Mirip kaya skripsi, ada latar belakang masalah dan solusi. Tapi mungkin lebih kompleks karena apa yang kita desain harus bisa diimplementasikan ke bentuk nyata. Tidak hanya asal desain. Dosen juga berpesan agar ada ciri khas daerah di desain bangunannya. Jadi ya harus benar-benar fokus ke sana. Kemungkinannya nanti membuat maket tidak di rumah, bisa amburadul kalau sampai Ale lihat."
"Kan ada Rendra yang jadi bapak siaga?" celetuk Pak Lukman.
"Mas Rendra mengawasi Ale sekarang sudah kerepotan, Om. Tidak bisa diam dia sekarang. Harus selalu diawasi, lengah sedikit bisa pergi sendiri dan melakukan hal tidak terduga." Dita mengelengkan kepala membayangkan polah tingkah Ale sejak bisa berjalan.
"Dia baru senang berjalan-jalan dan mengeksplorasi sekitar. Memang kita jadi lebih capai dan harus punya sabar yang luar biasa," cetus Pak Lukman.
"Iya dan mudah bosan, Om. Bisa bertahan lima belas menit bermain saja sudah bagus. Ale baru anteng kalau minum susu pakai botol sambil tiduran terus dibacain cerita bisa langsung tidur. Dia juga diam kalau dengar suara orang mengaji."
Pak Lukman tersenyum. "Alhamdulillah dinikmati dan disyukuri semuanya. Mudah bosan bisa jadi karena dia anaknya kreatif. Apa Ale sudah menunjukkan bakatnya?"
"Sepertinya belum. Tapi, dia suka ikut coret-coret kalau babanya sedang membuat desain pesanan para pelanggan. Ale paling suka kalau diajak pergi ke luar. Mungkin bosan juga di rumah terus."
"Bagus kalau sering bertemu dan berinteraksi dengan orang lain biar tidak takut kalau ketemu orang baru."
"Iya, Om. Apalagi kalau diajak ke gelanggang menemani babanya latihan. Kadang 'kan Mas Rendra melatih anak-anak juga. Ale suka nyamperin mereka."
"Nyum—cu," seru Ale yang tiba-tiba datang menghampiri Dita. Dia langsung merangkul wanita yang sudah melahirkannya itu. Satu tangan mungilnya mengucek mata.
"Say goodbye dulu sama semua, Nak," perintahnya pada Ale.
"Kum. Da—da," ucap Ale yang maksudnya mengucapkan assalamu'alaikum sambil melambaikan tangan.
"Kiss bye-nya mana, Ale?" celetuk Arsenio.
Ale meletakkan tangan di bibir lalu melepasnya. "Mah."
Setelah itu Dita menggendong putranya ke kamar. Menyikat gigi, mencuci tangan dan kaki Ale sebelum berganti baju tidur. Sedari kecil, Dita dan Rendra mengajarkan kebiasaan baik itu.
Selanjutnya Dita membaringkan putranya di atas tempat tidur dan mulai menyusui sembari membacakan doa-doa. Mungkin karena kelelahan bermain, dengan cepat lelaki kecil itu terlelap meski masih belum mau melepas dada bubunya. Dita harus menunggu sampai Ale benar-benar terlelap, kalau tidak nanti dia akan bangun lagi dan jadi rewel karena tidurnya terganggu.
Sementara itu di luar kamar, keluarga besar mereka masih saling bercengkerama. Mereka bersyukur karena masih bisa merasakan kebahagiaan setelah kejadian tragis yang menimpa Adelia.
"Mbak Adel, sudah capai apa belum?" tanya Ibu Hasna.
"Belum, Bun," jawab Adelia dengan senyum menghiasi paras cantiknya. "Aku juga masih kangen kumpul-kumpul keluarga seperti ini, Bun. Kayanya kok sudah lama banget," imbuhnya.
"Ya sudah kalau begitu. Tapi nanti kalau sudah capai bilang ya, jangan sungkan," pesan sang ibu mertua.
Adelia mengangguk. "Iya, Bun."
__ADS_1
Sedangkan di sudut lain rumah itu para pria membentuk kelompok sendiri setelah sang pemeran utama malam ini pamit tidur.
"Bagaimana kelanjutan kasus Sekar, Mas?" tanya Pak Lukman pada Kaisar—yang sengaja pulang demi merayakan ulang tahun Ale dan syukuran kehamilan istrinya.
"Berkas perkaranya masih disusun. Keterangan Sekar terlalu berbelit-belit jadi membuat proses penyidikan terlalu lama. Insya Allah minggu depan sudah bisa dilimpahkan ke kejaksaan. Kalau tidak ada yang kurang, bisa langsung disidangkan. Kurang lebih dua minggu prosesnya. Bisa lebih cepat, bisa juga lebih lambat," jelas Kaisar.
"Tolong dikawal prosesnya ya, Mas. Saya ingin Sekar dihukum seberat-beratnya," ujar Pak Lukman.
"Pasti saya pantau terus, Om. Semoga bisa dijerat pasar berlapis jadi hukumannya bisa lebih lama."
"Aamiin."
"Saya dengar orang tuanya Sekar mau bertemu Adel. Mau minta maaf dan mungkin minta supaya hukuman anaknya diringankan," ungkap Kaisar.
"Orang tuanya Sekar memang pernah datang ke rumah ayah. Iya 'kan, Yah?" Adi beralih pada Pak Wijaya.
"Iya. Tapi waktu mereka datang, ayah tidak di rumah. Tetangga yang bilang. Sampai ayah ke sini, mereka tidak datang lagi," jelas Pak Wijaya.
"Dari mana Mas Kai tahu kalau orang tua Sekar mau ketemu Mbak Adel?" tanya Pak Lukman.
"Beberapa hari ini orang tuanya datang ke kantor, Om. Mereka sempat bertanya di mana bisa bertemu dengan Adel. Tapi karena saya sedang tidak di kantor, anggota saya tidak ada yang berani memberi tahu. Apa Om dan Adi mengizinkan Adel bertemu dengan mereka di rumah? Atau bertemu di persidangan saja?" Kaisar memandang Pak Lukman dan sahabatnya bergantian.
"Aku tanyakan sama Adel dulu nanti, dia mau ketemu mereka atau tidak, Kai. Kalau Adel tidak mau biar aku nanti yang ketemu mereka," balas Adi.
"Begitu juga lebih baik, Di."
"Kalau Mas Adi mau ketemu mereka, papa ikut, Mas," timpal Pak Lukman.
"Iya, Pa. Nanti saya kabari," sahut Adi.
...---oOo---...
Jogja, 160422 22.32
Assalamu'alaikum wr. wb.
Apa kabar semuanya? Bagaimana puasanya? Semoga lancar sampai akhir ya 🤗
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Semoga semua amal ibadah di bulan suci diterima Allah SWT dan kita semua mendapat keberkahan bulan Ramadhan. Aamiin. Maaf telat sekali mengucapkannya 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Mohon maaf lahir dan batin karena saya tidak bisa menepati janji untuk up seminggu sekali. Ada hal di RL yang benar-benar menyita waktu dan pikiran saya. Jadi saya harus fokus ke RL. Selain itu saya juga sedang menyiapkan cerita baru di sebelah yaitu Pernikahan Dewa Alay. Untuk info lebih lanjut bisa dicek di Instagram atau Facebook saya.
Sekian dulu cuap-cuapnya, tetap sehat ya semuanya.
Wassalamu'alaikum wr. wb.
Kokoro No Tomo (Ayaka Kirei)
__ADS_1