
"Mas Adi!!!" teriak Adelia.
Sontak Kaisar, Rendra dan Arsenio panik mendengarnya.
"Mas Adi kenapa, Mbak?" tanya Arsenio yang tidak melihat ada sesuatu yang ganjil.
"Taβtangan Mas Adi bergerak, Dek," jawab Adelia.
Mereka bertiga mengembuskan napas lega setelah mendengar jawaban Adelia.
Kepala Adi mulai terlihat bergerak. Matanya juga terbuka. Tangannya yang tidak dipegang Adelia bergerak hendak menutup mulut.
"Mbak, siapkan wadahnya. Mas Adi kayanya mual, mau muntah," kata Arsenio.
Dan benar saja, setelah Arsenio selesai bicara, Adi mengeluarkan isi perutnya. Untung saja Adelia dengan cetakan menyiapkan wadah yang tadi sudah disiapkan oleh perawat. Arsenio membantu memiringkan badan Adi agar kakak iparnya tidak tersedak dan lebih mudah mengeluarkan muntahnya.
Adelia mengelap mulut Adi dengan tisu basah setelah suaminya berhenti muntah. Untung saja tadi dia masih sempat membawa tasnya, jadi tidak perlu repot mencari tisu lagi. Sementara itu Arsenio ke kamar mandi membersihkan wadah tampungan.
Adi kembali berbaring. Dia memicingkan mata melihat keadaan sekitar.
"Ah, kepalaku sakit," keluhnya. Dia meletakkan tangan di kening, menghalau cahaya lampu yang membuatnya silau.
"Aku panggil dokter." Rendra beranjak memanggil dokter jaga.
"Aku di mana, Ai?" tanya Adi dengan suara lemah.
"Di rumah sakit. Tadi Mas Adi pingsan," jawab Adelia.
"Badanku juga pegal rasanya," kata Adi.
"Mau aku pijit, Mas," tawar Adelia.
"Enggak usah." Adi menggerakkan badannya mencari posisi yang membuatnya nyaman.
"Selamat malam, Pak Adi. Apa yang dirasakan sekarang?" tanya dokter setelah tiba di sisi ranjang Adi.
"Pusing, Dok. Badan juga pegal," jawab Adi.
"Saya periksa dulu ya, Pak." Dokter mulai memeriksa kondisi Adi.
"Apa masih merasa mual?" tanya dokter.
"Tidak, Dok."
"Saya beri obat untuk meredakan rasa sakit dan obat oles untuk yang lebam ya, Pak. Untuk CT Scan dan pemeriksaan lainnya dilakukan besok pagi. Mungkin sebentar lagi kamar rawat inapnya sudah siap. Jadi bapak bisa lebih tenang beristirahat," jelas dokter.
"Iya, terima kasih, Dok."
Setelah dokter dan perawat pergi, Adelia minta Arsenio mencari minuman untuk Adi minum obat.
"Gimana, Di?" tanya Kaisar yang mendekat pada Adi.
__ADS_1
"Eh, Kai. Ya gini, kepala rasanya pusing. Badan pegal," jawab Adi sambil memandang temannya itu.
"Dipakai untuk istirahat dulu, Di. Besok aku ke sini lagi kalau kamu sudah lebih baik," kata Kaisar.
"Makasih, Kai. Urusan ke kantor nanti sama Rendra atau Arsen ya."
"Sudah jangan dipikirkan soal itu. Yang penting kamu sehat dan pulih dahulu. Soal itu biar kami yang urus." Kaisar tersenyum.
Adi mengangguk seraya membalas senyum Kaisar.
"Ya Allah, Mas Adi kok bisa begini," ucap Ibu Sarah begitu tiba di depan ranjang Adi.
"Ma," panggil Adelia yang langsung berdiri dan memeluk mamanya. Dia menangis di pelukan mamanya, mengeluarkan semua kesedihannya.
"Sabar ya. Mbak, pasti kuat. Mbak, bisa lewati semuanya. Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuan kalian. Kami di sini semua selalu mendukung Mbak dan Mas Adi." Ibu Sarah mengelus punggung putri sulungnya itu. Mereka saling berpelukan sampai Adelia tidak lagi terisak-isak.
"Pa." Adelia lalu beralih memeluk papanya.
"Anak papa, hebat. Mbak, yang sabar dan ikhlas, ya." Pak Lukman membalas pelukan putri kesayangnnya itu.
"Iya, Pa," kata Adelia dalam pelukan papanya.
"Om, Tante, maaf mengganggu. Karena Adelia sudah ada temannya, kami pamit dulu karena mau mengambil mobil Mas Adi." Rendra menyela momen Adelia dengan mama papanya.
Pak Lukman mengurai pelukannya. Dia kemudian merangkul bahu Adelia. "Ya, silakan. Biar Om dan Tante yang temani mereka," sahut Pak Lukman.
"Aku juga ikut Mas Rendra sama Mas Kai," kata Arsenio.
"Saya Kaisar, Om, Tante. Teman SMA-nya Adi." Kaisar memperkenalkan dirinya.
"Oh, yang jadi polisi itu ya, Mas?" tanya Ibu Sarah memastikan.
"Iya, Tante," jawab Kaisar.
"Ya sudah sana, biar tidak kemalaman," kata Pak Lukman.
"Oh ya, Om, Tante, nanti ayah sama bunda juga akan ke sini. Kalau saya belum datang, tolong nanti ditemani dulu," pinta Rendra.
"Oke, nanti Om hubungi Pak Wijaya," sahut Pak Lukman.
"Kami pergi dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
Rendra kembali berboncengan dengan Kaisar, sedangkan Arsenio naik ojol karena nanti sekalian mau membawa mobil Adi pulang. Sampai di lokasi masih ada dua orang polisi yang berjaga.
Rendra segera membuka kunci mobil setelah memarkirkan motornya. Dia, Kaisar dan Arsenio masuk ke mobil dan melihat rekaman dashcam melalui layar kecil yang terpasang di dashboard. Usai memastikan rekamannya ada, Kaisar meminta memory card. Mereka nanti akan memutar ulang di layar yang lebih besar agar lebih jelas.
Dari rekaman dashcam terlihat jelas Adi ditabrak saat sedang berjalan di depan mobil. Adi hanya sempat sedikit mengelak, karena itu punggung dan tangan kanannya terbentur kaca spion kiri mobil yang menabrak. Pantas saja ada patahan spion di dekat mobil Adi. Karena saking kerasnya benturan hingga terlepas.
Kepala Adi lalu terantuk pinggiran hood saat dia terjatuh usai benturan terjadi. Kejadiannya berlangsung sangat cepat dalam hitungan detik. Karena itu harus dilihat lagi lebih detail di kantor polisi oleh penyidik.
__ADS_1
Untung saja Adi memarkirkan mobilnya menghadap ke jalan jadi bisa merekam kronologi kejadian. Sebelum itu, juga terlihat saat mobil karimun hitam masuk ke area jalanan di depan masjid. Jadi kemungkinan besar dipastikan pelakunya adalah Restu.
Kaisar menghubungi rekan polisinya, menanyakan apakah sudah ada yang berhasil menemukan mobil Restu. Ternyata belum ada yang bisa menemukannya. Kaisar lalu pergi ke kantornya untuk meminta surat penangkapan Restu karena bukti yang ada sudah cukup untuk menangkapnya. Bila terlalu lama, ditakutkan dia akan pergi lebih jauh dan akan lebih susah untuk melacak keberadaannya.
Rendra dan Arsenio juga ikut ke kantor polisi. Mereka ingin melihat lebih detail rekaman kejadiannya. Dan karena Restu belum ditemukan, Kaisar menugaskan seorang polisi dan polwan untuk berjaga di rumah sakit, mengantisipasi kemungkinan Restu akan datang ke sana mencari Adi dan Adelia.
Rendra dan Arsenio baru pulang saat tengah malam, bahkan sudah dini hari. Arsenio memakai motor Rendra, sedangkan Rendra mengendarai mobil Adi. Mereka pulang dahulu ke rumah Rendra dan Adi sebelum kembali ke rumah sakit.
"Kamu mau istirahat sebentar apa langsung ke rumah sakit?" tanya Rendra setelah Arsenio memasukkan motornya ke garasi.
"Langsung saja, Mas. Aku nanti juga cuma sebentar terus pulang. Aku mau tidur di rumah," jawab Arsenio.
Mobil Pak Wijaya sudah terparkir rapi di carport rumah Adi. Rupanya mertuanya sudah datang, dan kemungkinan istrinya juga tidur di rumah Adi. Tadi dia menghubungi Dita kalau ayah dan bunda akan datang malam ini. Dia juga meminta tolong istrinya untuk menyiapkan baju Adi dan Adelia selama mereka di rumah sakit.
Suasana rumah sudah gelap, Rendra menghidupkan saklar ruang tamu saat masuk ke rumah. Dia mempersilakan Arsenio untuk duduk dan istirahat sejenak sambil menunggunya mengambil baju Adi dan Adelia.
Arsenio membaringkan tubuhnya di sofa panjang. Rasanya nikmat sekali setelah seharian ini beraktivitas. Apalagi beberapa jam terakhir yang membuatnya harus menahan emosi karena ulah mantan kekasih kakaknya.
Rendra tersenyum melihat Dita yang tertidur meringkuk di sofa ruang tengah. Meski lampu dimatikan tetapi istrinya menyalakan televisi, membuat ruangan menjadi tidak gelap gulita. Sepertinya Dita susah tidur, karena itu dia menonton televisi sambil menunggunya.
Tadi saat dia menelepon, terdengar suara Dita yang merajuk karena takut tidak bisa tidur sendiri. Berulang kali dia harus langsung menjawab pesan atau telepon kalau istrinya menghubunginya. Meski kerepotan, tapi Rendra harus tetap melakukannya demi kesejahteraan rumah tangganya. Lebih baik dia repot daripada istrinya mengambek di saat kondisi seperti ini. Hormon ibu hamil selalu tidak bisa ditebak, jadi lebih baik dia selalu mengalah.
Rendra menggendong Dita yang sangat lelap tidurnya ke dalam kamar. Dia membaringkan istrinya pelan-pelan agar tidak terbangun. Dia lalu menyelimuti istrinya. Sebelum kembali pergi, dia mengecup pelan kening wanita yang sedang mengandung anaknya itu.
"Mas," panggil Dita pelan saat Rendra akan beranjak meninggalkannya. Mau tak mau Rendra membalikkan badan, kembali menghadap istrinya.
"Ya, Sayang," balas Rendra sambil membelai istrinya.
"Mas, mau pergi lagi?" tanya Dita.
"Iya. Tapi cuma sebentar. Aku mau antar bajunya Mas Adi dan Adel," jawab Rendra.
"Aku ikut." Dita mulai merajuk manja.
"Ini sudah malam banget, Sayang. Besok pagi saja ya ke rumah sakitnya," bujuk Rendra.
"Enggak mau. Aku juga mau ketemu bunda." Dita kukuh dengan pendiriannya.
"Oke, tapi sebentar saja ya. Besok Sayang harus UAS loh." Rendra mengingatkan istrinya.
Dita mengangguk lalu mencium pipi suaminya. "Makasih, Ayahnya Baby."
"Cuci muka dulu ya. Sama ganti baju yang panjang. Jangan lupa pakai jaket. Arsenio ada di depan, nanti kita ke rumah sakit bareng dia."
"Siap, Bos."
...---oOo---...
Jogja, 270721 01.10
Bila berkenan memberikan mawar atau kopi untuk Mas Adi yang baru siuman πππ
__ADS_1