
Setelah lima hari di RSKIA, akhirnya Dita dan Ale diperbolehkan pulang ke rumah. Selang dua hari kemudian, mereka mengadakan acara akikah Ale di kediaman Ibu Dewi. Mereka mengundang kelompok pengajian Ibu Dewi, jemaah masjid dan juga karyawan kafe. Rendra tidak mengundang anak yatim piatu kali ini. Namun, menyalurkan daging akikah dan sumbangan ke panti asuhan yang merawat mereka.
Acara akikah yang dilaksanakan bakda Asar itu dibuka oleh Bara yang didaulat jadi pembawa acara. Selanjutnya Rendra melantukan surat Luqman ayat 13 sampai 19 sekaligus membacakan artinya. Kemudian Rendra memberikan kata sambutan. Acara berikutnya pemotongan rambut Ale oleh keluarga dan tamu yang dituakan. Dita menggendong Ale yang tengah terlelap, saat rambutnya dipotong.
Usai pemotongan rambut yang diteruskan dengan mencukur habis rambut Ale oleh Pak Wijaya, Rendra mengumumkan nama lengkap Ale pada tamu undangan. Sesudah itu Ustaz Fahrudin mengisi tausiah singkat tentang akikah, anak dan keluarga. Sesudah doa dipanjatkan oleh Ustaz dan di-aamiin-kan oleh semua yang ada di sana, acara akikah Ale ditutup. Para tamu undangan dipersilakan menyantap hidangan yang disajikan. Mereka juga mendapat bingkisan untuk dibawa pulang.
"Makasih sudah datang dan membantu, Bro." Rendra merangkul bahu Bara setelah dia selesai menyalami para tamu yang pamit pulang.
Bara yang sedang makan, menoleh ke samping lalu tersenyum pada sahabatnya itu. "Gue kan juga mau ikut berperan dalam akikahnya Ale."
"Pokoknya gue makasih banget. Lo, udah menyempatkan datang padahal nanti malam mau ngamen," ucap Rendra.
"Demi Lo, gue rela lakukan apa pun selama itu baik, Bro."
"Lo, memang sahabat sejati. Gue doakan semoga Lo segera dapat jodoh, jadi Lo bisa merasakan apa yang gue dan Adel rasakan."
"Aamiin. Gue belum berpikir untuk menikah, Bro. Gue masih dilema antara mau tetap ngamen apa kerja kantoran." Bara menghela napasnya.
"Mama minta gue balik ke Jakarta, tapi gue udah terlalu nyaman di Jogja. Hidup di sini itu rasanya tenang, jauh dari hiruk pikuk kota metropolitan yang padat penduduk dan kendaraan."
"Kenapa Lo enggak jalani dua-duanya, Bro? Lo, bisa kerja dari Senin sampai Jumat. Terus, Lo, bisa ngamen di akhir pekan." Rendra memberi saran pada Bara.
"Enggak semudah itu, Bro. Nyokap maunya gue kerja di Jakarta, di tempat om gue yang punya perusahaan konstruksi. Sedangkan band gue ada di Jogja. Enggak mungkin kan gue bolak-balik Jogja-Jakarta tiap minggu. Bukannya dapat duit yang ada gue nombok buat wira-wiri." Bara kembali menghela napas panjang.
Rendra mengangguk berulang kali, ikut merasakan kegundahan sang sahabat. "Coba saja Lo melamar kerja di tempat Mas Adi. Kayanya kemarin bilang baru buka lowongan. Siapa tahu kalau Lo diterima di sana, nyokap mengizinkan Lo tetap di Jogja. Perusahaan tempat Mas Adi kan salah satu yang terbesar di Indo."
"Serius, Lo? Kalau begitu nanti gue hubungi Mas Adi." Bara kembali melanjutkan makannya.
"Ketemu aja langsung sama Mas Adi mumpung di sini."
"Gue buru-buru, Bro. Setelah ini habis, gue langsung pamit." Bara mengangkat piring makannya.
"Ya udah, nanti Lo jangan lupa hubungi Mas Adi." Rendra menepuk bahu Bara.
"Siap. Gue cabut dulu, Bro. Minta tolong pamitin sama Dita dan Tante ya." Bara meletakkan piring yang sudah kosong di atas karpet.
Rendra menganggut. "Sekali lagi makasih, Bro."
"Iya, kembali kasih." Bara terkekeh.
"Kak Bara, sudah mau pulang?" tanya Dita yang tiba-tiba muncul di tengah mereka.
"Eh, Dita. Iya, mau ngamen soalnya nanti malam," jawab Bara seraya tersenyum manis.
"Wah, kami jadi merepotkan ya, Kak. Terima kasih sudah mau membantu acara akikah Ale, dan juga memberi bingkisan buat Ale. Hanya Allah yang bisa membalas kebaikan hati, Kak Bara."
"Aamiin. Tidak merepotkan kok. Maaf ya, aku harus segera pergi." Bara melihat jam di pergelangan tangan kirinya.
"Mas, Kak Bara jangan lupa dikasih bingkisannya," kata Dita pada sang suami.
"Oh, iya." Rendra segera mengambil bingkisan yang memang disediakan untuk seluruh tamu yang datang.
"Hati-hati ya, Bro. Sukses pertunjukannya nanti malam." Rendra menyerahkan dua bingkisan pada Bara.
"Kok dua?" tanya Bara heran.
"Iya, sama buat teman-teman band. Daripada enggak cukup," jawab Rendra.
"Makasih,Β Bro, Dita. Assalamualaikum." Setelah menerima bingkisan dari Rendra, Bara langsung menuju ke motornya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
"Ada apa, Sayang? Ale mana?" tanya Rendra sambil merangkul pinggang sang istri, mengajaknya untuk masuk ke rumah.
"Ale baru sama omanya. Bunda tadi tanya mau ke ayah hari ini apa besok," jawab Dita.
"Besok, takutnya nanti masih ada yang datang karena tidak bisa datang tadi."
Dita menyengguk, mereka kemudian masuk ke dalam rumah.
Bakda Isya, Kaisar datang ke kediaman Ibu Dewi. Dia diundang Rendra di acara akikah Ale, tapi karena pekerjaannya tadi belum selesai dia baru bisa datang sekarang.
"Selamat Rendra, Dita, atas kelahiran putra tercinta. Maaf baru sempat datang dan tidak bisa memberikan apa-apa," ucap Kaisar sambil menyerahkan parsel berisi clay baby footprints and frame (bahan untuk mencetak kaki dan tangan bayi dengan set bingkai foto di dalamnya).
"Terima kasih sudah menyempatkan datang di sela kesibukan, Mas Kai. Tidak memberikan gimana, lah ini malah merepotkan sudah bawa oleh-oleh buat Ale. Terima kasih, Pakde Kaisar," sahut Dita seraya menggendong Ale.
"Aku merasa tua banget dipanggil pakde, nih." Kaisar terkekeh.
"Pakde Kaisar kan temannya Pakde Adi," balas Dita seraya tertawa kecil.
"Baru sibuk karena banyak kasus ya, Mas?" tanya Rendra menyela Dita dan Kaisar.
"Iya, makanya enggak bisa banyak gerak aku sekarang ini," jawab Kaisar.
__ADS_1
"Sudah jadi Kanit ya sekarang, Mas?"
"Alhamdulillah, iya. Tanggung jawab juga makin besar, Ren." Kaisar tersenyum simpul.
"Semoga bisa memegang amanah dengan baik, Mas."
"Aamiin. Terima kasih, Ren."
"Silakan dilanjut ngobrolnya, Mas Kai. Aku mau ke dalam, sudah waktunya Ale minum susu," pamit Dita.
Kaisar mengangguk seraya tersenyum. "Santai saja, Dita."
"Pakde Kai, Ale minum susu dulu ya biar cepat besar." Dita menirukan suara anak kecil sebelum beranjak dari ruang tamu.
Kaisar tertawa menanggapi ucapan Dita.
"Mas Kai, aku panggilkan Kak Shasha ya," kata Rendra saat mereka hanya berdua di ruang tamu.
"Kamu enggak mau ngobrol berdua sama aku, Ren? Kamu masih menganggap aku jadi rivalmu?" Kaisar memandang Rendra.
Rendra menggeleng. "Enggak, bukan itu. Jangan terlalu percaya diri, aku yakin Dita juga tidak akan tergoda pada Mas Kai." Rendra tersenyum sinis. "Ini soal kalian. Aku tahu ada banyak hal yang harus Mas Kai dan Kak Shasha bicarakan."
"Memangnya Shasha sudah cerita apa saja?" Kaisar merasa penasaran.
"Hanya bilang Mas Kai sudah menyatakan cinta, tapi Kak Shasha belum memberi jawaban."
"Oh, soal itu. Waktu luangku akhir-akhir ini memang sedikit, jadi ya belum bisa bicara lebih banyak," ujar Kaisar sambil menghela napas.
"Makanya mumpung sekarang ada waktu, Mas Kai dan Kak Shasha bisa bicara. Aku tahu bagaimana rasanya menunggu tanpa kepastian, Mas."
Kaisar tersenyum. "Jadi sekarang kamu sudah menerimaku, Ren?"
"Ini rasa solidaritasku sebagai sesama laki-laki, Mas. Perkara menerima, seperti yang aku bilang sebelumnya, tergantung Kak Shasha dan Mama."
"Memangnya kamu pernah merasakan seperti yang aku rasakan?" Kaisar menatap Rendra tak percaya.
"Mas Kai, kira aku gampang mendapatkan Dita? Aku harus menunggu tanpa kepastian mungkin sekitar 1,5 sampai 2 bulan tanpa ada komunikasi di antara kami. Jadi aku tahu banget apa yang Mas Kai rasakan."
"Ternyata begitu." Kaisar mengangguk-angguk.
"Jadi mau aku panggilkan Kak Shasha, enggak nih?" tanya Rendra memastikan.
Kaisar menyengguk. "Boleh, Ren, kalau tidak merepotkan."
"Tapi Mas Kai harus makan dahulu sebelum bicara dengan Kak Shasha. Ayo ke dalam dulu, Mas."
"Sudah disiapkan kok, ayo Mas." Rendra mengajak Kaisar ke ruang makan.
Mau tak mau Kaisar mengikuti Rendra. Dia memberi salam pada Ibu Dewi yang sedang menata meja makan.
"Maaf numpang makan lagi, Tante," kata Kaisar sambil tersenyum.
"Mas Kaisar, bisa saja. Duduk sini, Mas." Ibu Dewi menempatkan piring di depan kursi yang dekat dengan Kaisar.
"Terima kasih, Tante." Kaisar lalu duduk di kursi. "Sama Tante kan ini makannya?"
"Tante sudah tadi. Nanti Shasha yang akan temani Mas Kaisar," tutur Ibu Dewi. "Nah itu, Shasha sudah turun. Tante tinggal dahulu ya, Mas Kaisar."
"Iya, Tante." Kaisar tersenyum pada Ibu Dewi sekaligus Shasha yang berjalan menghampirinya.
"Hai, Mas Kai. Apa kabar?" Shasha tak berhenti menyunggingkan senyum sejak Kaisar melihatnya.
"Alhamdulillah, baik. Kamu gimana, Sha?" Kaisar berdiri saat Shasha datang mendekat.
"Alhamdulillah, aku juga baik. Mau aku ambilkan nasinya, Mas Kai?" tawar Shasha.
"Boleh, kalau tidak merepotkan." Kaisar tentu saja tidak menolak. Dia lalu duduk kembali. Saat ini dia jadi membayangkan Shasha bisa menyiapkan makan untuknya setiap hari.
"Segini sudah cukup atau mau tambah lagi?" Shasha menunjukkan piring yang sudah terisi nasi.
"Cukup."
"Mau pakai sate, gulai, tongseng apa tengkleng?" Shasha menawarkan menu serba kambing yang ada di meja makan.
"Sate saja."
Shasha mengambilkan 5 tusuk sate kambing di atas piring nasi Kaisar. Dia lalu menyodorkan sambal kecap dan juga lalapan berupa irisan bawang merah, timun dan tomat ke depan Kaisar. "Sambal kecap dan lalapnya ambil sendiri ya, Mas."
"Iya. Terima kasih, Sha." Kaisar menerima piring yang sudah berisi nasi dan sate kambing. "Kamu makan sekalian, kan."
"Aku sudah makan tadi. Aku hanya menemani. Mas Kai, minumnya air putih atau yang lain?" Shasha kembali menawari Kaisar.
"Air putih saja."
__ADS_1
Shasha lalu mengambilkan minum untuk Kaisar. Setelah itu dia meletakkan gelas berisi air putih di depan Kaisar. Shasha kemudian duduk di samping sahabat Adi itu.
"Mas Kai, sibuk banget ya sampai jarang kirim pesan." Shasha membuka pembicaraan.
"Iya, maaf. Baru ada banyak kasus yang aku tangani. Makanya aku juga baru bisa datang sekarang. Kenapa? Apa kamu kangen sama aku?" Kaisar melirik Shasha yang sedang memainkan tangan di atas meja.
"Memangnya Mas Kai enggak kangen sama aku?" Shasha menoleh ke samping, membuat mereka saling memandang. Dia lalu buru-buru mengalihkan pandangannya sambil tersenyum malu.
Kaisar tertawa kecil. "Kangen lah. Kangen banget. Apalagi aku belum dapat jawaban dari kamu. Namun, karena tugas jadi prioritas utama, jadi aku tidak bisa sering-sering menghubungi kamu."
"Iya, aku ngerti, Mas."
"Kamu hubungi saja aku kalau lagi kangen."
"Aku takut mengganggu pekerjaan, Mas Kai."
"Ya beginilah pekerjaanku, urusan pribadi dan keluarga jadi nomor dua setelah pekerjaan. Aku ingin kamu terbiasa dengan hal itu. Dari awal aku sudah bilang tidak bisa setiap saat ada untuk kamu."
"Iya, aku tahu, Mas."
Mereka lalu terdiam, tak saling bicara. Kaisar kembali melanjutkan makannya. Sedangkan Shasha diam, menemani di sampingnya. Mereka larut dalam pikiran masing-masing.
"Tambah lagi makannya, Mas Kaisar," kata Ibu Dewi saat melihat Kaisar sudah menyelesaikan makannya.
"Sudah cukup, Tante. Kalau kekenyangan nanti malah mengantuk," sahut Kaisar.
Ibu Dewi mengangguk seraya tersenyum.
"Aku ambil piringnya ya, Mas." Shasha mengambil piring kotor di depan Kaisar.
"Makasih, Sha." Kaisar lalu meneguk habis segelas air putih yang tadi diberikan Shasha.
"Kita bisa ngobrol kan di depan?" tanya Kaisar pada Shasha.
"Bisa," jawab Shasha.
"Lebih baik di atas saja, masih ada tamu di depan, nanti malah terganggu." Rendra menyela mereka saat akan memanggil Dita di kamar. "Nisa ada di atas, jangan khawatir hanya berduaan."
Memang setelah Kaisar datang ada teman Ibu Dewi dan Rendra yang datang. Mereka sama seperti Kaisar yang karena pekerjaan, tidak bisa datang saat acara akikah Ale.
Shasha mengajak Kaisar ke teras atas. Mereka lalu duduk di kursi rotan yang ada di sana.
"Enak ya suasana malam di sini," ucap Kaisar memecah keheningan di antara mereka.
"Iya, aku biasanya juga duduk-duduk di sini kalau sedang penat." Shasha melayangkan pandangan ke depan.
"Sha, apa kamu sudah punya jawaban?" tanya Kaisar kemudian.
Shasha menghela napasnya. "Bisa dibilang sudah, bisa juga dibilang belum."
"Kok bisa?" Kaisar mengernyit menatap Shasha.
"Masih ada beberapa hal yang harus kita bicarakan sebelum aku menjawab, Mas. Seperti yang Mas Kai katakan sebelumnya kalau hubungan ini tujuannya ke pernikahan. Sebelum kita melangkah lebih jauh, kita harus menyepakati beberapa hal karena pekerjaan Mas Kai sebagai abdi negara."
Kaisar mengangguk, menyetujui pendapat Shasha. "Baik, apa yang harus kita bicarakan dan sepakati?"
"Apa Mas Kai ada kemungkinan dipindah tugaskan ke luar Jogja?"
"Iya, kemungkinan pasti ada. Itu kan syarat kalau mau masuk jadi anggota Polri harus siap ditempatkan di mana saja."
"Apa bisa memilih tempat penugasan?"
"Bisa sih, tapi ya jabatan hanya itu-itu saja tidak berkembang karirnya kalau pilih-pilih. Kenapa memangnya?" Kaisar menoleh pada Shasha.
"Apa kalau menjadi istri Mas Kai harus ikut ke mana saja Mas Kai ditugaskan?"
"Aku inginnya begitu. Ke mana pun aku pergi, istriku bisa ikut bersamaku. Untuk apa aku menikah kalau aku dan istriku nanti akhirnya tidak tinggal bersama. Kecuali aku sedang menempuh pendidikan." Kaisar kembali memandang ke depan.
"Apa dalam waktu dekat Mas Kai akan pindah tugas?"
Kaisar menggeleng. "Aku tidak tahu. Semua keputusan ada di pimpinan. Bisa jadi dalam waktu dekat, bisa juga dalam waktu beberapa tahun lagi. Tergantung jabatan yang kosong dan sesuai dengan bidangku."
"Apa kamu tidak mau ikut denganku kalau jadi istriku?" Kaisar kembali menatap Shasha.
"Bukan begitu, Mas. Tentu saja kalau sudah bersuami, aku sebagai istri harus mengikuti ke mana pun suamiku bertugas. Aku hanya ingin minta waktu satu atau dua tahun untuk bekerja dahulu. Setelah itu aku akan mengikuti ke mana pun suamiku pergi."
Shasha menghela napasnya. "Aku baru saja diangkat sebagai karyawan tetap. Rasanya juga tidak etis kalau aku langsung resign. Lagi pula aku juga masih ingin menabung dan membelikan sesuatu untuk mama. Aku ingin itu hasil dari kerjaku bukan dari suami."
"Apa kamu yakin hanya butuh satu atau dua tahun? Bagaimana kalau dalam kurun waktu itu jabatanmu naik, apa kamu juga akan menunda resign lagi?"
Shasha terdiam. Dia tampak berpikir keras.
"Apa dengan kamu diam ini, berarti kamu lebih memilih karirmu?" Kaisar menatap tajam Shasha.
__ADS_1
...---oOo---...
Jogja, 210921 17.45