
Sudah beberapa minggu berlalu sejak Adelia memblokir nomor Restu, tapi mantan tunangannya itu selalu mengirim pesan dengan nomor baru. Setiap nomor baru diblokir selalu saja mengirim dengan nomor yang baru lagi, begitu seterusnya. Adelia sampai tidak tahu harus bagaimana lagi cara agar Restu tidak bisa menghubunginya lagi.
Restu memang hanya menganggu Adelia lewat pesan. Kalau dia sampai berani datang ke rumah, rasanya tidak mungkin. Kecuali memang urat malunya sudah putus dan siap dihajar Arsenio. Papanya pun pasti juga akan marah kalau sampai Restu menginjakkan kaki lagi di rumah mereka. Memang sudah tertutup segala kemungkinan untuk Restu bisa kembali dengannya.
Isi pesan Restu selalu sama setiap mengirim pesan.
'Aku kangen kamu, Yank.'
'Aku masih cinta sama kamu, Yank.'
'Cuma kamu yang paling mengerti aku. Aku ingin kita kembali seperti dulu.'
'Aku tidak cinta sama istriku. Cuma kamu yang aku cintai, Yank.'
'Aku akan menceraikan istriku, kalau kamu kembali sama aku, Yank.'
'Kenapa kamu jahat sama aku, Yank?'
'Kenapa kamu selalu memblokir aku, Yank?'
'Aku tidak akan menyerah sampai kamu kembali sama aku, Yank.'
Adelia menghela napas panjang. Dia baru saja kembali memblokir nomor Restu yang baru. Rupanya mantan pacarnya itu tak pernah jera. Apa yang harus dia lakukan? Apa dia harus mengganti nomornya? Tapi alasan apa yang harus dia katakan bila ada yang bertanya kenapa dia mengganti nomornya?
Dia memendam masalah ini sendiri. Tak ada satu orang pun yang dia beri tahu karena merasa bisa menyelesaikannya sendiri. Dan sekarang dia harus bertindak lebih tegas lagi karena memblokir nomor Restu belum bisa menyelesaikan masalah.
Dia melihat daftar kontak di gawainya, mencari nomor Bara, sahabatnya yang selalu setia mendengarkan semua keluh kesahnya. Setelah ketemu, dia langsung melakukan panggilan. Dalam dering ketiga, Bara menjawab panggilannya.
"Assalamu'alaikum, Bar," salam Adelia.
"Wa'alaikumussalam, Del. Ada angin apa ini tumben telepon? Aku kira sudah lupa sama aku."
"Ngomong apa kamu, Bar. Enggak mungkin aku melupakan kamu."
Bara tertawa dari seberang telepon. "Kamu kan sudah ada calon suami, sekarang."
"Cckkk ... terus kenapa? Bukan berarti aku enggak boleh berteman dan curhat sama kamu kan? Atau jangan-jangan kamu udah enggak mau dengar curhatku lagi?" Adelia berdecak kesal.
Bara kembali tertawa. "Sensi banget calon pengantin satu ini. By the way, ada apa, Del?"
"Kamu lagi ngamen enggak?"
"Enggak, aku lagi free hari ini. Wacana sih mau ngerjain skripsi tapi kenyataannya dari tadi di depan laptop enggak ngapa-ngapain."
"Bar, Restu hubungi aku lagi." Adelia memulai curhatnya.
"Serius, Del?"
"Buat apa aku bohong, Bar." Adelia mendesah.
"Sejak kapan dia hubungi kamu lagi?" Bara mulai terpancing emosinya.
__ADS_1
"Malam setelah aku dilamar Mas Adi. Aku sudah blokir nomor sama IG-nya. Tapi, ternyata dia pakai nomor baru terus setiap aku blokir."
"Dia ngomong apa aja sama kamu?"
"Dia bilang masih cinta aku, terus ingin balik lagi sama aku. Ya gitu-gitu lah ngomongnya."
"Berengsek Restu!!! Minta dihajar dia."
"Tenang, Bar. Kok jadi kamu yang emosi sih."
"Gimana enggak emosi, seenak jidat aja mau balikan sama kamu. Lagian dia udah punya istri kan? Ngapain ganggu kamu lagi?"
"Katanya dia mau cerai sama istrinya kalau aku mau balik sama dia, Bar."
"What??? Shit!!! Minta dihajar beneran dia." Suara Bara terdengar berapi-api.
"Bar, tahan emosimu. Aku cerita enggak ada maksud membuat kamu emosi. Aku mau minta pendapatmu."
"Pendapat apa, Del? Jangan bilang kamu kamu ketemu sama dia ya?"
"Cckkk ... aku juga enggak sudi ketemu dia, Bar. Kalau menurutmu aku ganti nomor gimana?"
"Ya udah, tinggal beli nomor baru aja kan. Apa susahnya? Daripada kamu terus diganggu cowok berengsek itu."
"Aku kasih alasan apa sama Dita, Rendra dan Mas Adi?"
"Astaghfirullah, kamu belum cerita sama mereka, Del?"
"Kenapa? Mas Adi calon suamimu loh, Del. Dia berhak tahu soal ini."
"Aku enggak mau mereka kepikiran."
"Terus kamu mau memikirkan ini sendiri? Sampai kapan, Del? Kamu enggak bisa nutupin terus masalah ini."
"Nanti setelah menikah, mungkin aku baru akan cerita, Bar."
"Terserah kamu deh, Del."
"Kok kamu jadi marah sama aku sih?"
"Aku enggak marah, tapi aku kecewa sama kamu, Del. Kalau aku jadi Mas Adi, aku pasti akan lebih kecewa karena kamu enggak mau jujur."
"Terus aku harus gimana, Bar?"
"Jujur sama Dita, Rendra dan Mas Adi alasan kamu ganti nomor. Jangan sampai kamu bohong sama mereka. Kejujuran itu pondasi hubungan, Del. Kalau kamu enggak jujur dari sekarang, gimana nanti setelah kalian menikah? Karena sekali kamu bohong, akan ada kebohongan lain untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Kamu akan terus bohong. Kamu mau seperti itu?"
Adelia terdiam, merenungkan semua ucapan Bara.
"Aku enggak mau kamu jadi pembohong, Del. Kamu sudah memutuskan untuk hijrah dan kamu tahu bohong itu berdosa. Apa pun alasannya, bohong tetap tidak baik. Bullshit kalau ada orang yang bilang berbohong demi kebaikan."
"Tapi ini hanya hal kecil, Bar." Adelia memberi alasan.
__ADS_1
"Kalau menurutmu ini baru hal kecil, gimana kalau suatu saat Restu nekat melakukan hal lain yang lebih besar?"
"Kamu jangan nakutin aku, Bar. Aku yakin dia enggak akan berani datang ke rumah."
"Aku enggak nakutin kamu, Del. Tapi kemungkinan itu bisa terjadi. Apalagi dia terus menghubungi kamu meski sudah diblokir berulang kali. Itu berarti dia tidak mudah menyerah. Bisa jadi dia sudah terobsesi sama kamu. Dan ingat, melakukan hal besar enggak berarti harus datang ke rumah kan?"
"Bar, please kamu jangan tambah nakutin aku dong. Aku bukannya lega malah jadi parno sekarang," protes Adelia.
"Makanya kamu dengar apa kata-kataku, Del. Kamu jujur sama keluargamu, Mas Adi, Dita dan Rendra soal apa yang terjadi. Mereka pasti akan mendukung dan memberi solusi. Kalau suatu saat Restu sampai nekat, mereka sudah siap dan bisa mengantisipasi."
Adelia menghela napas panjang. "Harus banget ya aku jujur?"
"Iya. Kalau kamu sampai bohong, aku enggak mau lagi nerima telepon dari kamu. Aku enggak mau punya sahabat yang suka bohong. Kamu sendiri kan tahu gimana sakitnya dibohongi dan dikhianati Restu. Harusnya kamu juga memikirkan gimana perasaan Mas Adi kalau kamu bohong sama dia."
"Mas Adi itu pria yang baik, Del. Jangan sampai kamu kehilangan dia hanya karena kebohonganmu yang enggak seberapa. Kamu enggak mau kan Mas Adi enggak percaya sama kamu lagi?"
"Iya, Bar." Adelia menjawab dengan lirih, nyaris tak terdengar.
"Kalau kamu takut bicara sendiri, aku akan temani kamu. Tapi, mungkin Mas Adi akan sedikit tersinggung karena aku yang pertama kamu cari saat punya masalah, dan bukan dia."
"Biar aku bicara sendiri, Bar. Besok pagi aku hubungi Dita untuk mengatur pertemuan dengan Mas Adi. Aku juga akan bilang mama, papa dan Arsen."
"Good. Itu baru sahabatku. Aku akan selalu ada di belakangmu, Del. Kapan pun kamu butuh aku siap membantu."
"Thanks, Bar. Kamu memang yang terbaik. Padahal aku janji enggak akan merepotkan kamu lagi."
"Aku enggak merasa direpotkan, Del. Aku justru senang, berarti keberadaanku berguna untuk orang lain." Bara tertawa kecil.
"Ya udah, Bar. Udah malam ini. Aku mau tidur dulu."
"Oke. Jangan lupa kabari nomormu yang baru nanti."
"Pastilah. Apalah aku tanpamu, Bar." Adelia terkekeh.
"Jangan gombalin aku, Del. Gombalin calon suamimu aja."
"Bisa aja kamu. Aku tutup ya. Wassalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
Adelia menggeser tombol merah di gawai untuk mengakhiri panggilannya pada Bara. Dia meletakkan gawai di atas nakas lalu berbaring di atas ranjang. Dia kembali memikirkan semua ucapan dan nasihat sahabatnya itu. Memang benar apa yang dikatakan Bara, kalau kejujuran adalah pondasi suatu hubungan. Dia tidak mau kehilangan kepercayaan dari Adi. Karena itu dia memantapkan hati untuk jujur pada calon suaminya esok hari.
...---oOo---...
Jogja, 070621 23.55
Cerita ini mengikuti kontes You Are A Writer Seasons 5, mohon dukungannya šš¤
Kalau ada masukan, kritik dan saran yang membangun, boleh via kolom komentar, PC atau DM di instagram @kokoro.no.tomo.82
Jangan lupa ritual jempol atau like-nya setelah membaca ya, Kak. Karena satu jempol atau like begitu berarti. Terima kasih šš¤
__ADS_1