
Usai salat Subuh, Dita merasakan mual yang luar biasa dan membuatnya memuntahkan semua makanan yang masuk ke dalam perutnya semalam. Dia menduga hanya masuk angin biasa karena kemarin sore terlalu lama kena angin pantai yang bertiup sangat kencang. Tetapi Ibu Hasna meyakini kalau itu karena bawaan hamil.
Setelah mengeluarkan semua isi perutnya, Dita merasakan lemas dan pusing. Wajahnya juga sangat pucat. Dia terbaring lemah di atas ranjang. Ibu Hasna lalu membuatkan minuman jahe hangat untuk putrinya.
"Ini diminum dulu, Dek. Biar perut dan badannya hangat." Ibu Hasna meletakkan segelas jahe hangat di atas nakas.
"Apa itu, Bun?" tanya Dita lemah.
"Ini jahe hangat sama madu sedikit biar ada rasa manisnya," terang Ibu Hasna.
"Duduk yuk, Sayang, biar enak minumnya." Rendra membantu istrinya untuk bangun.
Dita lalu duduk tegak dengan ditopang Rendra di belakangnya. Ibu Hasna kemudian menyerahkan gelas pada putrinya itu.
Setelah menerima gelas, Dita mengendus aromanya. Karena dia sangat sensitif pada bau, jadi apa pun yang akan dia makan atau minum pasti harus dia endus dulu. Kalau tidak merasa pusing, pasti akan dia nikmati. Untung saja aroma jahe tidak membuatnya pusing, dia lalu meminumnya sedikit demi sedikit.
Sesudah minum segelas jahe hangat dan madu, dia merasa badan dan perutnya lebih hangat. Rasa mual yang tadi sempat dia rasakan dan tahan, perlahan mulai menghilang.
"Terima kasih, Bun." Dita menyerahkan gelas kosong pada bundanya. Dia memang bertekad menghabiskan agar perutnya tidak kosong, ya meski harus minum sedikit demi sedikit.
"Iya. Gimana lebih enak kan, Dek?" tanya Ibu Hasna penuh perhatian.
Dita menyengguk. "Alhamdulillah, lebih enakan, Bun."
"Kalau begitu nanti bunda buatkan lagi, terus dimasukkan ke termos, jadi sewaktu-waktu butuh tinggal dituang ke gelas."
"Iya, Bun. Terima kasih."
"Adek, mau makan sama apa?" tanya Ibu Hasna dengan lembut.
Dita menggeleng. "Enggak nafsu makan, Bun."
"Harus tetap makan ya, enggak apa-apa meski cuma sedikit, Dek. Nanti bunda buatkan sop saja ya biar segar. Atau Adek mau makan mangga lagi?" Ibu Hasna memberi pilihan pada putrinya.
Dita kembali menggeleng. "Aku sudah kenyang minum jahe tadi, Bun."
"Ya sudah. Tapi nanti tetap harus makan ya."
"Iya, Bun. Nanti kalau aku lapar, aku pasti bilang."
"Nak Rendra, nanti tolong Dita dibujuk buat makan ya," pinta Ibu Hasna pada Rendra.
"Pasti, Bun," sahut Rendra.
"Bunda mau ke dapur lagi. Adek istirahat saja dulu." Ibu Hasna berlalu meninggalkan kamar putri bungsunya.
"Mas, aku mau baring lagi," kata Dita pada suaminya.
"Oke." Rendra kembali membantu istrinya berbaring. "Sayang, mau tidur lagi?" tanyanya.
__ADS_1
"Aku mau dipeluk, Mas," jawab Dita dengan manja.
Rendra lalu membaringkan tubuhnya di samping Dita. Dia menjulurkan tangan kanannya melewati kepala istrinya. Dia lalu memiringkan tubuh untuk memeluk pemilik hatinya itu.
"Mas, makasih ya," ucap Dita di pelukan suaminya.
"Makasih untuk apa?" sahut Rendra.
"Makasih mau menemani pas aku muntah tadi." Dita mendongak menatap suaminya.
Rendra tersenyum lalu mengecup kening istrinya. "Itu sudah tugasku sebagai suami dan ayah dari Baby untuk selalu menjaga dan menemani kalian berdua. Baby, anak kita berdua. Sayang, yang hamil dan merasakan berbagai macam hal. Jadi aku hanya bisa selalu mendampingi Sayang melewati semuanya. Aku yang harusnya berterima kasih karena Sayang sudah mau mengandung anak kita."
"Kalau aku enggak mau hamil, apa Mas mau cari wanita lain?" tanya Dita sengit. Sisi sensitifnya tersentil.
"Apa aku salah bicara lagi?" Rendra menghela napas panjang.
"Tentu saja tidak. Kan cuma Sayang yang pantas jadi ibu untuk anak-anak kita nanti. Cuma Sayang yang aku cinta dan inginkan jadi istri dan ibunya anak-anak. Jangan pernah berpikir seperti itu lagi ya." Rendra mengelus-elus pipi halus pujaan hatinya itu.
"Benar? Mas enggak bohong?" Dita masih tidak percaya pada suaminya.
"Benar dong, Sayang. Sini lihat mataku, apa aku terlihat bohong hummm?" Rendra menatap kedua mata wanita yang ada di pelukannya itu.
Dita menggeleng. "Jangan pernah tinggalkan aku ya, Mas."
"Iya, Sayang, aku janji. Mana mungkin aku ninggalin, Sayang. Enggak bertemu sebentar saja rasanya kangen banget." Rendra tersenyum manis pada istrinya.
"Mas," panggil Dita.
"Aku ngantuk."
"Ya, udah. Sayang, tidur dulu. Nanti kita makan ya setelah bangun." Rendra menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Dita.
"Temani tidur ya. Mas, jangan ke mana-mana," pinta Dita.
"Iya, Sayang. Selamat tidur, Sayang, Baby." Rendra mencium kening Dita sambil mengelus perut istrinya.
Sementara itu di dapur, Ibu Hasna ditemani Adelia dan Adi.
"Gimana keadaan Dek Dita, Bun?" tanya Adelia pada ibu mertuanya.
"Alhamdulillah, katanya sudah lebih enakan setelah minum jahe hangat tadi. Mungkin sekarang sedang tidur," terang Ibu Hasna.
"Kasihan juga ya Bun sampai lemas dan pucat kaya tadi." Adelia merasa prihatin dengan adik iparnya.
"Iya. Tapi memang hamil itu tidak pernah mudah. Dan setiap hamil pasti ada keunikannya sendiri-sendiri. Mbak Adel nanti juga pasti merasakan kalau sudah hamil." Ibu Hasna tersenyum pada menantunya.
"Doakan ya, Bun, Adel bisa segera menyusul Adek hamil," sahut Adi.
"Aamiin. Mas, jangan sering-sering juga produksinya. Kasih jeda tiga hari sekali kalau memang mau langsung program hamil. Bagus lagi kalau pas masa subur produksinya," nasihat Ibu Hasna.
__ADS_1
"Bunda, kok tahu sih kalau mas tiap hari produksi?" Adi mengernyit heran pada bundanya.
"Ai, yang bilang ya sama bunda?" Adi menyenggol istrinya, tapi Adelia menggelengkan kepala.
"Apa yang bunda tidak tahu soal Mas," canda Ibu Hasna sambil tertawa kecil.
"Wah, Bunda jadi peramal jitu ini sekarang." Adi mengacungkan kedua jempol pada bundanya. Mereka kemudian tertawa.
"Bun, memangnya hamil pasti mual dan muntah begitu ya?" tanya Adelia yang merasa penasaran.
"Tidak selalu, Mbak. Tapi kebanyakan begitu. Waktu Dita hamil Akhtar dulu dia malah enggak merasa apa-apa selain gampang mengantuk, ngebo istilahnya," jelas Ibu Hasna.
"Maaf, siapa tadi Akhβsiapa?" tanya Adelia lagi.
"Akhtar itu anak pertama Adek dan Rendra, Ai," jawab Adi.
"Yang meninggal itu, Mas?" Adelia menoleh pada suaminya.
"Iya." Adi menganggut.
"Akhtar itu ganteng loh, Mbak. Mirip banget sama ayahnya," puji Ibu Hasna mengenang cucu pertamanya.
"Bunda sempat melihat Akhtar?"
"Iya, tapi cuma sebentar. Mereka kan punya fotonya Akhtar setelah lahir, Mbak. Apa Mbak Adel belum pernah lihat?" Ibu Hasna menoleh pada menantunya.
"Belum pernah lihat, Bun. Rendra sama Dek Dita juga tidak pernah cerita."
"Mereka juga masih menata hati, mungkin belum siap bercerita dan menunjukkannya sama Mbak Adel. Adek kadang masih suka nangis kalau teringat Akhtar. Meski sudah ikhlas tapi rasa sedih karena kangen tapi tidak bertemu itu yang menyesakkan."
"Iya, pasti mereka sedih. Apalagi Dek Dita yang sudah mengandungnya. Tinggal sebentar lagi bisa ditimang tetapi ternyata takdir berkata lain. Semoga nanti kalau aku hamil tidak mengalami hal itu. Belum tentu aku bisa sekuat Dek Dita." Adelia menerawang.
"Aamiin. Tentu saja aku akan selalu mendampingi Ai apa pun yang terjadi. Jangan khawatir dan berpikiran yang tidak-tidak." Adi mengelus kepala istrinya yang terbalut hijab.
"Iya, Mbak. Dijalani dan dinikmati saja kehamilannya nanti, Mbak. Tidak usah memikirkan apa yang terjadi karena itu semua rahasia Allah," nasihat bijak Ibu Hasna.
"Iya, Bun. Omong-omong ini mau masak apa, Bun?" tanya Adelia yang sudah selesai memotong-motong bahan.
"Ini bikin sop ayam biar Adek mau makan. Sop itu bagus bisa mengurangi rasa mual."
"Wah, pasti enak ini. Ai, bisa belajar bikin sop sama bunda nih."
"Iya, Mas. Ini mau belajar sama bunda. Sana Mas ke mana gitu biar enggak ganggu aku terus." Adelia mengusir suaminya dari dapur.
"Aku enggak ada teman, Ai. Ayah pergi, Rendra di kamar. Mending di sini kan melihat dua bidadari surga yang sedang memasak," seloroh Adi.
...---oOo---...
Jogja, 120721 01.45
__ADS_1
Siapa nih yang sedang menonton pertandingan final Euro Italia lawan Inggris?